Data Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 Yayasan Auriga Nusantara mencatat ada kenaikan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya. Dari 261.575 hektar jadi 433.751 ha. Hutan berubah menjadi tambang hingga kebun, perburuan dan perdagangan satwa terus meningkat, hingga perampasan lahan menjadi kawasan industri atau lahan sengketa.
Di tengah himpitan ruang hidup yang terus tertekan, ada orang-orang tetap berjuang untuk menjaga alam dengan cara mereka. Meski itu tidak selalu mudah. Ada lima artikel pilihan Mongabay Snaps kali ini merangkum beragam kisah tersebut.
Cerita tentang tambang emas ilegal yang mengancam Taman Nasional Kerinci Seblat, warga Pegunungan Menoreh yang melindungi burung dari perburuan, perjalanan kelam siamang yang menjadi korban perdagangan satwa liar, perjuangan warga Rancapinang mempertahankan ruang hidupnya, hingga perubahan yang dirasakan masyarakat Sumbawa Barat sejak tambang dan smelter tembaga hadir.
Lalu, seperti apa cerita di balik semua peristiwa itu? Simak lima artikel pilihan Mongabay Snaps berikut.
1. Tambang emas ilegal merambah hutan warisan dunia

Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi, berstatus sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, masih menjadi sasaran tambang emas ilegal. Aktivitas illegal ini dilakukan dengan menggunakan alat berat dengan membuka hutan dan meninggalkan kerusakan di kawasan konservasi.
Tak kehilangan hutan, tambang ilegal ini juga mengancam habitat satwa yang dilindungi, mencemari sungai, dan meningkatkan risiko bencana di sekitar kawasan. Ironisnya, praktik ini diduga melibatkan jaringan yang terorganisir, mulai dari penyedia alat hingga pemasok bahan bakar.
Banyak pihak menilai penegakan hukum tidak cukup berhenti pada penambang di lapangan. Aktor-aktor yang mengendalikan dan mengambil keuntungan dari tambang ilegal juga perlu diusut agar kerusakan hutan tidak terus berulang.
2. Jaga kicau burung di pegunungan Menoreh

Pegunungan Menoreh terkenal sebagai rumah bagi banyak burung endemik Jawa. Namun, beberapa tahun terakhir, suara kicauan yang dulu mudah terdengar mulai semakin jarang karena perburuan liar. Kondisi itu membuat warga di Kulon Progo dan Purworejo bergerak untuk menjaga burung-burung di wilayah mereka.
Kini, warga rutin berpatroli, menegur, hingga menangkap pemburu yang nekat masuk ke kawasan tersebut. Mereka juga menerapkan aturan desa yang melarang perburuan serta mengembangkan ekowisata pengamatan burung agar masyarakat tetap mendapat manfaat ekonomi tanpa harus mengambil satwa dari alam.
Upaya ini perlahan mulai membuahkan hasil. Namun, seperti apa perubahan yang kini dirasakan warga dan burung-burung di Pegunungan Menoreh? Baca cerita lengkapnya di artikel berikut.
3. Siamang: diburu, diselundupkan, lalu dipelihara

Di balik perdagangan siamang, ada kisah yang jauh lebih menyedihkan daripada yang terlihat. Untuk mendapatkan seekor bayi siamang, pemburu biasanya membunuh induknya yang berusaha melindungi sang anak. Bayi-bayi yang selamat kemudian diperdagangkan melalui jaringan yang terorganisir.
Dugaannya sebagian siamang hasil perburuan diselundupkan dari Sumatera melalui Malaysia dan Thailand sebelum dikirim ke negara tujuan di luar negeri. Perdagangan ini memanfaatkan media sosial hingga aplikasi pesan instan, membuat rantainya semakin sulit diputus.
Padahal, siamang bukan sekadar satwa liar yang unik. Primata endemik Sumatera ini berperan penting dalam menjaga kelestarian hutan dengan membantu menyebarkan biji-bijian. Sayangnya, ancaman terhadap mereka tidak hanya datang dari perburuan dan perdagangan ilegal, tetapi juga dari kebiasaan manusia yang memelihara atau memberi makan siamang.
4. Dari ladang ke ruang sidang

Puluhan warga Desa Rancapinang, Banten, menggugat Kementerian Pertahanan dan Kantor Pertanahan ke PTUN setelah lahan yang mereka kelola selama puluhan tahun diterbitkan sertifikat hak pakainya atas nama Kementerian Pertahanan.
Di atas lahan sekitar 364 hektar itu, kini berdiri pembangunan Batalyon Teritorial Pembangunan yang membuat warga kehilangan kebun, sawah, hingga sumber penghidupan mereka.
Warga mengaku tidak pernah melepaskan hak atas tanah tersebut dan masih memiliki bukti penguasaan, mulai dari pembayaran pajak hingga makam leluhur yang berada di dalam kawasan sengketa. Lantas, bagaimana perjalanan sengketa ini dan apa saja fakta yang terungkap di persidangan?
5. Cerita warga Sumbawa di tengah ekspansi tambang

Kehadiran tambang dan smelter tembaga di Sumbawa Barat membawa perubahan besar bagi kehidupan warga. Di Dusun Otak Keris, ratusan keluarga kehilangan rumah dan kebun karena lahannya berubah menjadi kawasan smelter.
Sementara di Desa Tongo, hutan, sumber air, hingga mata pencaharian warga ikut terdampak seiring meluasnya aktivitas tambang. Kini, banyak warga tak lagi bisa hidup dari bertani dan beternak seperti dulu.

