Industri dan bisnis membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Namun, ketika kebutuhan tersebut masih bergantung pada energi fosil, peningkatan konsumsi listrik turut menambah emisi karbon dioksida.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi tenaga surya yang besar karena memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Sayangnya, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya [PLTS] masih belum optimal. Industri dan sektor bisnis dapat berperan penting karena mengonsumsi sekitar separuh pasokan listrik nasional serta memiliki banyak bangunan beratap luas.
Atap pabrik, pusat perbelanjaan, dan gedung perkantoran dapat dimanfaatkan untuk memasang panel surya. Selain menghasilkan listrik tanpa emisi saat beroperasi, PLTS atap tidak menimbulkan suara, membutuhkan perawatan relatif rendah, dan berpotensi mengurangi biaya listrik perusahaan.
Meski demikian, pemasangannya memerlukan kajian mengenai kondisi atap, kebutuhan listrik, intensitas matahari, kualitas peralatan, serta ketepatan instalasi. Lalu, seberapa besar peran korporasi dalam mempercepat pemanfaatan energi surya? Apakah PLTS atap benar-benar menguntungkan secara ekonomi?
Mongabay Indonesia membahasnya bersama Philip Effendy, Vice President of Operations PT Xurya Daya Indonesia. Diskusi ini mengulas potensi tenaga surya Indonesia, manfaat atap gedung sebagai sumber energi, skema pemasangan, biaya investasi, serta peran dunia usaha dalam mengurangi emisi. Diskusi ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada keputusan industri dan korporasi dalam menentukan sumber listrik yang mereka gunakan.


