Mongabay.co.id
  • Fitur
  • Video
  • Podcast
  • Spesial
  • Artikel
  • Artikel pendek
Donasi
  • English
  • Español (Spanish)
  • Français (French)
  • Bahasa Indonesia (Indonesian)
  • Brasil (Portuguese)
  • India (English)
  • हिंदी (Hindi)
  • বাংলা (Bengali)
  • Swahili
  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Berita Singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru
  • Jelajahi Semua

Berita utama

Ratusan Korban Gempa NTT Meninggal Dunia di Pengungsian 

Ebed de Rosary 5 Okt 2026

Proyek Data Center Batam Ancam Sumber Air?

Yogi Eka Sahputra 4 Okt 2026

Kucing Liar, Predator Kecil yang Luput Perhatian Masyarakat Dunia

Nuswantoro 4 Okt 2026

Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan

Larius Kogoya 3 Okt 2026

Ratusan Nelayan Datangi Kementerian Kelautan Tolak PSN Tambak 

Muhammad Iqbal 3 Okt 2026

Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?

Falahi Mubarok 2 Okt 2026

Cerita di Hari Tani, dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan

L Darmawan, Luh De Suriyani, Triyo Handoko 2 Okt 2026

Puluhan Ribu Hektar Hutan dan Lahan di Papua Terbakar

Riyad Dafhi Rizki 1 Okt 2026

Kalimantan Timur Masih Dalam Lilitan Masalah Tambang Batubara

Yuda Almerio 30 Sep 2026

Tambang Galian C Resahkan Warga Lombok

Ahmad H Ramdhani 30 Sep 2026

Terbaru

Para Perempuan Melawan, Jaga Alam dari Industri Perusak

Anggita Raissa 5 Okt 2026
Cerita fitur

Ratusan Korban Gempa NTT Meninggal Dunia di Pengungsian 

Ebed de Rosary 5 Okt 2026

Potensi Megathrust di Indonesia, Apakah Kita Siap Hadapi Bencana?

Christopel Paino 5 Okt 2026

Tulang Raksasa di Tambang Batu Bara India Dikira Buaya, Ternyata Ular Sepanjang 15 Meter

Akhyari Hananto 5 Okt 2026

Kebakaran Hutan dan Lahan Pengaruhi Berbagai Aspek Kehidupan di Kalimantan

Rendy Tisna 5 Okt 2026

Burung Migran Tak Lagi Singgah di Pesisir Tibang

Riska Munawarah 4 Okt 2026
Cerita fitur

Proyek Data Center Batam Ancam Sumber Air?

Yogi Eka Sahputra 4 Okt 2026
Cerita fitur

Kucing Liar, Predator Kecil yang Luput Perhatian Masyarakat Dunia

Nuswantoro 4 Okt 2026

Sulawesi Merana, Daya Dukung Lingkungan Sudah Lewati Batas

Sarjan Lahay 3 Okt 2026
Cerita fitur

Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan

Larius Kogoya 3 Okt 2026
Semua berita

Kami adalah media nirlaba independen

Dukung kami mengangkat cerita tentang hilangnya keanekaragaman hayati, krisis iklim, dan lainnya
Donasi

Baca topik artikel selanjutnya hutantransisi energikelapa sawitperikanan kelautanhidupan liar semua topik

Cerita unggulan yang mendalam mengungkapkan konteks dan wawasan

Cerita fitur

Masyarakat Adat Papua Suarakan Keresahan Terdampak PSN Merauke

Christ J Belseran 4 Sep 2025
Cerita fitur

Warga Sekitar PLTU Pangkalan Susu Derita Berbagai Penyakit

Ayat S Karokaro 4 Sep 2025
Formasi batuan di kedalaman lebih dari 3.000 meter yang menyerupai “jalan bata kuning” menuju kota mitos Atlantis, terekam oleh Exploration Vessel Nautilus saat meneliti Liliʻuokalani Ridge di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument. (Video screenshot, Ocean Exploration Trust/E/V Nautilus)
Cerita fitur

Ilmuwan Temukan Susunan Batu Bata Misterius di 3.000 Meter Dasar Laut, Begini Penjelasan Sains

Akhyari Hananto 4 Sep 2025
Cerita fitur

Penguatan Pangan Biru di Tengah Ancaman Degradasi Laut

M Ambari 3 Sep 2025

Berlangganan

Dapatkan kisah dan kabar terbaru dari garis depan konservasi alam
Buletin

Pantau terus berita terbaru kami artikel pendek

Dari Tubuh hingga Pola Makan, Ular “Pemenang Evolusi” Dibanding Reptil Lain

Editor 5 Okt 2026

Dari ular laut berbisa hingga ular kecil yang menggali tanah untuk mencari semut dan rayap, ular memiliki cara hidup yang sangat beragam. Sekitar 4.000 spesies telah dikenal di dunia. Bagaimana kelompok reptil tanpa kaki ini mampu berkembang menjadi begitu banyak bentuk dan menempati berbagai lingkungan?

Penelitian dalam jurnal Science menunjukkan bahwa ular memiliki “jam evolusi” yang berdetak lebih cepat dibandingkan kadal. Kemampuan tersebut memungkinkan mereka mengembangkan ciri baru, mengubah pola makan, dan memanfaatkan peluang yang muncul ketika lingkungan berubah.

“Jika dibandingkan dengan kadal, ular telah mengalami perubahan yang relatif cepat dan terus melakukannya sepanjang waktu,” kata Daniel Rabosky, ahli biologi evolusi dari Universitas Michigan.

Untuk menelusuri keberhasilan itu, para peneliti mempelajari kelompok Squamata, yang mencakup ular dan kadal. Mereka menganalisis genom hampir 1.000 ular dan kadal, serta menelaah pola makan melalui isi perut lebih dari 60.000 spesimen museum dan pengamatan lapangan.

Data tersebut digunakan untuk membangun pohon evolusi yang memperlihatkan perubahan tubuh dan makanan sepanjang waktu. Dengan bantuan model matematika dan statistik, tim kemudian membandingkan perjalanan evolusi kedua kelompok reptil tersebut.

Hasilnya, ular mengalami beberapa ledakan evolusi dan berkembang sekitar tiga kali lebih cepat dibandingkan kadal dalam hal keragaman. Setelah diperkirakan muncul sekitar 128 juta tahun lalu, ular mengalami lonjakan perubahan pada periode Kapur. Ledakan berikutnya berlangsung setelah dinosaurus punah pada akhir periode tersebut.

Dunia yang berubah membuka peluang bagi ular untuk mengeksplorasi makanan baru. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa keragaman pola makan ular meningkat pesat setelah kepunahan dinosaurus, ketika mamalia mulai mendapatkan pijakan.

Keberhasilan ini berkaitan dengan kelenturan ular dalam mengubah bentuk tubuh dan cara makan. Tubuh tanpa kaki, tengkorak fleksibel, serta sistem deteksi kimiawi yang canggih menjadi dasar untuk memburu beragam mangsa. Dari dasar tersebut, masing-masing spesies dapat berkembang dengan cara hidup yang semakin khusus.

Rabosky menjelaskan bahwa jam evolusi yang cepat memungkinkan ular “mengembangkan ciri-ciri baru dengan cepat, yang bisa memanfaatkan peluang-peluang yang muncul.”

Namun, penelitian ini belum menjawab seluruh pertanyaan. Mengapa laju evolusi ular begitu cepat sejak awal masih menjadi misteri. Temuan tentang keberhasilan mereka justru membuka persoalan baru mengenai penyebabnya.

“Kami belum bisa benar-benar menjelaskan ini,” kata Rabosky. “Biasanya, memecahkan misteri akan disertai dengan munculnya pertanyaan baru yang harus kita jawab.”

Apakah kecepatan tersebut akan terus bertahan? Rabosky menegaskan bahwa perkiraan itu masih bersifat spekulatif. Meski demikian, para peneliti belum melihat tanda bahwa evolusi cepat ular sedang melambat.

Keragaman ular yang kita temui sekarang, dengan demikian, merupakan bagian dari perjalanan panjang perubahan yang tampaknya masih berlangsung, bukan akhir dari kisah evolusi mereka.

Foto utama: Ular berleher cincin (Diadophis punctatus), penghuni asli dari Amerika Serikat bagian barat. Terdapat sekitar 4.000 spesies ular yang ada di Bumi. Foto: Greg Schechte Wikimedia Commons,  Creative Commons Attribution 2.0 Generic license.

Reproduksi Ikan Terganggu Akibat Meningkatnya Suhu Bumi

Editor 5 Okt 2026

Pasokan ikan budi daya bermula dari ketersediaan benih. Namun, proses menghasilkan benih dapat terganggu ketika kondisi lingkungan berubah. Suhu yang meningkat akibat krisis iklim menjadi salah satu ancaman karena reproduksi ikan sangat dipengaruhi lingkungan, termasuk kerja hormon yang mengatur pematangan organ reproduksi dan pemijahan.

Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan gangguan tersebut pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk ikan di unit pembenihan tidak matang gonad sehingga produksi benih terhambat.

“Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya.

Persoalan ini penting karena perikanan budidaya semakin diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Laporan FAO, The State of World Fisheries and Aquaculture 2024, mencatat produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton pada 2022. FAO menilai akuakultur akan menjadi bagian penting sistem pangan masa depan, sementara produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan.

Agus menawarkan teknologi kontrol hormonal reproduksi sebagai salah satu cara menjaga ketersediaan benih. Hormon dapat membantu mengatur proses reproduksi dan memicu pemijahan. Namun, I Ketut Sugama, Profesor Riset Akuakultur BRIN, mengingatkan bahwa penggunaannya perlu dilakukan dengan hati-hati.

Menurut Sugama, menghadapi perubahan lingkungan juga membutuhkan benih unggul yang tahan penyakit, mampu menghadapi perubahan kondisi, dan tumbuh cepat. Pengembangannya dapat dilakukan melalui pemuliaan serta pendekatan genetika. Dengan demikian, upaya menjaga produksi tidak hanya bertumpu pada pengaturan reproduksi.

Pengelolaan air juga menjadi bagian penting. Sugama menyebut Recirculating Aquaculture System atau RAS, sistem yang menyaring dan mengolah air agar dapat digunakan kembali. Sensor membantu mendeteksi perubahan kadar oksigen, peningkatan amonia, dan kondisi kualitas air lainnya.

“Perubahan diketahui lebih cepat sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan,”.

Pendekatan lain ialah memperbaiki lingkungan budidaya melalui probiotik dan pengembangan komunitas plankton yang baik. Sugama mendorong pengembangan mikroorganisme yang dapat menekan organisme penyebab penyakit. “Jangan selalu bergantung pada antibiotik, karena pendekatan lingkungan yang sehat lebih baik untuk masa depan akuakultur.”

Penelitian yang dikutip dalam artikel turut menunjukkan bahwa reproduksi ikan sensitif terhadap suhu. Pemanasan dan gelombang panas dapat mempengaruhi pengaturan hormon, bahkan dalam beberapa kasus berkaitan dengan perubahan jenis kelamin. Respons tersebut berbeda menurut jenis ikan dan kondisi lingkungannya.

Karena itu, menjaga produksi ikan memerlukan gabungan antara pengembangan benih, pengaturan reproduksi, dan pemantauan lingkungan. Sugama menekankan bahwa langkah-langkah tersebut membutuhkan dukungan pemerintah melalui strategi pengembangan akuakultur. Tantangannya bukan hanya menghasilkan lebih banyak ikan, tetapi mempertahankan proses pembenihan dan budidaya ketika kondisi lingkungan semakin berubah.

Foto utama: Ikan yang melimpah menjadi sumber pendapatan nelayan di Indonesia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Nilai E untuk Indonesia dalam Upaya Perlindungan Hewan

Niko Wicaksana 4 Okt 2026

Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam urusan kesejahteraan hewan. Dalam Animal Protection Index (API) 2020 yang disusun World Animal Protection, Indonesia berada di kategori E. Indeks ini menggunakan skala A hingga G, dengan A sebagai nilai tertinggi dan G terendah. Posisi Indonesia bahkan turun dibandingkan penilaian 2014, ketika masih berada di kategori D.

API melihat lebih dari sekadar bagaimana hewan diperlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Penilaiannya mencakup kebijakan pemerintah, aturan hukum dan perlindungan terhadap berbagai kelompok hewan, mulai dari hewan ternak dan peliharaan hingga satwa liar serta hewan yang digunakan untuk penelitian. Penerapan standar kesejahteraan hewan internasional juga menjadi bagian dari penilaian.

Di atas kertas, Indonesia sebenarnya sudah memiliki aturan mengenai kesejahteraan hewan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatur bagaimana kesejahteraan hewan harus diperhatikan sejak pemeliharaan, pengangkutan, hingga pemotongan. Ketentuan tersebut diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan.

Aturan itu antara lain menyebut hewan harus bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit dan penyakit, ketidaknyamanan, penganiayaan, serta rasa takut dan tertekan. Hewan juga perlu mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perilaku alaminya.

Persoalannya kemudian adalah bagaimana aturan tersebut dijalankan. World Animal Protection menyoroti masih lemahnya penerapan dan penegakan ketentuan kesejahteraan hewan di Indonesia. Tanggung jawabnya juga tersebar di berbagai lembaga dan pemerintah daerah. Akibatnya, perlindungan yang diterima hewan dapat sangat bergantung pada bagaimana aturan diterapkan di masing-masing daerah.

Indonesia juga belum memiliki strategi nasional kesejahteraan hewan yang menyatukan berbagai upaya tersebut. Pada 2014, pemerintah Indonesia pernah melaporkan kepada organisasi yang kini bernama World Organisation for Animal Health (WOAH) bahwa rancangan strategi nasional telah disiapkan. Namun, dalam penilaian API 2020, World Animal Protection menyebut belum menemukan bukti bahwa strategi tersebut telah diterbitkan.

Sementara itu, standar kesejahteraan hewan terus berkembang. WOAH telah menyusun Regional Animal Welfare Strategy for Asia and the Pacific 2025–2030, yang salah satunya mendorong negara-negara di kawasan memperkuat kebijakan dan rencana aksi nasional.

Kondisi ini menunjukkan bahwa keberadaan aturan saja belum cukup. Kerja komunitas penyelamat hewan dan masyarakat memang penting, tetapi tanggung jawab perlindungan hewan tidak bisa dibebankan kepada mereka saja. Dibutuhkan pengawasan yang berjalan, aparat yang memahami aturan, penegakan hukum ketika terjadi pelanggaran, serta edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu, kesejahteraan hewan tidak berhenti sebagai prinsip yang tertulis dalam peraturan, tetapi benar-benar terasa dalam praktik sehari-hari.

Sulit Ditemukan, Mengapa Ular Sanca Bulan Jadi Incaran Pemburu di Hutan Papua?

Editor 3 Okt 2026

Di hutan pegunungan Papua, sanca bulan (Simalia boeleni) hidup di kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Tubuhnya panjang dan ramping, sementara kulit dewasanya berwarna hitam dengan kilap yang dapat tampak berbeda ketika terkena sinar matahari. Keindahan itu menjadi salah satu daya tariknya bagi penghobi dan kolektor, sekaligus membawa ancaman bagi keberadaannya di alam.

Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, mengatakan sanca bulan ditemukan di sejumlah wilayah pegunungan Papua, termasuk Lembah Baliem, Pegunungan Bintang, sekitar Danau Wissel, dan Pegunungan Arfak. Sebarannya juga mencakup Papua Nugini.

“Sanca bulan termasuk jenis yang sangat susah ditemukan. Populasinya menurun karena rusaknya habitat, perburuan ilegal, dan perdagangan liar,” katanya.

Menurut Hari, panjang tubuh sanca bulan berkisar 1,5-3 meter. Pertumbuhannya relatif lambat; ukuran maksimal dapat dicapai pada usia empat hingga enam tahun. Warna tubuhnya juga berubah seiring pertumbuhan. Ular ini cenderung pemalu dan jarang menggigit kecuali diprovokasi. Namun, pengetahuan tentang kehidupannya masih terbatas. “Lingkungan mereka yang terpencil dan sulit diakses, membuat penelitian tentang jenis ini masih terbatas.”

Ancaman perdagangan dibahas dalam publikasi Alamsyah Herlambang, Fajrin Shidiq, dan Amir Hamidy pada 2019. Para peneliti menjelaskan bahwa permintaan terhadap satwa langka dan eksotik dapat mendorong eksploitasi berlebihan. Ketika satwa semakin sulit ditemukan, harga pasarnya bisa meningkat dan justru memicu perburuan tambahan.

“Perdagangan ular sanca bulan dari Indonesia tercatat pertama kali pada 1989 dan berlangsung sampai saat ini. Dari 1989-2000 Indonesia memberlakukan kuota untuk jenis ini sebanyak 120 kuota tangkap alam setiap tahunnya,” tulis para peneliti dalam publikasi tersebut.

Pada 2001-2018, tidak ada kuota tangkap yang diberikan untuk sanca bulan. Publikasi itu menyebut individu yang dapat diperdagangkan dan diekspor melalui ketentuan CITES berasal dari kategori kelahiran atau hasil penangkaran tertentu.

Meski demikian, nilai jualnya tetap tinggi. Berdasarkan wawancara dalam penelitian, anakan sanca bulan dihargai sekitar 2 juta rupiah di Papua dan meningkat menjadi 8-12 juta rupiah ketika sampai di Jakarta. Penelusuran peneliti juga menemukan harga anakan di pasar internasional mencapai US$6.000 per ekor.

Artikel tersebut menyebut sanca bulan tercantum dalam Apendiks II CITES dan daftar satwa dilindungi Indonesia. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa aturan perlu disertai pengawasan dari daerah asal hingga pasar penjualan. Tanpa pencegahan di sepanjang jalur perdagangan, permintaan kolektor dapat terus mendorong pengambilan ular dari alam.

Bagi sanca bulan, sulit dijangkau manusia ternyata belum tentu berarti aman. Habitat terpencil membatasi penelitian, sementara harga tinggi mendorong orang mencarinya. Perlindungannya membutuhkan perhatian terhadap hutan tempatnya hidup sekaligus perdagangan yang membuatnya diburu.

Foto utama: Sanca bulan atau Simalia boeleni merupakan ular endemik Papua yang jarang terlihat. Foto: Wikimedia Commons/Danleo~commonswiki/CC BY 2.5

Di Hutan Beutong Ateuh, Burung Langka dan Harimau Sumatera Berbagi Ruang dengan Masyarakat

Editor 3 Okt 2026

Suara beragam burung terdengar di hutan pegunungan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sebagian mencari makan di tajuk pohon, sementara lainnya bergerak di antara vegetasi dan lantai hutan. Setiap lapisan menyediakan kebutuhan berbeda, mulai dari buah dan serangga hingga tempat berlindung serta berkembang biak.

Pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh mencatat 31 jenis burung di kawasan ini. Empat di antaranya berstatus Genting, yaitu Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media).

“Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh.

Tim juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan dan empat jenis Hampir Terancam. Sementara itu, 19 jenis masuk kategori Risiko Rendah dan satu jenis, Sumatran Robin, berstatus Belum Dievaluasi. Catatan tersebut memperlihatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat berbagai burung dengan kebutuhan hidup yang berbeda.

Menurut Heri, burung dapat membantu memberikan gambaran tentang perubahan lingkungan. Setiap jenis memiliki kebutuhan pakan, habitat, dan tingkat toleransi terhadap gangguan yang berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan.” Berkurangnya tutupan hutan atau terpecahnya habitat dapat memengaruhi ruang hidup burung, terutama jenis dengan sebaran terbatas.

Hutan Beutong juga menopang kehidupan manusia. Kecamatan ini terdiri atas empat desa dengan sekitar 2.400 penduduk. Masyarakat menggantungkan penghidupan pada sawah, kebun, hutan, dan Sungai Meureubo. Hamparan sawah seluas sekitar 500 hektar menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan warga.

“Kami hidup dari hasil alam. Hutan yang membentengi Beutong Ateuh, sungai yang membelah kecamatan, sawah dan kebun yang mengelilingi kampung kami merupakan harta yang harus dijaga dan tidak boleh rusak,” kata Teungku Malikul Azis, tokoh adat dan agama yang dikenal sebagai Abu Kamil.

Menurutnya, penghormatan terhadap satwa diwariskan oleh orangtua. Masyarakat tidak memburu atau membunuh hewan sembarangan. Ia mengatakan warga juga tidak menganggap harimau sumatera sebagai pengganggu. “Kami tidak pernah berkonflik dengan harimau. Kami tidak mengganggu mereka dan mereka juga tidak mengganggu kami.”

Secara ekologis, kawasan Beutong menjadi jalur lintasan satwa yang menghubungkan Kawasan Ekosistem Leuser dengan hutan Ulu Masen. Survei di hutan Terangun–Beutong turut merekam macan dahan, kucing emas, dan harimau sumatera, serta menemukan satwa mangsa seperti rusa, kijang, kambing hutan, dan babi hutan.

Keberadaan burung, kucing liar, dan hewan lainnya menunjukkan beragam fungsi hutan Beutong. Bagi masyarakat, menjaga kawasan ini berarti mempertahankan tempat hidup satwa sekaligus sumber air, pangan, dan penghidupan mereka.

Foto utama: Spectacle Laughingthrush atau Poksai genting di pinggir hutan Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.

Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok

Editor 2 Okt 2026

Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur dan bebatuan.

“Belum pernah terjadi seperti ini,” kata Ali, yang telah tinggal di Solok sejak 2008.

Banjir bandang atau galodo itu menerjang Arosuka setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Menurut BPBD Sumatera Barat, sekitar 10 kantor pemerintahan dan tujuh kendaraan dinas rusak. Satu orang meninggal, satu orang hilang, dan sejumlah warga terluka. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, menyebut sekitar 100-150 rumah serta kurang lebih 300 warga terdampak.

BMKG mencatat hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, mengatakan hujan lebat yang berlangsung di hulu memicu luapan sungai. Namun, sejumlah pihak meminta agar evaluasi tidak berhenti pada curah hujan.

“Hujan memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat berkaitan dengan kondisi ekologis kawasan, tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, kemiringan lereng, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, sempadan sungai,” kata Tommy Adam, Direktur WALHI Sumatera Barat.

Tommy mengingatkan bahwa peta kawasan rawan bencana Gunung Talang telah tersedia sejak 2007. Menurutnya, kawasan perkantoran bupati hingga permukiman termasuk wilayah yang berpotensi dilalui material dari Gunung Talang. Ia mempertanyakan sejauh mana informasi tersebut digunakan untuk melindungi hulu, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, dan menyiapkan jalur evakuasi.

Analisis WALHI mencatat sekitar 700 hektar tutupan hutan di Kecamatan Batang Barus hilang sepanjang 1995-2024. Di Kabupaten Solok, sekitar 6.000 hektar tutupan hutan berubah menjadi lahan pertanian selama 2000-2024. Tommy menilai kondisi lahan hulu berkaitan dengan kemampuan kawasan menyerap air, menahan erosi, dan menjaga kestabilan tanah. Meski demikian, peran masing-masing perubahan lahan dalam galodo ini masih memerlukan kajian.

Isril Berd, Ketua Forum Daerah Aliran Sungai Sumatera Barat, juga menyoroti lereng yang terjal serta material batuan dan lumpur di hulu. Menurutnya, gabungan kondisi medan dan hujan lebat membuat air serta material dapat bergerak cepat menuju Arosuka. Dia meminta perubahan penggunaan lahan ikut diperiksa tanpa menjadikannya satu-satunya penyebab.

Bagi ahli lingkungan Indang Dewata, upaya mengurangi risiko perlu mencakup reboisasi, pemanfaatan lahan berbasis agroforestri, dan tata ruang yang mempertimbangkan ancaman bencana. Galodo Arosuka meninggalkan pekerjaan mendesak: memulihkan kawasan terdampak sekaligus menilai kembali cara hulu dan daerah aliran sungainya dikelola.

Foto utama: Batu dan lumpur memenuhi area perkantoran usai banjir bandang. Foto: Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia.

Bagikan Singkat Baca Artikel Lengkap

Share this short

Jika Anda menyukai cerita ini, bagikan dengan orang lain.

Facebook Linkedin Threads Whatsapp Reddit Email

Berita dan Inspirasi dari Garda Terdepan Alam

Video
Artikel
Podcast

Format berita

  • Video
  • Podcast
  • Artikel
  • Spesial
  • Berita singkat
  • Cerita Fitur
  • Terbaru

Tentang

  • Tentang
  • Kontak
  • Donasi
  • Buletin
  • Panduan Kontributor
  • Panduan Publikasi
  • Dampak

Tautan eksternal

  • Madagaskar liar
  • Mongabay Kids
  • Mongabay.org

Media sosial

  • LinkedIn
  • Instagram
  • Youtube
  • X
  • Facebook
  • Threads
  • TikTok
  • RSS / XML
  • Mastodon
  • Android App
  • Apple News

© 2026 Copyright Conservation news. Mongabay is a U.S.-based non-profit conservation and environmental science news platform. Our EIN or tax ID is 45-3714703.