<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 14 Sep 2026 10:00:05 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Ketika Oarfish Terdampar di Lombok, Mitos Gempa Kembali Muncul</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 10:00:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07055718/WhatsApp-Image-2026-09-06-at-22.32.43-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133385</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemunculan seekor oarfish di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Lombok Timur, pada 25 Agustus 2026, kembali menghidupkan mitos lama mengenai ikan pertanda gempa. Tubuhnya yang panjang, pipih, dan berwarna keperakan ditemukan sejumlah anak di bibir pantai. Video penemuan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Sebagian warga menghubungkannya dengan gempa yang mengguncang Flores sekitar dua pekan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/">Ketika Oarfish Terdampar di Lombok, Mitos Gempa Kembali Muncul</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemunculan seekor oarfish di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Lombok Timur, pada 25 Agustus 2026, kembali menghidupkan mitos lama mengenai ikan pertanda gempa. Tubuhnya yang panjang, pipih, dan berwarna keperakan ditemukan sejumlah anak di bibir pantai. Video penemuan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Sebagian warga menghubungkannya dengan gempa yang mengguncang Flores sekitar dua pekan sebelumnya. Spekulasi itu muncul karena oarfish dikenal sebagai penghuni laut dalam yang jarang terlihat manusia. Ketika ikan ini muncul di permukaan atau terdampar, kehadirannya kerap dianggap sebagai peringatan bencana. Oarfish dari genus Regalecus umumnya terdiri dari dua spesies utama. Regalecus glesne tersebar di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia serta dapat tumbuh hingga lebih dari 11 meter. Sementara Regalecus russellii lebih banyak ditemukan di Jepang, Asia Timur, dan Pasifik Barat. Ikan ini hidup di zona mesopelagik hingga batipelagik, sekitar 200–1.000 meter di bawah permukaan laut. Habitat tersebut hampir tidak tersentuh cahaya matahari, bersuhu rendah, dan memiliki tekanan air sangat tinggi. Kondisi inilah yang membuat perjumpaan dengan oarfish tergolong langka. Menurut Sukuryadi, Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mataram, kemunculan oarfish di perairan dangkal lebih mungkin dipengaruhi perubahan lingkungan laut. “Tidak ada kaitannya dengan gempa bumi, mungkin anomali pemanasan global yang berdampak pada perubahan dan degradasi habitat,” ujarnya. Perubahan suhu, arus, kadar oksigen, kualitas perairan, serta ketersediaan pakan dapat mengganggu organisme laut dalam. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut diduga membuat satwa kehilangan orientasi atau berpindah menuju perairan yang lebih dangkal. Mitos oarfish sebagai pertanda gempa juga berkembang di Jepang. Dalam cerita rakyat setempat, ikan ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus 5 Bayi Orangutan di India, Waspadai Perdagangan Satwa Liar Melalui Jalur Laut Aceh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 06:44:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/14063734/Bayi-Orangutan-Sumatera-di-SRA-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133584</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Perdagangan Satwa Tetap Marak]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus lima bayi orangutan yang ditemukan di India, Selasa (8/9/26), menguatkan dugaan adanya perdagangan ilegal satwa liar lintas negara. Dwi Nugroho Adhiasto, pakar perdagangan satwa liar yang merupakan Senior Advisor Scents, mengatakan berdasarkan pengamatan visual awal sejumlah pakar dan praktisi penyelamatan satwa, lima bayi orangutan tersebut kuat dugaan merupakan orangutan sumatera (Pongo abelii). “Namun, kepastian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/">Kasus 5 Bayi Orangutan di India, Waspadai Perdagangan Satwa Liar Melalui Jalur Laut Aceh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus lima bayi orangutan yang ditemukan di India, Selasa (8/9/26), menguatkan dugaan adanya perdagangan ilegal satwa liar lintas negara. Dwi Nugroho Adhiasto, pakar perdagangan satwa liar yang merupakan Senior Advisor Scents, mengatakan berdasarkan pengamatan visual awal sejumlah pakar dan praktisi penyelamatan satwa, lima bayi orangutan tersebut kuat dugaan merupakan orangutan sumatera (Pongo abelii). “Namun, kepastian biologisnya masih menunggu hasil uji atau konfirmasi resmi,” ujarnya, Kamis (10/9/26). India beberapa tahun terakhir menjadi pasar sekaligus pusat transit perdagangan satwa liar asal Indonesia. Dari Aceh, satwa-satwa dilindungi termasuk orangutan, dibawa melalui jalur laut menuju Thailand. Selanjutnya, pergerakan jalur darat melewati Myanmar, menuju Bangladesh, dan masuk India bagian timur, termasuk Odisha dan Mizoram. “Odisha atau Mizoram umumnya berfungsi sebagai titik transit sebelum satwa dikirim ke pemesan akhir atau pasar internasional.” Membawa orangutan dalam jumlah banyak, membutuhkan persiapan, sarana transportasi, tempat penampungan, serta jaringan penerima di berbagai titik. Ini membutuhkan persiapan matang, perahu cepat, sarana penampungan, serta jaringan penerima di setiap titik perbatasan. “Aparat penegak hukum perlu menelusuri seluruh rantai perdagangan, mulai pengambil dari alam, penampung, pengangkut, penyandang dana, hingga penerima akhir. Pemerintah Indonesia harsu membangun investigasi bersama dengan otoritas India. Pengawasan harus diarahkan pada jalur-jalur rawan penyelundupan, terutama perairan Aceh. “Jalur perairan Aceh menuju Thailand sudah menjadi rahasia umum. Fokuskan pemantauan pada area yang sudah terdeteksi dan awasi pergerakan aktor kunci yang terindikasi jaringan ini,” tegasnya. Pada 27 Oktober 2025 lalu, Mongabay Indonesia mewawancarai penampung bayi orangutan sumatera yang mendekam di lembaga pemasyarakatan di Aceh. Safri (nama samaran), pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Aceh hingga Gorontalo, Daun Sirih Menjaga Tradisi Upacara Adat Masyarakat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 05:00:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/03/22052126/Daun-sirih-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133365</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas adat, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Daun sirih telah lama menempati posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tanaman ini bukan sekadar bahan yang dikunyah bersama pinang, kapur, gambir, atau tembakau, melainkan bagian dari tata cara masyarakat dalam menerima tamu, membangun hubungan sosial, dan menjalankan upacara adat. Di Aceh, daun sirih disuguhkan dalam upacara penyambutan tamu. Kebiasaan serupa ditemukan dalam kebudayaan Melayu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/">Dari Aceh hingga Gorontalo, Daun Sirih Menjaga Tradisi Upacara Adat Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Daun sirih telah lama menempati posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tanaman ini bukan sekadar bahan yang dikunyah bersama pinang, kapur, gambir, atau tembakau, melainkan bagian dari tata cara masyarakat dalam menerima tamu, membangun hubungan sosial, dan menjalankan upacara adat. Di Aceh, daun sirih disuguhkan dalam upacara penyambutan tamu. Kebiasaan serupa ditemukan dalam kebudayaan Melayu di Riau, Bangka Belitung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Penyajian sirih menjadi tanda keramahtamahan, penerimaan, serta penghormatan terhadap orang yang datang. Tradisi menyirih dahulu juga melintasi batas usia dan kedudukan sosial. Sirih dapat dinikmati anak muda, orang tua, rakyat biasa, maupun keluarga kerajaan. Kedudukannya terlihat dari wadah penyimpanan sirih yang dibuat dengan serius. Sebagian wadah dihiasi emas dan batu mulia, bahkan dibentuk menyerupai hewan mitologi seperti naga atau ikan bersayap. Di Gorontalo, sirih memiliki fungsi penting dalam rangkaian upacara peminangan. Sebuah penelitian mengenai ritual modutu menyebut sirih sebagai lindhidu aadati atau “urat adat”. Istilah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan sirih bukan sekadar pelengkap dekoratif, tetapi menjadi bagian penting yang menopang pelaksanaan adat. Sirih dan pinang ditempatkan dalam wadah khusus bernama tonggu, kemudian dipersembahkan kepada tamu undangan. Kehadirannya menandai kesiapan keluarga menjalankan prosesi sesuai aturan dan nilai yang diwariskan antargenerasi. Selain memiliki makna budaya, daun sirih (Piper betle) juga dikenal sebagai tanaman obat. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah daunnya karena mengandung senyawa turunan fenol. Daun sirih mengandung sejumlah komponen bioaktif dan antioksidan, seperti flavonoid, alkaloid, saponin, polifenol, serta tanin. Penelitian juga menunjukkan potensi aktivitas antibakteri dan antioksidan pada tanaman tersebut. Kandungan itu membuat daun sirih digunakan dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan, Krisis Sumber Air Hantui Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 04:00:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Data dan Statisitik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005234/Rawa-lebak-di-Sumatera-Selatan-pada-tahun-2024-diperkirakan-akan-mengalami-kekeringan-panjang-seperti-tahun-2023-lalu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133492</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jerubu tebal menyelimuti pondok Bambang saat api mengepung kebunnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan selatan (Kalsel), 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan hangus, sementara mesin pompa yang baru dia beli pagi tadi terus meraung. Ketersedian air di kanal di dekat kebunnya yang penuh eceng gondok dan ilalang, nyaris mengering. “Hari ini saya tekor banyak. Tadi pagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/">Kekeringan, Krisis Sumber Air Hantui Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jerubu tebal menyelimuti pondok Bambang saat api mengepung kebunnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan selatan (Kalsel), 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan hangus, sementara mesin pompa yang baru dia beli pagi tadi terus meraung. Ketersedian air di kanal di dekat kebunnya yang penuh eceng gondok dan ilalang, nyaris mengering. “Hari ini saya tekor banyak. Tadi pagi beli mesin, selang, habis sekitar tiga jutaan,” ujarnya. Di jalan masuk menuju area itu, sekitar 100 meter ke arah jalan raya, dua unit mobil pemadam dengan satu tangki bertengger. Belasan petugas pemadam dan relawan lainnya juga sibuk memadamkan api di lahan gambut orang lain. Ada juga dua buah helikopter water bombing yang lalu-lalang sejak siang di atas atap pondok Bambang, tetapi tidak pernah menarget area perkebunan seluas 1.2 hektar miliknya. “Padahal tanaman ini untuk bekal masa pensiun, tetapi sudah habis terbakar.” Bambang bersama keluarganya berjibaku memadamkan api di lahan perkebunan miliknya di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia. Kekeringan, keterbatasan sumber air Sepanjang Agustus, seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, Kalsel kekeringan parah. Terlihat dari berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kalsel pun mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian III Agustus 2026 periode 21–31 Agustus. Dalam peta peringatan itu, Kota Banjarbaru masuk kategori Siaga, bersama Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Kotabaru, Tapin, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Tanah Bumbu, dan Tabalong. Ada juga Kabupaten Tanah Laut yang berada pada status &#8220;Awas&#8221;, sedangkan Kabupaten Balangan masuk kategori &#8220;Waspada&#8221;. “Kekurangan curah hujan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laut Indonesia Jalur Migrasi Lumba-lumba, Namun Data Populasinya Sangat Sedikit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 02:36:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015515/Gambar-2.-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133570</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut yang 17 jenis adalah lumba-lumba. Keberadaan mereka sangat penting, sebagai indikator alami bahwa ekosistem laut sehat. Perairan Indonesia menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia, jika lumba-lumba bermigrasi, mereka akan melewati Indonesia. Perairan Indonesia yang menjadi lokasi favorit lumba-lumba sebagai jalur migrasi atau habitatnya adalah Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/">Laut Indonesia Jalur Migrasi Lumba-lumba, Namun Data Populasinya Sangat Sedikit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut yang 17 jenis adalah lumba-lumba. Keberadaan mereka sangat penting, sebagai indikator alami bahwa ekosistem laut sehat. Perairan Indonesia menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia, jika lumba-lumba bermigrasi, mereka akan melewati Indonesia. Perairan Indonesia yang menjadi lokasi favorit lumba-lumba sebagai jalur migrasi atau habitatnya adalah Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu. Dondy Arafat, pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, mengatakan perairan sehat akan mengundang lumba-lumba menetap atau melintas. Namun di sisi lain, kehadiran mereka akan meningkatkan risiko dan ancaman di sekitar perairan. “Lumba-lumba adalah mamalia laut yang berenang dengan jarak tempuh jauh. Mereka bisa mencari habitat baru di lokasi lain, beda samudera,” ungkapnya, Rabu (9/9/26). Ancaman dan risiko yang dihadapi lumba-lumba tak mengenal batas perairan. Bisa di mana dan kapan saja. Ancaman yang dihadapi seperti terjebak jaring ikan karena tangkapan tidak disengaja (bycatch) dan berakibat pada kematian, sampah plastik dan pencemaran laut, kebisingan kapal yang mengganggu komunikasi dan ekolokasi, kerusakan habitat pesisir, dan eksploitasi untuk wisata. Bisa jadi, lumba-lumba terdampar karena mengalami masalah seperti itu. Dampaknya, risiko kematian semakin tinggi. Lumba-lumba hidung botol yang terpantau di perairan Malang, Jawa Timur. Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia. Jalur migrasi Perlindungan bisa dilakukan pada habitat dan jalur migrasi lumba-lumba. Menurutnya, semua pihak wajib memberikan perhatian, terutama dari pemegang kebijakan seperti Pemerintah Indonesia. Mengingat, lumba-lumba bagian megafauna kelompok cetacea yang jumlahnya masih misteri sampai sekarang. “Padahal, satwa lain sudah dibentuk kelembagaan secara khusus. Megafauna sangat perlu itu.” Upaya konservasi dan perlindungan lumba-lumba di Indonesia juga menghadapi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Masyarakat Wawonii Jaga Laut di Tengah Beragam Tantangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 02:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/14002414/Nelayan-Wawonii-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133364</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Pulau Wawonii bergantung pada laut dan hutan tetapi ancaman silih berganti datang, mulai dari praktik penangkapan ikan merusak yang menghancurkan terumbu karang hingga tambang nikel. Di tengah berbagai tantangan itu, masyarakat berupaya menjaga pesisir dan laut, antara lain lewat  pembentukan Kelompok Muda Jaga Laut dan Pesisir Tahi Tewabuno. Wa Niia membawa tombak berjalan pelan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/">Upaya Masyarakat Wawonii Jaga Laut di Tengah Beragam Tantangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Pulau Wawonii bergantung pada laut dan hutan tetapi ancaman silih berganti datang, mulai dari praktik penangkapan ikan merusak yang menghancurkan terumbu karang hingga tambang nikel. Di tengah berbagai tantangan itu, masyarakat berupaya menjaga pesisir dan laut, antara lain lewat  pembentukan Kelompok Muda Jaga Laut dan Pesisir Tahi Tewabuno. Wa Niia membawa tombak berjalan pelan seorang diri di sela karang dekat tubir pesisir Tekonea, Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara (Sultra). Tangannya menusuk-nusuk pasir dengan besi kecil runcing, menggalinya dengan kedua tangannya, menusukkan besi sekali lagi dan langsung kena perut ikan. “Tengangisi untuk sayur (lauk), tidak dijual,” kata Wa Niia sembari mengangkat ikan lalu memasukkannya ke baki-baki (keranjang kecil berbahan dasar rotan), Minggu (9/8/26). Terangisi merupakan sebutan lokal ikan pasir (Xyrichtys novacula) yang banyak hidup di perairan dangkal. Sehari-hari, perempuan 57 tahun itu, mencari gurita dan ikan di pesisir. Ikan pasir merupakan target buruan saat tangkapan gurita sedikit atau tidak ada sama sekali. Saat menyusuri pesisir, Wa Niia bercerita banyak terumbu karang mati dan memutih dengan bagian-bagian patah atau retak. Masyarakat bilang itu akibat pemakaian potasium sianida (potas) untuk menangkap ikan sejak empat tahun terakhir. Kondisi ini memperparah dampak penggunaan bahan peledak yang sudah berlangsung lama di wilayah ini. Terumbu karang memutih akibat penggunaan bahan peledak dan potas di pesisir Tekonea, Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: La Ode Risman Hermawan/Mongabay Indonesia Sore itu, tak hanya ikan pasir, dia juga menangkap seekor gurita (Octopus cyanea) ukuran kecil yang laku Rp20 ribu. “Termasuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asa Wujudkan Rumah Mangrove Dunia di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 23:42:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07132806/Tampilan-udara-hutan-mangrove-dan-sungai-di-pesisir-timur-Aceh-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133548</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Indonesia kembali menghidupkan gagasan besar yang sempat mandek selama bertahun-tahun,  mewujudkan World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal  Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen PDASRH), Kementerian Kehutanan mengatakan,  gagasan WMC sangat menjanjikan karena Indonesia memiliki modal yang sulit negara lain tandingi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/">Asa Wujudkan Rumah Mangrove Dunia di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Indonesia kembali menghidupkan gagasan besar yang sempat mandek selama bertahun-tahun,  mewujudkan World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal  Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen PDASRH), Kementerian Kehutanan mengatakan,  gagasan WMC sangat menjanjikan karena Indonesia memiliki modal yang sulit negara lain tandingi. Dengan sekitar 3,4 juta hektar mangrove, Indonesia menguasai hampir seperempat luas mangrove dunia. Dia bilang, mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di garis pantai. Mangrove, katanya,  adalah benteng alami yang melindungi garis pantai, habitat berbagai flora dan fauna, penyimpan karbon penting, sekaligus sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir. Pengelolaan mangrove, katanya,  memiliki tiga dimensi yang tidak terpisahkan, pertama, ekologis untuk menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem pesisir. Kedua, dimensi sosial-ekonomi untuk mendukung mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat, dan ketiga, dimensi global berupa kontribusi terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim Menurut dia, hutan pesisir ini tidak hanya menjadi benteng alami terhadap abrasi dan badai, juga habitat berbagai spesies, penyerap karbon biru, sekaligus sumber penghidupan jutaan masyarakat pesisir. Dyan bilang, luasnya mangrove Indonesia merupakan anugerah sekaligus amanah dan tanggung jawab besar. Dia mengingatkan tantangan pengelolaan mangrove kian kompleks. Dari tekanan terhadap kawasan pesisir, perubahan penggunaan lahan, pencemaran, dampak perubahan iklim, serta kapasitas kelembagaan yang belum merata di berbagai daerah. “Karena itu, tidak ada satu negara, satu kementerian, atau satu organisasi pun yang bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian, perlu ilmu pengetahuan yang kuat, kebijakan tepat, tata kelola inklusif, pendanaan berkelanjutan, dan kemitraan yang nyata,” katanya dalam Webinar Series bertajuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Keseriusan Bali Beralih dari Energi Fosil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 18:12:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094859/PLTS-Kubu-Anak-Sekolah-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133513</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah baru saja meluncurkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 MW di Gilimanuk, Bali. Berbagai pihak pun mendorong agar proyek itu menjadi momentum bagi Bali untuk benar-benar meninggalkan pembangkit berbasis fosil. Trend Asia, LBH Bali, dan 350 Indonesia dalam pernyataannya mendesak agar proyek yang menjadi bagian dari proyek PLTS 100 Giga Watt (GW) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/">Menanti Keseriusan Bali Beralih dari Energi Fosil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah baru saja meluncurkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 MW di Gilimanuk, Bali. Berbagai pihak pun mendorong agar proyek itu menjadi momentum bagi Bali untuk benar-benar meninggalkan pembangkit berbasis fosil. Trend Asia, LBH Bali, dan 350 Indonesia dalam pernyataannya mendesak agar proyek yang menjadi bagian dari proyek PLTS 100 Giga Watt (GW) itu jadi momentum untuk mempercepat transisi energi secara menyeluruh dan mendorong percepatan transisi di tingkat komunitas. “Jangan sampai transisi energi hanya menjadi proyek besar yang dimiliki segelintir investor, sementara masyarakat yang ingin memasang PLTS Atap justru dibatasi,” kata  Sisilia Nurmala Dewi, Country managers 350 Indonesia. Dia katakan, pengembangan energi surya harus membuka ruang yang luas bagi PLTS skala kecil, termasuk surya atap skala rumah tangga, komunitas, fasilitas publik, maupun dunia usaha. Dia meyakini, cara ini akan menjadikan transisi energi berlangsung lebih cepat. Selain itu, juga mencegah konversi lahan dalam skala besar. Saat ini, katanya,  pengembangan surya atap masih menghadapi berbagai pembatasan menyusul terbitnya Permen ESDM No. 2 Tahun 2024. Regulasi itu  menerapkan kuota pengembangan surya atap, mengatur periode pengajuan, serta menghapus mekanisme perhitungan kelebihan energi listrik yang diekspor ke jaringan PLN sebagai pengurang tagihan listrik. Kondisi itu memperlambat pertumbuhan PLTS atap. Padahal, pembangkit skala kecil dapat berkembang lebih cepat dan tersebar tanpa perlu pembebasan lahan dalam skala besar. Di Bali, sejumlah desa sudah memasang PLTS atap terutama untuk membantu operasional mesin-mesin pertanian, pompa air di pasar tradisional, dan energi listrik untuk kegiatan di banjar, bangunan komunal untuk berbagai kegiatan. Novita Indri, Juru Kampanye Trend Asia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beras Adan Krayan, Pangan Andalan Masyarakat Dayak Lundayeh di Bentang Kayan Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 12:21:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/13121527/Dayak-Lundayeh2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133527</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional, warisan orangtua mereka. Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/">Beras Adan Krayan, Pangan Andalan Masyarakat Dayak Lundayeh di Bentang Kayan Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional, warisan orangtua mereka. Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas Krayan. Padi adan tumbuh di antara bentang alam yang luas. Di sekelilingnya terdapat Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) seluas 1,27 juta hektar. Sementara wilayah adat Dayak Lundayeh Krayan sekitar 343.000 hektar. Bagi masyarakat Lundayeh, padi adan bukan sekadar bahan pangan, tetapi juga warisan budaya sekaligus sumber penghasilan. Otnel Akun, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Pun Bersama di Desa Long Pua, Kecamatan Krayan Barat, mengatakan masyarakat mengenal beberapa jenis padi lokal. Namun, padi adan putih, merah, dan hitam yang paling banyak ditanam. Ketiganya memiliki pasar hingga ke Sarawak, Malaysia. “Ini selalu kami kirim ke sana,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, Jumat (14/8/26). Beras adan merupakan andalan pertanian Masyarakat Dayak Lundayeh, Kalimantan Utara. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia. Harga beras adan kisaran Rp350-400 ribu per kaleng, ukuran 15 kilogram. Pada kondisi tertentu, nilainya bisa mencapai Rp450 ribu. Ada sesuatu yang membuat beras ini berbeda. Masyarakat mengelola lahan secara tradisional, dengan mempertahankan pola budidaya yang tidak menggunakan bahan kimia. “Pernah menggunakan pupuk kimia, namun, kini ditinggalkan.” Para petani memanfaatkan sumber daya di sekitar mereka, termasuk kotoran dan urine kerbau untuk menyuburkan tanah. Cara tersebut bukan sesuatu yang baru, telah dikenal dari generasi sebelumnya. “Alam menyediakan segala kebutuhan kami,” ujarnya. Padi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10152211/DSCF7056-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133445</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek. Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/">Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek. Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. Ia juga membawa pulang air menggunakan galon bekas untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, dan kebutuhan sanitasi. Sungai Ciliwung telah mengering selama lebih dari satu bulan. Tinggi muka air di Bendungan Katulampa bahkan mencapai titik terendah, yakni nol sentimeter. Penurunan debit juga terlihat di Kampung Pulo Geulis, Kota Bogor. Kondisi ini berpengaruh terhadap ketersediaan air baku Perumda Tirta Pakuan. Instalasi Pengolahan Air Katulampa biasanya mampu memproduksi 307,14 liter air per detik dan melayani 35.492 pelanggan di Bogor Utara, Bogor Timur, serta sebagian Kabupaten Bogor. Kekeringan juga melanda Sungai Cipamingkis yang berhulu di kawasan Puncak 2, Sukamakmur. Aliran Curug Cipamingkis diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga pintu air menuju sungai ditutup. Air dialirkan ke saluran irigasi dan bak penampungan yang terhubung dengan rumah-rumah penduduk. Sungai Ciherang mengalami kondisi serupa. Dasar sungai dipenuhi bebatuan tanpa aliran air, sedangkan tanah persawahan di sekitarnya retak dan tanaman padi menguning. Curah hujan rendah serta El Niño memang memperpanjang periode tanpa hujan, tetapi faktor iklim bukan satu-satunya penyebab. Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan Walhi Nasional, menilai kemarau hanya menyingkap krisis ekologis yang telah lama terjadi di kawasan hulu. “Kita terlalu lama memperlakukan sungai seolah-olah ia berdiri sendiri, padahal kesehatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desak Pemerintah Jalankan Aksi Iklim sesuai Saran Mahkamah Internasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 06:08:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133484</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti kontradiksi pemerintah dalam opini pendapat penasihat (advisory opinion) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) dengan kenyataan di lapangan. Satu sisi pemerintah setuju kewajiban negara dalam aksi iklim, sisi lain, kebijakan dalam negeri justru menjadi pemicu kenaikan emisi yang memperparah krisis iklim. Advisory Opinion itu keluar 23 Juli. Pemerintah Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/">Desak Pemerintah Jalankan Aksi Iklim sesuai Saran Mahkamah Internasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti kontradiksi pemerintah dalam opini pendapat penasihat (advisory opinion) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) dengan kenyataan di lapangan. Satu sisi pemerintah setuju kewajiban negara dalam aksi iklim, sisi lain, kebijakan dalam negeri justru menjadi pemicu kenaikan emisi yang memperparah krisis iklim. Advisory Opinion itu keluar 23 Juli. Pemerintah Indonesia turut terlibat dan setuju kewajiban negara mengambil tindakan iklim dan berkontribusi terhadap respons global perubahan iklim. Christine Constanta, Manajer Pembelaan Hukum Eksekutif Nasional Walhi, mengatakan, pendapat ICJ menegaskan negara memiliki kewajiban hukum internasional untuk melindungi sistem iklim dan lingkungan hidup. Juga, bertanggung jawab atas tindakan maupun kelalaian (omission) yang menyebabkan kerusakan signifikan terhadap sistem iklim atau lingkungan. Namun, meski pemerintah Indonesia terlibat dalam advisory opinion itu, dia melihat kontradiksi. “Kalau kita melihat data-data, kontradiksi,” katanya, baru-baru ini. Data Walhi menunjukkan, 26,5 juta hektar dari kawasan hutan kurang lebih 103 juta hektar terbebani izin ekstraktif dan perkebunan. Sebanyak 21,1 juta hektar hutan terbebani perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Lalu, 4,7 juta hektar di bawah izin pertambangan (WIUP) dan 717.000  hektar di bawah izin perkebunan (HGU). Ini merupakan legalisasi deforestasi oleh negara. Padahal, hutan mempunyai fungsi ekologis dan menyerap karbon. Pada lahan seluas 23 juta hektar yang terbebani izin itu saja, cadangan karbonnya mencapai 2,46 miliar ton. Jika hutan itu lenyap, potensi emisinya setara sekitar 9,03 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). “Ini akan mempercepat krisis iklim dan punahnya keanekaragaman hayati.” Dia mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) yang menyebut pertambangan aktif masih sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mentilin, Primata Malam yang Bertahan di Gunung Menumbing</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 04:34:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22010554/Mentilin-salah-satu-satwa-langka-yang-masih-mudah-ditemui-di-Bukit-Peramun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133447</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selepas hujan, ketika Gunung Menumbing diselimuti gelap, seekor primata mungil mulai bergerak di antara pepohonan. Matanya yang besar membantunya beraktivitas pada malam hari, sementara kaki belakangnya yang panjang memungkinkan tubuhnya melompat secara vertikal. Satwa itu adalah mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Pada siang hari, mentilin sulit ditemukan. Selain berukuran kecil, primata nokturnal ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/">Mentilin, Primata Malam yang Bertahan di Gunung Menumbing</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selepas hujan, ketika Gunung Menumbing diselimuti gelap, seekor primata mungil mulai bergerak di antara pepohonan. Matanya yang besar membantunya beraktivitas pada malam hari, sementara kaki belakangnya yang panjang memungkinkan tubuhnya melompat secara vertikal. Satwa itu adalah mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Pada siang hari, mentilin sulit ditemukan. Selain berukuran kecil, primata nokturnal ini biasanya sedang beristirahat. Belum ada angka pasti mengenai populasinya di Taman Hutan Raya Gunung Menumbing. Namun, petugas pengamanan hutan memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu di kawasan tersebut. Gunung Menumbing berada di Kabupaten Bangka Barat dan memiliki luas sekitar 3.300 hektar. Kawasan ini lebih dikenal sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Mohammad Hatta pada masa Agresi Militer Belanda II. Akan tetapi, di balik nilai sejarahnya, hutan Menumbing juga menjadi salah satu kantong penting kehidupan liar di Pulau Bangka. Sekitar 1.898 hektar atau 57 persen wilayahnya dinilai memiliki tingkat kesesuaian habitat tinggi bagi mentilin. Kepadatan satwa ini di Kabupaten Bangka diperkirakan berkisar 2,22-17,78 individu per kilometer persegi. Meski demikian, populasinya secara global terus menurun. Cephalopachus bancanus beserta subspesies C. b. bancanus berstatus Rentan menurut IUCN. Sebagai pemburu malam, mentilin sangat bergantung pada kelimpahan serangga. Makanannya didominasi ngengat, jangkrik, dan belalang. Sesekali, satwa ini juga memangsa vertebrata kecil seperti burung, kelelawar, dan ular. Hilangnya hutan berarti berkurangnya ruang berburu sekaligus sumber makanan. Ancaman itu nyata di Menumbing. Sekitar 50 persen kawasan diperkirakan telah terdegradasi akibat penambangan timah ilegal. Lubang-lubang bekas tambang masih ditemukan di sekitar batuan granit. Aliran sungai kecil juga kerap dibendung untuk memisahkan timah dari tanah.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mentilin-primata-malam-yang-bertahan-di-gunung-menumbing/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 01:14:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra BaittriSuryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/13003355/Asap-karhutla-Pontianak-Tursih--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133498</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan gambut belum padam. Beberapa lokasi di Kalimantan dan Sumatera masih membara dan menimbulkan kabut asap hingga kualitas udara tidak sehat bahkan level berbahaya. Berbagai kalangan mendesak pemerintah mengambil langkah dan tindakan untuk memberikan perlindungan kepada warga terdampak asap karhutla, terlebih para kelompok rentan. Kabut asap di Kota Pontianak, dan Kubu Raya, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/">Tuntut Pemerintah Lindungi Warga Terdampak Asap Karhutla</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan gambut belum padam. Beberapa lokasi di Kalimantan dan Sumatera masih membara dan menimbulkan kabut asap hingga kualitas udara tidak sehat bahkan level berbahaya. Berbagai kalangan mendesak pemerintah mengambil langkah dan tindakan untuk memberikan perlindungan kepada warga terdampak asap karhutla, terlebih para kelompok rentan. Kabut asap di Kota Pontianak, dan Kubu Raya, Kalimantan Barat, misal, dalam beberapa hari ini memperlihatkan kondisi makin buruk. Kabut asap makin tebal. Kualitas udara pun berbahaya. Sejak beberapa pekan lalu, sekolah di Kota Pontianak maupun Kubu Raya, masih pembelajaran jarak jauh (PJJ). Berdasarkan pantauan data dari IQAir, pada 12 September sore hari kualitas udara di Kota Pontianak terpantau pada berbahaya dengan level  594 USAQ+ dan PM2,5 372,7 µg/m.³  Begitu juga pada 13 September pagi, udara Kota Pontianak masih berbahaya dengan main pollutan PM10 435,2 µg/m.³ dan PM2,5 213 µg/m,³   sama dengan Kubu Raya,  level PM 2,5 265,2 µg/m.³ “Ini makin seram, kabut asap makin tebal,” kata Kayla, warga Kota Pontianak, 12 September. Mereka sekeluarga pun berupaya batasi diri ke luar rumah. Meski begitu, dengan kondisi rumah banyak celah udara bisa masuk, sulit terhindar dari paparan asap walau di dalam rumah. “Mau bagaimana lagi. Kalau ke luar rumah saja pakai masker.” Kabut asap di Riau pun menyebabkan kualitas udara buruk dan berbahaya. Di Pekanbaru, ibukota Riau, Pemerintah Kota Pekanbaru sempat meliburkan sekolah ketika kualitas udara memburuk. Selama dua hari 7-8 September 2026, kegiatan belajar mengajar jenjang PAUD sampai SMP, dari jarak jauh alias dalam jaringan (daring). Pemadam kebakaran berupaya padamkan kebakatan lahan gambut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/tuntut-pemerintah-lindungi-warga-terdampak-asap-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Kedalaman 8 Kilometer, Mariana Snailfish Bertahan Hidup di Gelapnya Palung Mariana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 10:00:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/12/22081952/Mariana-Snailfish3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133377</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penemuan ikan pada kedalaman lebih dari delapan kilometer terus memperlihatkan bahwa laut dalam bukan ruang kosong tanpa kehidupan. Salah satu penghuninya adalah Mariana snailfish (Pseudoliparis swirei), ikan bertubuh transparan yang hidup di Palung Mariana, Samudra Pasifik bagian barat. Spesies ini diperkenalkan kepada dunia ilmiah pada 2017 setelah peneliti menganalisis bentuk tubuh, kerangka, jaringan, telur, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/">Di Kedalaman 8 Kilometer, Mariana Snailfish Bertahan Hidup di Gelapnya Palung Mariana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penemuan ikan pada kedalaman lebih dari delapan kilometer terus memperlihatkan bahwa laut dalam bukan ruang kosong tanpa kehidupan. Salah satu penghuninya adalah Mariana snailfish (Pseudoliparis swirei), ikan bertubuh transparan yang hidup di Palung Mariana, Samudra Pasifik bagian barat. Spesies ini diperkenalkan kepada dunia ilmiah pada 2017 setelah peneliti menganalisis bentuk tubuh, kerangka, jaringan, telur, dan DNA sejumlah spesimen. Ikan tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 6.900 hingga lebih dari 8.000 meter, di wilayah yang tekanannya ratusan kali lebih besar dibandingkan permukaan laut. Tubuh Mariana snailfish tampak pucat, lembut, dan menyerupai kecebong. Kulitnya nyaris transparan sehingga beberapa organ dan jaringan tubuhnya dapat terlihat. Penampilannya jauh dari gambaran ikan laut dalam yang bertaring besar dan menyeramkan. Namun, di habitatnya, ikan ini justru menjadi salah satu predator utama yang memangsa krustasea kecil. Tubuh yang lunak bukanlah kelemahan, melainkan bagian dari adaptasinya. Mariana snailfish memiliki tulang yang tidak mengeras sepenuhnya, otot tipis, serta tidak mempunyai kantung renang berisi gas yang dapat rusak akibat tekanan ekstrem. Penelitian genomik juga menunjukkan adanya perubahan pada sistem penglihatan, pigmentasi, pembentukan tulang, dan membran sel yang membantunya hidup dalam kegelapan dan tekanan tinggi. Meski dahulu diberitakan sebagai ikan terdalam yang pernah ditemukan, status tersebut kini perlu diberi konteks baru. Pada 2023, ilmuwan merekam ikan dari genus Pseudoliparis pada kedalaman 8.336 meter di Palung Izu-Ogasawara, Jepang. Rekaman itu menjadi catatan ikan hidup terdalam yang pernah didokumentasikan. Namun, identitas spesiesnya belum dipastikan, sehingga Mariana snailfish tetap penting sebagai salah satu spesies ikan penghuni laut terdalam yang telah dideskripsikan secara ilmiah. Para peneliti&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/di-kedalaman-8-kilometer-mariana-snailfish-bertahan-hidup-di-gelapnya-palung-mariana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harapan Baru Penyelamatan Orangutan Tapanuli Lewat Jembatan Arboreal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 07:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/18070127/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay1-1536x1024-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133440</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal di ekosistem Batang Toru, habitat orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Harapannya, inisiatif ini bisa meringankan kerusakan ekosistem di sana. Data YEL, tutupan hutan di koridor ekologi Hutaimbaru turun dari 9.958,38 hektar tahun 2004 menjadi 8.980,84 hektar tahun 2024. Lebih 1.700 hektar habitat orangutan hilang dua dekade terakhir. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/">Harapan Baru Penyelamatan Orangutan Tapanuli Lewat Jembatan Arboreal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal di ekosistem Batang Toru, habitat orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Harapannya, inisiatif ini bisa meringankan kerusakan ekosistem di sana. Data YEL, tutupan hutan di koridor ekologi Hutaimbaru turun dari 9.958,38 hektar tahun 2004 menjadi 8.980,84 hektar tahun 2024. Lebih 1.700 hektar habitat orangutan hilang dua dekade terakhir. Julius Paolo Siregar, Kepala Divisi Konservasi InSitu YEL, menyebutkan, penyusutan ini mengancam orangutan Tapanuli yang masuk kategori sangat terancam punah menurut IUCN. Koridor antara blok barat dan timur di Hutaimbaru penting untuk menjaga aliran gen antar populasi. Tanpa konektivitas, risiko kepunahan lokal meningkat. Bencana 2025 memperparah kondisi. Area bukaan mencapai 23,30 hektar serta 22,70 hektar area sempadan terdegradasi. Lahan itu perlu restorasi agar fungsi koridor kembali optimal. Arboretum telah terbangun, namun tutupan kanopi masih belum memadai hingga perlu rehabilitasi dan restorasi kawasan ini. Tiap hektar hutan yang hilang, katanya, menipiskan peluang hidup orangutan Tapanuli. Jembatan arboreal, restorasi lahan, dan pengelolaan koridor kolaboratif adalah langkah konkret yang perlu penguatan sebelum spesies ikonik ini punah permanen. &#8220;Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” katanya. Hutan Batang Toru. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia. Dia bilang,  perlu pemulihan konektivitas berbasis pemetaan dan analisis jalur penghubung kawasan timur dan barat sebagai dasar ilmiah dalam upaya penyelamatan habitat yang terus menyempit. Ketika koridor alami tidak cukup untuk menjembatani ruang terbuka yang terjal, jembatan arboreal mulai jadi pertimbangan penting. &#8220;Pertanyaan pertama seharusnya bukan kapan kita membangun jembatan, melainkan mengapa konektivitas secara ekologi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/harapan-baru-penyelamatan-orangutan-tapanuli-lewat-jembatan-arboreal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 04:37:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Novia Harlina]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10163311/Rukmaini-usai-membersihkan-gulma-di-sawahnya-di-Nagari-Kamang-Mudiak.-Novia-Harlina-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133398</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hamparan sawah menghijau dengan air yang begitu melimpah dari perbukitan di Nagari Kamang Mudiak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) awal September. Sejumlah petani terlihat sibuk menyiangi gulma yang tumbuh di antara batang tanaman padi. Mereka senang karena beberapa tahun terakhir ini, panen bisa dua kali setahun. Kontras dengan dulu yang rata-rata hanya sekali. Yodiantono, Ketua [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/">Cerita Masyarakat Kamang Mudiak Mendulang Berkah Hutan Nagari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hamparan sawah menghijau dengan air yang begitu melimpah dari perbukitan di Nagari Kamang Mudiak, Kabupaten Agam, Sumatera Barat (Sumbar) awal September. Sejumlah petani terlihat sibuk menyiangi gulma yang tumbuh di antara batang tanaman padi. Mereka senang karena beberapa tahun terakhir ini, panen bisa dua kali setahun. Kontras dengan dulu yang rata-rata hanya sekali. Yodiantono, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) menyebut, perubahan itu tak lepas dari keberhasilan warga menghijaukan kembali hutan nagari. “Di perbukitan, sekarang tanaman kayu juga rapat. Ada pohon durian, cengkih, kayu manis, manggis, kakao hingga pisang yang bisa warga panen,” katanya kepada Mongabay. Era 1990-2000 menjadi periode paling sulit bagi hutan nagari. Kebakaran kerap terjadi saat musim kemarau tiba hingga membuat kawasan perbukitan tandus. Sawah-sawah mengering. Air pun seolah menjadi barang lagi di nagari ini. Maraknya penebangan kayu ilegal memperparah kondisi hutan nagari kala itu. Yodianto katakan, pernah suatu ketika dia mendatangi suara mesin chainsaw dari dalam hutan. Disana, dia mencoba bicara dengan pelaku yang ternyata warga setempat itu. “Kalau langsung dilarang, pasti enggak mau, pasti melawan. Jadi, saya cuma mengajaknya ngobrol saja,” katanya. Dari obrolan itu, Yodiantono menjadi lebih tahu alasan pelaku menebang kayu di hutan itu. Yakni, karena desakan ekonomi. Saat itu, kata Yodiantono, dengan panen sekali, penghasilan masyarakat memang tak menentu. Sementara di saat sama, kebutuhan makin bertambah. Ketika pilihan sumber penghasilan terbatas, hutan menjadi salah satu tempat yang dapat diandalkan. Terlebih, tingkat kesadaran warga akan dampak penebangan pohon di hutan juga masih rendah. Namun, dampak kekeringan yang semakin parah, pelan-pelan, warga mulai menyadari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/cerita-masyarakat-kamang-mudiak-mendulang-berkah-hutan-nagari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Merah Kalimantan Kembali Terekam Kamera, Bawa Mangsa di Kayan Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 03:43:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/12033014/Kucing-merah-kalimantan-di-Kayan-Mentarang-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133462</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Di Ambang Hilang: Masa Depan Kucing Liar]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing merah kalimantan (Catopuma badia), kembali terekam kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kucing yang diberi nama berdasarkan warna bulunya ini, merupakan karnivora paling misterius dan sulit dijumpai di Pulau Kalimantan. Rekaman terbaru ini diperoleh di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, setelah kamera intai dipasang selama berbulan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/">Kucing Merah Kalimantan Kembali Terekam Kamera, Bawa Mangsa di Kayan Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing merah kalimantan (Catopuma badia), kembali terekam kamera pengintai di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kucing yang diberi nama berdasarkan warna bulunya ini, merupakan karnivora paling misterius dan sulit dijumpai di Pulau Kalimantan. Rekaman terbaru ini diperoleh di wilayah Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu, setelah kamera intai dipasang selama berbulan di kawasan hutan primer. Kemunculan satwa endemik Kalimantan tersebut menjadi catatan penting bagi upaya pemantauan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi. Spesies yang berstatus Endangered atau Genting ini, dikenal memiliki perilaku soliter, sulit diamati, dan cenderung menghindari keberadaan manusia. “Spesies ini sangat sulit dijumpai langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan,” kata Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM, dalam rilisnya, Senin (7/9/26). Menurut dia, kemunculan kucing merah menunjukkan pentingnya kawasan hutan TNKM sebagai habitat berbagai jenis satwa liar. Karena itu, perlindungan kawasan dan pemantauan keanekaragaman hayati perlu dilakukan secara konsisten. Kucing merah kalimantan tertangkap kamera membawa mangsa di TN Kayan Mentarang, pada 2026 ini. Foto: Dok. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Kucing merah bawa mangsa Sedikit yang diketahui tentang kucing ini, sampai-sampai sebagian peneliti dan pegiat konservasi menyebutnya “hantu”. Alasannya, pengetahuan kita tentang kucing ini berburu makanan, mencari pasangan, menjelajah hutan, sangat minim. Pada 2023 lalu, kucing merah kalimantan sempat terekam di Resor Sungai Bahau, yang berbatasan dengan Resor Mentarang Tubu. Rekaman ini sempat menjadi sorotan karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru. Pada foto terbaru ini, tampak seekor kucing merah kalimantan berjalan ke arah kanan. Istimewanya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/kucing-merah-kalimantan-kembali-terekam-kamera-bawa-mangsa-di-kayan-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Adat Waswas Saat Gunung Mutis jadi Taman Nasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 01:41:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07085614/FOTO-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133157</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Terik mentari tak menyurutkan langkah Krisensia Naben menyusuri pematang sawah di pinggiran Sungai Noel Besi. Bersama Remigius, suaminya, dia menekuri lumpur, menyemai benih padi satu demi satu di sawah keluarga seluas 15 are. Lahan ini menjadi urat nadi bagi keluarganya yang hidup berdampingan dengan Gunung Mutis, yang baru jadi taman nasional pada 2024. Krisensia mengingat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/">Masyarakat Adat Waswas Saat Gunung Mutis jadi Taman Nasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Terik mentari tak menyurutkan langkah Krisensia Naben menyusuri pematang sawah di pinggiran Sungai Noel Besi. Bersama Remigius, suaminya, dia menekuri lumpur, menyemai benih padi satu demi satu di sawah keluarga seluas 15 are. Lahan ini menjadi urat nadi bagi keluarganya yang hidup berdampingan dengan Gunung Mutis, yang baru jadi taman nasional pada 2024. Krisensia mengingat banjir dan longsor akibat Siklon Tropis Seroja pada 2020 menimbun enam are lahan sawahnya. Sebelumnya, mereka mengelola 21 are, kini hanya bisa mengusahakan sawah yang tersisa yang berada di Desa Noepesu, Kecamatan Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dia juga menanam sayur-sayuran seperti kacang panjang, bawang, tomat, wortel, pakcoy, dan sawi. Dalam setahun, masa tanam sayur-sayuran hanya berlangsung 2-3 kali, tergantung pada kondisi iklim. Sekali panen, petani mendapat keuntungan Rp1-2 juta, sedangkan padi hanya panen sekali dalam setahun. Biasanya hasil sawah tidak mereka jual, tetapi untuk konsumsi keluarga. “Sumber air dari Mutis kalau kering, kami akan susah. Air itu harapan kami satu-satunya. Kami bisa berkebun dan rasakan hasil panen karena air dari hutan Mutis” tutur Krisensia, warga Desa Noepesu, Selasa (19/8/26). Krisensia bersama suaminya sedang semaikan benih padi di sawah milik mereka, berlokasi di Desa Noepesu, Miomaffo Barat, Kabupaten Timor Tengah Utara. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia Sebagai masyarakat adat Atoni Pah Meto yang menetap di sekitar Mutis, Krisensia menjadikan alam adalah kehidupan sehari-harinya. Pepohonan,  binatang liar, mata air dan batuan menjadi satu kesatuan dalam pengetahuan dan aturan adat. Mereka mengenal kepercayaan oe kanaf (air bernama), hau kanaf (kayu bernama), dan fatu kanaf&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/12/waswas-masyarakat-adat-saat-gunung-mutis-jadi-taman-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelusuri Asal Lima Bayi Orangutan yang Ditemukan di India, Apakah dari Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 00:30:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10022137/Orangutan-Sumatera-di-SRA-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133363</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kera besar, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). Temuan ini mengejutkan karena India tidak memiliki populasi orangutan liar. Warga awalnya mengira kelima satwa tersebut merupakan jenis monyet langka, sebelum petugas kehutanan memastikan bahwa mereka adalah orangutan. Prateek Indalkar, pejabat kehutanan Distrik Balasore, mengatakan kelimanya terdiri dari dua betina dan tiga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/">Menelusuri Asal Lima Bayi Orangutan yang Ditemukan di India, Apakah dari Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lima bayi orangutan ditemukan di kawasan hutan Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). Temuan ini mengejutkan karena India tidak memiliki populasi orangutan liar. Warga awalnya mengira kelima satwa tersebut merupakan jenis monyet langka, sebelum petugas kehutanan memastikan bahwa mereka adalah orangutan. Prateek Indalkar, pejabat kehutanan Distrik Balasore, mengatakan kelimanya terdiri dari dua betina dan tiga jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun. Setelah menjalani pemeriksaan, bayi-bayi orangutan tersebut dipindahkan ke Nandankanan Zoological Park di Bhubaneswar untuk mendapatkan perawatan. Pemerintah Odisha kemudian meminta Wildlife Crime Control Bureau menyelidiki asal-usul mereka. Penyelidikan juga akan memastikan apakah orangutan tersebut akan dijual kepada pembeli di India atau hanya transit sebelum dikirim ke negara lain. M. Indra Kurnia, Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre, menilai kemunculan orangutan di negara yang tidak memiliki populasi alami harus dilihat sebagai persoalan perdagangan satwa liar lintas negara. “Kita tidak boleh hanya melihatnya sebagai kasus lokal di negara tempat satwa tersebut ditemukan,” ujarnya. Jika dugaan perdagangan ilegal terbukti, kasus Odisha memperlihatkan panjangnya rantai kejahatan yang dilalui kelima bayi orangutan tersebut. “Ini dimulai dari perburuan di alam, pemisahan bayi dari induk, pengangkutan melalui sejumlah wilayah, hingga dijual atau dipelihara sebagai satwa eksotik,” kata Indra. Pemisahan dari induk bukan sekadar membuat bayi orangutan kehilangan pengasuhan. Tindakan tersebut juga dapat mengganggu kesehatan, perilaku, perkembangan sosial, dan kemampuan mereka bertahan hidup. Karena itu, Indra menegaskan, “Lima orangutan tersebut harus dipandang sebagai korban perdagangan satwa liar, bukan satwa eksotik yang ditemukan jauh dari habitatnya.” Meski spesies kelimanya belum dipastikan, indikasi awal mengarah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/menelusuri-asal-lima-bayi-orangutan-yang-ditemukan-di-india-apakah-dari-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Saat Terjadi Perang, Bagaimana Kedaulatan Energi di Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>12 Sep 2026 00:01:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Adhitya*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/11/22020722/GP1T5A10_Medium_res_with_credit_line-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133335</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perang Amerika-Israel dengan Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama kapal pengangkut minyak terganggu berdampak pada pasokan minyak dunia termasuk Indonesia. Situasi ini menyebabkan harga minyak mentah di pasar internasional naik hingga 45%. Selama perang, harganya bisa menyentuh US$120 per barel. Dampaknya, pasokan BBM Indonesia terancam hingga hari ini. Produksi domestik hanya 600 ribu barel per [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/">Saat Terjadi Perang, Bagaimana Kedaulatan Energi di Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perang Amerika-Israel dengan Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama kapal pengangkut minyak terganggu berdampak pada pasokan minyak dunia termasuk Indonesia. Situasi ini menyebabkan harga minyak mentah di pasar internasional naik hingga 45%. Selama perang, harganya bisa menyentuh US$120 per barel. Dampaknya, pasokan BBM Indonesia terancam hingga hari ini. Produksi domestik hanya 600 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5-1,6 juta barel. Artinya, Indonesia harus mengimpor 1 juta barel per hari untuk memenuhi selisih kebutuhan dan produksi.  Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Celios, mengatakan, impor minyak di tengah konflik Amerika-Israel dengan Iran membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menurutnya, jika harga minyak dunia mencapai USD90-100 per barel, maka subsidi akan membengkak hingga Rp120-130 Triliun. Tentu ini juga berdampak pada LPG karena Indonesia masih bergantung pada impor dari pasar global. Indonesia mengimpor sekitar 6-7 juta ton per tahun, 20%-nya berasal dari Timur Tengah. Bhima mengatakan, krisis energi dapat berdampak pada perekonomian nasional melalui kenaikan inflasi. Dia juga mengingatkan, krisis energi dapat memicu tekanan ekonomi berantai. Di tengah situasi ini, Bhima mendesak pemerintah mempercepat transisi energi terbarukan yang berkeadilan untuk mengurangi ketergantungan pada minyak impor. Ia berharap, Danantara turut membiayai proyek energi bersih tersebut. Novita Indri, juru kampanye Energi Trend Asia, menyebut pengalaman Pakistan melewati krisis energi pada 2022-2023 dapat menjadi contoh bagi Indonesia. Pakistan mengurangi ketergantungan oada gas alam dengan meningkatkan pemanfaatan energi surya sebagai energi utama. “Tidak ada cara lain, mengurangi ketergantungan energi fosil dan mendorong energi terbarukan secara masif, berbasis komunal menjadi kunci Indonesia berdaulat energi.” Foto utama:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/saat-terjadi-perang-bagaimana-kedaulatan-energi-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>