- Orangutan terus mengalami tekanan di habitat asli mereka. Terobosan jembatan arboreal diharap bisa jadi solusi fragmentasi habitat.
- Julius Paolo Siregar, Kepala Divisi Konservasi InSitu Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), menyebut, perlu pemulihan konektivitas berbasis pemetaan dan analisis jalur penghubung kawasan timur dan barat sebagai dasar ilmiah dalam upaya penyelamatan habitat yang terus menyempit. Ketika koridor alami tidak cukup untuk menjembatani ruang terbuka yang terjal, jembatan arboreal mulai jadi pertimbangan penting.
- Di Pakpak Bharat, Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa (TaHuKah), menginisiasi jembatan kanopi sebagai jawaban teknis. Bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan upaya rekonsiliasi antara kebutuhan mobilitas satwa dengan realitas lanskap yang semakin terpecah
- Nadine Adrianna Sugianto, Kepala Divisi Penelitian dan Kesejahteraan Satwa Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), menilai, pemahaman pergerakan orangutan jadi dasar penting dalam mendesain jembatan yang aman.
Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) tengah mengkaji pembangunan jembatan arboreal di ekosistem Batang Toru, habitat orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Harapannya, inisiatif ini bisa meringankan kerusakan ekosistem di sana.
Data YEL, tutupan hutan di koridor ekologi Hutaimbaru turun dari 9.958,38 hektar tahun 2004 menjadi 8.980,84 hektar tahun 2024. Lebih 1.700 hektar habitat orangutan hilang dua dekade terakhir.
Julius Paolo Siregar, Kepala Divisi Konservasi InSitu YEL, menyebutkan, penyusutan ini mengancam orangutan Tapanuli yang masuk kategori sangat terancam punah menurut IUCN. Koridor antara blok barat dan timur di Hutaimbaru penting untuk menjaga aliran gen antar populasi. Tanpa konektivitas, risiko kepunahan lokal meningkat.
Bencana 2025 memperparah kondisi. Area bukaan mencapai 23,30 hektar serta 22,70 hektar area sempadan terdegradasi. Lahan itu perlu restorasi agar fungsi koridor kembali optimal. Arboretum telah terbangun, namun tutupan kanopi masih belum memadai hingga perlu rehabilitasi dan restorasi kawasan ini.
Tiap hektar hutan yang hilang, katanya, menipiskan peluang hidup orangutan Tapanuli. Jembatan arboreal, restorasi lahan, dan pengelolaan koridor kolaboratif adalah langkah konkret yang perlu penguatan sebelum spesies ikonik ini punah permanen.
“Tujuan utama kami adalah memulihkan konektivitas antara blok barat dan blok timur agar koridor dapat berfungsi optimal,” katanya.

Dia bilang, perlu pemulihan konektivitas berbasis pemetaan dan analisis jalur penghubung kawasan timur dan barat sebagai dasar ilmiah dalam upaya penyelamatan habitat yang terus menyempit. Ketika koridor alami tidak cukup untuk menjembatani ruang terbuka yang terjal, jembatan arboreal mulai jadi pertimbangan penting.
“Pertanyaan pertama seharusnya bukan kapan kita membangun jembatan, melainkan mengapa konektivitas secara ekologi dari dua metapopulasi yang terpisah perlu dibangun.”
Meskipun, jembatan bukan solusi utama untuk seluruh persoalan fragmentasi, jika konektivitas masih dapat bertahan melalui perlindungan hutan serta koridor alami, maka pendekatan tersebut harus menjadi prioritas.
Penentuan lokasi jembatan arboreal, katanya, mulai dari pemahaman lanskap dan kebutuhan satwa, spesies sasaran, pola pergerakan, ketersediaan pohon pakan dan sarang, serta keamanan dari aktivitas masyarakat di lokasi.

Titik potensial baru teridentifikasi setelah pemantauan intensif memastikan jalur memang satwa manfaatkan. Tidak akan ada penentuan lokasi sebelum data lapangan cukup meyakinkan.
Desain pun harus mengikuti kebutuhan ekologis, bukan sekadar pertimbangan konstruksi. Kedua sisi jembatan harus tetap terhubung dengan lanskap sekitarnya.
“Satwa akan merespons keberadaan jembatan penyeberangan apabila jembatan tersebut aman serta membantu pergerakan satwa dalam memenuhi kebutuhan ekologisnya.”
Kepastian status kawasan dan kepemilikan lahan menjadi hal utama jembatan arboreal. Dia bilang, perlu kesepakatan tertulis bersama dan menuangkan dalam rencana pengelolaan dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat.
Jembatan juga harus memperhatikan potensi gangguan dari sektor swasta serta rencana pembangunan pemerintah, hingga penyelarasan kebijakan tata ruang dan panduan pengelolaan jadi sangat perlu.
Pengelolaan koridor harus kolaboratif melintasi batas administrasi dan pemanfaatan lahan. Pemerintah berperan menata ruang dan menetapkan kebijakan, organisasi konservasi serta peneliti menyediakan data ilmiah, masyarakat dan pelaku usaha ikut berpartisipasi aktif.
Masyarakat, terutama, jadi pelaku utama pengelolaan melalui pelatihan dan pengembangan mata pencaharian alternatif agar ikut menjaga koridor.
“Tata kelola berjalan melalui badan pengelola yang tugas dan susunannya disepakati bersama, tidak bergantung pada satu pihak saja,” katanya.
Setelah itu, pemantauan dan pemeliharaan menjadi tanggung jawab badan pengelola yang yang Pemerintah Daerah Tapanuli Selatan sahkan. Harapannya, dapat berdiri mandiri dalam jangka panjang.

Sukses di Pakpak Bharat?
Sementara di Pakpak Bharat, Yayasan Tangguh Hutan Khatulistiwa (TaHuKah), mencatat, tiga lokasi kawasan hutan tersisa bagi sekitar 350 orangutan Sumatera, yaitu Hutan Lindung Sikulampi, Suaka Margasatwa Siranggas, dan Hutan Lindung Batu Ardan. Terisolasi satu sama lain oleh tiga jalan utama yang membelah lanskap, Jalan Nasional Sumut-Aceh, Jalan Kabupaten Pagindar-Salak 23 kilometer, dan Jalan Salak-Sibongkaras delapan kilometer.
Lina Rita Silaban, West Toba Landscape Manager Yayasan TaHuKah, menyatakan, tanpa koridor penghubung, orangutan terpaksa turun ke tanah untuk berpindah antar fragmen. Di bawah, mereka menghadapi ancaman perburuan, konflik dengan manusia, dan risiko lalu lintas.
Isolasi jangka panjang memicu perkawinan sedarah yang menggerus keragaman genetik populasi. Kondisi yang mengarah pada penurunan daya tahan spesies dan ancaman kepunahan lokal.
“Di sinilah jembatan kanopi hadir sebagai jawaban teknis. Bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan upaya rekonsiliasi antara kebutuhan mobilitas satwa dengan realitas lanskap yang semakin terpecah,” ujarnya.
Gagasan besarnya tidak hanya membangun jembatan, melainkan tiga pilar protect, connect, dan rewild.
Pilar protect, menjaga hutan yang masih utuh agar tidak kian menyusut. Connect menghubungkan fragmen-fragmen habitat yang terputus melalui pembangunan jembatan kanopi. Lalu, rewild memulihkan kawasan yang telah terdeforestasi melalui program rehabilitasi tumbuhan asli.
Sebelum membangun, tim TaHuKah melakukan pra survei menyeluruh di sepanjang koridor jalan. Misi mereka adalah memetakan posisi sarang orangutan, sebaran pohon pakan, dan ketersediaan pohon penyangga yang kokoh di kedua sisi jalan yang akan dilintasi jembatan. Di Jalan Lagan Pagindar, teridentifikasi lima titik potensial.
Dia bilang, Pembangunan pertama pada November 2023 menggunakan model satu tali ganda. Namun, selama satu bulan pertama pasca pemasangan, catatan pemantauan belum ada satwa melintas. Dugaannya, sisa aroma manusia pada struktur jembatan membuat satwa enggan mendekat.
Empat titik jembatan berikutnya dengan model berbeda, tangga atau bertingkat, yang terbukti primata berukuran besar gemari. Jarak antar jembatan tidak seragam, berkisar antara 2-5 kilometer, menyesuaikan secara organik dengan temuan sarang dan sebaran pohon pakan di lapangan, bukan semata mengikuti rancangan di atas kertas.
Hasilnya, mulai terlihat periode pemantauan Maret 2025-Maret 2026. Data mencatat 14 jenis satwa arboreal menggunakan jembatan kanopi dengan total 374 kali perlintasan. Kanopi nomor satu paling banyak primata berukuran kecil, sedangkan kanopi nomor dua baru perlahan mulai satwa lebih besar sambangi.
Orangutan datang belakangan. Pada 8 Desember 2025, satu orangutan pada eksplorasi awal, menginjakkan kaki di ujung jembatan, berhenti, tampak mengamati, lalu mundur kembali tanpa melanjutkan penyeberangan. Enam hari berselang, 14 Desember 2025, orangutan yang sama akhirnya menyeberang sepenuhnya.
“Orangutan sangat cerdas dan berhati-hati. Butuh waktu hampir dua tahun sejak pembangunan pertama sampai ada yang berani melintas secara utuh.”
Menurut dia, proses observasi panjang ini menggambarkan tingkat kecerdasan dan kewaspadaan tinggi orangutan terhadap lingkungan baru. Sifat yang justru harus jadi pertimbangan desain infrastruktur konservasi.
Periode Maret-Juni 2026 tercatat gelombang penggunaan baru oleh siamang, termasuk di kanopi nomor empat yang sempat putus dan bangun ulang. Dalam satu bulan pasca reparasi, satwa yang terkenal sebagai “nyauk” atau bunyi panggilan malam itu sudah kembali memanfaatkan jembatan. Pola aktivitas menunjukkan puncak perlintasan terjadi pada rentang pagi hingga siang hari, sesuai dengan ritme aktif orangutan dan primata arboreal lainnya.

Di koridor selatan area studi, survei sepanjang Jalan Salak Sibongkaras selama 8 kilometer mengungkap keberadaan 30 sarang orangutan, angka yang menjanjikan. Namun kondisi medan di lokasi ini menuntut pertimbangan ekstra.
Sisi kanan jalan tebing curam dengan pepohonan miring yang berisiko tumbang, sisi kiri adalah jurang dengan pohon-pohon rapuh yang kurang memadai sebagai titik penyangga jembatan. Rencana peningkatan kualitas jalan di koridor tersebut juga turut menjadi variabel dalam perencanaan teknis.
Dari pengalaman di kedua lokasi itu, katanya, membuat mereka rumuskan lima pembelajaran penting yang akan menjadi panduan untuk proyek-proyek ke depan. Pertama, efektivitas jembatan kanopi sangat bergantung pada kualitas habitat di kedua sisi yang terhubung.
“Jika kedua fragmen memiliki tutupan kanopi rapat dan kondisi ekologis baik, satwa cenderung lebih cepat beradaptasi.”
Kedua, pemilihan model jembatan perlu mempertimbangkan target pengguna. Model tali ganda sejajar terbukti lebih stabil secara struktural namun dominan untuk primata kecil. Model tangga lebih menarik bagi primata besar seperti orangutan meski secara konstruksi membutuhkan perhatian lebih terhadap kestabilan.
Ketiga, penentuan lokasi pemasangan tidak boleh hanya berpatokan pada temuan sarang. Ketersediaan pohon pakan di kedua sisi jalan menjadi faktor penentu apakah jembatan benar-benar akan berguna atau hanya menjadi struktur kosong.
Keempat, rambu peringatan perlintasan satwa terbukti efektif sebagai pengingat visual bagi pengguna jalan bahwa koridor kehidupan satwa sedang berlangsung di atas kepala mereka.
Kelima, inovasi terbaru memperkenalkan Tree Saver Sling, sistem tali pengikat yang longgar sehingga tidak mengepang batang pohon dan dapat mengikuti pertumbuhan diameter pohon seiring waktu, mengurangi dampak jangka panjang terhadap kesehatan pohon penyangga.
Terkait jembatan justru memudahkan akses pemburu ke dalam kawasan, dia menyebut perlunya mitigasi melalui pemantauan intensif berkala, pendampingan masyarakat sekitar, serta sosialisasi berkelanjutan bersama pemerintah desa. Koordinasi dengan BKSDA Sumut pun rutin, meskipun kawasan pemasangan berada di status hutan lindung dan Hutan Produksi Tetap.
“Keberhasilan orangutan menyeberang di atas jalan umum merupakan bukti nyata bahwa infrastruktur ini layak dikembangkan lebih luas.”

Pahami pergerakan
Nadine Adrianna Sugianto, Kepala Divisi Penelitian dan Kesejahteraan Satwa Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), menilai, pemahaman pergerakan orangutan jadi dasar penting dalam mendesain jembatan yang aman.
Hasil kajiannya, orangutan liar menghabiskan sekitar 40% waktunya dengan moda pergerakan irregular upright suspensory locomotion, pergerakan tegak menggantung tak beraturan yang melibatkan kaki dan tangannya secara simultan. Ini adalah pola dominan yang mendefinisikan cara orangutan bergerak di kanopi alam liar.
Sementara orangutan di pusat rehabilitasi jarang menunjukkan pergerakan suspensi dominan itu. Kemungkinan karena kompetensi geraknya masih dalam tahap pembelajaran, atau lingkungan rehabilitasi belum menyediakan sarana yang cukup menantang untuk memicu perilaku itu.
Teknik pergerakan alami lain yang mencapai hampir 20% orangutan liar adalah tree sway, teknik mengayunkan tubuh dan dahan secara sinkron untuk mencapai struktur berikutnya. Di pusat rehabilitasi, teknik kompleks ini nyaris tidak terobservasi.
Sebagai gantinya, orangutan rehabilitasi cenderung beralih ke teknik ride, membengkokkan batang pohon dengan berat badan untuk menyeberang, strategi yang relatif lebih sederhana namun kurang melatih variasi gerak arboreal.
Kesenjangan antara perilaku rehabilitasi dan perilaku liar inilah yang menjadi motivasi utama BOSF merancang berbagai intervensi pengayaan lingkungan.
Di Pusat Rehabilitasi Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, tim memasang sistem jaring tiga dimensi di dalam kandang tidur. Sistem ini terbuat dari tali ban dengan diameter bervariasi, dari yang sangat tebal hingga sangat tipis.
Ketika satu titik pada jaring tersentuh, keseluruhan jaringan ikut bergoyang, mensimulasikan getaran kanopi pohon asli di alam. Hasil pengamatan menunjukkan peningkatan frekuensi pergerakan menggantung orangutan yang terpapar sistem ini, membuktikan efektivitas pendekatan berbasis simulasi prinsip gerak alami.
Di Forest School, pendekatannya sedikit berbeda namun mengarah pada tujuan yang sama. Sebuah jalur penghubung kanopi sepanjang 210-240 meter menghubungkan kandang tidur langsung dengan area hutan, mengurangi kebiasaan berjalan di tanah yang berbahaya bagi pemulihan kemampuan hidup alami.
Jalur ini berbentuk jembatan tali ganda, terdiri dua lapisan material dengan karakter berbeda. Tali ban di tingkat atas, sedangkan kombinasi tali ban dan tali sintetis di tingkat bawah. Komposisi antara bahan yang kaku dan lentur sengaja campur agar mendorong orangutan memegang dengan banyak titik sekaligus dan menyesuaikan cara bergeraknya.
Setelah memasuki kawasan hutan, jalur utama bercabang menjadi jaringan lebih luas yang menghubungkan papan pakan setinggi 3-4 meter dengan pepohonan di sekitarnya. Dengan demikian, pada saat waktu makan, orangutan tetap berada di kanopi dan berpindah antar pohon, bukan turun ke tanah.
Pemanfaatan jalur arboreal ini pada pagi dan sore hari, momen tradisional pergerakan orangutan, oleh kelompok remaja hingga dewasa. Material tali ban terbilang terjangkau, berkisar sekitar US$5 per meter, meski memerlukan perawatan rutin setiap 3-4 bulan untuk memastikan keamanan struktur.
“Nanti untuk skala liar, orangutan dewasa berukuran 30 sampai 90 kilogram pasti membutuhkan material yang jauh lebih kokoh. Tapi prinsip dasar desainnya tetap sama: maksimalkan suspensi, minimalkan kompresi, dan gandakan titik pegangan.”

*****
Asap Karhutla Ancam Kehidupan Orangutan, Tak Hanya Habitat dan Kesehatan, Bahkan Kematian