- Ikan endemik Danau Sentani semakin sulit ditemukan, sementara ikan introduksi seperti red devil atau louhan merah telah mendominasi hasil tangkapan. Penelitian pada 2016 mencatat kepadatan red devil rata-rata mencapai 70% dari hasil tangkapan.
- Hilangnya ikan asli juga mengancam identitas budaya masyarakat Sentani karena ikan memiliki peran penting dalam simbol adat, seni, tradisi, serta kehidupan sehari-hari. Mereka bilang kepunahan ini sama artinya dengan hilangnya sebagian identitas orang Sentani.
- Ancaman terhadap ikan endemik tidak hanya datang dari ikan invasif, tetapi juga dari kerusakan habitat. Pembangunan, berkurangnya vegetasi, pendangkalan danau, pertambangan, pencemaran, sampah, serta limbah domestik ikut menekan ekosistem Danau Sentani.
- Upaya konservasi juga membutuhkan perlindungan hukum, riset, serta kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan lembaga penelitian.
Beberapa ikan berwarna merah atau red devil (Amphilopus labiotus) seukuran jari telunjuk orang dewasa tampak berenang di pinggiran Danau Sentani. Sore itu, beberapa orang memancing ikan di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Angin bertiup dari timur membawa harapan para nelayan untuk membawa pulang ikan, tetapi bukan ikan asing itu.
“Itu ikan louhan (red devil). Setelah ikan-ikan baru seperti ikan louhan itu masuk (ke danau), hampir semua ikan asli kita terdesak. Sekarang tidak kelihatan lagi dan jarang sekali dapatkan,” kata Yanpit Wally, Ondofolo (Kepala Suku Adat Besar) Kampung Nendali sembari menunjukkan ke pinggiran danau, Selasa (22/9/26).
Dulu, kata Yanpit, dia dan warga Danau Sentani menggantungkan hidup dari mencari ikan di Danau Sentani. Jumlah ikan-ikannya melimpah, namun kini makin berkurang bahkan menghilang. Kini, dia pun beralih menggantungkan hidup dengan berkebun.
“Dulu ikan asli banyak, kalau cari ikan dapatnya banyak. Dulu kita punya alat tangkap sederhana saja,” ujarnya.
Mulai dari ikan gete-gete kecil (Glossamia beauforti), gete-gete besar (Glossamia wichmanni), kayou (gabus asli sentani), hingga himen (Glossogobius sentaniensis).

Bernard Mebri juga merasakan hal sama. Pria 77 tahun dari Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua ini menghabiskan hari tua di Danau Sentani. Biasanya, dia menjaring dan memancing ikan dengan satu perahu kecil yang terbuat dari kayu.
“Dulu, kita hanya molo (menyelam) atau pancing saja bisa dapat banyak ikan dan cukup buat makan keluarga. Kalau sekarang ini susahnya kita dapat ikan,” katanya.
Dia mengenang masa sebelum ikan pendatang masuk, warga di pinggiran danau tidak pernah kesulitan mencari ikan. Bahkan, di sekitar Danau Sentani, mereka mengenal tradisi bukhere atau rumah ikan.
Mereka membuatnya dengan kayu, ranting atau cabang dan daun sagu serta pelepah berbentuk melingkar. Lalu menenggelamkannya ke dasar danau.
“Masyarakat nelayan pasang bukhere di danau. Kemudian lewat dari satu tahun, masyarakat akan panen ikan banyak,” ujar Yanpit.
Dia bercerita, tradisi itu diatur adat, tetapi saat ini menghilang karena makin sulit mendapatkan ikan tiap harinya.
Berdasarkan penelitian Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan hasil Perikanan Kelas I Jayapura (2016) menyebutkan, ikan invasive red devil telah mendominasi hasil tangkapan dengan rata-rata kepadatan mencapai 70%.
“Nilai indeks keanekaragaman di perairan danau Sentani pada penelitian ini adalah rendah dan nilai keragamannya sedang,” tulis penelitian itu.

Ikan endemik dan ikan asli bagian dari identitas
Ikan endemik Danau Sentani menjadi bagian penting dari identitas budaya Suku Sentani. Ia melambangkan status adat, inspirasi seni tradisional, dan sumber kehidupan masyarakat.
Bahkan ikan endemik menjadi simbol adat dan pemimpinnya. Ikan gabus hitam besar Sentani (Oxyeleotris heterodon), misal, menjadi lambang atau simbol bagi seorang ondofolo.
Ondofolo Yanpit mengatakan, adat, tradisi dan budaya orang Sentani ada kaitan dengan ikan-ikan asli. Tak hanya itu, sebagian ikan endemik, seperti hiu gergaji, menjadi inspirasi dalam membuat lukisan kulit kayu dan itu menjadi motif utama dalam seni lukis kulit kayu khas Sentani.
“Motif ikan asli Danau Sentani diukir pada rumah adat, dinding, tiang-tiang rumah tradisional sebagai bagian dari sejarah dan cerita nenek moyang,” katanya.
“Tapi kita punya ikan-ikan asli ini semua hilang atau punah itu sama saja dengan identitas orang sentani hilang.”
Hasil riset Universitas Cenderawasih (2019) menyebutkan, ada sekitar 19 jenis-jenis ikan Danau Sentani. Dua ikan endemik, enam ikan asli, satu ikan anadromus (jenis ikan yang bertelur di laut dan kembali lagi ke danau Sentani) dan 10 ikan introduksi.
Riset itu menyebutkan, ada 10 jenis ikan endemik dan asli yang tercatat di Danau Sentani, antara lain, ikan pelangi sentani (Chilatherina sentaniensis), pelangi merah (Glossolepis incisus), dan gabus sentani (Glossogobius sentaniensis). Juga, gabus hitam sentani (Oxyeleotris heterodon), snakehead gudgeon (Giuris margaritacea), gete (Glossamia wichmanni dan G. beauforti), papillate catfish (Neoarius velutinus), dan barred rainbowfish (Chilatherina fasciata).

Menuju kepunahan?
“Ikan pelangi Chilatherina sentaniensis sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 2000-an awal hingga 2016,” tulis jurnal yang berjudul Ekologi dan Kelimpahan Ikan Sentani Gudgeon dan Snakehead Gudgeon di Danau Sentani, Papua tahun 2019.
Bahkan, delapan jenis ikan anadromous di Danau Sentani hampir semua tidak ada lagi, kecuali ikan Anguilla sp. pada 2017 lalu. Pristis microdon adalah salah satu jenis ikan anadromous yang fenomenal dari danau ini, namun sudah tidak ditemukan sejak awal tahun 1970-an.
Pada 2016, penelitian dari Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan hasil Perikanan Kelas I Jayapura (2016) sudah memberikan alarm terkait menurunnya ikan asli dan endemik di wilayah itu.
Sayangnya, banyak jenis ikan endemik dan asli yang menghadapi risiko kepunahan namun belum ada penetapan status perlindungannya dalam ketentuan peraturan perundang-undangan. Antara lain, dua jenis ikan endemik yang belum dilindungi, yakni, himen dan pelangi merah.
Ada enam jenis ikan asli juga belum dilindungi, yakni, gabus hitam (kayou), gabus merah (kase/ kahe) (Giuris margaretacea), gete-gete kecil atau kandei, pelangi (hew), gete-gete besar, sembilang atau kanseli (Neoarius velutinus).
Suriani Surbakti, peneliti Universitas Cenderawasih mengatakan, selain memiliki nilai ekologis, ikan asli dan endemik Danau Sentani juga memiliki hubungan dengan kehidupan dan budaya masyarakat setempat.
“Kalau ikan asli dan endemik semakin sulit ditemukan, persoalannya bukan hanya mengenai keanekaragaman hayati, juga berkaitan dengan budaya. Ikan-ikan tersebut merupakan bagian dari kekayaan alam yang telah lama berhubungan dengan kehidupan masyarakat,” kata Suriani kepada Mongabay, Rabu (23/9/26).
Dia berharap, penelitian terkait kondisi ikan dan ekosistem yang menjadi data ilmiah bisa menjadi dasar pengelolaan dan konservasi di Danau Sentani. Jadi, penting ada kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga penelitian, serta pemangku kepentingan lain untuk menyusun perlindungan dan pemulihan Danau Sentani.
“Menjaga Danau Sentani berarti menjaga habitat, ikan asli dan endemik, keanekaragaman hayati, sekaligus menjaga keterkaitannya dengan kehidupan dan budaya masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab bersama agar Danau Sentani tetap lestari untuk lintas generasi.”

Ancaman ikan predator, limbah dan pendangkalan danau
Baik Ondofolo Yanpit maupun Yansen Yoku, warga Kampung Ifar Besar, Distrik Sentani masih ingat kejadian terkait pelepasan ikan louhan sekitar 1980-an oleh istri mantan Gubernur Papua Barnabas Suebu. Mereka menduga dampaknya terasa sejak tahun 1990-an dan 2000-an, ikan asli mulai menurun dan makin menghilang.
Yansen mengatakan, kehadiran ikan louhan, gastor, nila dan ikan invasif lainnya mengancam habitat ikan asli.
“Jadi kita dirugikan oleh pemerintah dari berapa puluhan tahun yang lalu. Ikan louhan gastor ini pemusnah ikan asli. dia makan segala macam, dia makan telur ikan asli juga, dan lohan juga berkembang cepat sekali,” kata Yansen Yoku, Selasa (22/9/26).
Kondisi ekosistem Danau Sentani ini, sejalan dengan Suriani Surbakti. Dia bilang dalam sekitar 15 tahun terakhir menunjukkan sejumlah perubahan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait keberadaan ikan asli dan endemik lainnya. Sejumlah jenis ikan yang sebelumnya relatif mudah kini makin sulit dijumpai.
“Kalau kita berbicara mengenai ikan endemik yang mengalami keterancaman, tentu ada standar dan parameter ilmiah yang harus digunakan. Karena itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui kondisi populasinya dan tingkat keterancamannya,” kata Suriani.

Salah satu ikan yang perlu mendapat perhatian, kata Suriani, adalah gabus sentani merupakan bagian dari kekayaan ikan asli dan endemik yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem Danau Sentani.
Berkurangnya ikan asli sangat erat kaitannya dengan perubahan kondisi habitat. Pembangunan dan pelebaran jalan, berkurangnya vegetasi, pendangkalan danau, pencemaran, aktivitas pertambangan, serta sampah dan limbah domestik yang masuk ke perairan turut memberikan tekanan terhadap ekosistem danau.
“Persoalannya bukan hanya pada ikannya, tetapi juga habitatnya. Ketika vegetasi dan struktur habitat berkurang, tempat berlindung, mencari makanan, dan berkembang biak bagi ikan juga ikut berkurang,” ujarnya.
Keberadaan ikan introduksi atau ikan asing juga menjadi salah satu faktor yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan ekosistem Danau Sentani.
Beberapa jenis ikan pendatang, kata Suriani, seperti mujair dan jenis ikan lainnya yang bersifat predator, dapat berinteraksi dan bersaing dengan ikan asli dalam memperoleh makanan dan ruang hidup. Dalam kondisi tertentu, ikan-ikan tersebut juga dapat memangsa telur maupun anakan ikan asli.
“Ikan endemik memiliki karakteristik ekologis yang berbeda dengan ikan pendatang. Mereka telah beradaptasi dengan kondisi lingkungan Danau Sentani dalam waktu yang panjang. Ketika terjadi perubahan habitat dan muncul tekanan baru, kemampuan adaptasinya perlu dikaji lebih lanjut.”
Ikan asli dan endemik juga, katanya, memiliki ketergantungan terhadap habitatnya. Seperti, akar pohon, batang kayu, batu, serta vegetasi di sekitar perairan dapat menjadi tempat berlindung sekaligus lokasi pemijahan dan perlindungan bagi telur serta anakan ikan.
“Kalau habitat tersebut hilang akibat pembangunan atau perubahan lingkungan, ikan kehilangan tempat berlindung dan berkembang biak. Ini menjadi salah satu tekanan yang perlu mendapat perhatian,” katanya.

Lindungi ikan asli, caranya?
Ruben Sineri, Kepala Pelaksana Tugas (Plt) Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Jayapura membenarkan ada ancaman hilangnya ikan endemik dan asli di Danau Sentani.
“Baru dua ikan endemik yang sudah punah itu ikan hiu gergaji dan ikan gete-gete. Kami akan melakukan edukasi kepada masyarakat untuk melestarikan ikan endemik danau sentani,” katanya, di kantornya, Jumat (25/9/26).
Louhan dan gastor, kata Ruben menjadi hama yang seringkali menjadi predator dan memakan telur-telur ikan endemik dan ikan asli hingga sulit berkembang biak. Dia mengupayakan pemusnahan dengan membuat perlombaan memancing ikan louhan dan gastor oleh masyarakat.
“Jika dilakukan secara rutin tentu bisa mengurangi predator ikan asli ini. Dan hasil tangkapan itu jadikan pakan buat ikan budidaya. Karena bupati Jayapura juga memberikan atensi kepada ikan endemik jadi ikan asli dan endemik Danau Sentani menjadi perhatian kami juga,” kata Ruben.

Jika ikan endemik punah, katanya, berarti slogan “hidupku adalah budayaku” akan hilang. Padahal, budaya itu perlu kita jaga serta kearifan lokalnya, salah satunya melestarikan keberadaan ikan-ikan endemik ini.
Suriani menegaskan, upaya pelestarian ikan endemik tidak cukup hanya dengan menjaga populasinya saja, juga kualitas dan keberlanjutan habitat Danau Sentani.
Dia pernah melakukan penelitian dengan upaya rekayasa habitat dan pemijahan ikan asli. Kesimpulannya, pendekatan in vitro dengan pemberian hormon dari luar dapat merangsang pemijahan dan penetasan yang baik. Namun, tingkat kelangsungan hidup menjadi tantangan, hanya 50% anakan yang bisa bertahan hidup.
Dia bilang keberhasilan konservasi ikan endemik sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, seperti suhu, pH, kualitas air, ketersediaan makanan, vegetasi, serta struktur habitat.
“Harapan kita supaya pemerintah buat aturan untuk melindungi ikan-ikan asli ini. Kita punya ikan-ikan asli ini hilang atau punah itu sama saja dengan identitas orang Sentani hilang. Karena ikan-ikan asli ini Tuhan kasih untuk kita jaga, juga untuk kita makan sehari-hari,” kata Yanpit.
*****
Saat Ikan Endemik Danau Sentani Terancam Punah akibat Pendangkalan, Limbah dan Ikan Introduksi