Bulan Oktober 2011 menjadi catatan kelam bagi sejarah konservasi satwa dunia ketika laporan dari International Rhino Foundation (IRF) dan World Wide Fund for Nature (WWF) memastikan kepunahan badak Vietnam (Rhinoceros sondaicus annamiticus). Subspesies badak Jawa yang tersisa di daratan Asia ini lenyap selamanya setelah individu terakhir ditemukan mati dengan luka tembak pemburu pada tahun 2010. Kematian ini menandai hilangnya subspesies kedua secara tragis. Peristiwa tersebut menyusul kepunahan kerabat dekatnya, badak Jawa India, yang telah lebih dulu menghilang dari muka bumi.
Hampir lima belas tahun berlalu sejak peristiwa tersebut. Hilangnya populasi di Vietnam secara otomatis menjadikan badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon sebagai satu-satunya benteng bagi kelangsungan hidup spesies ini. Tragedi di Taman Nasional Cat Tien menegaskan betapa rentannya satwa ini terhadap ancaman kepunahan di alam liar. Realitas ini menempatkan populasi kecil yang tersisa di ujung barat pulau Jawa pada posisi yang sangat krusial dan menentukan bagi masa depan spesies tersebut.

Saat laporan kepunahan itu dirilis, WWF menyatakan bahwa investasi besar dalam upaya konservasi populasi badak Vietnam gagal menyelamatkan hewan unik ini dan Vietnam kehilangan sebagian dari warisan alamnya.
Fakta ini terungkap setelah peneliti mengumpulkan 22 sampel kotoran dari Taman Nasional Cat Tien antara tahun 2009 hingga 2010. Taman ini adalah benteng terakhir subspesies tersebut. Analisis menemukan bahwa semua sampel berasal dari satu badak yang ditemukan mati akibat perburuan pada tahun sebelumnya. Temuan ini menutup buku bagi keberadaan badak Vietnam untuk selamanya.
Kegagalan Konservasi dan Perburuan
Laporan WWF saat itu menegaskan status kepunahan tersebut. Berdasarkan cakupan survei yang baik, pengamatan lapangan, serta analisis keragaman genetik dan bakteri, populasi Vietnam dan subspesies annamiticus dari badak Jawa dipastikan punah.
Badak ini pernah berkeliaran di sebagian besar Asia Tenggara. Wilayah jelajahnya mencakup Vietnam di timur, Thailand di barat, dan Malaysia di selatan. Badak Vietnam awalnya dianggap punah setelah perang Vietnam akibat proliferasi senjata api. Satu populasi ditemukan kembali pada tahun 1988 namun populasi itu hanya bertahan selama 23 tahun setelah penemuan kembalinya.

Laporan tersebut menyebut kepunahan badak Jawa di Vietnam sebagai kegagalan konservasi yang besar. Saat ditemukan kembali pada 1988, populasi diperkirakan mencapai 10 hingga 15 individu dan habitat yang memadai masih tersedia. Jika badak dan habitatnya dilestarikan saat itu, pemulihan populasi mungkin dapat dilakukan melalui program manajemen intensif seperti yang pernah berhasil pada spesies badak India (Rhinoceros unicornis) dan Afrika.
Baca juga: Nasib Badak Jawa di Ujung Tanduk, Hanya Ada di Ujung Kulon
Penyebab utama kematian badak ini adalah ulah pemburu liar. Badak dibunuh secara ilegal untuk diambil culanya. Cula tersebut digiling menjadi obat tradisional yang digunakan di seluruh Asia Timur, terutama di Tiongkok dan Vietnam. Rhishja Larson dari Saving Rhinos saat itu menyebut peristiwa ini sebagai tragedi tak terlukiskan serta kerugian mengerikan bagi komunitas satwa liar. Ia memperingatkan bahwa jika perdagangan satwa liar ilegal terus menjamur, kepunahan badak Jawa di Vietnam adalah gambaran masa depan bagi banyak spesies terancam lainnya.

Selain perburuan, badak Vietnam juga menderita akibat hilangnya habitat skala besar dan perambahan pertanian. Vietnam gagal melindungi individu terakhir bahkan di salah satu taman nasionalnya yang paling terkenal. Populasi badak terbatas hanya pada 6.500 hektar habitat karena adanya jalur motor trail yang menghubungkan pemukiman di dalam taman. Laporan tersebut juga menyoroti ancaman terhadap megafauna lain di Vietnam akibat perdagangan daging satwa liar. Gajah Asia, harimau, gaur, dan banteng juga dilaporkan mengalami penurunan serius di wilayah tersebut.
Sejak saat itu, fokus konservasi beralih sepenuhnya ke populasi badak Jawa (Rhinoceros sondaicus sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon, Indonesia. Rekaman kamera jebakan mendokumentasikan induk dengan anak badak yang membuktikan populasi di sana masih berkembang biak. Tidak ada badak Jawa di penangkaran. Para ahli khawatir bencana alam seperti letusan gunung berapi besar dapat memusnahkan spesies ini sepenuhnya.