- Mangrove menjadi penopang hidup pencari kepiting bakau di pesisir Bangkalan. Nelayan seperti Rosidi, Wawan Setiawan, dan Honip menggantungkan penghasilan dari kepiting bakau yang ditangkap menggunakan alat tradisional seperti pentor dan lu gellu. Mereka berpindah-pindah lokasi mengikuti kondisi mangrove yang masih sehat sebagai habitat utama kepiting.
- Perempuan pesisir juga menjadi aktor penting dalam ekonomi perikanan tradisional. Di Desa Tengket, perempuan seperti Bunima rutin mencari kepiting, kerang, dan udang sejak dini hari. Dengan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun, mereka mampu membaca tanda-tanda keberadaan kepiting di hamparan lumpur mangrove dan berkontribusi langsung pada pendapatan keluarga.
- Kelestarian mangrove berperan besar menjaga produktivitas perikanan pesisir. Kawasan mangrove Arosbaya yang masih relatif terjaga menjadi habitat penting kepiting bakau sekaligus sumber penghidupan masyarakat. Kelompok Tani Hutan Karya Makmur Jaya aktif melakukan pembibitan dan penanaman mangrove untuk menjaga keberlanjutan ekosistem tersebut.
- Pembangunan kawasan pesisir harus memastikan ruang hidup nelayan tetap terlindungi. Pemerintah mengusulkan Desa Tengket sebagai lokasi Kampung Nelayan Merah Putih, namun pegiat perikanan mengingatkan agar program pembangunan tidak sekadar menghadirkan infrastruktur. Perlindungan ruang tangkap, partisipasi masyarakat, dan kelestarian ekosistem mangrove dinilai menjadi syarat utama bagi kesejahteraan nelayan pesisir.
Bertelanjang dada, Rosidi dan Wawan Setiawan duduk santai di pondok kayu di antara rimbunan hutan mangrove dan tambak di pesisir Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, Jawa Timur (Jatim). Mereka tengan beristirahat setelah menabur pentor, alat tangkap tradisional terbuat dari jaring dan kawat berbentuk persegi panjang berukuran 40x8x6.
Rosidi, berasal dari Kecamatan Omben, Sampang. Lebih dari 10 tahun ini dia meninggalkan kampung halaman bersama istrinya untuk bekerja mencari kepiting bakau di Bangkalan. Dia sewa rumah jadi tempat tinggal sementara.
“Re sarean, pak,” katanya, Minggu (10/5/26) siang itu. Maksudnya adalah berusaha mencari nafkah.
Rosidi mengatakan, pendapatan dari menangkap kepiting tak tetap. Bila beruntung, dia bisa dapat lima kilogram sehari. Hingga siang itu, dia baru mendapat 15 kepiting atau sekitar 1,5 kilogram yang telah dia ikat dengan rafia. Usai istirahat siang, dia kembali mengangkat bubu dan mendapat lima lagi. Wawan dapat sembilan kepiting.
Rosidi punya 50 pentor dan Wawan 35 pentor. Pentor bukan satu-satunya alat mereka untuk menangkap kepiting. Ada juga cara lain, bergantung pasang surut air laut. Misal, dengan metode lu gellu. Yakni, menggunakan besi panjang berdiameter enam milimeter yang dibengkokkan pada bagian ujung untuk memaksa keluar kepiting yang bersembunyi di balik rongga-rongga.
Cara terakhir ini mereka lakukan ketika laut surut.
Dengan menggunakan sepatu air, celana panjang, kaos lengan panjang, dan topong, Rosidi dan Wawan menelusuri celah-celah mangrove, bebatuan, lumpur, satu per satu.

Pindah-pindah tempat
Rosidi dan Wawan kerap pindah tempat untuk menangkap kepiting. Aktivitas itu biasa mereka lakoni dari pukul 07.00-14.00. Di mana ada hutan mangrove rimbun, di situlah mereka beroperasi, karena itulah satu-satunya habitat kepiting bakau yang bagus. “Kadeng kaento, kadeng nyare tempat laen (kadang di sini, kadang cari di tempat lain),” kata Wawan, Minggu (10/5/26).
Meski pendapatan tak menentu, Rosidi merasa cukup untuk menafkahi istri dan kedua anaknya.
Harga kepiting bervariasi. Harga kepiting kecil pada Mei ini berkisaran Rp60.000, ukuran besar bisa Rp200.000 setiap kilogram. Kalau kepiting betina, besar, dan ada telur, bisa tembus Rp500.000 per kilogram.
Honip, misal, pernah menjual kepiting enam ons Rp150.000. Pernah juga dia dapat kepiting bertelur dan laku Rp200.000. “Kemarin (saya) dapat Rp250.000, tidak tahu berapa kilo[gram], tetapi kecil-kecil,” katanya, sambil memeras baju di sungai sepulang mencari kepiting, Senin (11/5/26).
Hari itu, Honip mendapat belasan kepiting dengan cara lu gellu, berat sekitar dua kilogram lebih. Dia membawa tiga besi panjang yang bengkok bagian ujungnya.
Warga Desa Lajing, Kecamatan Bangkalan ini berangkat dari rumah ke Tengket pukul 5.30. Dia mulai mencari kepiting bakau sejak pukul 6.00 dan kembali pulang sekitar pukul 10.30.

Rawat hutan mangrove dan nelayan perempuan pesisir
Hutan mangrove di Desa Tengket, Arosbaya, rimbun nan lestari. Dia menjadi habitat penting kepiting yang menjadi sumber mata pencaharian para nelayan. Hutan mangrove di Kecamatan Arosbaya sekitar 10,3 hektar.
Bilal Kurniawan, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Karya Makmur Jaya, mengatakan, saat ini mereka fokus kegiatan area penanaman baru karena mangrove di lokasi saat ini sudah rimbun.
Dia membuat demplot pembibitan yang mampu menyediakan bibit mangrove 50.000-100.000 bibit per tahun dari berbagai jenis, yang sebagian di antaranya dia jual. Selain itu, Bilal juga jadikan fasilitas itu sebagai tempat pembelajaran tentang mangrove.
“Kami hanya memberikan contoh kecil bahwa lingkungan ini bisa kita kelola,” katanya.

Di Tengket, mencari kepiting tak hanya laki-laki, juga perempuan. Mereka sejak pagi ke laut untuk mencari kepiting, kerang, sampai udang. Bunima, nelayan perempuan Dusun Tambak, salah satunya.
Ibu tiga anak ini sudah ke laut sejak remaja.
Dia bilang, para perempuan di desanya sudah biasa mencari kepiting dan kerang. Mereka biasa berkelompok, 30-40 orang, berangkat pagi setelah subuh, pulang sekitar pukul 09.00.
“Kalau saya jam 5.00 baru berangkat … Itu sampai, kadang jam 9.00, kadang jam 10.00,” kata Bunima, Senin (11/5/26).
Namun begitu, pasang surut air laut tetap menjadi patokan utama mereka. Tak jarang, mereka berangkat pukul 03.00 dini hari karena pada jam itu, air laut tengah surut.
Saat kondisi pantai berlumpur tebal, dia dan teman-temannya biasa menggunakan papan kayu panjang sekitar satu meter untuk pijakan laiknya papak ski.
Karena sudah terbiasa, Bunima bisa mendeteksi keberadaan kepiting dari jejak kakinya atau gelembung-gelembung kecil di atas hamparan lumpur. Menurut dia, di balik gelembung-gelembung lumpur itulah kepiting bersembunyi.
“Kadang ada yang numpuk dua,” jelas Bunima.
Saat beruntung, dia bisa mendapat 15 kilogram kerang dan dua kilogram kepiting, bahkan udang ketika sedang musim. Atau, rata-rata Rp100.000-Rp250.000 setiap hari. Hasil tangkapan itu biasa mereka jual ke pengepul di Kelurahan Pejagan, Kecamatan Bangkalan, sekitar 30 menit dari Desa Tengket.
Data dari Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Bangkalan, dalam triwulan pertama 2026, produksi kepiting di Bangkalan sebanyak 147,6 ton dengan nilai produksi Rp14,76 miliar. Sedangkan rajungan 973,7 ton senilai sekitar Rp87,63 miliar.

Tantangan
Achmad Hidayat Kurniawan, Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan, Bangkalan, mengatakan, berdasarkan Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Bangkalan 2024-2044, kawasan ekosistem mangrove di Bangkalan mencakup sembilan kecamatan dengan luas 534 hektar. Sembilan kecamatan yakni Arosbaya, Bangkalan, Blega, Klampis, Kwanyar, Modung, Sepulu, Socah, dan Tanjung Bumi.
Sebagai bentuk dukungan terhadap nelayan, pihaknya menanggung biaya iuran BPJS Ketenagakerjaan. Pada 2025, total nelayan yang tercover program ini capai 3.454 nelayan dan bertambah menjadi 3.906 nelayan tahun ini.
“Ada perlindungan nelayan, ada pemberdayaan nelayan,” jelas Kurniawan.
Pihaknya mengajukan delapan proposal Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) ke pemerintah pusat. Lima telah survei, namun hanya dua lokasi yang dianggap layak, yaitu, Desa Tengket, di Kecamatan Arosbaya dan Desa Batah Timur, Kecamatan Kwanyar.
“Dan itu pun masih bersyarat. Bersyarat maksudnya ketika syaratnya enggak dipenuhi, bisa jadi gagal,” katanya.
Bila telah ditetapkan sebagai KNMP, di desa itu akan dibangun berbagai fasilitas untuk para nelayan di atas lahan seluas 1 hektar, seperti bengkel kapal dan kios-kios nelayan.
“Itu nilainya kalau di anggarannya sampai Rp22 miliar,” jelas Kurniawan. Pengelolaannya nanti akan dilakukan oleh desa lewat Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Susan Herawati, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), ingatkan pemerintah untuk memperhatikan partisipasi publik dalam pembangunan kawasan pesisir. Selama ini, katanya, pemerintah pusat banyak mengambil alih pengaturan ruang pesisir dan pulau-pulau kecil.
“Pengaturan ruang di pesisir dan pulau-pulau kecil kan memang permasalahan paling menyedihkan itu adalah semua kewenangan itu kan ditarik di pusat,” katanya, Senin (18/5/26).
Menurut dia, pemerintah daerah perlu melakukan protes kolektif terkait hal ini. Pasalnya, daerah pula yang mendapatkan dampak pertama kali bila terjadi kerusakan lingkungan.
Kalau para nelayan mau didorong ke dalam industrialisasi, menurutnya, pemerintah harusnya memastikan ruang tangkap nelayan tetap terjaga. Selain memberikan pelatihan yang layak, serta inovasi alat tangkap yang ramah lingkungan.
“Karena percuma ada fasilitas, tapi kemudian lautnya rusak.”
*****