- Bambu terbukti berperan penting dalam menjaga ketahanan lingkungan dan sumber air. Ketangguhannya terlihat saat banjir bandang di Denpasar pada 2025, ketika rumpun bambu mampu bertahan di tengah kerusakan sempadan sungai. Di Desa Sandan, Tabanan, penanaman bambu sejak 2004 berhasil memulihkan sumber air yang sebelumnya mengering.
- Masyarakat adat dan komunitas lokal masih menjadi garda terdepan pelestarian bambu. Warga Desa Sandan melindungi hutan bambu melalui awig-awig, sementara masyarakat Desa Tigawasa menjaga hutan bambu sebagai sumber air, ruang budaya, serta penopang ekonomi melalui kerajinan dan wisata edukasi.
- Di tengah tingginya kebutuhan bambu, pengetahuan budidaya justru semakin menurun. Bali membutuhkan sekitar 34 juta batang bambu per tahun untuk kebutuhan adat, konstruksi, dan pariwisata, tetapi mengalami defisit hingga 31 juta batang. Sejumlah pegiat dan peneliti menilai hilangnya pengetahuan lokal tentang pembibitan dan pengelolaan bambu menjadi tantangan utama, tidak hanya di Bali tetapi juga di daerah lain seperti Ngada, Nusa Tenggara Timur.
- Festival Bambu Samsara menyoroti pentingnya mengembalikan bambu sebagai bagian dari budaya, ekonomi, dan solusi ekologis. Para akademisi, peneliti, dan pemerintah menegaskan bahwa bambu bukan sekadar komoditas atau elemen estetika, melainkan bagian dari warisan budaya, ketahanan bencana, sumber penghidupan, hingga solusi rehabilitasi lahan kritis.
Berbagai lokasi terlihat porak-poranda setelah banjir bandang menerjang Kota Denpasar, Bali menjelang akhir 2025. Dari jejak sampah yang tersangkut di pohon, tinggi genangan mencapai 3-5 meter di atas permukaan sungai. Puluhan rumah roboh, talud beton ambrol, dan belasan orang meninggal dunia. Di tengah kerusakan itu, ada satu vegetasi yang tetap bertahan: rumpun bambu.
Ketangguhan bambu dalam menghadapi bencana bukanlah kebetulan. Selain mampu menyimpan cadangan air hingga sekitar 3.500 liter dalam satu rumpun, sistem perakaran bambu yang rapat juga efektif menahan tanah di sempadan sungai sehingga mengurangi risiko erosi dan longsor.
Cerita bambu dalam menjaga ketersedian air juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan. Dua dekade lalu, sebagian warga desa itu harus membeli air lantaran sumber-sumber air mengering. Hingga pada 2004, warga berinisiatif menanam bambu di kawasan perbukitan dan lahan-lahan kritis.
Upaya itu terus berlanjut hingga membentuk hutan bambu seluas sekitar 100 hektar dengan lebih dari 50 jenis bambu. Setelah lebih 20 tahun, warga mulai merasakan hasilnya. Mata air kembali mengalir dan menyuplai kebutuhan masyarakat, tidak hanya di Desa Sandan juga wilayah hilir di sekitarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan hutan bambu, masyarakat menerapkan aturan adat atau awig-awig yang melarang penebangan bambu tanpa persetujuan komunitas.

***
Dalam kehidupan masyarakat Bali, bambu hampir selalu hadir dalam berbagai ritual dan tradisi. Ironisnya, makin sedikit generasi muda yang memahami peran bambu sebagai penjaga sumber air, bahan kerajinan, elemen seni pertunjukan, hingga bagian penting dari identitas budaya masyarakat.
Persoalan inilah yang menjadi salah satu tema utama dalam Samsara Bamboo Festival 2026 yang terselenggara bekerja sama dengan pemerintah daerah, Direktorat Jenderal Perlindungan Budaya dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, serta Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL).
Nurul Firmansyah, Koordinator Program YBLL, menyebut, kebutuhan bambu di Bali mencapai sekitar 34 juta batang per tahun untuk berbagai keperluan. Mulai dari upacara adat, pembangunan rumah, hingga kebutuhan industri pariwisata. Namun, produksi lokal masih jauh dari cukup.
“Defisitnya mencapai sekitar 31 juta batang per tahun, sehingga harus didatangkan dari luar Bali,” katanya.
Menurut dia, persoalan utama bukan semata keterbatasan lahan, melainkan hilangnya pengetahuan budidaya bambu di tengah masyarakat.
“Kenapa pengetahuan budidaya bambu hilang? Bukan hanya di Bali. Di Ngada misalnya, yang dikenal memiliki budaya bambu kuat, kini juga mengalami kesulitan membibitkan bambu,” katanya.
Dia menilai, terjadi jurang antara narasi visual tentang bambu dan pengetahuan material yang mendukung keberlanjutannya. Karena itu, gerakan budidaya bambu perlu dipandang bukan hanya sebagai upaya penghijauan, juga sebagai bagian dari penguatan aspek sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat.
Secara global, nilai pasar bambu diperkirakan mencapai sekitar US$85 miliar. Tanaman ini memiliki lebih 1.500 jenis pemanfaatan, mulai dari bahan tekstil hingga biomassa untuk pembangkit listrik.
Namun, pengembangan ekonomi bambu juga menghadapi tantangan. Nurul mencontohkan, proyek pembangkit listrik biomassa berbasis bambu di Mentawai yang mengalami kegagalan karena praktik pemanenan tanpa memperhatikan prinsip keberlanjutan.

Bukan sekadar komoditas
Gede Maha Putra, Arsitek Universitas Warmadewa, melihat kecenderungan lain yang juga mengkhawatirkan. Menurut dia, bambu makin sering sebagai komoditas visual dalam ruang negosiasi ekonomi dan investasi, sementara pengetahuan komunal yang menyertainya perlahan memudar.
“Bambu adalah pengetahuan lokal yang kini beroperasi dalam sistem kapitalisasi global. Yang hilang justru pengetahuan kolektifnya,” ujarnya.
Karena itu, dia mendorong ada model hibridisasi yang mampu menggabungkan kebutuhan ekonomi modern dengan transfer pengetahuan lokal. “Pertanyaannya, apakah kita hanya menjual citra visual bambu, atau sedang membangun masa depan bambu?” katanya.
Pandangan serupa Agus Widiatmoko, Direktur Warisan Budaya Direktorat Jenderal Perlindungan Budaya dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, sampaikan. Dia menuturkan, pernah menemukan empat situs candi yang dikelilingi rumpun bambu. Saat proses ekskavasi, dia meminta seluruh bambu direlokasi, bukan ditebang habis.
Menurut Agus, bambu tidak bisa semata sebagai komoditas ekonomi.
“Bambu adalah bagian dari budaya. Ia menjadi bahan bangunan, sumber pangan, elemen arsitektur, pranata religi, penunjang kehidupan masyarakat, hingga bagian dari ketahanan bencana,” katanya.
Dia berharap, pemerintah dapat mendorong pengembangan perkebunan bambu sebagaimana yang dilakukan pada komoditas perkebunan lainnya, disertai penguatan kapasitas komunitas melalui pelatihan budidaya dan pengolahan produk bambu.

Asuransi kehidupan
Wawan Sujarwo, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyebut ,bambu sebagai “asuransi kehidupan” masyarakat Bali. Sayangnya, ikatan sosial masyarakat dengan bambu terus melemah. Padahal, filosofi bambu hadir dalam berbagai tradisi nusantara.
Di Toraja, misal, upacara pemakaman adat Rambu Solo melibatkan penggunaan bambu sebagai bagian penting dari struktur ritual. Di Minangkabau, bambu menjadi bagian dari tradisi membangun surau yang memperkuat hubungan sosial masyarakat.
Karena itu, Wawan mendorong lahirnya gerakan penanaman bambu yang lebih sistematis. Salah satu gagasannya, mewajibkan setiap keluarga menanam sedikitnya lima rumpun bambu di kawasan-kawasan kritis.
Samsara Bamboo Festival memperlihatkan bahwa bambu memiliki potensi yang jauh melampaui fungsi tradisionalnya. Dalam festival tersebut, bambu tampil sebagai bahan rumah tradisional yang kuat dan estetis, material inovatif untuk arsitektur dan sepeda, hingga karya seni instalasi yang memikat.
Di Samsara Living Museum, rumpun-rumpun bambu yang selama ini sering dianggap sebagai area semak yang kurang terawat justru menjadi kanopi alami yang teduh.
Di bawah naungan bambu itulah muncul pengingat bahwa masa depan tanaman ini tidak hanya bergantung pada nilai ekonominya, juga pada kemampuan masyarakat mewariskan pengetahuan yang selama ini menjaganya tetap hidup.

Ruang sakral
Di Desa Tigawasa, Kabupaten Buleleng, hutan bambu tidak hanya menjadi penjaga sumber air, tetapi juga bagian dari ruang sakral masyarakat. Keberadaannya turut menopang ekonomi warga melalui kerajinan bambu dan wisata edukasi berbasis trekking di kawasan hutan bambu.
Guntur, pemuda Tigawasa, menjadi salah satu generasi muda yang aktif melestarikan pengetahuan tersebut. Bersama ibunya, dia mengikuti pameran dalam Samsara Bamboo Festival 2026 yang berlangsung di Samsara Living Museum, Kabupaten Karangasem, akhir Mei.
Perjalanan dari Tigawasa menuju lokasi festival membutuhkan waktu sekitar tiga jam berkendara. Namun, bagi Guntur, upaya itu penting agar makin banyak orang memahami bahwa bambu bukan sekadar material bangunan atau perlengkapan upacara, melainkan tanaman yang memiliki fungsi ekologis dan budaya yang vital.

*****
Ketika Permintaan Bambu Flores Tinggi, Bagaimana Jaga Keberlanjutan di Alam?