- Populasi orangutan sumatera (Pongo abelii). diperkirakan berkurang sekitar 2.700 individi dalam satu dekade terakhir. Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut.
- Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di Sumatera.
- Dalam wilayah pembanding yang sama, jumlah orangutan sumatera diperkirakan turun dari sekitar 13.846 individu (2011) menjadi 11.146 individu (2023). Artinya, sedikitnya 2.700 orangutan sumatera hilang dalam periode tersebut, atau rata-rata sekitar 225 individu setiap tahun.
- Ekosistem Leuser masih menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84 persen populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat dan Leuser Timur, yang masing-masing diperkirakan menampung sekitar 4.935 individu dan 4.926 individu.
Dalam kurun waktu sekitar satu dekade, hutan-hutan di utara Sumatera diperkirakan kehilangan sekitar 2.700 individu orangutan sumatera (Pongo abelii). Jumlah itu, setara hampir seperlima populasi kera besar endemik Pulau Sumatera tersebut.
Angka tersebut diperoleh dari survei lapangan menyeluruh periode 2021–2023. Para peneliti menyusuri sekitar 208 sarang orangutan yang mencakup hampir seluruh habitat spesies tersebut di Sumatera.
Hasil penelitian itu dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional Global Ecology and Conservation berjudul “Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021–2023” edisi 20 Juni 2026. Riset ini dipimpin Adhi N. Hadi dan Julius P. Siregar, bersama belasan peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman.
Dengan menggunakan metode yang sama seperti survei 2011, para peneliti menemukan populasi orangutan sumatera menurun sekitar 19,5 persen dalam satu dekade terakhir, atau rata-rata 1,8 persen setiap tahun.
Dalam wilayah pembanding yang sama, jumlah orangutan sumatera diperkirakan turun dari sekitar 13.846 individu (2011) menjadi 11.146 individu (2023). Artinya, sedikitnya 2.700 orangutan sumatera hilang dalam periode tersebut, atau rata-rata sekitar 225 individu setiap tahun.
“Perbandingan distribusi yang sama menunjukkan penurunan populasi orangutan sumatera sebesar 19,5 persen. Ini setara 1,8 persen per tahun,” tulis Adhi dan kolega dalam laporannya.
Di tengah tren penurunan itu, Ekosistem Leuser masih menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Sekitar 84 persen populasi spesies ini berada di kawasan Leuser Barat dan Leuser Timur, yang masing-masing diperkirakan menampung sekitar 4.935 individu dan 4.926 individu.
Kepadatan tertinggi, ditemukan di kawasan rawa gambut Trumon-Singkil, dengan rata-rata 1,18 individu per kilometer persegi. Kondisi ini, menjadikannya sebagai habitat orangutan sumatera dengan kepadatan tertinggi di dunia.

Kerusakan hutan
Riset ini menunjukkan, hilangnya hutan masih menjadi penyebab utama menurunnya populasi orangutan sumatera. Selama periode 2011-2023, sekitar 94.399 hektar hutan hilang dari habitat orangutan di Sumatera.
Analisis statistik menunjukkan, hilangnya hutan menyebabkan terjadinya sekitar 76 persen variasi penurunan populasi, di seluruh metapopulasi orangutan sumatera. Namun, kerusakan habitat bukan satu-satunya ancaman. Para peneliti menemukan sejumlah kawasan mengalami penurunan populasi yang jauh lebih besar dibandingkan luas hutan yang hilang. Faktor tersebut adalah perburuan, perdagangan liar, pembunuhan akibat konflik manusia-orangutan, hingga kematian.
“Kehilangan habitat saja tidak menjelaskan seluruh penurunan populasi,” jelas para peneliti.
Data pemerintah yang dianalisis dalam penelitian ini memperkuat dugaan tersebut. Sepanjang 2012-2024, tercatat 319 kasus penyelamatan maupun konflik orangutan di Aceh dan Sumatera Utara.
Dari jumlah itu, sebanyak 57 individu disita dari kepemilikan masyarakat, yang sekitar 60 persen merupakan anak orangutan usia di bawah empat tahun. Menurut para peneliti, keberadaan bayi orangutan dalam perdagangan ilegal hampir selalu menjadi pertanda bahwa induknya telah dibunuh.
Temuan lain yang juga mengkhawatirkan adalah banyaknya orangutan yang hidup di luar kawasan konservasi. Diperkirakan, sekitar 18 persen populasi orangutan sumatera berada di kawasan hutan produksi maupun areal penggunaan lain (APL).
“Satu contoh nyata adalah Rawa Tripa, yang seluruh populasinya hidup tanpa perlindungan formal.”
Para peneliti menegaskan bahwa menetapkan suatu kawasan sebagai kawasan lindung saja, tidak cukup untuk menghentikan laju penurunan populasi orangutan.
“Penegakan hukum, pemulihan konektivitas antar-metapopulasi yang terfragmentasi, serta intervensi yang ditargetkan pada bentang alam yang tidak memiliki perlindungan formal, merupakan prioritas mendesak yang harus dilakukan.”

Besarnya angka penurunan
Mongabay Indonesia menghubungi Adhi N. Hadi, yang saat ini bertugas sebagai Kepala Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur. Secara singkat, dia menjelaskan bahwa seluruh temuan dan penjelasan terkait penelitian tersebut dapat dilihat secara lengkap dalam naskah jurnal yang telah dipublikasikan.
“Terkait kemungkinan pengembangan atau tindak lanjut penelitian tersebut, untuk saat ini saya belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut,” jelasnya, Jumat (26/6/26).
Serge Wich, peneliti orangutan sumatera lain yang terlibat dalam penulisan jurnal, mengatakan temuan paling mengkhawatirkan dari studi tersebut adalah besarnya penurunan populasi.
“Populasi orangutan sumatera turun sangat tajam selama 12 tahun periode penelitian,” jelas Wich yang merupakan Profesor Biologi Primata di Liverpool John Moores University dan Profesor Konservasi Kera Besar di University of Amsterdam, kepada Mongabay Indonesia, Jumat (26/6/26).
Dia menambahkan, penyebab utama penurunan populasi masih didominasi hilangnya hutan yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda melambat. Di beberapa wilayah, jumlah orangutan yang hilang bahkan lebih besar dibanding yang diperkirakan akibat kehilangan hutan.
“Hasil penelitian menunjukkan, kehilangan hutan merupakan faktor paling penting yang mendorong penurunan populasi orangutan,” ujar Wich yang meneliti orangutan sumatera sejak 1994.

Wich menegaskan Ekosistem Leuser tetap menjadi benteng utama kelangsungan hidup orangutan sumatera. Wilayah ini memiliki populasi terbesar sekaligus bentang hutan terluas. Perlindungan rawa gambut, khususnya di bentang alam Trumon–Singkil penting dilakukan, karena habitatnya orangutan.
“Rawa gambut menyimpan karbon jauh lebih banyak dibandingkan hutan tanah mineral. Karbon sangat penting dalam upaya mengurangi dampak krisis iklim.”
Menurut Wich, pemerintah perlu memprioritaskan dua langkah utama, yaitu menghentikan kehilangan hutan dan menghentikan pembunuhan orangutan.
“Saya optimis orangutan sumatera maupun orangutan tapanuli yang berada di Sumatera Utara, bisa diselamatkan. Semua pihak harus komitmen terhadap upaya penyelamatannya, mulai pemerintah, perusahaan, masyarakat lokal, organisasi konservasi, ilmuwan, dan komunitas internasional,” tegasnya.

Orangutan sumatera dievakuasi
Satu individu orangutan sumatera jantan (8 tahun) dievakuasi dari areal Hak Guna Usaha (HGU) PT SPS di kawasan Rawa Tripa, Kecamatan Tripa Makmur, Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, Jumat (19/6/26).
Satwa dilindungi itu ditemukan dalam kondisi dehidrasi, kurus, dan luka pada kaki kiri. Tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) mengevakuasi orangutan tersebut setelah menerima laporan.
Ujang Wisnu Barata, Kepala BKSDA Aceh, mengatakan luka kaki kiri diduga terjadi alami. Sementara kondisi tubuh yang lemah berkaitan gangguan habitat, termasuk kebakaran yang terjadi beberapa pekan lalu.
“Sepertinya terisolas. Dehidrasi dan kekurangan gizi diduga karena lari dari area terbakar,” jelasnya, Rabu (24/6/26).
Orangutan tersebut menjalani perawatan di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan Sibolangit, Sumatera Utara. Setelah pulih, kemungkinan dilepasliarkan di kawasan konservasi Cagar Alam Jantho, bukan di Rawa Tripa.

Temuan ini kembali menyoroti kondisi habitat orangutan di Rawa Tripa yang menyusut. BKSDA memperkirakan, hanya tersisa sekitar 10–15 individu orangutan dewasa di kawasan rawa gambut tersebut.
“Area Rawa Tripa menyusut sehingga habitatnya terganggu. Statusnya juga masih APL, sehingga perlindungannya lebih sulit.”
Rawa Tripa merupakan habitat penting orangutan sumatera di pesisir barat Aceh. Namun, tekanan akibat alih fungsi lahan, fragmentasi hutan, dan kebakaran berulang membuat ruang hidup orangutan di kawasan ini makin terancam.
Referensi:
Hadi, A. N., Siregar, J. P., Anugrah, N., Kuswanda, W., Manalu, J. H. B., Nasution, N., … & Buckley, B. J. (2026). Population Status of Sumatran and Tapanuli Orangutans: A Comprehensive Assessment 2021-2023. Global Ecology and Conservation, e04302. https://doi.org/10.1016/j.gecco.2026.e04302
*****
Populasi Orangutan Tapanuli Berkurang Tujuh Persen Akibat Bencana Sumatera