- Curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang terjadi akhir 2025, telah memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah Sumatera. Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) pun terancam kelestariannya akibat hujan luar biasa itu.
- Kalibrasi data citra satelit yang digunakan para peneliti, memperlihatkan tutupan hutan seluas 8.303 hektar yang longsor, di habitat orangutan tapanuli, kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
- Berdasarkan data penelitian, sebanyak 58 individu orangutan tapanuli mati akibat bencana tersebut. Dengan populasi liar yang hanya tersisa kurang dari 800 individu, kehilangan puluhan individu dalam satu kejadian merupakan guncangan demografis serius dan bisa mempercepat jalan menuju kepunahan.
- Ancaman kelestarian orangutan tapanuli tidak hanya berasal dari kehilangan habitat, fragmentasi hutan, perburuan, dan konflik dengan manusia, tetapi kini diperparah krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem.
Gaung peringatan itu datang dari para peneliti. Hujan ekstrem yang terjadi akhir 2025 lalu, tak hanya menimbulkan dampak sangat besar bagi masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera. Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) pun terancam kelestariannya akibat hujan luar biasa itu.
Curah hujan dengan intensitas sangat tinggi beberapa hari itu, telah memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah Sumatera. Selain merusak permukiman, lahan pertanian, serta fasilitas umum, bencana juga merenggut ribuan korban jiwa dan memaksa banyak warga mengungsi dari tempat tinggal mereka. Laporan BNPB menyebut, bencana di Sumatera hingga pertengahan Desember tahun lalu telah merenggut korban jiwa 1.016 orang.
Kalibrasi data citra satelit yang digunakan para peneliti, memperlihatkan tutupan hutan seluas 8.303 hektar yang longsor, di habitat orangutan tapanuli, kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Spesies kera besar ini paling sedikit populasinya, dibanding kerabatnya, yaitu orangutan sumatera dan orangutan kalimantan. Sehingga kabar kematiannya, seberapapun kecil angkanya, menjadi pukulan besar bagi upaya konservasi.
Dalam bencana tersebut, media hanya melaporkan satu individu orangutan tapanuli yang menjadi korban peristiwa itu. Namun, hasil penelitian menggunakan citra satelit menyebut, jatuhnya korban sesungguhnya puluhan kali lipat. Jumlahnya, diperkirakan 58 individu dan itu angka moderat. Bisa jadi, korbannya jauh lebih besar.
Dengan populasi liar yang hanya tersisa kurang dari 800 individu, kehilangan puluhan individu dalam satu kejadian merupakan guncangan demografis serius dan bisa mempercepat jalan menuju kepunahan.
“Hilangnya sekitar 58 individu ini merupakan kejutan besar bagi kelangsungan hidup populasi orangutan tapanuli. (Padahal) potensi kematian yang disebabkan efek lain, seperti kerusakan kanopi yang disebabkan curah hujan dan berkurangnya ketersediaan makanan, belum dimasukkan dan (kami) membuat perkiraan konservatif,” tulis Erik Meijaard, peneliti dari Inggris mewakili rekan-rekannya.
Laporan penelitian mereka dimuat dalam jurnal Current Biology, edisi 22 Juni 2026, dengan judul “Extreme rainfall further endangers the world’s rarest great ape.” Selain dari Inggris, kolaborasi penelitian internasional ini juga melibatkan peneliti Brunei, Belanda, Belgia, Prancis, Malaysia, Jerman, dan Indonesia.
Selama ini orangutan tapanuli terisolasi di tiga blok Batang Toru, yaitu Blok Barat, Timur, dan Selatan. Data spasial menunjukkan, sekitar 11 persen dari populasi di Blok Barat kemungkinan tewas. Disebutkan, aliran cepat puing-puing telah membuat primata arboreal ini tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri.
Kabar kematian puluhan spesies langka ini bukan sekadar tragedi ekologis. Melainkan alarm keras bahwa kelestarian orangutan tapanuli berada di ujung tanduk.

Makin terancam
Sejak diakui sebagai spesies baru pada 2017, orangutan tapanuli memiliki populasi sangat terbatas. Habitatnya pun terisolasi dan terus mengalami degradasi.
“Studi menunjukkan bahwa kehilangan populasi tambahan yang berkelanjutan melebihi satu persen per tahun akan mengakibatkan kepunahan,” jelas Erik Meijaard dan kolega.
Kera besar pada umumnya memiliki sejarah hidup yang lambat, dan orangutan merupakan yang paling lambat di antara mereka. Interval kelahiran betina mencapai 6-9 tahun.
Pada November 2025 lalu, curah hujan ekstrem selama beberapa hari memicu tanah longsor di Blok Barat Batang Toru. Orangutan tapanuli didera bahaya tanpa perlindungan berarti. Untuk memastikan keberadaan mereka, survei perlu dilakukan. Namun, sulit mengerjakannya mengingat longsor mencakup ribuan hektar, dengan kondisi medan curam dan berbahaya, serta amat sulit diakses.
Untuk melihat perubahan tutupan hutan sebelum dan sesudah hujan ekstrem, para peneliti menggunakan empat citra satelit Sentinel-2 yang memiliki kerapatan hingga 10 meter. Mereka juga menggunakan citra dari PlanetScope yang mempunyai kerapatan hingga 3 meter.
Hasilnya, terdapat area longsor sebanyak 8.303 hektar yang jelas terlihat dari satelit, atau sekitar 11,7 persen tutupan hutan di Blok Barat hilang karena longsor. Artinya, sekitar seperdelapan bagian hutan telah lenyap.
Analisis spasial menunjukkan 11 persen dari populasi atau sekitar 58 individu tinggal di area longsor. Pola tanah longsor yang terekam menunjukkan peristiwa sangat merusak dan berlangsung sangat cepat. Orangutan yang terjebak dalam tanah longsor ini memiliki sedikit peluang untuk melarikan diri.
Menurut laporan itu, kematian orangutan dalam bencana ini disebabkan pohon tumbang, tertimbun tanah longsor, atau terseret banjir dan tenggelam. Peristiwa longsor mendadak di kawasan curam, kanopi runtuh dan materialnya mengalir ke jaringan drainase dengan cepat, membuat orangutan meski berada di atas pohon hanya punya kesempatan kecil untuk melarikan diri.
Pukulan untuk orangutan bukan datang saat longsor saja. Namun juga berlanjut setelahnya. Tanah longsor menghancurkan seluruh biomassa dan lapisan tanah di atasnya, sehingga bekas luka longsor praktis tidak menyisakan sumber makanan bagi orangutan.
“Tanah longsor ini menghilangkan semua biomassa dan tanah di atasnya. Kami memperkirakan bekas luka akan menyediakan sumber makanan yang mendekati nol bagi orangutan setidaknya selama 5-10 tahun sampai pertumbuhan kembali hutan perintis.”
Peneliti juga menggarisbawahi kemungkinan orangutan yang selamat terpaksa berpindah ke habitat berkualitas rendah. Pilihannya dua, ke dataran rendah yang lebih banyak individu atau ke tempat lebih tinggi namun makanan lebih langka.
Sementara itu, celah kanopi akibat berkurangnya kepadatan pohon membuat orangutan yang aboreal harus turun saat berpindah tempat. Situasi ini membuat primata yang terbiasa berpindah dari pohon satu ke pohon lain, harus mengeluarkan energi dan waktu lebih banyak untuk bergerak. Peningkatan kecil pada upaya berpindah bisa mengurangi waktu makan, mengganggu reproduksi, dan bahkan meningkatkan kematian ungkap laporan itu.

Moratorium
Pemerintah Indonesia saat ini untuk sementara, diharapkan menghentikan proyek pembangunan di bentang alam Batang Toru. Baik untuk pertambangan, perkebunan sawit, maupun perluasan pembangkit listrik tenaga air. Berbagai upaya untuk perlindungan konservasi dilakukan. Namun, hal ini tidak cukup untuk memastikan kelangsungan hidup primata langka ini dalam jangka panjang.
Menurut pandangan para peneliti, kesempatan tersebut menawarkan kesempatan langka yang bisa dimanfaatkan untuk menilai kembali risiko ekologis dan mengatur ulang model pembangunan terkait habitat orangutan tapanuli.
Mereka merekomendasikan moratorium pada kegiatan penggunaan lahan yang menurunkan habitat yang tersisa. Selain itu, mereka juga menyarankan kawasan lindung di sekitar Blok Barat dan koridor utama diperluas.
“Kami merekomendasikan pertimbangan mendesak untuk penetapan ekosistem Batang Toru sebagai Kawasan Strategis Nasional, yang akan memberikan dasar hukum yang lebih kuat untuk perlindungan jangka panjang spesies tersebut,” tulis para peneliti.
Mereka juga menyerukan kepada masyarakat internasional untuk berbagi tanggung jawab mendukung mitigasi yang dilakukan Indonesia. Ke depan curah hujan ekstrem akan lebih sering terjadi, yang merupakan konsekuensi logis dari perubahan iklim.
“Melalui penguatan perlindungan domestik, perencanaan yang responsif terhadap iklim, serta bantuan keuangan dan teknis global, kita masih dapat mencegah kepunahan moderen pertama spesies kera besar,” tulis mereka di bagian akhir laporan.

Ancaman serius
Panut Hadisiswoyo, Direktur Green Justice Indonesia, mengatakan hasil penelitian yang dilakukan sejumlah pakar, mengindikasikan penurunan populasi orangutan tapanuli yang cukup signifikan. Terutama, di Blok Barat Ekosistem Batang Toru.
“Penelitian yang kami lakukan menunjukkan adanya pengurangan sekitar 11 persen populasi di Blok Barat atau sekitar 7 persen dari total populasi orangutan tapanuli,” jelasnya kepada Mongabay Indonesia, Kamis (25/6/26).
Menurut Panut, yang merupakan tim penulis laporan tersebut, angka 58 individu orangtan tapanuli yang menjadi korban akibat bencana tersebut diperoleh dari analisis terhadap luasan habitat yang rusak, serta tingkat kepadatan populasi orangutan di kawasan terdampak.
Ancaman kelestarian orangutan tapanuli tidak hanya berasal dari kehilangan habitat, fragmentasi hutan, perburuan, dan konflik dengan manusia, tetapi kini diperparah krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem.
“Ancaman kelangsungan populasi orangutan tapanuli makin bertambah dan sangat memungkinkan mempercepat kepunahan spesies ini.”
Populasi orangutan tapanuli yang diperkirakan kurang dari 800 individu, tersebar dalam tiga kantong populasi terpisah. Sekitar 500 individu di Blok Barat, sebanyak 160 individu di Blok Timur, dan sekitar 50 individu di kawasan Cagar Alam Sibual-Buali bagian selatan.
Kondisi tersebut sangat rentan, karena populasi yang kecil dan terfragmentasi menyulitkan pertukaran genetik antarkelompok. Bahkan, dua dari tiga subpopulasi yang ada, dinilai belum memenuhi ukuran minimum agar dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Jumlahnya memang sangat sedikit. Dari tiga kelompok populasi yang ada, dua kelompok tidak dianggap sebagai populasi yang layak untuk bertahan jangka panjang, karena ukuran populasinya terlalu kecil.”
Panut menambahkan, meskipun laju kehilangan hutan akibat perambahan dan pembukaan lahan masih terjadi dalam skala ratusan hektar per tahun, namun dampaknya jauh lebih besar ketika diperparah bencana yang dipicu iklim ekstrem.
“Konflik orangutan tapanuli dengan manusia hingga saat ini masih terjadi. Di beberapa tempat di sekitar Batang Toru, orangutan masih dianggap pengganggu.”
Selain itu, tambah Panut, proyek-proyek besar yang mengancam habitat orangutan juga masih belum berhenti beraktivitas. “Ini juga memperparah kehilangan dan fragmentasi habitat satwa berstatus Kritis ini.”
Dia menegaskan, upaya perlindungan habitat tersisa menjadi langkah mendesak untuk mencegah penurunan populasi lebih lanjut.
“Tanpa tindakan konservasi yang kuat dan mitigasi dampak krisis iklim, masa depan orangutan tapanuli akan semakin terancam.”
Referensi:
https://www.bnpb.go.id/berita/total-korban-meninggal-dunia-akibat-bansor-sumatra-1016-jiwa
Meijaard, E., Wafiy, M., Ni’Mattulah, S., Dennis, R., Hadisiswoyo, P., Sheil, D., … & Wich, S. (2026). Extreme rainfall further endangers the world’s rarest great ape. Current Biology, 36(12), 3176-3183. https://www.cell.com/current-biology/fulltext/S0960-9822(26)00634-2
*****