- Peneliti memperkirakan sekitar 33-58 individu atau sekitar 10% dari populasi Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) mati akibat tanah longsor, pohon tumbang, atau banjir pada November 2025.
- Novita Kusumawardhani, Kepala Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menduga ada yang menjadi korban langsung, tapi kemungkinan juga bermigrasi atau pindah ke lokasi lain karena habitatnya rusak akibat banjir dan tanah longsor.
- Lokasi pasca bencana, telah dilakukan pemulihan ekosistem secara masif. Lokasi konservasi berada di Tapanuli Selatan berada di lokasi Bulbuli, Lubuk Raya, dan Sipirok. Dengan kondisi kepadatan Orangutan tidak terlalu banyak.
- Habitat Orangutan tapanuli yang terfragmentasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam konservasi. Sehingga dilakukan berbagai langkah untuk mencegah fragmentasi kawasan hutan. seperti dibangun koridor ekologis.
Peneliti memperkirakan puluhan orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) mati terdampak banjir bandang di Sumatera Utara (SUmut) akhir November 2025. Temuan survei sekitar 33-58 orangutan Tapanuli atau 10% dari populasi kemungkinan besar mati karena tanah longsor, pohon tumbang, atau banjir.
Mereka memperkirakan, sebelum bencana ada sekitar 581 orangutan Tapanuli. Tanah longsor dan banjir di Sumatera meluas hingga Blok Barat ekosistem Batang Toru, Sumut. Kawasan itu merupakan habitat utama orangutan Tapanuli yang terancam punah. Dengan menggunakan metode yang valid, juga estimasi hutan lenyap akibat banjir dan tanah longsor sekitar 8.303 hektar.
Erik Meijaar, peneliti utama dari Liverpool John Moores University, Liverpool, sekaligus peneliti di Durrell Institute of Ecology and Conservation, University of Kent, Canterbury, Inggris menjelaskan data itu berdasarkan citra satelit, yang mengukur tingkat kehilangan hutan. Dia menggunakan empat citra untuk menentukan tutupan lahan sebelum dan sesudah bencana banjir dan tanah longsor.
Bencana banjir dan tanah longsor menggambarkan ancaman besar akibat perubahan iklim terhadap orangutan Tapanuli yang selama ini berada di ambang kepunahan akibat hilangnya habitat. Meijaar publikasikan penelitiannya berjudul “Extreme Rainfall Event in Sumatra Caused Critical Habitat Loss and Lethal Impacts to the Critically Endangered Tapanuli Orangutan” di preprints.org pada Februari 2026.
“Tanpa intervensi segera, orangutan Tapanuli menghadapi risiko nyata menjadi spesies kera besar pertama yang punah,” tulis Meijaar.
Untuk itu, perlu tindakan kolaboratif yang mendesak mengurangi risiko dan mencegah kepunahan orangutan Tapanuli. Para peneliti mendorong Pemerintah Indonesia, komunitas internasional, dan pemerintah daerah untuk mengatasi masalah itu.
Para peneliti meminta pemerintah segera bertindak dan memberikan dukungan untuk memastikan kelangsungan hidup orangutan Tapanuli. Juga mendesak perlindungan darurat, dengan menghentikan pembangunan yang merusak habitat, dan memperluas kawasan lindung.
“Termasuk restorasi hutan dataran rendah dengan dukungan teknis dari komunitas global.”
Orangutan Tapanuli diakui sebagai spesies baru pada 2017, spesies kera besar dengan populasi liar terkecil. Perkiraan menunjukkan bahwa kurang dari 800 tersisa dalam tiga populasi terisolasi di dalam hutan Batang Toru, meliputi Blok Barat, Blok Timur dan Blok Selatan [Sibual-Buali]. Habitat terfragmentasi dan terdegradasi.
Survei terbaru oleh Yayasan Orangutang Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC) pada 2024 bahkan temukan habitat baru orangutan Tapanuli di luar Batang Toru. Tepatnya di hutan gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut.

Strategi konservasi
Novita Kusumawardhani, Kepala Balai Besar Konsevasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut menjelaskan, bekerjasama dengan WWF akan menyusun population and habitat viability analysis (PHVA) yakni metode analisis ilmiah sebagai dasar penyusunan strategi konservasi. Tahap awal pelatihan untuk mulai menganalisis kondisi di lapangan dan ancamannya.
Menurut Novi, orangutan Tapanuli yang berdampak sekitar 35-50 ekor diperkirakan berpindah ke lokasi aman dari bencana.
“Terdampak itu bisa menjadi korban langsung, juga terdampak karena habitatnya longsor, pohon-pohon yang menjadi sarangnya tumbang. Mereka mungkin bermigrasi atau pindah ke lokasi lain,” katanya dalam bincang konservasi bertema “Konservasi di tengah Krisis: Orangutan Tapanuli dan Ketahanan Lanskap Pasca Bencana Sumatera” oleh Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (FOKSI), Maret lalu.
BBKSDA Sumut, katanya, bersama Orangutan Information Centre melakukan survei orangutan di Sumatera dan Tapanuli pada 2021-2023. Hasil kajian multi sektor itu belum bisa rilis detail. Jika dibandingkan orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), kata Novi, sepertinya persentase penurunan orangutan Tapanuli relatif paling kecil.
Meski begitu, karena habitat orangutan Tapanuli yang terbatas, kehilangan 1% menjadi ancaman lebih besar dibanding kehilangan 10% di Kalimantan. Untuk itu, katanya, harus ada perhatian khusus terhadap orangutan Tapanuli. Hal ini yang mendasari Gubernur Sumut mengeluarkan surat keputusan pembentukan Kelompok Kerja Perlindungan Ekosistem Batang Toru. Juga melibatkan semua stakeholders, untuk berkontribusi dalam pelestarian orangutan Tapanuli.
Sebagian besar orangutan Tapanuli justru berada di luar kawasan konservasi. Terdiri atas kawasan hutan lindung, hutan produksi maupun di area penggunaan lain yang dikelola masyarakat. Pemerintah Tapanuli Selatan, katanya, telah mengumpulkan semua pihak yang memiliki area konservasi termasuk perusahaan, dan masyarakat.
Masyarakat desa memiliki tradisi kearifan lokal untuk perlindungan mata air sekaligus melindungi orangutan. Sedangkan BBKSDA, secara partisipatif memetakan areal konservasi yang menjadi ruang hidup yang penting bagi orangutan Tapanuli.
“Artinya kesadaran para pihak termasuk pemerintah daerah sudah semakin tinggi.”
Novita menerima laporan sejumah organisasi masyarakat sipil yang mendampingi petani menyatakan konflik dengan petani menurun tetapi masih perlu kajian mendalam. PHVA, katanya, bakal menjadi strategi rencana aksi konservasi orangutan Tapanuli tetapi ada penyesuaian untuk upaya pasca bencana.

Tak semua orangutan Tapanuli yang berada di kawasan konservasi seperti suaka margasatwa, tetapi justru berada di luar kawasan. Dia bilang, koridor ekologi terbangun bersama dengan melibatkan sejumlah perusahaan.
Menurut Novita, pelibatan perusahaan itu sebagai biodiversity offset atau tindakan konservasi terukur yang dirancang sebagai kompensasi atas dampak negatif proyek pembangunan terhadap keanekaragaman hayati.
“Khusus orangutan, ataupun satwa yang lain di lokasi kerja atau lokasi pengganti.”
Lokasi pasca bencana, katanya, akan kembali dilakukan pemulihan ekosistem secara masif. Lokasi konservasi di Tapanuli Selatan berada di Bulbuli, Lubuk Raya, dan Sipirok, kepadatan orangutan yang tidak terlalu banyak. Sedangkan hutan lindung berada di Pokja Ekosistem Batang Toru yang menjadi penanggungj awab, pengelola hutan dan upaya perlindungannya.
Di area yang menjadi habitat orangutan dan menjadi area perusahaan (swasta) diterapkan better management practices. Ia merupakan praktik manajemen berdasarkan pada ilmu pengetahuan, teknologi, dan efisiensi untuk meningkatkan produktivitas serta mengurangi dampak lingkungan.
Novita mendorong upaya menyelamatkan orangutan tanpa harus memindahkan orangutan dari habitatnya. Lantaran, banyak perusahaan yang tidak tahu cara mengelola atau membuat koridor dalam lanskap dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
BBKSDA Sumut bekerja sama multi pihak terutama perusahaan swasta yang mempunyai atau mengelola area hutan itu dalam usaha konservasi. Selain itu, tak kalah pentingnya untuk mencegah perburuan dan perdagangan secara legal.
Meski pemerintah mengeluarkan pemegang hak atas tanah (PHAT) kehutanan yang bisa memanfaatkan hasil hutan kayu seperti budidaya atau tumbuh alami. Serta areal penggunaan lain (APL) lahan di luar kawasan hutan negara untuk permukiman, pertanian, dan industri.
“Memanfaatkan kayunya tapi habitat Orangutan semaksimal mungkin dijaga,” katanya.
Dia contohkan, pemerintah daerah mengeluarkan surat keterangan tanah, harus ketat untuk mencegah kehilangan habitat satwa termasuk orangutan.

Cegah konflik
Aldrianto Priadjati, Ketua Badan Pengurus Forum Orangutan Indonesia (Forina) menjelaskan, dalam konservasi orangutan Tapanuli, fragmentasi hutan menjadi salah satu tantangan dalam upaya pelestarian.
Beberapa langkah mencegah fragmentasi, katanya, seperti bangun koridor ekologis. Masyarakat Tapanuli juga memiliki kearifan lokal yang patut dihargai.
“Ada interaksi dengan orangutan yang positif di sini. Jadi tidak ada interaksi negatif atau konflik,” katanya.
Beberapa contoh konflik terjadi pada saat musim durian, musim buah. Orangutan turun ke ke perkebunan masyarakat hingga merusak kebun warga. Masyarakat dilibatkan dalam menjaga dan diedukasi agar tak menembak orangutan. “Biasanya dihalau, diusir agar kembali ke dalam hutan yang lebih aman.”
Kalau konflik membahayakan, petugas mengevakuasi orangutan. Kemudian translokasi, dan tindakan di lokasi yang lebih aman. Selain itu, di dalam hutan ditanam berbagai tanaman untuk memperkaya jenis pakan orangutan.
*****
Bencana Tewaskan Orangutan Tapanuli, Desak Serius Jaga Batang Toru