- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menyebabkan hadirnya kabut asap yang tak hanya mengganggu jarak pandang, tapi juga membuat menderita manusia dan satwa liar.
- Sepanjang Agustus 2026, sekitar 37,9 juta orang di delapan provinsi telah terdampak asap karhutla gambut. Siituasi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga dua bulan ke depan.
- Asap karhutla dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, penyakit paru, serta iritasi mata dan kulit. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan.
- Sebuah studi menunjukkan bahwa kenaikan penyakit pernapasan paling tajam justru terjadi di wilayah yang mengalami deforestasi, khususnya saat api merambat ke lahan gambut, sebuah pola yang memperkuat kaitan antara hilangnya tutupan hutan dan buruknya kualitas udara yang dihirup warga.
Sejak pertengahan 2026, langit Kalimantan dan Sumatera kembali kelabu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membakar jutaan hektar hutan dan rawa gambut, mengirim kabut asap tebal yang tak lagi hanya mengganggu jarak pandang, tapi merenggut napas manusia dan satwa liar sekaligus.
Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, asap karhutla menyengsarakan masyarakat. Di Ketapang, Kalimantan Barat, satu individu orangutan jantan dewasa bernama Sampurna ditemukan lemas di parit kering sebuah kebun sawit, tak lama sebelum ia mengembuskan napas terakhir.
Data terbaru menunjukkan skala krisis ini sangat luas. Menurut siaran pers YLBHI pada 6 September 2026, sekitar 37,9 juta orang di delapan provinsi telah terdampak asap karhutla gambut sepanjang Agustus, dan situasi ini diperkirakan akan berlangsung hingga dua bulan ke depan. Di Kalimantan Barat, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat mencapai 165.747 kasus per akhir Agustus 2026.
Data nasional Kementerian Kesehatan yang dikutip Reuters menyebutkan jumlah warga dengan gangguan pernapasan akibat karhutla melonjak dari 50.891 orang pada 1 September menjadi 113.336 orang pada 9 September 2026, hanya dalam kurun waktu sekitar sepekan. Dampak asap bahkan menyeberang ke Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 27 Agustus 2026, karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan, dengan total penduduk terdampak mencapai 10.674.201 orang.

Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel PM2,5, yakni partikel udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer yang mampu menembus hingga rongga terdalam paru-paru. Paparannya dapat memicu iritasi mata, tenggorokan gatal, sesak napas, hingga memperburuk penyakit paru kronis seperti asma dan PPOK.
“Asap karhutla dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, PPOK, serta iritasi mata dan kulit. Paparan asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, terutama pada kelompok rentan,” ungkap Dante dalam rilis.
PPOK yang disebut adalah Penyakit Paru Obstruktif Kronis, kondisi saluran napas menyempit secara permanen sehingga penderitanya sulit bernapas lega, mirip seperti bernapas lewat sedotan yang terus-menerus terjepit. Paparan asap karhutla berulang bisa memicu atau memperparah kondisi ini.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan pekerja luar ruangan menghadapi risiko lebih tinggi, termasuk potensi gangguan jantung dan stroke akibat paparan berulang.

Bencana ini juga menyasar satwa yang tak punya suara untuk berteriak minta tolong. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat mencatat, sepanjang 1 Agustus hingga 10 September 2026, sebanyak 24 individu satwa liar dievakuasi dari 18 lokasi terdampak karhutla di Ketapang, Kayong Utara, dan Bengkayang. Sebanyak 15 di antaranya adalah orangutan, disusul trenggiling, bekantan, kukang, dan musang tenggalung.
Organisasi kampanye lingkungan Geopix merilis data yang mengungkap 17.865 titik panas karhutla di Kalimantan berada tepat di wilayah habitat orangutan, mengancam kelangsungan spesies payung dilindungi tersebut. Bagi orangutan, ancaman asap bukan cuma soal gangguan pernapasan dan hipoksia (kondisi tubuh atau organ kekurangan oksigen) tapi juga rusaknya habitat, hilangnya sumber pangan, hingga meningkatnya potensi konflik dengan manusia saat mereka terdesak masuk ke kebun dan permukiman warga.

Dampak kesehatan jangka panjang
Sejumlah penelitian memperkuat gambaran suram ini secara ilmiah, terutama dampak kesehatan langsung di lapangan. Kajian Mokodompit dan Husamah dalam Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi (2025) menelusuri sisi hilir persoalan: apa yang terjadi pada tubuh manusia yang terus-menerus menghirup asap karhutla. Studi ini merangkum bukti bahwa dampak kesehatan tidak berhenti pada gangguan pernapasan ringan.
“Dampak kesehatan utama yang paling dominan adalah lonjakan kasus ISPA yang menjadi penyakit hampir endemik setiap musim karhutla tiba,” tulis Mokodompit dan Husamah dalan jurnal.
Namun studi ini juga menegaskan bahwa paparan berulang dalam jangka panjang berasosiasi dengan memburuknya asma dan PPOK, gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner dan stroke, hingga potensi risiko kanker paru. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil disebut sebagai kelompok paling rentan, bahkan paparan pada ibu hamil berpotensi memengaruhi pertumbuhan janin.
Bukti dampak kesehatan karhutla juga datang dari riset Santika dan kolega di jurnal One Earth (2023) menelusuri data kunjungan layanan kesehatan di Sumatera dari 2001 hingga 2018, lalu menghubungkannya dengan perubahan tutupan lahan, iklim, dan faktor sosial ekonomi di wilayah yang sama.
Hasilnya, penyakit pernapasan bukan hanya meningkat saat musim kemarau, tapi polanya makin parah seiring rusaknya hutan dan gambut.
“Prevalensi penyakit pernapasan meningkat 8,5 persen pada tahun-tahun kering selama dua dekade terakhir,” tulis Santika, dkk.
Studi ini juga menemukan bahwa kenaikan penyakit pernapasan paling tajam justru terjadi di wilayah yang mengalami deforestasi, khususnya saat api merambat ke lahan gambut, sebuah pola yang memperkuat kaitan antara hilangnya tutupan hutan dan buruknya kualitas udara yang dihirup warga.

Riset lainnya dilakukan Haryanto dan kolega di jurnal Annals of Global Health (2026), khusus menyoroti dampak kesehatan anak-anak di Palembang, kota yang rutin diselimuti asap gambut setiap tahun. Studi ini menganalisis deret waktu dari 2011 hingga 2020, mencakup 366.632 kasus ISPA dan 27.574 kasus pneumonia pada anak, lalu mengaitkannya dengan konsentrasi PM10, PM2.5, dan sulfur dioksida (SO2) di udara.
Temuan ini menegaskan bahwa jenis partikel yang berbeda menyerang lewat jalur berbeda pula: PM2.5 yang berukuran sangat halus lebih berkaitan erat dengan pneumonia karena mampu menembus jauh ke jaringan paru, sementara PM10 lebih konsisten berkaitan dengan ISPA.
“Paparan asap secara signifikan meningkatkan risiko penyakit pernapasan pada anak-anak,” tulis riset tersebut.
Para peneliti merekomendasikan agar strategi mitigasi krisis asap ke depan dirancang lebih berpihak pada kebutuhan anak, mengingat sistem imun dan saluran napas mereka jauh lebih rentan dibanding orang dewasa.
Krisis karhutla 2026 kembali menegaskan bahwa asap tidak mengenal batas administratif, spesies, maupun usia. Selama akar masalah di hutan dan lahan gambut yang terdegradasi belum tuntas ditangani, jutaan manusia dan satwa liar seperti orangutan akan terus berbagi ancaman yang sama, yakni udara yang perlahan menjadi racun.
Referensi:
Haryanto, B., Kurniasari, F., Trihandini, I., Nugraha, F., Widayana, N. G., & Winarni, N. L. (2026). Climate change adaptation to smoke haze for improved child health in Southeast Asia: Analysis situation in Palembang, Indonesia. Annals of Global Health, 92(1), 52. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42293458/
Mokodompit, G. R., & Husamah, H. (2025). Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terhadap kesehatan masyarakat. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi, 11(1), 249–256. https://research-report.umm.ac.id/index.php/snpb/article/view/420
Santika, T., Muhidin, S., Budiharta, S., Haryanto, B., Agus, F., Wilson, K. A., Struebig, M. J., & Po, J. Y. T. (2023). Deterioration of respiratory health following changes to land cover and climate in Indonesia. One Earth, 6(3), 290–302. https://doi.org/10.1016/j.oneear.2023.02.012
*****
Asap Karhutla Ancam Kehidupan Orangutan, Tak Hanya Habitat dan Kesehatan, Bahkan Kematian