- Posisi kucing liar sebagai predator kecil seolah tak dianggap dalam menjaga rantai makanan hutan. Berapa banyak orang yang mengenal misalnya, kucing kuwuk, kucing merah, dan kucing emas dibanding harimau, singa, atau macan tutul?
- Di hutan Kalimantan, ada kucing merah (Pardofelis badia) yang rekamannya pada 2023 lalu mengejutkan dunia ilmu pengetahuan, karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru. Sangat sedikit yang diketahui tentang kucing endemik Kalimantan ini. Sampai-sampai, sebagian peneliti dan pegiat konservasi menjulukinya “hantu”.
- Predator senyap lainnya adalah kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis). Tubuhnya ramping, dengan corak tutul hitam di atas bulu kecokelatan yang membuatnya hampir menyatu dengan lantai hutan. Itu sebabnya dia juga dijuluki leopard mini. Penyebarannya di Indonesia cukup luas. Dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, juga Bali. Meski begitu, eksistensinya masih kerap luput dari perhatian.
- Hutan Yungas di Bolivia menjadi habitat satu spesies kucing tak dikenal. Ilmuwan akhirnya mengenalinya setelah lebih 100 tahun. Selama itu pula, belum ada penemuan spesies kucing baru. Spesies kucing terakhir yang dideskripsikan adalah Leopardus fasciatus pada 1923 untuk kucing savana Uruguay.
Di balik rapatnya vegetasi hutan, kucing-kucing liar bergerak nyaris tanpa suara. Tubuhnya lentur, kaki pendek hingga sedang, cakar tajam, serta mata yang mampu menangkap gerak mangsa; bahkan hanya dengan bantuan pendar cahaya bulan atau bintang.
Corak bulu mereka beragam. Berbintik, bergaris, atau loreng yang membantu tubuhnya menyatu dengan bayang-bayang vegetasi. Mereka memang bukan harimau atau macan tutul yang menjadi ikon predator hutan. Namun dengan tubuh yang jauh lebih kecil, kucing-kucing ini tetaplah berburu karena demikianlah cara mereka mendapatkan makanan. Ada mamalia kecil, reptil, hingga burung yang menjadi target mereka.
Sayangnya, posisinya sebagai predator kecil seolah tak dianggap dalam menjaga rantai makanan hutan. Berapa banyak orang yang mengenal misalnya, kucing kuwuk, kucing merah, dan kucing emas dibanding harimau, singa, atau macan tutul?
Akibatnya merekapun kerap terlupakan dalam aksi konservasi. Padahal menjaga ekosistem tak selalu diperankan satwa besar. Namun juga oleh predator-predator kecil ini.

Kucing liar di Indonesia
Di hutan Kalimantan, ada kucing merah (Pardofelis badia) yang rekamannya pada 2023 lalu mengejutkan dunia ilmu pengetahuan, karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru. Sangat sedikit yang diketahui tentang kucing endemik Kalimantan ini. Sampai-sampai, sebagian peneliti dan pegiat konservasi menjulukinya “hantu”.
Beruntung pada Agustus 2026 pergerakannya kembali terekam kamera pantau di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kali ini satwa eksotik ini membawa sesuatu di mulutnya.
“Kemungkinan besar satwa mangsa yang dibawa adalah jenis Tupaia dorsalis. Sampai saat ini diketahui salah satu jenis satwa mangsanya adalah hewan pengerat dan tupai,” kata Jefrey Frihardian Gumilar kepada Mongabay Indonesia. Jefrey adalah Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda TNKM.
Para ilmuwan memperkirakan spesies ini memiliki panjang generasi sekitar enam tahun. Namun detil masa kehamilan, umur panjang individu di alam liar belum diketahui. Belum ada studi khusus tentang kucing merah meski hewan ini telah dikenali lebih dari satu abad.
Predator senyap lainnya adalah kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis). Tubuhnya ramping, dengan corak tutul hitam di atas bulu kecokelatan yang membuatnya hampir menyatu dengan lantai hutan. Itu sebabnya dia juga dijuluki leopard mini. Penyebarannya di Indonesia cukup luas. Dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, juga Bali. Meski begitu, eksistensinya masih kerap luput dari perhatian.
Dia menjadi penjaga keseimbangan populasi hewan pengerat dan serangga besar di hutan, sekaligus indikator kesehatan ekosistem. Data mengenai jumlah populasi, wilayah jelajah, dan kebiasaan berburunya di Indonesia masih sangat terbatas.
Ancaman utama datang dari hilangnya habitat, perburuan, serta konflik dengan manusia di kawasan pertanian. Dalam konteks konservasi, keberadaan kucing kuwuk menjadi pengingat bahwa melindungi “kucing besar” saja tidak cukup. Predator kecil yang bekerja diam-diam di lantai hutan ini juga membutuhkan perhatian yang sama seriusnya.

Kucing liar di Bolivia
Hutan Yungas di Bolivia menjadi habitat satu spesies kucing tak dikenal. Ilmuwan akhirnya mengenalinya setelah lebih 100 tahun. Selama itu pula, belum ada penemuan spesies kucing baru. Spesies kucing terakhir yang dideskripsikan adalah Leopardus fasciatus pada 1923 untuk kucing savana Uruguay.
Penemuan ini bukan sekadar soal menemukan seekor kucing yang belum pernah dikenal. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok kucing yang selama ini dianggap hanya terdiri dari beberapa jenis, ternyata memiliki keragaman lebih besar. Dengan memeriksa DNA, para peneliti menemukan bukti adanya kucing macan kecil (tiger cat) yang memiliki identitas genetik sendiri.
“Kami tidak pernah menyangka kucing harimau Bolivia ini akan menjadi spesies terpisah, dan tidak ada yang pernah mengusulkannya sebagai hewan berbeda, baik subspesies maupun lainnya,” kata Jonas Lescroart, dikutip dari Reuters.
Dia adalah pakar biologi evolusi dari Universitas Antwerp, Belgia, sekaligus penulis utama laporan studi itu. Temuan tersebut diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026. Judulnya, “Phylogenomics and museomics reveal five distinct species of tiger cats in South America.”
Kucing itu diberi nama ilmiah Leopardus tilcayo atau lebih sederhana disebut kucing tilcayo. Perawakannya kecil, lebih kecil dari kucing rumah. Panjang tubuhnya sekitar 42,5 hingga 50,5 sentimeter, sedangkan ekornya sekitar 25 hingga 26,5 sentimeter. Beratnya diperkirakan sekitar 1,4 kilogram.
Meski begitu, dia tetaplah kucing macan, sebutan untuk kelompok kucing kecil genus Leopardus dari Amerika Selatan. Gara-garanya, corak loreng atau roset warna gelap di atas warna cokelat kekuningan yang seperti macan.
Nama tilcayo sendiri bukan sembarangan disematkan oleh para ilmuwan. Nama itu merupakan nama lokal yang digunakan masyarakat di kawasan Yungas Bolivia untuk menyebut kucing ini. Para peneliti memutuskan mempertahankan nama lokal itu untuk nama ilmiahnya sebagai penghormatan atas pengetahuan, identitas, dan budaya lokal.

Spesies berbeda selama 100 tahun
Jika kucing ini sudah hidup di Bolivia sejak lama, mengapa ilmuwan baru mengetahui bahwa ia merupakan spesies berbeda? Jawabannya berkaitan penampilan. Kucing macan termasuk kelompok spesies kriptik. Artinya, beberapa spesies dalam kelompok tersebut memiliki bentuk tubuh dan pola bulu yang sangat mirip. Perbedaannya tidak selalu mudah dilihat hanya dengan mata telanjang. Selama bertahun, kucing-kucing tersebut dianggap sebagai bagian dari kelompok yang sama.
Untuk memastikan perbedaan itu para peneliti menggunakan teknologi genetika. Mereka memanfaatkan teknik filogenomik yaitu analisis DNA dalam skala besar dari banyak gen. Sampel yang diambil berasal dari berbagai wilayah di Amerika Selatan. Mulai Bolivia, Peru, Brasil, Kolombia, Suriname, Guyana, Venezuela, hingga Kosta Rika. Mereka juga memakai teknik museomik yaitu mengambil DNA dari spesimen yang dikoleksi museum. Dari sana kemudian ilmuwan membandingkan urutan genetik antar populasi.
“Kami telah menganalisis genom lengkap dari 38 individu dari genus kucing Neotropis Leopardus, termasuk 26 individu yang mewakili beberapa unit evolusi dari kompleks spesies Leopardus tigrinus yang kontroversial,” tulis laporan itu.
Sementara delapan genom dihasilkan dari spesimen yang diambil dari museum. Hasilnya mengejutkan. Para ahli mengira kucing macan di Amerika Selatan hanyalah satu spesies dengan beberapa variasi lokal. Analisis genom menunjukkan ternyata ada beberapa garis keturunan yang telah berkembang secara terpisah selama waktu yang sangat lama.
Para ilmuwan memperkirakan pemisahan paling awal di antara kelompok kucing macan terjadi 2,34 juta tahun lalu. Sedangkan perkiraan waktu pemisahan garis keturunan tilcayo terjadi sekitar 1,43 juta tahun lalu. Artinya, nenek moyang kucing tilcayo telah berkembang menjadi kelompok yang berbeda sejak jauh sebelum manusia modern mengenal hewan tersebut sebagai spesies tersendiri.
Penelitian juga menemukan bahwa kelompok kucing macan secara keseluruhan memiliki sejarah evolusi rumit. Beberapa garis keturunan pernah terpisah, tetapi pada masa lalu juga terjadi perkawinan antarspesies.
Pada tilcayo, misalnya, analisis genom menunjukkan adanya sekitar 15 persen jejak introgresi dari garis keturunan Leopardus tigrinus antisuyo. Introgresi adalah masuknya materi genetik dari satu kelompok ke kelompok lain melalui perkawinan pada masa lalu.
Leopardus tigrinus antisuyo sendiri adalah subspesies turunan dari kucing macan utara (Leopardus tigrinus). Subspesies ini menjadi temuan baru lainnya selain L. tilcayo.
Dengan temuan baru tersebut, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kelompok kucing macan di Amerika Selatan. Jika sebelumnya sejumlah kucing dengan penampilan mirip dianggap sebagai satu kelompok besar, setelah diteliti menggunakan DNA, ternyata mereka berbeda secara genetik.

Misteri
Meskipun para peneliti telah berhasil memastikan tilcayo sebagai spesies baru, namun mereka mengakui informasi mengenai kehidupannya masih sangat terbatas. Sampai penelitian dilakukan, ilmuwan baru memeriksa secara langsung dua individu hidup, selain memiliki sejumlah kecil rekaman dari kamera pantau.
Salah satu individu yang diketahui adalah kucing jantan berusia sekitar 10 tahun. Saat ini ia berada di Suaka Margasatwa Senda Verde, Yolosa, provinsi Nor Yungas, Bolivia. Sebelumnya, kucing tersebut pernah dipelihara oleh seorang warga lokal.
Dari sampel kotorannya, peneliti menemukan sisa-sisa hewan pengerat kecil. Hal itu menunjukkan bahwa hewan pengerat kemungkinan menjadi salah satu makanan tilcayo. Rekaman kamera pantau juga memberikan petunjuk bahwa kucing ini mungkin lebih aktif pada malam hari.
Para ilmuwan masih membutuhkan lebih banyak penelitian untuk mengetahui wilayah jelajah, jumlah populasi, makanan, perilaku, dan cara berkembang biak tilcayo.
Penelitian itu menunjukkan bahwa spesies yang selama ini dianggap satu ternyata bisa terbagi menjadi beberapa unit evolusi bila diteliti dengan pendekatan genetika modern. Hal sama bisa saja terjadi pada kucing liar Indonesia, seperti kucing kuwuk atau kucing merah kalimantan.
Di hutan, yang terlihat belum tentu merupakan seluruh cerita. Namun DNA bisa mengungkap siapa sebenarnya mereka, bagaimana mereka berevolusi, dan seberapa beragam kucing hutan yang selama ini kita kira sama.
Referensi:
Lescroart, J., Nogales-Ascarrunz, P., Cassatt-Johnstone, M., Bonilla-Sánchez, A., Sartor, C. C., Angulo, F., … & Eizirik, E. (2026). Phylogenomics and museomics reveal five distinct species of tiger cats in South America. Current Biology, 36(18), R1003–R1015. https://www.cell.com/current-biology/abstract/S0960-9822(26)01110-3
*****
Setelah 100 Tahun, Ilmuwan Temukan Spesies Kucing Liar Baru Yang Bersembunyi di Hutan