Dunia hewan mamalia sering dianggap sudah terpetakan hampir seluruhnya oleh sains modern, terutama untuk kelompok hewan besar dan mencolok seperti kucing. Namun kenyataannya, banyak spesies masih luput dari identifikasi formal karena wilayah jelajahnya yang terpencil, populasinya yang kecil, atau kemiripannya yang tinggi dengan spesies lain yang sudah dikenal lebih dulu. Kekeliruan identifikasi semacam ini kerap terjadi pada kelompok kucing liar berukuran kecil, yang individunya di alam sulit dipantau dan spesimen museumnya terbatas.
Salah satu kasus tersebut baru saja terungkap di Bolivia. Seekor kucing kecil bertotol yang selama ini dikenal warga setempat dengan nama tilcayo resmi dinyatakan sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Penemuan ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Current Biology pada 17 September 2026, menjadi spesies kucing liar hidup pertama yang berhasil diidentifikasi dan dideskripsikan dalam lebih dari satu abad terakhir, sejak kucing pampas dideskripsikan pada 1923.
Dari Kucing Peliharaan hingga Analisis Genetik
Kisah penemuan ini bermula pada 2016, ketika seorang warga di kawasan hutan Yungas, Bolivia, menemukan seekor anak kucing di dekat jalan hutan. Ia sempat mengira hewan itu adalah kucing kampung dan memeliharanya di rumah selama sekitar satu tahun. Namun perilakunya yang tidak lazim untuk kucing rumahan membuat pemiliknya akhirnya menyerahkan hewan tersebut ke Suaka Margasatwa Senda Verde di lereng subtropis Pegunungan Andes.
Paola Nogales-Ascarrunz, ahli biologi asal Bolivia dan National Geographic Explorer yang saat itu menjadi sukarelawan di suaka tersebut, tertarik dengan penampilan kucing itu. Wajahnya kecil dan menyempit, telinganya pendek dan bulat, serta tubuhnya dipenuhi totol menyerupai macan tutul. Nogales-Ascarrunz sempat mengira kucing itu adalah anggota spesies Leopardus tigrinus, kucing tutul kecil yang dideskripsikan pertama kali pada 1775 dan diperkirakan tersebar luas di Amerika Tengah dan Selatan.

Keraguan muncul pada 2019, saat Nogales-Ascarrunz menyiapkan buklet tentang spesies kucing di Bolivia dan membandingkan foto kucing tersebut dengan foto referensi kucing tutul kecil dari Brazil. Pola totolnya berbeda, dengan bercak berbentuk tidak beraturan yang lebih besar. Setelah mengembangkan kemampuan analisis genetik, ia bekerja sama dengan Jonas Lescroart dari Universitas Antwerpen, Belgia, dan Eduardo Eizirik dari Universitas Katolik Kepausan Rio Grande do Sul, Brazil, untuk menelusuri asal-usul genetik kucing tersebut.
Tim peneliti menganalisis genom dari 38 individu kucing dalam genus Leopardus, termasuk delapan spesimen museum, yang dikumpulkan dari berbagai negara di Amerika Selatan. Hasilnya menunjukkan bahwa kucing asal Bolivia itu memiliki garis keturunan yang terpisah secara genetik dari kelompok kucing tutul kecil lain sejak sekitar 1,4 juta tahun lalu, jarak evolusi yang oleh para peneliti dianggap setara dengan pemisahan spesies pada kucing besar. Berdasarkan temuan ini, kucing tersebut resmi diberi nama ilmiah Leopardus tilcayo, mengikuti nama lokal yang selama ini digunakan warga setempat.
Hingga saat ini, satu-satunya individu L. tilcayo yang diketahui hidup adalah kucing jantan berusia 10 tahun yang menjadi awal penemuan ini dan kini masih tinggal di Suaka Margasatwa Senda Verde. Informasi tentang biologi dan perilaku spesies ini masih terbatas. Sisa hewan pengerat kecil dalam sampel kotorannya mengindikasikan mamalia kecil kemungkinan menjadi bagian dari makanannya, sementara rekaman kamera jebak menunjukkan kucing ini cenderung lebih aktif pada malam hari.
Lima Spesies Kucing Tutul dan Implikasinya bagi Konservasi
Penemuan L. tilcayo tidak berdiri sendiri. Studi yang sama juga menemukan bahwa kelompok kucing tutul kecil atau tiger cat, yang sebelumnya dianggap terdiri dari satu hingga dua spesies, sebenarnya mencakup lima garis keturunan yang berbeda secara genetik. Penelitian ini turut mendeskripsikan satu subspesies baru di kawasan Yungas Peru, yang diberi nama Leopardus tigrinus antisuyo, merujuk pada wilayah Antisuyu yang dahulu menjadi bagian dari Kekaisaran Inka.
Perubahan status taksonomi ini berkonsekuensi langsung bagi upaya konservasi. Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) saat ini masih memperlakukan kelompok tiger cat sebagai dua spesies berstatus rentan dengan populasi menurun. Para peneliti telah membagikan temuan mereka kepada IUCN, yang rencananya akan mengevaluasi kelima garis keturunan itu secara terpisah. Evaluasi ulang ini berpotensi mengubah status konservasi masing-masing spesies, termasuk kemungkinan L. tilcayo dinyatakan lebih terancam ketika dinilai sendiri.

Kebutuhan akan penilaian yang lebih akurat ini dinilai mendesak mengingat kondisi hutan Yungas, salah satu ekosistem yang paling terancam di kawasan tersebut. Nogales-Ascarrunz menyebut hutan pegunungan ini menghadapi tekanan yang terus bertambah akibat deforestasi, perluasan lahan pertanian, kebakaran yang dipicu aktivitas manusia, serta pertambangan. Pemulihan area hutan yang rusak akibat kebakaran, perlindungan hutan alami yang tersisa, dan pemeliharaan konektivitas antarhabitat disebut sebagai prioritas mendesak bagi kelangsungan spesies ini maupun satwa lain di Yungas.
Secara lebih luas, temuan ini juga berdampak pada klasifikasi keluarga kucing atau Felidae secara keseluruhan. Saat ini terdapat 41 spesies kucing yang diakui secara resmi di dunia, mencakup kucing liar besar maupun kecil serta kucing domestik. Dengan tambahan L. tilcayo dan pemisahan tiger cat menjadi lima spesies, jumlah tersebut berpotensi bertambah menjadi 44 spesies atau lebih. Eduardo Eizirik menyatakan bahwa penemuan ini menunjukkan masih banyak spesies yang belum terdeskripsikan di dunia, yang berisiko punah sebelum sempat ditemukan oleh sains.
Keterangan gambar utama: Leopardus tilcayo yang hidup di penangkaran Suaka Margasatwa Senda Verde, kawasan Nor Yungas, Bolivia. Individu ini, yang diberi nama panggilan "Tigrino", adalah kucing yang menjadi titik awal penemuan spesies baru ini setelah diserahkan ke suaka oleh warga setempat yang sebelumnya mengira hewan tersebut adalah kucing kampung. Foto: Paola Nogales-Ascarrunz
**
Referensi:
Nogales-Ascarrunz, P., Lescroart, J., Eizirik, E., et al. (2026). Phylogenomics and museomics reveal five distinct species of tiger cats in South America. Current Biology. https://doi.org/10.1016/j.cub.2026.08.059