- Ketika manusia belum mengenal cocok tanam, ada manusia yang mengambil sebuah biji dari pohon pinang, memasukkannya ke mulut, lalu mengisapnya berulang.
- Manusia di Sulawesi sudah terbiasa mengisap buah pinang sekitar 25 ribu tahun lalu. Pemanfaatan zat psikoaktif ini bahkan jauh lebih awal dari yang diduga sebelumnya, yaitu sekitar 3.500 tahun lalu.
- Masalah terbesar dalam menelusuri sejarah penggunaan pinang adalah bahan organiknya sulit bertahan selama ribuan tahun. Biji pinang mudah membusuk. Para peneliti menemukan petunjuk yang jauh lebih tahan lama, yaitu gigi manusia.
- Papa peneliti memeriksa sisa-sisa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Satu individu berasal dari Leang Bulu Bettue, yang diperkirakan hidup antara 25 ribu hingga 16 ribu tahun lalu, sedangkan individu lainnya hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu, berasal dari Leang Cappalombo.
Ketika manusia belum mengenal cocok tanam, untuk memenuhi kebutuhan pangannya mereka harus berburu dan memungut makanan langsung dari alam. Di tengah kehidupan seperti itu, ada manusia yang mengambil sebuah biji dari pohon pinang, memasukkannya ke mulut, lalu mengisapnya berulang.
Belum ada tembakau, rokok, juga minuman fermentasi seperti yang mudah ditemukan di peradaban modern. Tiga benda itu berfungsi sebagai zat rekreasi dan sosial karena memberikan rasa rileks, meningkatkan fokus, dan menurunkan stres. Pada manusia prasejarah, mereka menemukannya pada buah pinang. Rupanya ada zat di biji pinang yang juga dapat memengaruhi otak (psikoaktif).
Satu teori umum menyatakan bahwa tradisi menggunakan obat psikoaktif muncul setelah manusia mulai bertani selama periode neolitikum, mengutip ScienceDaily.
“Namun, teori ini tidak menjelaskan kemungkinan bahwa penggunaan obat-obatan atau zat yang memengaruhi pikiran sudah dilakukan manusia sejak zaman sangat kuno, dan mungkin menjadi awal dari penggunaan zat psikoaktif yang paling umum kita gunakan saat ini,” kata Adam Brumm, guru besar dari Griffith University, Australia.
Penelitian yang dia lakukan bersama timnya menunjukkan manusia di Sulawesi sudah terbiasa mengisap buah pinang sekitar 25 ribu tahun lalu. Pemanfaatan zat psikoaktif ini bahkan jauh lebih awal dari yang diduga sebelumnya, yaitu sekitar 3.500 tahun lalu.
“Kami menemukan sisa-sisa fosil langka dari dua manusia pemburu-peramu prapertanian di Sulawesi, Indonesia. Keduanya mengalami kelainan pada gigi yang ternyata disebabkan praktik yang belum diketahui sebelumnya sebagai cikal bakal kebiasaan mengunyah pinang: mengisap buah pinang utuh secara rutin,” tulis Brumm, mewakili rekan-rekannya dalam artikel yang dimuat dalam jurnal Science Advances, Rabu (9/9/26).
Judul artikel itu “Betel nut sucking is the earliest recorded evidence for the habitual use of a neuroactive plant drug.” Riset dikerjakan oleh peneliti dari Australia, Amerika, dan Indonesia.

Dua bukti
Masalah terbesar dalam menelusuri sejarah penggunaan pinang adalah bahan organiknya sulit bertahan selama ribuan tahun. Biji pinang mudah membusuk. Karena itu, para arkeolog tidak bisa begitu saja berharap menemukan sisa pinang utuh dari masa puluhan ribu tahun lalu. Para peneliti kemudian menemukan petunjuk yang jauh lebih tahan lama, yaitu gigi manusia.
Mereka memeriksa sisa-sisa fosil dua manusia pemburu-peramu dari Sulawesi. Satu individu berasal dari Leang Bulu Bettue, yang diperkirakan hidup antara 25 ribu hingga 16 ribu tahun lalu, sedangkan individu lainnya hidup sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu, berasal dari Leang Cappalombo.
Menariknya, saat memeriksa gigi, kedua individu itu memiliki pola kerusakan yang tidak biasa. Pada permukaan gigi terdapat goresan-goresan berbentuk bulat. Bentuknya berbeda dari pola keausan gigi yang biasanya muncul akibat mengunyah makanan.
Peneliti menyimpulkan bahwa alur pada gigi merupakan penanda bioarkeologis yang sebelumnya belum dikenali, yang berkaitan dengan kebiasaan mengisap buah pinang utuh secara berulang.
Namun, para ilmuwan tentu tidak cukup hanya melihat bentuk gigi. Mereka membutuhkan bukti lain yang tidak tergoyahkan. Di sinilah penelitian semakin menarik. Buah pinang diketahui mengandung arekolin, yaitu senyawa alkaloid yang bersifat neuroaktif. Senyawa ini dapat memengaruhi sistem saraf dan menimbulkan efek berupa meningkatnya kewaspadaan serta sensasi euforia ringan.
Dari analisis biomolekuler terhadap jaringan gigi manusia purba tersebut para peneliti akhirnya menemukan jejak arekolin.
“Dari set gigi pertama yang dianalisis mengalami keausan, Maros-LBB-1a-Gigi dinyatakan positif arekolin dengan LC-MS, mengonfirmasi individu pleistosen akhir ini telah mengonsumsi pinang,” tulis laporan itu.
Maros-LBB adalah nama untuk fosil gigi yang ditemukan di Leang Bulu Bettue. LC-MS adalah singkatan dari Liquid Chromatography–Mass Spectrometry. Ini merupakan teknik analisis kimia yang sangat sensitif dan akurat, digunakan untuk mengidentifikasi serta mengukur senyawa kimia dalam sampel kompleks, termasuk residu zat psikoaktif pada gigi purba.
Begitupun pada fosil gigi yang ditemukan di Leang Cappalombo yang diberi nama CPL-R2, arekolin juga terpindai di gigi. “Berdasarkan hasil tersebut, jelas bahwa pemburu-peramu holosen tengah ini juga telah mengisap pinang,” tulis laporan itu.
Artinya, ada bukti kimia yang mendukung dugaan bahwa orang di zaman purba memang mengonsumsi pinang. Temuan itu menjadi penting karena memberikan dua jenis bukti sekaligus. Bukti fisik berupa kerusakan khas pada gigi, dan bukti kimia berupa keberadaan arekolin di jaringan gigi. Keduanya mengarah pada kesimpulan yang sama bahwa manusia Sulawesi pada masa prasejarah kemungkinan telah memiliki kebiasaan mengisap pinang berulang.

Tradisi pinang
Pohon pinang memiliki batang ramping tanpa cabang yang tingginya bisa mencapai 15 meter, dengan keliling batang sekitar 45 cm. Di atas batang terdapat mahkota daun yang menyebar terdiri dari enam hingga sembilan tangkai. Ukuran buah pinang kira-kira lebih besar dari telur burung puyuh, namun lebih kecil dari telur ayam kampung. Saat matang, kulitnya yang berserat itu berwarna oranye kemerahan.
Di masa sekarang, pinang umumnya dikenal dalam tradisi mengunyah sirih-pinang. Misalnya yang dipraktikkan pada masyarakat Sumba. Biji pinang biasanya dipadukan dengan kapur, daun sirih, dan bahan lain. Campuran tersebut kemudian dikunyah. Kapur membantu meningkatkan pelepasan dan penyerapan senyawa aktif dari pinang. Sementara daun sirih memberikan rasa khas dan aroma segar.
Kebiasaan mengunyah sirih diduga dilakukan oleh sepersepuluh populasi dunia, menurut Britannica. Di banyak tempat, cara menikmati pinang adalah dengan membungkusnya memakai daun sirih, dicampur kapur, dan bahan lain misalnya, kapulaga.

Para manusia pemburu-peramu di Sulawesi tampaknya menggunakan cara yang berbeda. Mengutip laporan, mereka tidak mengunyah pinang bersama kapur, melainkan mengisap buah pinang utuh. Sebuah temuan yang menawarkan gambaran tentang tahap awal dalam sejarah tradisi konsumsi pinang yang panjang.
Dari bukti arkeologis, bisa dirunut bahwa zat psikoaktif pertama yang berbasis tumbuhan adalah bir yang ditemukan sekitar 13 ribu tahun lalu di Israel. Selanjutnya kaktus San Pedro dan Mescalbean sekitar 10,4 ribu tahun lalu di Peru dan Texas. Lalu, koka di Peru dan jamur psilocybian di Aljazair, 8 ribu tahun lalu. Sementara tembakau artefaknya ditemukan 5 ribu tahun lalu di Amerika Utara. Temuan di Sulawesi tersebut dengan sendirinya mengubah urutan ini.
Pinang disebut sebagai zat psikoaktif paling populer keempat setelah alkohol, kafein, dan nikotin. Digunakan secara luas mulai dari pulau-pulau di Pasifik Selatan hingga pesisir Afrika Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, Melanesia dan Mikronesia, sampai Tiongkok.
“Efek parasimpatetik yang dilaporkan dari konsumsi sirih meliputi peningkatan rasa waspada, euforia ringan, serta peningkatan stamina dan kapasitas kerja,” tulis laporan ini.
Selain itu, mengisap pinang mungkin untuk merangsang produksi air liur yang membantu melumatkan makanan berpati. Arekolin juga menunjukkan sifat analgesik sehingga para peneliti menduga mungkin manusia purba memanfaatkannya untuk obat pereda nyeri.
Namun di balik manfaatnya, mengisap pinang juga merusak gigi, membuat akar gigi terbuka, dan mengundang penyakit gusi.
Sulawesi kembali menunjukkan posisi penting dalam memahami sejarah manusia di Asia Tenggara. Pulau ini bukan hanya menjadi tempat ditemukannya seni lukisan gua yang sangat tua. Kali ini, gigi manusia purba di Sulawesi telah membuka jendela pengetahuan kita tentang perilaku leluhur.
Referensi:
Brumm, A., Fakhri, Vlok, M., Papke, R. L., Matheson, C. D., Hakim, B., … & Ririmasse, M. N. (2026). Betel nut sucking is the earliest recorded evidence for the habitual use of a neuroactive plant drug. Science Advances, 12(37), eaei1901. https://www.science.org/doi/10.1126/sciadv.aei1901
*****