- Kampung Yoboi memiliki hutan sagu terluas di Kabupaten Jayapura, Papua. Dusun ini menjadi kawasan penting di sekitar Danau Sentani.
- Bagi masyarakat adat, sagu tak hanya sebagai sumber pangan, tapi identitas budaya dan warisan antar-generasi. Bahkan kearifan lokal hutan ini juga menjadi daya tarik wisatawan.
- Pengelolaan sagu secara tradisional mulai terdesak sejak masifnya penggunaan mesin. Mesin mempercepat penebangan, bahkan disebut dapat membuat 10–20 pohon sagu ditebang dalam sehari, sehingga warga khawatir hutan lebih cepat habis.
- Ekowisata menjadi salah satu alternatif untuk mempertahankan hutan sekaligus memberi manfaat ekonomi kepada warga. Namun, kini terancam penyusutan hutan sagu akibat alih fungsi dan hilangnya kearifan lokal masyarakat.
Tanaman sagu di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua menjulang tinggi. Kampung ini terkenal sebagai desa wisata dan punya hutan sagu terluas di Kabupaten Jayapura mencapai 1.600 hektar. Sayangnya, kearifan lokal masyarakat dalam mengelola hutan sagu kian terancam.
Hampir seluruh wilayah Kampung Yoboi berada di atas Danau Sentani, pengunjung perlu berjalan di jembatan kayu dan sepanjang jalan banyak tanaman sagu. Sebagian batang sagu siap panen, ada juga masih kecil.
Sejak September 2021, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meresmikan Kampung Yoboi menjadi salah satu desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia. Kampung Yoboi menawarkan keindahan alam seni budaya hingga wisata edukasi. Salah satu daya tariknya adalah hutan sagu dan kearifan lokal masyarakat dalam mengelolanya.
Tiap hari, Yohanes Tokoro, warga Kampung Yoboi menghabiskan waktu di hutan sagu. Lelaki 64 tahun ini merawat, membersihkan pelepah sagu, menanam dan memanen sagu. Dia mengolah sagu secara tradisional, biasanya mereka lakukan bersama keluarganya. Mulai dari menebang sagu yang sudah tua dengan kapak atau parang. Lalu, menguliti bagian luarnya dan batang dalamnya mereka pukul-pukul dengan alat seperti kapak yang terbuat dari kayu atau alat oyo hingga hancur menjadi serbuk kasar.
Setelahnya, mereka meremas serbuk kasar dengan campuran air besih di atas wadah penyaring, berupa pelepah daun sagu atau kain tipis. Hingga sari patinya larut bersama air dan terpisah dari ampasnya. Lalu mendiamkan air hasil perasan itu selama beberapa jam atau hari sampai patinya mengendap. Endapan inilah yang akan dijemur hingga kering dan menjadi tepung sagu.

Luas hutan sagu Kampung Yoboi sekitar 1.600 dari 38.670 hektar luas hutan sagu. Hutan sagu tempat biasa orang berkunjung untuk wisata ini merupakan sumber makanan pokok warga. Yohanes bilang, hutan sagu bagian dari identitas, sumber penghidupan dan pangan mereka.
Selain itu, hutan sagu sebagai aset adat yang menjamin masa depan seluruh keluarga dan jaminan komunitas dari generasi baik generasi pada tingkat klan, suku, marga yang diwariskan untuk menjamin kehidupan keberlanjutan terkait langsung dengan wilayah adat.
Sagu juga menjadi jaminan pangan lokal masyarakat di sekitar Danau Sentani yang terdiri dari 32 kampung. Sejak 1990-an, kearifan lokal masyarakat dalam mengelola sagu kian terancam. Banyak dari mereka sudah menggunakan mesin untuk menebang dan memeras untuk menjadi tepung sagu.
“Kondisi hutan sekarang, saya lihat ada perubahan juga karena beralih ke modern. Sagu mulai habis dengan cepat. Dalam satu hari, 10-20 batang sagu bisa ditebang karena pakai mesin,” kata Yohanes, Rabu (19/8/26).
Kekhawatiran Yohanes pun sama dengan Billy Tokoro, pemuda adat dan penggagas ekowisata Kampung Yoboi terkait masuknya alat modern ke kampung.
“Ada beberapa lembaga, baik NGO (organisasi non pemerintah) atau pemerintah, membawa mesin pengolah sagu dan menawarkan ke masyarakat. Niatnya baik, tapi mereka tidak melihat mesin itu adalah ancaman bagi hutan sagu,” ujarnya.
Baginya, hutan sagu menjadi warisan nenek moyang yang harus mereka pertahankan dengan cara kearifan lokal. Tak hanya melestarikan budaya, mereka juga terus menjaga agar lingkungan tetap terjaga dari ancaman-ancaman luar.
“Saat ini, memang pariwisata lebih menonjol, tapi justru tawarkan hal-hal yang tidak sesuai dengan pelestarian kearifan lokal. Seperti mereka bawa mesin sagu yang besar, yang satu kali olah bisa beberapa batang tebang. Itu jadi ancaman sekali di saat kita tawarkan ekowisata,” kata Billy, Selasa (18/8/26).
Masyarakat Yoboi memiliki tradisi atau kearifan lokal menjaga hutan sagu dan pengelolaan secara tradisional. Itu sudah terbukti ratusan tahun itu mereka bisa menjaga keseimbangan antara mengambil dan menanam itu sampai saat ini masih konsisten.
“Pola-pola itu jelas, bahwa kita punya sistem sendiri. Apalagi sagu itu ada kaitan erat sekali dengan Danau Sentani. Selain itu masyarakat punya kewajiban untuk membersihkan hutan sagu,” katanya.

Ancaman pelestarian hutan sagu
Aturan kepemilikan dusun sagu berdasarkan hak ulayat marga yang diwariskan secara secara turun-temurun. Tak hanya Kampung Yoboi, dusun sagu itu kepemilikannya berasal dari masyarakat adat Kampung Simporo, Babrongko Distrik Ebungfauw, dan Towari Distrik Sentani.
Pada tahun 80-90an, masyarakat adat di sekitar Danau Sentani membuat komunitas bernama Cinta Pohon Sagu (Cipos). Mereka secara konsisten menanam sagu dan menjaga tanaman itu. Mereka memanen dengan cara tradisional hingga menekan dampak lingkungan.
Sayangnya, tekanan alih fungsi lahan untuk pembangunan dan permukiman, risiko kebakaran lahan, pencemaran air hingga pemanenan sagu tak ramah lingkungan mengikis kearifan lokal yang ada.
“Dulu luasan hutan sagu ini hampir dua ribuan hektar lebih, tapi karena tergusur oleh pembangunan, di sekitar area hutan sagu, banyak yang ditebang juga,” kata Hans Tokoro, Kepala Suku Marga Tokoro kepada Mongabay.
Kini, dia memiliki mandat sebagai kepala ekonomi di dusun sagu. Dia yang mengawasi masyarakat dalam pengelolaan urusan ekonomi mulai dari sagu, ikan, berburu babi hutan dan sebagainya. Dia juga yang mengatur bagaimana menebang, memotong, membersihkan hingga menokok sagu agar terhindar dari kesalahan.
Hans bilang, banyak hutan sagu hilang karena masyarakat tergiur dengan ekonomi. “Beberapa ribu hektar ditebang dan rusak, khususnya bagian darat kawasan Dermaga Yahim sampai ke Sentani Barat. Pemerintah dulu juga bikin kebun padi.”
Kini, pelestarian hutan sagu terancam juga karena ada mesin modern masuk kampung. Hans selalu mengingatkan agar panen secara tradisional agar hutan sagu tetap terjaga.
“Itu (aturan terkait penebangan dengan mesin) belum masuk aturan adat, baru sehabis tebang lalu tanam lagi. Tapi kalau dengan mesin, hutan cepat habis. Air danau kadang lebih mudah mematikan bibit, sedangkan tumbuhnya sagu lama sekali,” katanya.

Sejak 2016, Kabupaten Jayapura memiliki Peraturan Daerah Nomor 8 tentang Kampung Adat. Aturan itu memperkuat peran masyarakat dalam melindungi, dan melestarikan adat istiadat setempat, termasuk dalam menjaga keberadaan hutan sagu.
Hans pun mengakui ancaman itu terus datang, namun aturan adat bisa berlaku setelah melewati musyawarah adat yang memiliki banyak tingkatan.
Fredrik Sokoy, Guru Besar Bidang Ilmu Antropologi Universitas Cenderawasih mengatakan, hutan sagu di Papua, terutama di Kampung Yoboi banyak beralih fungsi karena pembangunan infrastruktur dan permukiman. Luasan hutan sagu makin terus menyempit.
“Nampaknya kita punya pemerintah dan swasta ini, mereka tidak membangun sebuah perencanaan pembangunan yang berbasis pada perlindungan terhadap kawasan yang potensial memberi makan, memberi hidup kepada penduduk. Sekarang dari arah perkotaan itu hutan sagu sudah menyusut tinggal hitung-hitung tahun saja hutan sagu itu suatu ketika akan habis,” katanya.
Dia menyebutkan, pembangunan yang tidak memperhitungkan aspek lingkungan dan masyarakat adat, akan menghabisi dusun sagu. “Maka kematianlah yang menjadi jawaban akan kehidupan orang di sekitar Danau Sentani,” katanya.
Meski, ada upaya budidaya, baginya itu tidaklah cukup di tengah wilayah hutan yang terus tergerus. Dia merekomendasikan pemerintah harus membuat pemetaan dan melakukan perencanaan ulang, kawasan mana yang penting dan harus terjaga sebagai ruang hidup masyarakat adat dan generasi mendatang.
“Kalau tidak, orang-orang danau ke depan akan mengatakan bahwa dulu memang kita ini pemakan papeda, tapi sekarang sudah harus menggantung seluruh hidup pada nasi. Itu kematian, kematian untuk orang-orang Sentani,” kata Sokoy.
Solmon Telenggen, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jayapura mengatakan, hutan sagu di Kabupaten Jayapura kian tahun makin terpecah-pecah menjadi petak-petak kecil yang terisolasi, terutama di sekitar Danau Sentani.
“Sisa hutan sagu yang masih utuh saat ini terutama di Kampung Yoboi, Simporo, dan Babrongko (Yosiba), masih menyimpan 34 jenis sagu,” kata Solmon kepada Mongabay, Jumat (11/9/26).
Alih fungsi hutan sagu, katanya, banyak oleh masyarakat tanpa memperhitungkan dampak lingkungan, ekosistem dan vegetasi tumbuhan. Banyak hutan sagu beralih fungsi menjadi kawasan industri, pembangunan infrastuktur hingga perumahan.
Tak hanya itu, kata Solmon, ancaman kerusakan ekosistem, pencemaran lingkungan, penurunan kualitas air danau dan air tanah juga mengganggu pertumbuhan sagu, pendangkalan dan sedimentasi danau mempengaruhi kawasan rawa sagu.
Saat Mongabay mengonfirmasi upaya pencegahan dan sanksi untuk menjaga hutan sagu, Solmon tak menjawab pertanyaan hingga artikel ini terbit.

Hutan sagu tergerus, ekowisata kian terancam
Tak hanya sebagai sumber pangan pokok, hutan sagu juga meningkatkan ekonomi bagi warga Kampung Yoboi melalui ekowisata. Billy juga khawatir dengan berkurangnya hutan sagu karena itu menjadi pilihan ekonomi bagi warga.
“Upaya pelestarian bisa dilakukan dengan pendekatan ekowisata berkelanjutan yang tidak merusak alam. Melalui konsep ekowisata, hutan sagu tetap bisa memberi nilai ekonomi bagi masyarakat tanpa harus ditebang secara masif,” katanya.
Menurut dia, wisata edukasi tentang memperkenalkan sagu menjadi cara agar masyarakat dan generasi muda bisa ikut menjaga hutan sagu.
Jika hutan sagu rusak, maka budaya dan kawasan sekitar juga terdampak. Saat hujan datang, air danau akan naik, begitu juga saat kemarau, air menjadi kering yang berdampak pada hutan sagu.
“Hutan sagu itu satu kesatuan, jika salah satu bagian dijual lahannya untuk pembangunan, dampaknya pada kita yang tinggal di atas danau.”
Fredrik mengatakan, nenek moyang Sentani sudah mengupayakan konservasi lingkungan, perlindungan hutan dan pengawasan secara kearifan lokal. Bahkan praktik-praktik baik itu terus ada hingga kini.
“Hutan sagu itu bagi mereka pemberi kehidupan, artinya lingkungan hutan, kawasan sagu dan lingkungannya itu juga menunjukkan kehidupan. Karena itu harus kita jaga baik. Karena dia satu-satunya yang dapat menopang kehidupan kita, tapi sekaligus menjamin masa depan dari anak cucu kita,” katanya, Rabu (2/9/26).

*****