- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya membuat pemerintah dan masyarakat perkotaan yang merasakan dampak buruknya. Masyarakat adat yang berhadapan langsung dengan karhutla, merasakan langsung dampak buruknya.
- Bagi masyarakat adat di Tempirai, Penukal Utara, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumsel, pada saat musim kemarau api adalah musuh dan kawan.
- Api menjadi musuh dari awal hingga puncak musim kemarau. Sementara api menjadi kawan di akhir musim kemarau atau masa pancaroba. Selama ratusan tahun, mereka tidak pernah memanfaatkan gambut sebagai lahan perkebunan.
- Masyarakat adat Tempirai, seperti halnya masyarakat adat lainnya di Sumsel, memiliki pengetahuan dalam tata kelola air dan membakar lahan. Hanya pengetahuan ini terus terkikis dengan tumbuhnya perilaku ekonomi ekstraktif.
Sumanti (30) melaju dengan sepeda listriknya, menerobos kebun karet. Dia pulang ke dusun. Menemui keluarganya, sebab tidak satu pun yang mengangkat telepon saat dihubungi. Wajahnya pucat dan suaranya bergetar. “Api (kebakaran) sudah mendekati kebun kami,” katanya kepada seorang warga di perjalanan.
Setengah jam kemudian, dua lelaki dan dua perempuan menggunakan sepeda motor yang membawa dua jerigen air 35 liter, serta satu alat semprot pupuk 35 liter, melaju ke kebun keluarga Sumanti. Di belakangnya, menyusul Sumanti yang membawa satu jerigen air 35 liter dengan sepeda listriknya.
Sabtu (5/9/26) di tengah terik matahari yang disertai angin, Sumanti bersama empat keluarganya yang juga menetap di Desa Tempirai, berusaha memadamkan kebakaran di hutan semak dan bambu yang berbatasan dengan kebun karet dan jongot (agroforestry) mereka. Mereka terlihat tidak pernah lelah. Berulang kali mengambil air di paye yang sebagian sudah mengering. Paye adalah potongan sungai atau rawa kecil di sekitar kebun.
Usaha mereka selama dua jam hanya menghambat laju kebakaran. Bara api masih tersebar.
Sore, datang tiga lelaki membawa sebuah pompa air 15 PK dan belasan meter selang air. Mereka turut memadamkan api. Tiga jam kemudian api padam. Sumanti tersenyum.
“Api berasal dari arah lahan transmigran di belakang perkebunan kami,” kata Sumanti.
Pompa air itu milik seorang warga. Guna mengoperasikan pompa air tersebut, sejumlah warga yang berkebun di Talang Turunan Gajah, patungan uang untuk membeli bahan bakar minyak. “Tidak ada tim karhutla di sini. Warga gotong royong kalau ada kebakaran di kebun,” kata Sadikin (46), pemilik pompa air.

Sumanti, satu dari enam warga atau keluarga yang berkebun karet di Talang Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Selain kebun karet, mereka juga memiliki jongot atau hutan buah-buahan hutan.
Sehari sebelumnya, Jumat (4/9/26), di lokasi tersebut sebuah kebun karet warga terbakar. Kebun seluas dua hektar tersebut masih produktif, usia pohonnya kisaran 15 tahun. “Kami rugi ratusan juta (Rupiah). Terpaksa menanam yang baru dan menunggu lima tahun untuk menghasilkan,” jelas Hendra (41), pemilik kebun karet tersebut.
Di wilayah Tempirai (Tempirai, Tempirai Selatan, Tempirai Timur, dan Tempirai Utara), setiap kali musim kemarau panjang atau ekstrem, selalu terjadi kebakaran. Baik di lahan mineral maupun di lahan gambut.
“Maraknya kebakaran sejak awal 2000-an, ketika hadirnya perkebunan sawit. Saat ini, kebun sawit itu bukan hanya di talang (mineral) juga di gambut. Kebun sawit bukan hanya diusahakan perusahaan, juga masyarakat,” kata Ibrahim (56), tokoh masyarakat Tempirai, Minggu (6/9/26), saat di Talang Tanjung Eran, wilayah adat Tempirai.

Dijelaskan Ibrahim, warga yang berkebun karet sangat takut kebakaran. Sebab, pohon karet itu akan mati jika terbakar. Berbeda dengan warga yang berkebun sawit. Mereka memahami pohon sawit tetap hidup meskipun terbakar, sementara kebakaran dipahami dapat menghalau hama tikus dan membuat lahan menjadi subur.
“Jadi tidak mungkin warga yang berkebun karet akan membakar lahan. Selain itu, tidak ada lagi hutan luas di sini untuk dibuka menjadi perkebunan karet. Hutan yang tersisa itu jongot. Milik warga, berisi buah-buahan hutan, yang tidak mungkin akan dibakar pemiliknya.”
Kemarau panjang ini juga menyebabkan produksi getah karet di Tempirai menurun hingga 60 persen. “Di awal musim kemarau, bulan Juli lalu, dalam seminggu getah karet yang dihasilkan sekitar 80 kilogram. Saat ini, selama dua minggu getahnya kisaran 60 kilogram,” kata Sadikin.
“Mantang (menyadap karet) hanya menjaga rutinitas. Kalau hasilnya jangan ditanya. Sedikit nian sekarang, hanya belasan kilogram selama setengah bulan ini,” jelas Sumanti.

Api adalah musuh
Berdasarkan pemantauan Mongabay Indonesia di wilayah adat Suku Musi di Tempirai, Minggu (6/9/26), di Talang Tanjung Eran dan Talang Sebetung, yang sebagian besar berupa jongot dan kebun karet, tidak ditemukan lokasi yang terbakar.
“Kami justru menjaga kebun dan jongot jangan sampai terbakar. Semua sudah kering, bila tersulut api pasti gampang terbakar. Kalau terjadi kebakaran di sini, habislah kami. Jadi saat ini, api adalah musuh kami,” kata Edi Sukari (42), warga Talang Sebetung.
Pada musim kemarau tahun ini, kekeringan sangat dirasakan warga yang menetap di Talang Sebetung. Danau Sebetung yang luasnya sekitar lima hektar, sebagian besar mengering. Sementara paye hampir semuanya mengalami kekeringan.
“Air sumur mulai berkurang, tapi masih ada untuk kebutuhan masak dan minum. Entah kalau kemarau hingga Oktober atau November, mungkin kami krisis air,” kata Edi.

Selama musim penghujan, pemukiman di Talang Sebetung cenderung terisolasi. Mereka hanya dapat diakses melalui jalur air. Sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan perahu ketek (perahu bermesin) dari Desa Tempirai.
Saat kemarau, sebanyak 10 kepala keluarga di Talang Sebetung pergi ke Tempirai melalui jalan darat. Menggunakan sepeda motor jarak tempuhnya sekitar satu jam.
Masyarakat yang menetap di Talang Sebetung hidup memanfaatkan daratan dan air. Di darat, mereka berkebun karet, beume, dan memelihara jongot, sementara di air mereka mencari ikan. Baik di Danau Sebetung, maupun beberapa di aliran sungai kecil, anak Sungai Penukal.
Sementara Talang Tanjung Eran merupakan dataran tinggi di tepi Sungai Penukal, yang disakralkan oleh masyarakat Tempirai. Di Tanjung Eran terdapat makam Putri Darah Putih. Anak dari sebuah keluarga, yang kali pertama menetap di wilayah Tempirai. Perempuan ini dikenal cantik dan sakti, yang dapat mengalahkan seorang pangeran dari Palembang.
Warga yang menetap di sekitar Talang Tanjung Eran umumnya hanya beraktivitas di darat. Mereka memiliki kebun karet, ume dan jongot. Mereka hanya sesekali mengakses Sungai Penukal untuk mencari ikan.

Tata kelola air
Selama ratusan tahun, masyarakat adat di Tempirai memiliki tradisi membakar lahan. Tradisi ini dilakukan untuk membersihkan dan menyuburkan ume atau kebun yang akan ditanami padi dan palawija.
“Tapi kami hanya membuka ume di talang, bukan di gambut,” kata Ibrahim.
Selain itu, membakar lahan ume bukan dilakukan di awal dan puncak musim kemarau. Pembakaran dilakukan di ujung musim kemarau. Sebab, padi atau sayuran yang ditabur atau ditanam, minimal seminggu tidak tersiram air hujan.
“Kalau dilakukan proses pembakaran dan penaburan benih di awal dan puncak kemarau, ya, tanaman tidak mungkin tumbuh, sebab tidak ada air. Kalaupun mau disiram air, itu tidak mungkin. Di musim kemarau, air terbatas, dan lebih penting untuk kebutuhan rumah dibandingkan ume,” katanya.
Berdasarkan pemantauan Mongabay Indonesia, di wilayah Tempirai tidak ditemukan lahan ume terbakar. Kebakaran lahan, umumnya di sekitar atau di kebun sawit.
Kemungkinan besar ume di Tempirai baru akan ditanam sekitar Oktober atau November. “Biasanya dilakukan jika sudah ada hujan turun atau pancaroba. Saat ini api baru digunakan untuk membakar, menjadi kawan,” kata Ibrahim.
Karena masa pancaroba, suhu udara dan angin tidak menentu, maka selama membakar lahan api tetap harus ditata dan dijaga. Misalnya, lokasi yang dibakar harus dibuat sekat api dan membakarnya sedikit demi sedikit. “Jika ada tanda-tanda angin kencang, api harus segera dipadamkan. Paling penting, pembakaran dilakukan siang hari, agar dapat dilihat,” kata Ibrahim.

Selain mampu menempatkan api sebagai lawan dan kawan, masyarakat Tempirai juga memiliki pemahaman dalam tata kelola air. Mereka menjaga atau tidak mengubah keberadaan sungai, rawa, dan paye, serta membuat kolam buatan di sekitar rumahnya. Kolam ini fungsinya sebagai tempat merendam bongkahan getah karet, dan tidak melakukannya di sungai dan paye sebagai sumber air bersih.
Pengetahuan tata kelola air dan mengendalikan api sudah berjalan selama ratusan tahun di Sumatera Selatan. Pengetahuan ini dapat dibaca melalui Undang-Undang Simbur Cahaya.
“Bahkan, jauh sebelumnya tata kelola air ini dapat dibaca dari Prasasti Talang Tuwo ditetapkan pemimpin Kedatuan Sriwijaya. Tata kelola air yang baik, tentu saja membuat krisis air tidak akan terjadi pada saat musim kemarau,” kata Ryllian Chandra, peneliti kebijakan tata kelola air dari UIN Raden Fatah Palembang, Selasa (8/9/26).
Yang menjadi persoalan, pengetahuan luhur tersebut pada saat ini mulai hilang, sehingga setiap musim kemarau selalu terjadi krisis air serta bencana kebakaran hutan dan lahan. “Penting untuk mengembalikan pengetahuan tersebut di tengah berkembangnya perilaku ekonomi ekstraktif ini,” katanya.
*****