- Paye bagi masyarakat lahan basah di wilayah Penukal dan Abab di Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), merupakan sumber air bersih dan pangan. Paye adalah potongan sungai kecil yang memiliki rawa, yang tergenang airnya sepanjang tahun, dan terhubung hutan gambut.
- Begitu pentingnya paye, membuat masyarakat yang akan membuat kebun, ladang, dan jongot (agroforestry) harus berada atau tidak jauh dari paye.
- Beberapa paye yang cukup dikenal karena cukup luas di Penukal antara lain Paye Babat, Paye Bakung, Paye Limau, Paye Beringin, Paye Akar Seribu, dan Paye Seretai.
- Tata kelola lahan basah bersama tanaman yang masih ditemukan di Penukal, khususnya Tempirai, diperkirakan turunan dari pengetahuan pengelolaan lahan basah dari Kedatuan Sriwijaya.
Paye bagi masyarakat lahan basah di wilayah Penukal dan Abab, Kabupaten PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), Sumatera Selatan, sangatlah penting. Paye menjadi sumber air bersih dan pangan. Paye adalah potongan sungai kecil yang memiliki rawa, airnya tergenang sepanjang tahun, dan terhubung dengan hutan gambut. Paye merupakan habitat beragam jenis ikan air tawar. Air dari paye mengalir ke sejumlah anak Sungai Penukal dan Sungai Abab.
“Paye bukan hanya sebagai sumber air bersih, juga sumber pangan, sebab beragam jenis ikan air tawar didapatkan di sini. Ikan yang banyak terlihat adalah gabus (Channa striata), bujuk (Channa lucius), serandang (Channa pleurophthalma), toman (Channa micropeltes), lele rawa (Clarias nieuhofii), dan tembakang (Helostoma temminckii),” kata Ibrahim (57), tokoh masyarakat Tempirai, saat diskusi budaya dalam Festival Lahan Basah Tempirai, Jumat (19/6/26).
Keberadaan paye juga menjadi penanda keberadaan perkebunan karet, ladang atau ume, serta jongot (agroforestry). “Kami membuat kebun dan ladang dekat paye dan biasanya jongot berada di sekitar paye.”
Jongot dan paye tidak dapat dipisahkan. Di dalam paye biasanya terdapat lebung atau cekungan dalam, yang menjadi rumah terakhir ikan saat musim kemarau.
“Saat musim penghujan, paye banyak ikan dan warga menjaringnya,” kata Kunci (58), warga Desa Tempirai.
Selain ikan, masyarakat juga memanfaatkan tumbuhan di sekitar paye seperti kuang atau pandan rasau (Pandanus helicopus) sebagai bahan baku anyaman tikar, pohon nibung (Oncosperma tigillarium) yang dimanfaat sebagai bahan bangunan, dan pohon aren (Arenga pinnata) yang niranya dijadikan gula.
Beberapa paye yang cukup dikenal karena cukup luas di Penukal antara lain Paye Babat, Paye Bakung, Paye Limau, Paye Beringin, Paye Akar Seribu, dan Paye Seretai. Sementara di Kecamatan Abab, paye yang cukup dikenal Paye Biru, yang sudah menjadi objek wisata.

Irkhamiawan Ma’ruf, peneliti ikan air tawar dari Universitas Muhammadiyah Palembang, pada acara yang sama, menjelaskan paye memiliki peran penting dalam ekosistem lahan basah di Penukal dan Abab.
“Paye merupakan habitat beragam jenis ikan air tawar, serta hulu dari sejumlah anak Sungai Penukal dan Sungai Abab. Keberadaan paye sangat penting dalam menjaga keberadaan air. Sumber air di musim kemarau dan penampung air di musim penghujan. Bertahannya paye merupakan pertanda baik ekosistem lahan basah.”
Adios Syafri dari Hutan Kita Institute (HaKI), menjelaskan lahan basah Tempirai yang luasnya sekitar 13.904 hektar bukan hanya terdiri sungai, rawa, dan paye.
“Juga terdapat gambut cukup dalam. Berdasarkan penelitian saya sekitar 10 tahun lalu, gambut di Danau Burung kedalamannya mencapai 12 meter. Ini menandakan bagaimana pentingnya lahan basah di Tempirai dalam menjaga keberadaan air, flora dan fauna, serta karbon,” jelasnya, Rabu (16/6/26).
Danau Burung luasnya sekitar 1.250 hektar. Selain terdapat rawa gambut, juga mengalir Sungai Danau Burung Besak, Sungai Danau Burung Kecik, dan Sungai Belide, serta sejumlah lebung dan lubuk, seperti Lebung Labi, Lebung Ruan, Lubuk Tapa.

Amanah
Selain terjaganya sejumlah paye, di Tempirai juga masih ditemukan puluhan jongot, yaitu kebun buah hutan yang dikelola setiap keluarga turun-menurun, dengan luasan setengah hektar. Di kebun ini, biasanya terdapat tumbuhan yang mulai langka seperti tampui (Baccaurea macrocarpa), remanas atau rambutan hutan (Nephelium ramboutan-ake Blume syn. N. mutabile), durian rimba (Durio oxleyanus), aren (Arenga pinnata Merr.), cempedak (Artocarpus integer), asam kandis (Garcinia xanthochymus), nibung (Oncosperma tigillarium), serta tanaman kayu seperti meranti (Dipterocarpaceae).
Sondang M Siregar, arkeolog dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim, dan Budaya Berkelanjutan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), memperkirakan lahan basah Tempirai sudah didiami manusia sejak masa Kedatuan Sriwijaya. Sebab, lanskap Tempirai terhubung dengan Percandian Bumiayu yang dibangun sejak abad ke-9. Apalagi sering ditemukan benda-benda purbakala, seperti keramik China, di wilayah Tempirai.

Menurut Sondang, tata kelola lingkungan di lahan basah Tempirai, merupakan jejak dari tata kelola yang diamanahkan pemimpin Kedatuan Sriwijaya melalui Prasasti Talang Tuwo (684 Masehi). Misalnya terkait tata kelola air, yaitu membuat bendungan serta bertahannya beragam jenis tanaman di jongot, yang diminta untuk ditanam pemimpin Sriwijaya, sebut saja aren, bambu, dan kelapa.
“Guna menjaga lahan basah di Tempirai, dan umumnya di Penukal dan Abab, tampaknya apa yang sudah diamanahkan pemimpin Kedatuan Sriwijaya melalui Prasasti Talang Tuwo dapat dijalankan lagi. Tata kelola air dan menanam beragam jenis tanaman di lahan basah, sangatlah tepat,” kata Sondang, Kamis (18/6/26).

Irkhamiawan berharap paye-paye yang masih ada tetap dijaga, jangan dirusak seperti ditimbun. “Ini merupakan habitat ikan air tawar, yang sebagian besar terancam punah. Semoga, suatu saat nanti ditemukan kembali ikan tangkeleso atau arwana sungai musi (Scleropage formasus) di areal tersebut.”
Ikan puntung kanyut atau Bala Shark (Balantiocheilos melanopterus) dan byuku (Orlitia borneensis) yang masih ditemukan di Tempirai hars terus dijaga keberadaannya. “Jika jenis tersebut hilang, maka Sumatera Selatan akan kehilangan selamanya, sebab mungkin hanya di sini yang masih ditemukan.”
Adios Syafri berharap, lahan basah yang tersisa di Tempirai untuk terus dijaga. “Krisis iklim terus menekan kehidupan kita. Menjaga lahan basah merupakan upaya kita mengurangi dampak tersebut. Terhindar dari bencana kekeringan, banjir, dan ketersediaan pangan, merupakan hal utama yang dibutuhkan manusia dalam menghadapi krisis iklim global,” tandasnya.
*****