Fosil ular umumnya ditemukan sebagai tulang belakang lepas, bukan kerangka utuh. Tubuh ular tersusun dari ratusan ruas tulang belakang, tetapi yang terawetkan di dalam batuan biasanya hanya segelintir, dan tengkorak yang rapuh jarang ikut terawetkan. Ruas-ruas itu bisa sulit dibedakan dari tulang reptil lain bila hanya sebagian yang tersedia. Pada sejumlah kelompok ular purba, termasuk Madtsoiidae, sebagian besar jenisnya dikenal hanya dari ruas tulang belakang. Karena itu, identifikasi awal sebuah fosil kadang perlu diperbaiki setelah pemeriksaan yang lebih teliti, dan ukuran tubuhnya baru bisa ditaksir dengan membandingkan dimensi ruas tersebut dengan ular masa kini.
Hal itu terjadi pada fosil yang digali di Tambang Lignit Panandhro, Distrik Kutch, Gujarat, India. Lignit adalah batu bara muda, dan lapisan tempat fosil itu ditemukan berumur sekitar 47 juta tahun, atau awal zaman Eosen Tengah. Tulang-tulang berukuran besar itu semula dikira sisa buaya purba, tetapi pemeriksaan ulang menunjukkan bahwa ia adalah 27 ruas tulang belakang seekor ular raksasa. Debajit Datta dan Sunil Bajpai dari Indian Institute of Technology Roorkee menamainya Vasuki indicus dalam makalah di jurnal Scientific Reports pada 2024. Panjang tubuhnya diperkirakan 10,9 hingga 15,2 meter, sehingga angka 15 meter adalah batas atas estimasi.
Dari Dugaan Buaya Menjadi Ular Raksasa
Fosil itu berasal dari Formasi Naredi, dan sebagian besar ruasnya terawetkan dengan baik, beberapa di antaranya masih bersambung. Penutupan sutura pada tulangnya menunjukkan bahwa spesimen itu kemungkinan sudah mencapai kematangan kerangka. Ciri-ciri ruasnya membuat tim menempatkannya dalam keluarga Madtsoiidae, kelompok ular yang sudah punah.
Ruas tulang Vasuki tergolong sangat besar. Lebar ruasnya, diukur pada sendi depan atau prezigapofisis, mencapai 111,4 milimeter, sedangkan panjang badan ruas (centrum) hingga 62,7 milimeter. Ukuran itu melampaui ruas ular madtsoiid besar lain yang pernah dilaporkan. Dari dimensi tersebut, tim menghitung panjang tubuh dengan dua metode regresi yang menghasilkan 10,9 hingga 12,2 meter dan 14,5 hingga 15,2 meter, dengan catatan bahwa hasilnya harus dibaca hati-hati karena ruas bagian belakang tubuh tidak ada.

Bentuk ruas yang lebar dan pendek menunjukkan tubuh yang besar dan silindris. Para peneliti menduga Vasuki bergerak lambat serta berburu dengan menyergap lalu melilit mangsanya, seperti sanca besar dan anakonda masa kini. Habitatnya diduga rawa belakang dekat pantai, meski kemungkinan gaya hidup air tidak sepenuhnya dikesampingkan. Mangsanya belum diketahui, tetapi para peneliti menduga bisa mencakup buaya, dan namanya diambil dari Vasuki, ular mitologi Hindu yang melingkar di leher Dewa Siwa.
Dibandingkan dengan Titanoboa dan Anakonda
Pembanding fosil terdekatnya adalah Titanoboa cerrejonensis dari tambang batu bara Cerrejón, Kolombia, yang hidup sekitar 58 hingga 60 juta tahun lalu. Jason Head dan rekan-rekannya memperkirakan panjangnya 13 meter dan bobotnya 1.135 kilogram dalam makalah di Nature pada 2009. Dimensi ruas Vasuki sedikit lebih kecil daripada Titanoboa, tetapi estimasi panjang tertinggi Vasuki melampaui Titanoboa, dan penulis studi mengakui selisih itu mungkin mencerminkan perbedaan data yang dipakai untuk persamaan regresi. Bajpai menyebut belum bisa dipastikan apakah Vasuki lebih berat atau lebih ramping daripada Titanoboa.
Pembanding masa kini adalah anakonda hijau, ular terberat yang masih hidup. Pada 2024, tim yang dipimpin Jesús Rivas dari New Mexico Highlands University melaporkan di jurnal Diversity bahwa anakonda hijau terdiri atas dua garis keturunan yang berbeda secara genetik, dan menamai populasi utara Eunectes akayima. Individu terbesar yang mereka ukur adalah betina sepanjang 6,3 meter di wilayah suku Waorani, Amazon Ekuador, dengan bobot yang dalam sejumlah laporan melebihi 200 kilogram. Warga Waorani menceritakan individu yang lebih besar, lebih dari 7,5 meter dan sekitar 500 kilogram, tetapi cerita itu belum didukung pengukuran. Nama E. akayima sendiri dipersoalkan peneliti lain berdasarkan aturan tata nama zoologi, sehingga statusnya masih diperdebatkan.

Dengan angka itu, Vasuki sekitar 1,7 hingga 2,4 kali lebih panjang daripada anakonda 6,3 meter tadi, dan Titanoboa sekitar dua kali lebih panjang. Bobot estimasi Titanoboa sekitar lima kali lipat bobot anakonda terberat yang dilaporkan. Anakonda hijau menonjol pada massa tubuh, sedangkan sanca kembang tercatat lebih panjang. Semua rasio ini dihitung dari estimasi fosil, sehingga lebih tepat dibaca sebagai kisaran.
Ukuran sebesar itu berkaitan dengan suhu, karena ular adalah hewan poikiloterm yang suhu tubuhnya mengikuti lingkungan. Dengan sanca kembang sebagai pembanding modern, Datta dan Bajpai memperkirakan suhu rata-rata tahunan di India pada masa Vasuki sekitar 27,2 hingga 28,6 derajat Celsius, atau 0,7 hingga 2,1 derajat lebih hangat daripada kawasan tropis saat ini. Untuk Titanoboa, estimasi suhu awal Head dan rekan-rekannya dihitung ulang oleh peneliti lain, sehingga metode ular sebagai termometer purba ini masih diperdebatkan.
Masih banyak hal yang belum pasti. Koleksi fosil Vasuki belum mencakup ruas bagian belakang tubuh, sehingga estimasi panjangnya bisa berubah. Para penulis menyebut penemuan material tambahan, termasuk bentuk berukuran besar lainnya, dapat memberi gambaran yang lebih jelas.
**
Referensi:
Datta, D., & Bajpai, S. (2024). Largest known madtsoiid snake from warm Eocene period of India suggests intercontinental Gondwana dispersal. Scientific Reports, 14, Article 8054. https://doi.org/10.1038/s41598-024-58377-0
Head, J. J., Bloch, J. I., Hastings, A. K., Bourque, J. R., Cadena, E. A., Herrera, F. A., Polly, P. D., & Jaramillo, C. A. (2009). Giant boid snake from the Palaeocene neotropics reveals hotter past equatorial temperatures. Nature, 457(7230), 715–717. https://doi.org/10.1038/nature07671