- Ikan puntung anyut (Balantiocheilos melanopterus) yang terancam punah, masih ditemukan di Sungai Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
- Di Sungai Penukal, beberapa ikan air tawar juga sudah jarang dilihat atau ditemukan, seperti ikan tangkeleso (Scleropage formasus) dan ikan ikan betutu (Oxyeleotris marmorata).
- Upaya perlindungan untuk memulihkan sumber daya ikan di lahan basah Sungai Musi harus dilakukan. Caranya, memberikan suaka atau tempat aman bagi ikan air tawar lokal, dan restocking ikan air tawar lokal untuk disebar.
- Kerusakan lahan basah Sungai Musi yang luasnya mencapai tiga juta hektar, terus berlangsung hingga saat ini. Berdasarkan data HaKI [Hutan Kita Institut], luas lahan basah Sungai Musi yang berubah fungsi sekitar 1.123.119 hektar.
Sungai Penukal di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, merupakan habitat beragam jenis ikan air tawar. Termasuk jenis ikan air tawar terancam punah, seperti Balantiocheilos melanopterus atau yang dikenal sebagai hiu bala atau Bala Shark.
“Masyarakat yang hidup di sekitar Sungai Penukal menyebut ikan ini puntung anyut,” kata Sadikin (41), sambil meletakan ikan puntung anyut sepanjang 15 sentimeter di telapak tangannya. Sadikin adalah warga Desa Tempirai, Kecamatan Penukal Utara.
Awal September 2025, Mongabay Indonesia bersama Sadikin dan sejumlah warga Desa Tempirai menyusuri perkebunan karet dan hutan rawa gambut di sekitar Sungai Air Deras, anak Sungai Penukal.
Di tepi Sungai Air Deras, kami menyeberangi sungai tersebut melalui sebuah pohon tumbang, untuk melihat sebuah lansatan. Lansatan adalah cara menangkap ikan dengan membuat jalur jebakan di arus sungai menggunakan dinding belahan bambu. Ikan yang terbawa arus, diarahkan pada sebuah tempat penampungan.

Di lansatan milik seorang warga Desa Tempirai tersebut, didapatkan satu ekor ikan puntung anyut yang sudah mati.
“Disebut puntung anyut, karena ikan ini yang berukuran besar saat di air seperti puntung kayu yang hanyut. Sirip dan ekornya yang hitam terlihat seperti puntung kayu.”
Saat masih kecil, jelas Sadikin, dirinya sering mendapatkan puntung anyut yang beratnya hingga satu kilogram. Meskipun dikonsumsi, ikan ini bukan yang digemari sehingga harganya tidak begitu tinggi di pasaran.
“Tapi ikan ini kian sulit didapatkan. Banyak ditangkap sebagai ikan hias,” jelasnya.
Dijelaskan Sadikin, sebagian besar generasi muda yang hidup di sekitar Sungai Penukal, tidak mengetahui atau pernah melihat puntung anyut. Termasuk lima anaknya.
“Saya baru kali ini melihatnya, kalau namanya pernah dengar,” kata Abri (29), warga Desa Tempirai.
Selain puntung anyut, jelas Abri, ikan yang belum pernah dilihatnya tapi namanya perah didengar, seperti ikan tangkeleso (Scleropage formasus) dan ikan belutulang (Kryptopterus apogon).
International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan puntung anyut sebagai ikan air tawar berstatus Rentan (Vulnerable/VU). Selain di Sumatera, Bala Shark juga ditemukan di lembah Mekong, Chao Phraya, Thailand, Laos, Vietnam, dan Kalimantan. Di Sumatera, selain di Sumatera Selatan, Balantiocheilos melanopterus juga ditemukan di Jambi dan Riau.
Sementara di Sumatera Selatan, dikutip dari makalah “Aspek Biologi Beberapa Jenis Ikan Langka di Sungai Musi Sumatera Selatan” yang ditulis Agus Djoko Utomo dan Krismono dalam Seminar Nasional Ikan tahun 2006, ikan ini ditemukan di Sungai Ogan, Sungai Batanghari Leko, Danau Cala, Arisan Belindo, serta di Sungai Musi.

Ikan tawar yang kritis
Selain puntung anyut, sejumlah ikan air tawar yang mulai sulit ditemukan di lahan basah Sungai Musi, ditulis Agus Djoko Utomo dan Krismono, antara lain ikan semah (Tor douronensis). Ikan ini hidup di wilayah dataran tinggi atau hulu, seperi di Danau Ranau, Sungai Selabung, Sungai Kikim, dan lainnya. Berkurangnya populasi, diperkirakan habitat ikan ini, seperti lubuk sungai dan batu kali mengalami kerusakan.
Ada juga ikan belido (Chitala lopis) yang populasinya terus berkurang di Sumatera Selatan. Ikan ini hidup di perairan wilayah tengah dan hilir Sungai Musi. Lalu, ikan tangkeleso atau arwana asia (Scleropage formasus) di Sungai Musi yang dicari sebagai ikan hias.
Juga, ikan betutu (Oxyeleotris marmorata) yang hidup di sebagian besar lahan basah Sungai Musi, seperti Sungai Komering, Sungai Ogan, Arisan Belido, Sungai Lematang, Sungai Batanghari Leko, dan Sungai Rawas. Saat ini mulai berkurang populasinya untuk dikonsumsi.

Upaya perlindungan
Kerusakan lahan basah Sungai Musi yang luasnya mencapai tiga juta hektar, terus berlangsung hingga saat ini. Berdasarkan data HaKI [Hutan Kita Institut], luas lahan basah Sungai Musi yang berubah fungsi sekitar 1.123.119 hektar.
Perubahan fungsi itu akibat aktivitas 17 perusahaan HTI (Hutan Tanaman Industri) yang menguasai lahan basah sekitar 559.220 hektar, dan 70 perusahaan sawit menguasai 231.741 hektar. Sekitar 332.158 hektar dijadikan permukiman [transmigran], perkebunan rakyat, pabrik, dan jalan.
Irkhamiawan Ma’ruf, peneliti ikan air tawar dari Universitas Muhammadiyah Palembang, mengatakan terkait kondisi ikan di lahan basah Sungai Musi yang terancam punah, diperlukan upaya perlindungan dan intervensi untuk memulihkan sumber daya ikan di perairan umum atau alam.
“Caranya, dengan memberikan suaka atau tempat aman bagi ikan air tawar lokal untuk berlindung, bertelur, membesarkan larva, dan mencari makan,” jelasnya, Minggu (21/9/2025).

Dijelaskan dia, wilayah lindung idealnya dilakukan dengan menetapkan suatu ekosistem terintegrasi antara wilayah perairan dan teresterial. Perlindungan berbasis lanskap ini, ideal untuk memberikan fungsi maksimal bagi konservasi ikan air tawar lokal tersisa. Wilayah daratan merupakan barier alami dari pencemaran yang akan masuk ke perairan dan produsen bahan organik penting bagi perairan.
“Juga diperlukan restocking yang bertujuan untuk memulihkan dan mengimbangi laju penurunan ikan di perairan,” paparnya.
Kesadaran melakukan restocking di Sumatera Selatan sudah sangat baik. Tapi, menurut Irkhamiawan, dalam praktiknya banyak ditemukan sejumlah kendala, misalnya ketidaktersediaan benih ikan asli, serta kegiatan restocking menggunakan benih non-asli yang berpotensi menjadi kompetitor bagi ikan asli.
*****