Corak biru, ekor panjang, dan ukuran tubuh
Biawak pohon biru termasuk kelompok prasinus dan subgenus Hapturosaurus, yang juga mencakup biawak pohon hijau (Varanus prasinus). Pada awal abad ke-21, jumlah spesies dalam kelompok ini bertambah setelah Varanus macraei, V. boehmei, dan V. reisingeri dideskripsikan. Tubuh biawak pohon biru berwarna hitam dengan sisik biru yang tersebar. Sisik-sisik itu membentuk bintik melingkar yang disebut ocelli, dan pada sebagian individu bintik tersebut menyambung menjadi pita melintang di punggung. Jumlah pita punggungnya kurang dari sembilan.

Ujung moncongnya berwarna biru muda, sedangkan tungkainya dipenuhi bintik biru kehijauan. Satu baris sisik biru yang jelas membentang dari sudut bawah mata hingga tepi atas telinga, dan tenggorokannya berwarna terang dengan bercak gelap yang membentuk pola seperti jaring. Kemiripan antarspesies dalam kelompok ini membuat identifikasi tidak selalu mudah. Sebagian individu V. prasinus yang sedikit mengandung pigmen kuning, misalnya, tampak kebiruan.

Ekornya prehensil, artinya dapat melilit dan menggenggam cabang, dengan panjang sekitar 1,95 kali panjang tubuh dari moncong sampai kloaka. Pada ekor itu terdapat 22 sampai 23 cincin biru yang kurang lebih simetris. Jantan dewasa dapat mencapai sekitar 1,1 meter termasuk ekor, sedangkan betina sekitar 10 sentimeter lebih pendek. Ukuran ini menjadikannya spesies terbesar yang diketahui dalam kompleks V. prasinus.
Jantan juga dapat dibedakan dari betina lewat bagian temporal kepala yang relatif lebih lebar dan tonjolan hemipenis di sisi belakang kloaka. Spesies ini aktif pada siang hari (diurnal) dan hidup di pohon di hutan dataran rendah tropis. Saat terancam, ia dilaporkan lari ke atas pohon sambil menjaga batang tetap berada di antara dirinya dan pengganggu. Cara berkembang biaknya adalah bertelur.
Sebaran sempit dan tekanan perdagangan satwa
Biawak pohon biru hanya diketahui hidup di Pulau Batanta, yang terletak di ujung barat laut Semenanjung Kepala Burung, Papua. Luas pulau itu sekitar 450 kilometer persegi, dan sejumlah sumber menyebut sebaran spesies ini sebagai salah satu yang tersempit di antara biawak. Spesies yang menghuni wilayah sesempit itu umumnya lebih rentan terhadap gangguan, baik dari hilangnya habitat maupun dari pengambilan langsung di alam.
Dalam penilaian IUCN, spesies ini berstatus Endangered, dan perdagangan internasionalnya diatur dalam Apendiks II CITES. Di Indonesia, biawak pohon biru adalah satwa dilindungi, sehingga tidak ada pengambilan legal dari alam liar. Meski begitu, spesies ini diminati pasar hewan peliharaan internasional. Pengumpulan yang ilegal dan tidak berkelanjutan disebut menurunkan populasi liarnya dan kemungkinan menjadi ancaman bagi kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang.

Sebuah studi etnobiologi di Batanta mewawancarai warga yang mengumpulkan kadal ini. Mereka mengatakan biawak pohon biru dahulu dapat ditemukan di sekitar rumah mereka, sebelum spesies ini populer di perdagangan hewan peliharaan. Para pengumpul itu juga mengaku mendapat tambahan uang dari penjualan kadal tersebut, tetapi tidak ada yang menggantungkan penghasilannya sepenuhnya pada kegiatan itu.
Pengetahuan tentang biawak pohon biru di alam liar masih tipis. Sangat sedikit laporan, dan belum ada studi lapangan khusus, mengenai sejarah alam kelompok biawak pohon secara umum. Belum ada studi terbit tentang pakan spesies ini, dan dugaan yang ada menyebut pakannya terutama serangga ranting, belalang, jangkrik, ngengat, dan kumbang, ditambah kadal kecil, telur kecil, serta sesekali buah beri.
Informasi yang lebih banyak berasal dari satwa penangkaran, terutama dari biawak pohon hijau dan biawak pohon hitam (V. beccarii) yang telah dibiakkan dengan berhasil selama lebih dari dua dekade. Sejumlah pehobi reptil dan setidaknya dua kebun binatang di Amerika Serikat, yaitu Cincinnati Zoo dan Virginia Zoo, telah berhasil membiakkan biawak pohon biru. Namun data dari kandang tidak otomatis menggambarkan kondisi di hutan Batanta. Tanpa studi populasi dan ekologi di pulau itu, ukuran populasi liar dan dampak pengambilan terhadapnya sulit dinilai dengan tepat.
Referensi
Arida, E. A., Herlambang, A. E. N., & Mulyadi. (2021). The hunt for the blue tree monitor on Batanta Island, Indonesia: Subsistence on a treasure? Journal of Tropical Ethnobiology, 4(2), 111–117. https://www.researchgate.net/publication/356600816
Shea, G., Allison, A., & Tallowin, O. (2017). Varanus macraei. The IUCN Red List of Threatened Species 2017, Article e.T42485731A42485734. https://doi.org/10.2305/IUCN.UK.2017-3.RLTS.T42485731A42485734.en