- Air yang menghilang di Gua Legaelol terbukti muncul kembali di Sungai Sagea, mengungkap jaringan sungai bawah tanah yang selama ini tersembunyi di bentang karst Halmahera.
- Riset hidrologi menunjukkan batas Sungai Sagea tidak berhenti di kawasan karst, tetapi juga mencakup wilayah hulu non-karst yang kini mengalami perubahan tutupan lahan.
- Dalam bentang karst yang terkoneksi, lumpur, sedimen, dan pencemar dari hulu dapat bergerak cepat melalui jalur bawah tanah dan muncul kembali di mata air Sungai Sagea.
- Temuan ini menjadi dasar penting untuk meninjau kembali risiko pertambangan nikel terhadap sistem air bawah tanah dan sumber kehidupan masyarakat Sagea.
Dalam tiga tahun terakhir, air di sungai Sagea di Halmahera Tengah, Maluku Utara, mengalami perubahan mencolok. Setiap musim hujan, air sungai yang muncul di Gua Batulubang kerap berubah menjadi oranye kecoklatan akibat lumpur yang terbawa arus. Padahal sebelumnya sungai ini dikenal karena kejernihan airnya yang berwarna biru.
Setidaknya sebagian dari sumber perubahan ini terjawab dari hasil investigasi Forest Watch Indonesia pada September 2023. Riset citra satelit menunjukkan adanya hubungan antara kekeruhan aliran sungai Sagea dengan deforestasi sekitar 392 hektare di bagian hulu yang merupakan konsesi tambang nikel pada periode 2021-2023. Endapan lumpur tersebut menyebabkan peningkatan suplai sedimen ke sungai. [1]
Namun temuan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan utama. Jika lumpur dan sedimen berasal dari kawasan hulu, bagaimana material itu bisa keluar dari Gua Batulubang yang merupakan wilayah di hulu sungai?
Lebih jauh lagi pertanyaan besar muncul: Dari mana sebenarnya sumber aliran sungai Sagea berasal? Seberapa luas daerah tangkapan air yang menyuplai sistem ini? Lalu, bagaimana perubahan di hulu dapat memengaruhi air di hilir dalam waktu relatif cepat?

Karst Sagea yang Kompleks
Sagea lebih sering dikenal sebagai tujuan wisata air jernih di mulut Gua Bokimoruru. Banyak orang datang untuk melihat air biru yang keluar dari gua, berenang, atau menikmati lanskap sungai yang tenang. Tetapi di balik pemandangan itu, Sagea adalah sebuah bentang alam karst tropis yang menyimpan sistem air bawah tanah yang kompleks.
Kawasan karst Sagea tersusun atas perbukitan batugamping tua berumur sekitar 65 hingga 38 juta tahun. Di dalamnya terdapat jaringan gua, cekungan alami (sinkhole), dan sungai bawah tanah. Dari sistem inilah Sungai Sagea muncul ke permukaan melalui Gua Batulubang. Air yang terlihat di permukaan sebenarnya hanya bagian akhir dari perjalanan panjang yang sebagian besar berlangsung jauh dari pandangan.
Sering kali sungai di kawasan karst tidak mengalir di permukaan seperti yang terlihat di peta. Sebagian air masuk melalui rekahan batuan, ponor, atau sinkhole (lubang masuk air), lalu bergerak di lorong-lorong bawah tanah yang panjang sebelum muncul kembali sebagai mata air atau sungai di tempat lain.
Karakteristik yang khas seperti ini membuat karst sangat penting sebagai penyimpan dan penyalur air. Namun pada saat yang sama, ia juga rentan karena sedimen dan polutan dapat bergerak cepat melalui lorong bawah tanah tanpa banyak tersaring secara alami.[2]
Debit air sungai Sagea juga relatif besar dan stabil. Berdasarkan catatan pengukuran yang pernah dilakukan Association Pyrénéenne de Spéléologie (APS) pada 1988, debitnya sekitar 7,3 meter kubik per detik[3].
Debit sebesar itu secara teoritis mampu memenuhi kebutuhan air harian sekitar satu juta orang—jumlah yang hampir setara dengan seluruh penduduk Provinsi Maluku Utara.

Menelusuri Jejak Air yang Menghilang
Pada Agustus 2024, tim Koalisi Save Sagea yang terdiri dari Forest Watch Indonesia, Perkumpulan Fakawele, Burung Indonesia, Indonesia Speleological Society, IAGI Maluku Utara, dan KPA Bokimoruru, melakukan riset hidrologi karst dengan metode pelacakan air bawah tanah atau yang disebut groundwater tracing.
Titik itu berada di sekitar Gua Legaelol yang berada di antara dinding batu gamping. Di sana, sungai yang mengalir jelas di permukaan tiba-tiba menghilang masuk ke dalam sebuah lubang (swallow hole). Pada titik itu, air bergerak deras dan menghilang ke dalam lorong batu gamping. Tidak ada yang bisa melihat ke mana aliran itu pergi setelah masuk ke bawah tanah
Gua Legaelol sendiri sebelumnya telah dipetakan oleh tim ekspedisi Jepang pada 2019, dengan panjang lorong sekitar 1,2 kilometer sebelum berakhir pada sump, atau bagian lorong gua yang tertutup penuh oleh air.[4]

Untuk mengetahui apakah aliran yang masuk ke Gua Legaelol benar-benar terhubung dengan Sungai Sagea di Gua Batulubang, tim menggunakan metode pelacakan air bawah tanah. Teknik ini dilakukan dengan menandai air menggunakan zat pewarna (dye tracer) seperti fluoresen, lalu memantau apakah zat tersebut muncul di titik keluaran dalam sistem bawah tanah.[5]
Zat pelacak yang digunakan adalah uranine. Pewarna fluoresen yang umum digunakan dalam penelitian hidrogeologi karst karena dapat terdeteksi pada konsentrasi rendah. Larutan tersebut dituangkan ke aliran sungai yang masuk ke Gua Legaelol dengan menghitung jumlah larutan tracer setelah mempertimbangkan perkiraan panjang lintasan aliran, debit, dan metode deteksi yang digunakan.[6]

Sementara itu, tim lain bersiaga di Gua Batulubang, beberapa kilometer di sebelah timur. Di tempat inilah Sungai Sagea muncul ke permukaan. Pemantauan dilakukan secara visual untuk melihat apakah larutan dye tracer yang dimasukkan dari Legaelol akan terdeteksi di Batulubang.
Sekitar 27 jam kemudian, jejak tracer mulai terlihat di aliran Sungai Sagea yang keluar dari Gua Batulubang. Aliran Sungai yang tampak menghilang di Legaelol dapat dipastikan bergerak melalui sistem bawah tanah dan muncul kembali sebagai bagian dari Sungai Sagea.
Dengan jarak lurus sekitar 4,5 kilometer dan waktu tempuh sekitar 27 jam, hasil ini menunjukkan bahwa aliran air di dalam karst Sagea dapat bergerak relatif cepat melalui lorong-lorong utama (conduit) di sistem karst tersebut.
Temuan ini mengonfirmasi adanya konektivitas langsung antara sungai bawah tanah Gua Legaelol dan Gua Batulubang dalam satu sistem hidrologi karst. Dengan kata lain, apa yang terjadi di hulu Sungai Sagea dapat ikut terbawa melalui jalur bawah tanah dan muncul kembali di hilir dalam waktu yang relatif cepat.

Temuan Penting dalam Melihat Kawasan Karst
Hasil pelacakan sungai bawah tanah antara Gua Legaelol dan Gua Batulubang mengubah cara melihat kawasan karst. Hulu sungai yang tidak bisa hanya dibaca dari garis sungai yang tampak di peta permukaan di Sungai Sagea.
Daerah tangkapan air Sungai Sagea ternyata lebih luas dan lebih kompleks daripada yang terlihat secara visual. Ia tidak hanya mencakup perbukitan karst, tetapi juga area non-karst di bagian hulunya.
Sebagian besar air yang akhirnya muncul sebagai Sungai Sagea berasal dari aliran permukaan di atas batuan non-karbonat. Air tersebut kemudian masuk ke sistem bawah tanah melalui ponor, swallow hole, atau zona kontak antara batuan non-karst dengan batugamping.⁷
Artinya, batas hidrologis Sagea tidak selalu mengikuti batas batuan geologi atau garis topografi di peta. Air dari kawasan non-karst dapat masuk ke jaringan bawah tanah karst dan akhirnya keluar di Gua Batulubang.
Daerah yang secara geologi berada di luar batugamping tetap menjadi bagian penting dari daerah tangkapan air karst jika aliran air masuk ke sistem bawah tanah.
Dalam konteks Sagea, perubahan bentang lahan, kerusakan hutan, pembukaan jalan tambang, dan aktivitas penggalian tambang nikel di kawasan non-karst di bagian hulu tidak bisa lagi dianggap terpisah dari Sungai Sagea.
Jika air yang membawa sedimen dari kawasan tersebut masuk ke jaringan bawah tanah, maka perubahan di hulu berpotensi memengaruhi kualitas dan kuantitas air yang keluar di Gua Batulubang.
Penelitian yang dilakukan sejauh ini baru mencakup satu titik masuk air, yaitu swallow hole yang berada di Gua Legaelol. Padahal di sekitar kawasan tersebut masih terdapat beberapa titik masuk lain yang secara visual diduga terhubung dengan sistem bawah tanah Sagea.
Untuk itu, diperlukan riset lanjutan untuk menggambarkan seluruh sistem hidrologi Sagea secara lengkap. Meski setidaknya riset awal ini telah menjadi petunjuk penting bahwa jaringan air bawah tanah di Sagea jauh lebih luas daripada yang terlihat di permukaan.

***
Kajian yang dilakukan telah mengubah cara pandang melihat perlindungan karst yang sering kali hanya dipahami sebatas perbukitan batugamping atau gua yang terlihat di permukaan.
Temuan hidrologi karst ini menunjukkan bahwa Sagea perlu dipahami sebagai satu sistem yang utuh. Perlindungan Sungai Sagea tidak cukup dilakukan hanya di sekitar sempadan sungai, mulut gua, atau lokasi wisata Bokimoruru.
Tanpa memahami ke mana air bergerak, sulit untuk menilai seberapa jauh dampak suatu aktivitas terhadap sungai, sistem ekologi gua, dan masyarakat yang hidup di sekitarnya.
Dengan prinsip kehati-hatian, aktivitas pertambangan di kawasan karst Sagea dan daerah tangkapan airnya perlu dievaluasi secara serius. Aktivitas yang berisiko meningkatkan erosi, sedimentasi, atau pencemaran seharusnya dihentikan sementara sampai kajian hidrologi yang memadai dilakukan secara terbuka dan dapat diuji oleh publik.
Hasil riset hidrologi karst Sagea dapat menjadi dasar penting untuk meninjau ulang cara kawasan ini dikelola. Kajian konektivitas hidrologi perlu masuk dalam proses AMDAL, penilaian risiko tambang, dan perencanaan tata ruang.
Pada saat yang sama, pemantauan kualitas air secara berkala juga perlu dibangun dengan melibatkan masyarakat, lembaga riset, dan pemerintah. Pemantauan semacam ini penting agar perubahan kondisi sungai dapat terdeteksi lebih awal, terutama ketika hujan deras terjadi di bagian hulu.
Kekeruhan yang kini muncul di aliran sungai Sagea bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia merupakan sinyal dari perubahan yang terjadi jauh di hulu—di kawasan yang mungkin tidak terlihat oleh warga yang menikmati air biru Sagea.
Dalam bentang karst yang saling terhubung, kerusakan di satu tempat dapat muncul kembali beberapa kilometer jauhnya melalui aliran air bawah tanah yang tak kasatmata.
Referensi
[1] Forest Watch Indonesia. 2023. Investigasi Dugaan Pencemaran Sungai Sagea Akibat Aktivitas Tambang di Halmahera Tengah.
[2] Ford, D., & Williams, P. 2007. Karst Hydrogeology and Geomorphology. Wiley.
[3] APS (Association Pyrénéenne de Spéléologie). (1988). Batu Karst 88. Laporan Ekspedisi
[4] Laporan Ekspedisi Japan Exploration Team tahun 2019
[5] Goldscheider, N., & Drew, D. 2007. Methods in Karst Hydrogeology. Taylor & Francis.
[6] Smart, P. L., & Worthington, S. R. H. 2003. Groundwater tracing in karst systems.
*Aziz Fardhani Jaya adalah analis spasial dan penggiat speleologi yang aktif terlibat dalam berbagai studi kawasan karst dan gua di Indonesia. Tulisan ini disusun berdasarkan riset bersama tim Forest Watch Indonesia, Indonesia Speleological Society, IAGI Maluku Utara, Perkumpulan Fakawele, Burung Indonesia, dan KPA Bokimoruru yang tergabung dalam Koalisi Save Sagea pada tahun 2024, di mana penulis menjadi bagian dari tim tersebut.
*****
Foto utama: Aliran sungai Sagea yang keluar dari Gua Batulubang. Sungai Sagea menjadi sumber air utama bagi warga, selain menjadi obyek wisata karst di Halmahera, Maluku Utara. Dok: Save Sagea
Karst Sagea Halmahera: Antara Megahnya Gua Bokimoruru dan Ancaman Rusaknya Ekosistem