- Petani di Dusun Nawungan, Bantul, mengembangkan ratusan embung hujan untuk memanen air di kawasan perbukitan kering. Inovasi berbasis gotong royong ini memungkinkan mereka bertani sepanjang tahun dan meningkatkan kesejahteraan lewat komoditas bernilai tinggi seperti bawang merah dan cabai.
- Keberhasilan embung hujan didukung kondisi geografis dan karakter tanah lempung yang mampu menyimpan air lebih lama. Penelitian UGM menunjukkan embung efektif menangkap limpasan hujan di lereng perbukitan, sekaligus menjadi solusi adaptasi bagi pertanian tadah hujan di wilayah rawan kekeringan.
- Krisis iklim mulai mengganggu pola kerja embung hujan. Curah hujan yang tak menentu membuat cadangan air cepat habis, bahkan dipakai saat musim penghujan. Warga kini mengandalkan sumur dalam sebagai penopang sementara, sembari mendorong reboisasi untuk menjaga cadangan air tanah.
- Perubahan iklim juga memicu meningkatnya serangan hama, jamur, dan bakteri yang memperbesar biaya produksi petani. Ancaman kemarau panjang akibat El Nino “Godzilla” memunculkan kekhawatiran gagal panen dan krisis air, sementara WALHI menilai mitigasi pemerintah terhadap dampak krisis iklim masih belum optimal.
Kolam kecil berukuran 4×5 meter dan kedalaman tiga meter melengkapi sawah-sawah di Dusun Nawungan, Kelurahan Selopamioro, Bantul, Yogyakarta. Para petani menyebutnya sebagai embung penampung hujan.
Hingga awal Mei, hujan masih mengguyur Yogyakarta. Petani di Nawungan memanfaatkan embung untuk mengairi bawang merah yang mereka tanam sejak April.
“Sebelum ada embung hujan ini saya cuma menanam padi gogo sama singkong aja, hasilnya serba pas-pasan. Itu sekitar 1980-1990-an,” kata Sabaryanti, petani perempuan di Nawungan.
Lahan di sana memang berada di wilayah perbukitan kering. Walhasil, air hujan menjadi menjadi satu-satunya sumber pengairan area persawahan yang berbatasan langsung dengan Gunungkidul di sisi timurnya ini.
Sejatinya, ada dua mata air di Nawungan tetapi debitnya tak tak memungkinkan untuk mengairi seluruh area sawah. Kondisi ini menyebabkan petani di sana tak mungkin menanam saat kemarau, sebelum muncul inisiatif embung hujan di awal milenium.
Berbekal semangat gotong royong, embung hujan mulai banyak untuk petani di sana. Sabariyanti pun masih ingat saat dia bikin kolam-kolam itu bersama petani lain pada era 2000-an itu.
“Waktu itu bikinnya kerja bakti, jadi sistemnya gantian. Seperti saya bantu dulu ke petani lain, setelah rampung baru dibantu yang lainnya menggarap di lahan saya,” katanya.
Setelah embung jadi, Sabaryanti pertama kali memanfaatkan untuk menanam tembakau. Komoditas itu dia pilih karena harga tinggi dan tak butuh banyak air.
Seiring waktu, petani menambah kapasitas dengan memperlebar ukuran embung. Termasuk milik Sabaryanti kini memiliki kapasitas 80 meter kubik hingga mampu menopang pertanian bawang merah dan cabai yang dia budidayakan selama musim kemarau.

Sejahterakan petani
Kini ada 556 embung hujan di Nawungan. Sementara hamparan persawahan di sana sekitar 120 hektar. Dengan begitu, setiap hektar sawah memiliki lima titik embung untuk pengairannya.
Sabaryanti punya dua embung hujan untuk lahan seluas 350 meter persegi. “Sampai sekarang saya bisa bertani setahun penuh dengan tiga masa tanam, pertama menanam padi, kedua bawang merah, lalu cabai,” katanya.
Hasil pertanian dengan tiga kali panen dengan beragam komoditas ini, kata Sabariyanti, meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Untung paling besar datang dari bawang merah yang rata-rata sekali panen bisa hasilkan Rp35 juta.
Keberhasilan embung hujan di Nawungan membuat petani di dusun-dusun lain mengadopsinya.
Jauhari, perintis embung hujan menjelaskan, mulanya hanya membuat parit di lahan saat musim hujan. Dari parit itu laki-laki yang memenangkan Kalpataru 2017 menyadari bahwa kekeringan di wilayahnya dapat teratasi dengan kolam pemanen air hujan.
“Langsung seketika saya bikin embung hujan sekitar 1997, ternyata bisa menampung juga. Lalu, bersama kelompok tani mulai bikin sampai masif pada 2000-an hingga sekarang.”
Jauhari bilang, tanah di sana berkarakter lempung. Jenis tanah itu yang membuatnya mampu menyimpan air dalam jangka waktu lebih panjang.
Penelitian UGM pada 2020 menunjukkan Nawungan memiliki limpasan hujan selama 39 hari dalam sekali musim. Total air yang jatuh ke tanah dalam siklus itu sebanyak 1,55 miliar liter.
Sementara daya tampung pada 68 embung hujan yang diteliti menemukan kapasitas penyimpanan sebanyak 5 juta liter air. Meski masih banyak yang meresap ke dalam tanah, tetapi volume tersimpan ini dia nilai cukup baik.
Penelitian lanjutan pada 2023 menunjukkan, posisi embung hujan cukup strategis untuk menangkap air di kemiringan lereng perbukitan 13-23 derajat. Selain itu, karakter tanah di Nawungan berupa clay loam, porositas baik, infiltrasi sedang, permeabilitas lambat menjadi faktor kunci lainnya.
Setelah embung hujan masif digunakan di Nawungan, kata Jauhari, tantangan muncul dalam pengangkatan air dari dalam kolam menuju hamparan sawah. Mulanya, petani menggunakan cara manual dengan memikulnya.
Untuk mempermudah dan mengurangi tenaga manusia, petani mulai gunakan pompa berbahan minyak.
“Tapi biayanya cukup mahal, sekali masa tanam bawang sampai panen itu biayanya Rp600.000, diusulkan ke pemerintah untuk dipasang listrik.”
Akhirnya listrik berhasil masuk sawah yang memangkas biaya cukup signifikan. Rata-rata total pengeluaran untuk pengangkatan air dengan pompa listrik ini hanya Rp50.000 dalam satu masa tanam hingga panen.
Dalam siklus iklim normal, embung hujan ini mampu mencukupi kebutuhan air untuk pertanian di Nawungan. “Bawang merah dalam sekali masa tanam itu butuh sekitar 30 meter kubik untuk 300 meter persegi, kadang pertengahan musim kemarau juga turun hujan itu bisa menambah volumenya.”
Sayangnya krisis iklim yang terjadi turut berdampak ke embung hujan. Jauhari menyebut siklus hujan yang tak merata menyebabkan proses penampungan tak maksimal.

Terdampak krisis iklim
Sudah empat tahun terakhir embung hujan turut petani gunakan saat musim penghujan. Sebab hujan berhenti turun di musimnya yang cukup lama, kondisi ini membuat Jauhari khawatir.
“Mestinya embung hujan digunakan saat kemarau saja, tapi sekarang terpaksa dipakai saat musim hujan juga. Takutnya kalau kondisinya begini terus saat kemarau kesulitan air lagi,” katanya.
Perubahan pola cuaca ini warga siasati dengan membuat sumur yang fungsinya menyuplai embung hujan saat persedian habis. Kini total adal lima sumur dalam di Nawungan untuk siasati cuaca yang tak menentu itu.
Meski begitu, bagi Juhari, sumur-sumur itu bukan solusi permanen. Dia khawatir saat penggunaan sumur intens, lama-kelamaan air dalam tanah juga akan habis.
Kini dia mengupayakan reboisasi untuk memastikan resapan cadangan air tanah dapat berfungsi optimal. “Itu yang bisa kami lakukan sementara ini untuk memastikan cadangan air terus terjaga, kalau soal iklim ini kan masalah yang luas dan perlu banyak pihak yang bertindak,” ujarnya.
Penelitian pada pertanian tadah hujan di lahan kering menunjukan krisis iklim memperbesar risiko evapotranspirasi atau hilangnya air akibat penguapan dan limpasan ke tanah.
Evapotranspirasi akibat krisis iklim ini paling besar terjadi di kawasan perbukitan, seperti halnya Nawungan. Dampak jangka panjangnya mempengaruhi ketersediaan air bawah tanah yang dapat berkurang drastis jika tak ditangani segera.

Serangan hama
Dampak krisis iklim juga menyebabkan serangan hama meningkat dibanding masa-masa sebelumnya. Mugiman, salah satu petani di sana menyebut peningkatan serangan itu berbanding lurus dengan semakin banyaknya jenis hama yang mencam.
“Dulu itu paling cuma ulat, sekarang ada jamur dan bakteri yang jenisnya beragam dan tak kalah ganas,” katanya.
Jamur dan bakteri yang menyerang pertanian di Nawungan ini, menurut Mugiman, disebabkan kelembaban yang kadang tinggi pada masa tertentu. Peningkatan kelembaban itu disebabkan perubahan cuaca yang ekstrem.
Merebaknya bermacam hama ini menyebabkan petani mesti merogoh kocek lebih dalam untuk membeli peptisidan dan jenis obat anti-hama lainnya. “Tenaga perawatan jadi meningkat, karena harus rutin mengecek, rutin menyemprot pestisida dan lainnya,” jelasnya.
Waktu yang dibutuhkan juga meningkat, sehingga sebagai petani tidak bisa lagi mengambil pekerjaan sampingan. Mugiman contohnya, dia kadang jadi tukang bangunan di sela waktunya tapi kini jadi tak bisa.
Fenomena kemarau panjang yang diprediksi BMKG pada 2026 ini turut membuat Mugiman cemas. Munculnya El Nino Godzilla ini dikhawatirkan membuat embung hujan kehabisan sumber airnya.
Sebab, fenomena ini menyebabkan kemarau lebih lama yang prakiraannya sampai Desember mendatang. “Kelompok tani sudah mulai membicarakannya, solusi sementara ini akan memaksimalkan sumur dalam jika cadangan air habis,” terangnya.
Soal hama yang akan merebak selama kemarau Godzilla, Mugiman menyebut potensi tertinggi adalah wereng dan tikus.
“Karena kalau sampai terjadi kemarau yang lama biasanya dua jenis hama itu yang merajalela. Tapi kadang kemarau panjang itu menyebabkan suhu saat malam hari dingin jadinya bakteri dan jamur lebih mudah berkembang.”

Peringatan dini
Kajian Kementerian Pertanian menunjukan hubungan langsung krisis iklim pada peningkatan serangan hama. Dalam kondisi dengan suhu, curah hujan, dan kelembaban tertentu dapat menyebabkan ledakan populasi hama.
Namun demikian, ledakan hama ini dapat dimitigasi dengan peringatan dini berdasarkan parameter cuaca yang terdampak krisis iklim tersebut. Misalnya dengan pembasmian sebelum organisme penyerang tanaman berkembang biak pada tahap tertentu.
Ancaman kemarau Godzilla juga mendapat perhatian Walhi Yogyakarta yang menurutnya pemangku kebijakan belum optimal melakukan mitigasi. Padahal dampaknya menyasar semua pihak dengan beban berlapis pada kelompok rentan seperti petani.
Rizky Abiyoga, Koordinator Advokasi Walhi Yogyakarta menjelaskan krisis air jadi dampak yang akan banyak dirasakan warga. “Wilayah seperti Gunungkidul, sebagian Bantul, dan Kulon Progo yang kemarau normal saja masih langganan kekeringan,” katanya.
Gagal panen jadi dampak yang tak kalah serius bila mitigas tak dilakukan secara matang. Kemarau Godzilla ini, menurut Abi, juga akan menyebabkan kesuburan tanah berkurang akibat suhu panas pada tanah.
Kondisi ini membuat kualitas lingkungan hidup makin menurun. “Padahal sudah jadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan lingkungan yang sehat dan aman, jika sudah ada prediksi kemarau panjang maka perlu mempersiapkan dengan matang.”
*****
Pentingnya Inovasi Teknologi untuk Adaptasi Krisis Iklim Kelompok Rentan