- Kondisi tanah pertanian banyak alami kerusakan, salah satu karena penggunaan zat kimia. Kerusakan tanah bukan hanya persoalan lingkungan. Bagi sejumlah pegiat pangan dan lingkungan, kondisi itu juga memengaruhi kualitas dan keamanan pangan yang sampai ke meja makan masyarakat.
- Sri Palupi dari The Institute for Ecosoc Rights mengatakan, produksi pangan di Indonesia sudah tidak aman. Karena sistem pertanian adalah sistem pertanian kimia. Akarnya, belum meluasnya kesadaran pangan aman baik di level pemerintah maupun masyarakat sipil.
- Dari data Food Agriculture Organization (FAO), organisasi pangan dunia, pada 2022, Indonesia tercatat sebagai negara posisi ketiga pengguna pestisida kimiawi terbesar, setelah Brazil dan Amerika Serikat.
- Ibnu Budiman, praktisi pangan dan lingkungan, mengatakan, pangan aman tidak hanya oleh ditentukan distribusi dan pengolahan, juga bagaimana tanah, air, dan lingkungan tempat produksi terjaga.
Kondisi tanah pertanian banyak alami kerusakan, salah satu karena penggunaan zat kimia. Bagi para pegiat pangan dan lingkungan, kerusakan tanah bukan hanya persoalan lingkungan juga memengaruhi kualitas dan keamanan pangan yang sampai ke meja makan masyarakat. Untuk itu, perlu mendorong gerakan menanam ramah lingkungan agar produksi pangan aman.
“Tanah menjadi sangat kritis. Ibaratnya kita berbudidaya di tanah itu kalau nggak diberi pupuk nggak akan berhasil karena memang sudah jenuh. Contoh ketika main ke sawah, masihkah kita sering menemukan ada belut, ada cacing, atau ada lumpur yang cukup tebal di dalam sawah? Sudah sangat jarang,” kata Sukmi Alkausar, Direktur Aliansi Organis Indonesia (AOI).
Kondisi hari ini, katanya, dari sistem pertanian kimia yang mulai Indonesia terapkan sejak 1960an, sebagai revolusi hijau. Sistem pertanian kimia ini membuat petani tergantung pada pupuk dan pestisida kimia.
Dari data Food Agriculture Organization (FAO), organisasi pangan dunia, pada 2022, Indonesia tercatat sebagai negara posisi ketiga pengguna pestisida kimiawi terbesar, setelah Brazil dan Amerika Serikat.
Tingginya penggunaan pestisida ini menjadi salah satu faktor berkontribusi degradasi lahan dan meningkatnya risiko kontaminasi pada rantai pangan.
Dampak pertanian kimia, katanya, tak hanya pada lingkungan dan para petani yang terpapar zat kimia berbahaya juga hasil produksi pertaniannya.

Kesadaran pangan aman masih terbatas
Rentannya kontaminasi akibat pemakaian bahan kimia pada hasil produksi pertanian ini juga Sri Palupi dari The Institute for Ecosoc Rights, tegaskan.
Dia mengatakan, produksi pangan di Indonesia sudah tidak aman.
“Mengapa? Karena sistem pertanian kita adalah sistem pertanian kimia. Belum lagi pestisida, segala macam jenis pestisida. Mulai dari pengolahan sampai proses produksi itu penuh dengan pestisida,” katanya.
Akarnya, kata Palupi, belum meluasnya kesadaran pangan aman baik di level pemerintah maupun masyarakat sipil.
Padahal, kesadaran ini penting karena pelanggaran hak atas pangan, termasuk bagian dari hak ekonomi, sosial dan budaya (ekosob), tidak langsung terlihat.
Menurut Palupi, dampak pelanggaran di bidang ekosob ini terlihat dalam jangka panjang.
“Kalau hak ekonomi, sosial, dan budaya, termasuk hak atas pangan itu, pelanggarannya itu kan bisa jangka panjang kelihatannya. Pangan yang aman, belum tentu sekaligus munculkan, tetapi datanya jangka panjang. Ini menyangkut kualitas hidup warga.”
Karena sifat pelanggaran tersembunyi, kata Palupi, advokasi mendorong pemerintah menjalankan kewajiban menyediakan pangan yang aman juga masih sangat lemah.
Padahal, katanya, bila bicara soal hak atas pangan ada dua komponen yaitu ketersediaan dan aksesibilitas fisik dan ekonomi.
“Di dalam faktor ketersediaan itu berarti bahwa pangan itu tersedia dengan kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi, untuk memenuhi gizi individu, aman atau bebas dari zat yang berbahaya dan dapat diterima secara budaya.”

Lingkungan dan pangan tak terpisahkan
Mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu, lingkungan atau pangan? Ibnu Budiman, praktisi pangan dan lingkungan, mengatakan, pembenahan persoalan lingkungan dan pangan ini seperti perdebatan ayam atau telur.
“Idealnya, kita mencarikan sinerginya, bagaimana tetap bisa memenuhi apa kebutuhan pangan sama juga apa istilahnya memenuhi produksi pangan yang berkualitas ya, tidak hanya kuantitasnya saja yang dilihat tetapi juga dari kualitas gizinya tapi dalam kaidah yang ramah lingkunganlah sederhananya. “
Dia sebut istilah planetary boundaries. Dia bilang, itu merupakan kerangka kerja dalam menilai apa yang diperlukan untuk mempertahankan sistem planet bumi dalam keadaan stabil.
Sayangnya, menurut Ibnu, konsep planetary boundaries ini belum begitu dikenal semua pihak yang punya kepentingan dan terlibat dalam isu lingkungan dan pangan.
“Yang ada sekarang mungkin kita punya rencana aksi nasional pangan dan gizi potensi sumber daya lokal dengan salah satu landasan apa istilahnya sistem pangan yang berketahanan iklim.”
Dia bilang, pertanian alami atau ramah lingkungan jadi harapan dalam mengatasi persoalan lingkungan karena kerusakan dari sistem pangan saat ini.
Ada sejumlah inisiatif di berbagai daerah seperti pertanian organik, pertanian biodinamik atau pertanian agroekologi.
Pertanian ini punya tujuan akhir sama yaitu membangun sistem pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Sukmi mengatakan, sebenarnya pemerintah sudah punya perhatian pada pertanian alami ini. Namun, dia mengeluhkan konsep pertanian kimia terus dipertahankan.
Selain ramah lingkungan dan berkelanjutan, kata Palupi, pertanian alami ini punya dampak positif lain antara lain, memunculkan kembali tradisi-tradisi yang sempat sistem pertanian kimia hilangkan.
“Contohnya, tradisi gotong royong. Dulu, mengolah lahan ketika sistem pertaniannya organik, mengolah lahan harus berganti, harus gotong royong, itu dilakukan secara bergantian.”
Ibnu menambahkan, pangan aman tidak hanya oleh ditentukan distribusi dan pengolahan, juga bagaimana tanah, air, dan lingkungan tempat produksi terjaga.

*****
Jaga Hutan Batutegi dengan Agroforestri dan Pertanian Organik