- Dua anakan kucing kuwuk yang sempat dirawat dua hari oleh warga Pacitan, Jawa Timur, akhirnya dikembalikan ke habitatnya setelah induknya diketahui berada di sekitar lokasi penemuan.
- BBKSDA Jawa Timur mengingatkan bahwa anakan kucing kuwuk yang ditemukan di hutan, belum tentu ditinggalkan induknya.
- Temuan kucing kuwuk di hutan rakyat tersebut menunjukkan bahwa kawasan yang ditanami jati, sonokeling, dan pohon lainnya ini masih berfungsi sebagai ruang hidup serta koridor satwa liar di Pacitan.
- Kucing kuwuk merupakan salah satu kucing liar yang paling adaptif terhadap habitat termodifikasi, termasuk hutan rakyat, kebun, dan kawasan pertanian.
Niat baik Anggun (30), warga Desa Ngile, Kecamatan Tulakan, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, berujung pada pelajaran penting tentang konservasi satwa liar.
Dua anakan kucing congok atau kucing kuwuk yang sempat dirawat di rumahnya selama dua hari, akhirnya dikembalikan ke habitatnya. Sang induk, diketahui masih berada di sekitar lokasi penemuan.
Peristiwa bermula saat suaminya mencari rumput di kawasan hutan tidak jauh dari desanya. Di tengah aktivitas tersebut, dia menemukan dua anakan Prionailurus bengalensis. Merasa kasihan dan khawatir, keduanya dibawa pulang.
“Informasinya, ditemukan saat mencari rumput di hutan rakyat,” jelas Ganes Pramudito, Kepala Resort Konservasi Wilayah Ponorogo-Pacitan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Kamis (11/6/2026).
Menurut Ganes, mereka mulai sadar satwa liar dilindungi ini tidak mudah dipelihara layaknya kucing domestik. Kesulitan pakan yang sesuai, menjadi kendala utama. Selain itu, sang induk kucing diduga datang malam hari ke sekitar rumah mereka mencari anak-anaknya.
“Setelah kejadian itu, paginya mereka kembalikan ke lokasi ditemukan.”
Petugas BBKSDA Jawa Timur yang mendapat laporan langsung ke lokasi dengan berkoordinasi pemerintah desa setempat. Spesies yang menghadapi ancaman penyempitan habitat ini, punya peran penting pengendali hama tikus.
“Kucing kuwuk tidak boleh dipelihara. Kalau menemukan, baiknya laporkan ke kami,” kata Ganes.
Meskipun warga berniat baik menyelamatkan satwa, namun membawa pulang bukan langkah tepat. Banyak kasus, anakan kucing kuwuk yang terlihat sendirian sesungguhnya dalam pengawasan induknya.
“Peluang hidupnya jauh lebih besar bersama induknya di habitat alami dibandingkan dipelihara manusia.”

Habitat kucing kuwuk
Ganes menjelaskan, penemuan kucing kuwuk beberapa kali terjadi di wilayah kerjanya, meliputi Kabupaten Pacitan dan Ponorogo. Selama bertugas sejak 2014, dia mencatat laporan soal kucing ini yang jadi pengingat bahwa bentang alam Pacitan masih menyediakan habitat bagi berbagai jenis satwa liar.
“Tiga tahun lalu pernah ada kasus serupa di Pacitan. Kucingnya diserahkan dan dilepasliarkan kembali.”
Laporan satwa liar lain seperti trenggiling (Manis javanica) lebih sering diterima petugas. Sebagian besar kasus, juga berawal dari penemuan satwa yang masuk permukiman warga.
Selain itu, di wilayah hutan lindung Perhutani Dadapan, petugas masih mengidentifikasi kawasan yang sesuai sebagai habitat kucing kuwuk. Area ini bahkan pernah dikenal sebagai habitat Panthera pardus melas pada masa lalu.
Keberadaan satwa liar di sekitar kawasan hutan rakyat menunjukkan pentingnya menjaga konektivitas habitat tersisa. Hutan rakyat yang ditanam pohon jati (Tectona grandis), sonokeling (Dalbergia latifolia), dan berbagai jenis pohon ini, masih berfungsi sebagai ruang hidup sejumlah sawa.
“Peran masyarakat jadi sangat penting dalam upaya konservasi.”

Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group, menjelaskan bahwa mamalia yang disebut juga kucing hutan ini, merupakan spesies kucing liar yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan habitat akibat aktivitas manusia.
Menurutnya, satwa ini tidak selalu bergantung pada hutan alam yang utuh. Dalam berbagai kondisi, kucing kuwuk bisa memanfaatkan hutan rakyat, kebun, hingga lanskap pertanian selama masih tersedia tutupan vegetasi dan sumber pakan yang cukup.
“Kucing hutan salah satu yang paling resilien terhadap habitat yang termodifikasi,” katanya, Kamis (11/6/2026).
Secara alami, kucing kuwuk juga kerap manfaatkan kawasan tepi hutan untuk melahirkan dan membesarkan anak-anaknya.
“Selain untuk menghindari perilaku infantisi dari jantan dewasa, tepi hutan juga area yang ideal untuk berburu mamalia kecil seperti tikus, bajing, maupun tupai.”
*****
Bawa Penyakit dan Kikis Genetik, Bahaya Kawin Silang Kucing Hutan dengan Kucing Domestik