- Sekitar seratus ribu tahun lalu, Pulau Flores jauh lebih hijau dan basah daripada yang kita saksikan hari ini. Jatuhnya musim hujan lebih pasti dibandingkan dengan sekarang. Curah hujannya pun lebih tinggi dan merata.
- Sungai Wae Rancang mengalir sepanjang tahun, kondisi yang sangat mendukung kehidupan di sekitar Liang Bua, gua tempat bermukim manusia purba Flores dari generasi ke generasi.
- Homo floresiensis dan stegodon hidup berdampingan di Flores sekitar satu juta tahun, berdasarkan catatan fosil dari Liang Bua dan Cekungan So'a, yang berjarak sekitar 80 km sebelah timur Liang Bua.
- Hasil penelitian menunjukkan, adanya penurunan berkelanjutan curah hujan tahunan antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Sementara kekeringan paling ekstrem terjadi sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu. Kekeringan ekstrem itu terjadinya bersamaan dengan penurunan populasi gajah kerdil flores yang menjadi hewan buruan H. floresiensis.
Sekitar seratus ribu tahun lalu, Pulau Flores jauh lebih hijau dan basah daripada yang kita saksikan hari ini. Hutan tropis lembap masih menutupi sebagian besar wilayahnya, dengan sungai-sungai yang mengalir sepanjang tahun.
Jatuhnya musim hujan lebih pasti dibandingkan dengan sekarang. Curah hujannya pun lebih tinggi dan merata. Sementara, musim kemarau tidak terlampau panjang sehingga manusia purba masih mudah mendapatkan air. Begitu juga bagi hewan-hewan yang ada pada waktu itu.
Sungai Wae Rancang mengalir sepanjang tahun, kondisi yang sangat mendukung kehidupan di sekitar Liang Bua, gua tempat bermukim manusia purba Flores dari generasi ke generasi.
Sampai kemudian mereka meninggalkan Liang Bua, menyisihkan sejumlah artefak berupa peralatan batu, juga tulang belulang hasil buruan. Kepergian mereka pun menyisakan pertanyaan. Mengapa mereka pergi? Kapan itu terjadi?
“Penyebab hilangnya manusia purba Homo floresiensis dari Pulau Flores sekitar lima puluh ribu tahun lalu adalah pertanyaan kunci dalam paleoantropologi. Ketika peran potensial perubahan iklim dan agen manusia terus diperdebatkan, kisah ketersediaan air tawar sebagai penopang kehidupan di lokasi penemuan, Liang Bua, masih kurang dipahami,” tulis Michael K. Gagan, mewakili tim peneliti.
Para peneliti itu berasal dari Australia, Amerika, China, dan Indonesia. Mereka menyoroti ketersediaan air tawar di Liang Bua dengan merekonstruksi iklim masa lalu. Caranya, dengan mengolah data speleothem untuk mengetahui curah hujan tahunan, musim kemarau dan hujan, sehingga dapat menilai kondisi iklim saat Homo floresiensis hidup.
Laporan penelitian mereka yang berjudul “Onset of summer aridification and the decline of Homo floresiensis at Liang Bua 61,000 years ago” dimuat di jurnal Communications Earth & Environment, Desember 2025.

Kemarau panjang
Mengutip laporan itu, H. floresiensis dan stegodon hidup berdampingan di Flores sekitar satu juta tahun, berdasarkan catatan fosil dari Liang Bua dan Cekungan So’a, yang berjarak sekitar 80 km sebelah timur Liang Bua.
Informasi tentang kapan H. floresiensis meninggalkan Liang Bua sangat penting, karena menjadi kunci untuk memahami sejarah evolusi manusia dan hubungan mereka dengan lingkungan. Mengetahui kapan mereka hilang, bisa membantu ilmuwan mengetahui keberadaan manusia moderen di wilayah Nusantara.
Ada kemungkinan, Homo sapiens mulai masuk ke Indonesia pada waktu yang sama, sehingga terjadi interaksi, bahkan bisa jadi kompetisi antarspesies manusia. Namun, para peneliti punya pendapat lain.
Revisi penanggalan hilangnya H. floresiensis ternyata mendahului kedatangan manusia moderen di Liang Bua sekitar 46 ribu tahun lalu. Sementara fosil H. floresiensis berasal dari penanggalam 100 ribu hingga 60 ribu tahun lalu.
Untuk sampai pada kesimpulan bahwa telah terjadi kekeringan parah dalam waktu lama, para peneliti menggunakan cara khusus. Mereka mengukur perbandingan jumlah magnesium terhadap kalsium dan rasio isotop oksigen dari sebuah stalagmit yang terletak di Liang Luar. Mereka kemudian merekonstruksi curah hujan dengan mengukur kadar rasio isotop oksigen pada enamel gigi Stegodon florensis insularis, gajah kerdil flores.
Sebuah stalagmit di Liang luar yang diberi nama LR09-K2 diiris. Liang luar merupakan sebuah gua yang berjarak sekitar 660 meter dari Liang Bua. Keduanya terletak di perbukitan batu kapur dolomit di lembah Sungai Wae Rancang.
Hasil penelitian mereka menunjukkan, adanya penurunan berkelanjutan curah hujan tahunan antara 76 ribu hingga 61 ribu tahun lalu. Sementara kekeringan paling ekstrem terjadi sekitar 61 ribu hingga 55 ribu tahun lalu. Kekeringan ekstrem itu terjadinya bersamaan dengan penurunan populasi gajah kerdil flores yang menjadi hewan buruan H. floresiensis.
Para peneliti menyimpulkan bahwa kombinasi kekeringan ekstrem dan persaingan antara manusia dan hewan dalam memperebutkan air menyebabkan H. floresiensis akhirnya meninggalkan Liang Bua.
“Temuan kami menunjukkan perubahan iklim, yang berpotensi dikombinasikan dengan dinamika predator-mangsa, sebagai kontributor penurunan H. floresiensis dan S. florensis insularis sebelum menghilangnya mereka di Liang Bua.”
Ketika curah hujan terus menurun, sumber air dan vegetasi di sekitar Liang Bua ikut menyusut. Kondisi tersebut mulai memengaruhi kehidupan hewan besar dan manusia purba. Para peneliti kemudian mencoba menjelaskan bagaimana kekeringan yang berkepanjangan dapat mengubah pola pergerakan hewan maupun manusia di Flores pada masa itu.
“Skenario yang masuk akal adalah meningkatnya tekanan air musim kemarau memaksa stegodon untuk bermigrasi ke habitat yang lebih baik, diikuti H. floresiensis untuk mencari mangsa pilihan mereka. Dalam hal ini, hampir tidak adanya kedua spesies di Liang Bua setelah sekitar 61 ribu tahun yang lalu mungkin hanya mencerminkan relokasi mereka ke habitat yang lebih menguntungkan.”

Manusia kerdil
Megutip artikel itu, pada 2003, tim arkeologi Indonesia dan internasional menemukan fosil manusia purba yang hampir lengkap di Liang Bua. Temuan itu mengejutkan dunia karena tubuhnya kecil, begitu pun volume otaknya. Namun, mereka mampu membuat alat. Tingginya diperkirakan hanya sekitar 1 meter. Para ahli memastikan bahwa itu bukan kerangka anak-anak, melainkan wanita dewasa.
Bersamanya ditemukan peralatan terbuat dari batu, juga fosil S. florensis insularis (gajah kerdil), Leptoptilos robustus (bangau raksasa), dan Trigonoceps sp. (burung pemakan bangkai).
Temuan itu akhirnya memperluas pemahaman sejarah evolusi manusia bahwa ternyata di Indonesia ada spesies manusia berbeda yang hidup hingga 50 ribu tahun lalu. Spesies baru itu kemudian diberi nama H. floresiensis.
Meski ditingkahi perdebatan, perlahan para ahli mulai memahami kehidupan H. floresiensis. Mereka diperkirakan melewati isolasi panjang dan mengalami kerdil endemik, sebuah fenomena umum yang juga terjadi pada mamalia lain di lingkungan yang sama.
Asal-usulnya diperdebatkan. Mengutip artikel itu, ada yang berpendapat bahwa mereka keturunan Homo erectus dari Jawa. Namun dari analisis yang lebih rinci, mereka cenderung mirip Homo habilis, Homo ergaster atau Homo georgicus. Mereka memiliki nenek moyang sama dengan H. erectus tapi tidak diturunkan darinya.
Flores ketika manusia kerdil hidup digambarkan sebagai kepulauan tropis berhutan lebat dengan puncak gunung mencapai lebih dari 2000 meter. Lingkungannya terisolasi, dengan sumber makanan terbatas. Ciri khas dari pulau-pulau tersebut memberikan petunjuk kuat terjadinya evolusi H. floresiensis.
Ketika populasi kecil terpisah, perubahan dapat terjadi dengan sangat cepat. Lingkungan khusus ini mendukung pengurangan kebutuhan energi dengan kerdil sebagai respons terhadap hal ini. Beberapa spesies kerdil, termasuk Stegodon, telah ditemukan di Flores dan pulau-pulau kecil lainnya.
Masih menurut artikel ini, bukti bekas luka pada tulang Stegodon dari gua Liang Bua menunjukkan bahwa H. floresiensis setidaknya berburu dan memakan hewan yang tidak bisa lepas dari air ini.
Semetara menurut Sciencedaily, temuan ini menggarisbawahi betapa kuatnya perubahan lingkungan dalam menentukan apakah suatu spesies bertahan hidup atau menghilang. Dalam hal ini, penurunan curah hujan tampaknya telah mengubah ekosistem yang menopang manusia purba ini.
Referensi:
Gagan, M. K., Ayliffe, L. K., Puspaningrum, M. R., van den Bergh, G. D., Scroxton, N., Hantoro, W. S., … & Rifai, H. (2025). Onset of summer aridification and the decline of Homo floresiensis at Liang Bua 61,000 years ago. Communications Earth & Environment, 6(1), 992. https://doi.org/10.1038/s43247-025-02961-3
*****
Inilah Alasan Mengapa Manusia Memburu dan Memakan Gajah di Zaman Purba