- Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024. Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton.
- FAO menyebut, akuakultur akan menjadi komponen penting sistem pangan masa depan, karena produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan. Sementara, permintaan terhadap pangan akuatik terus meningkat.
- Jika krisis iklim tidak diantisipasi, maka gangguan produksi ikan hanya menunggu waktu. Reproduksi ikan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Terutama, pelepasan hormon reproduksi agar pemijahan optimal. Ancaman ini sudah nyata, karena pernah terjadi pada 2017.
- Reproduksi ikan sangat sensitif terhadap suhu. Jika laut mengalami peningkatan suhu dan gelombang panas yang tidak biasa disebabkan krisis iklim, maka reproduksi ikan akan terpengaruh.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2024 menerbitkan laporan The State of World Fisheries and Aquaculture 2024 atau SOFIA 2024.
Berdasarkan laporan tersebut, pada 2022 produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton. Produksi akuakultur menyumbang 130,9 juta ton dan ikan budi daya 94,4 juta ton. Pada 2032, produksi perikanan budi daya dunia di luar alga dan mikroalga, diproyeksikan meningkat hingga 10 persen.
FAO menyebut, akuakultur akan menjadi komponen penting sistem pangan masa depan, karena produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan. Sementara, permintaan terhadap pangan akuatik terus meningkat.
Proyeksi besar yang juga sudah masuk Indonesia ini, harus dilakukan dengan prinsip lebih produktif, lebih inklusif, lebih tangguh terhadap krisis iklim, dan lebih berkelanjutan.
Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan jika krisis iklim tidak diantisipasi, maka gangguan produksi ikan hanya menunggu waktu.
Dalam orasi ilmiah pengukuhan gelar Guru Besar, Senin (27/6/26), dia mengatakan reproduksi ikan sangat dipengaruhi kondisi lingkungan. Terutama, pelepasan hormon reproduksi agar pemijahan optimal. Ancaman ini sudah nyata, karena pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk di unit pembenihan (hatchery) tidak matang gonad.
“Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya dalam laman resmi IPB
Satu solusi yang ditawarkan pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) itu adalah dengan mengadopsi teknologi kontrol hormonal reproduksi ikan yang diyakini bisa menjaga ketersediaan benih.
“Produksi perikanan budi daya tak akan terganggu.”

I Ketut Sugama, Profesor Riset Akuakultur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan< class=”Apple-converted-space”> </>penggunaan hormon dapat membantu, terutama memicu ikan agar bertelur atau mengatur proses reproduksi.
“Namun, harus hati-hati,” ucapnya, Kamis (3/9/26).
Penggunaan hormon pada ikan konsumsi dikhawatirkan berdampak pada tubuh manusia. Pendekatan melalui pemuliaan, seleksi genetik, atau transfer gen, lebih ideal. Hormon alami seperti ovaprim aman dipakai, karena berasal dari sistem reproduksi ikan.
Ovaprim adalah teknologi hormonal untuk pengeluaran telur dan sperma (pemijahan) buatan (induced breeding hormone) yang digunakan kegiatan akuakultur/pembenihan ikan. Tujuannya, membantu merangsang ikan agar mengalami ovulasi (pelepasan telur) ketika ikan induk sudah matang gonad, tetapi sulit atau tidak mau memijah alami.
Ovaprim mengandung Salmon Gonadotropin-Releasing Hormone analogue (sGnRHa) dan Domperidone. Keduanya memiliki fungsi berbeda. Satu untuk merangsang otak (hipofisis) ikan melepaskan hormon reproduksi, dan satu lagi untuk menghambat kerja dopamin, senyawa kimia yang bisa menghambat pelepasan hormon reproduksi ikan.
Untuk menghadapi krisis iklim, hal pertama yang dilakukan adalah menghasilkan benih unggul yang tahan penyakit dan perubahan lingkungan, serta pertumbuhan cepat.
“Bisa dilakukan pendekatan genetika.”

Tahapan berikutnya, penggunaan teknologi yang tepat dan bijak, seperti Recirculating Aquaculture System (RAS). Teknologi ini merupakan sistem budidaya perikanan dengan sirkulasi ulang air terus-menerus, melalui penyaringan dan pengolahan. Air yang digunakan dapat dipakai kembali dengan pergantian minimalis.
Teknologi RAS menggunakan sensor untuk mendeteksi lingkungan di sekitar pusat produksi budi daya ikan. Sensor akan mendeteksi penurunan kadar oksigen, peningkatan amonia, atau perubahan kualitas air.
“Perubahan diketahui lebih cepat sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan.”
Penggunaan bioteknologi juga sangat penting, karena pendekatannya tak sekadar memperbaiki ikan, tetapi juga lingkungannya. Salah satunya, melalui penggunaan probiotik dan pengembangan komunitas plankton yang baik. Pengembangan mikroorganisme yang mampu menekan plankton atau organisme patogen harus terus dilakukan di Indonesia.
“Jangan selalu bergantung pada antibiotik, karena pendekatan lingkungan yang sehat lebih baik untuk masa depan akuakultur.”
Semua langkah itu, akan membawa Indonesia keluar dari tantangan krisis iklim yang sangat cepat dan kuat. Namun, itu semua konsep dan strategi yang memerlukan dukungan langsung dan keberpihakan Pemerintah Indonesia.
“Perlu grand strategy pengembangan akuakultur Indonesia. Jika tidak, sama saja seperti sekarang,” jelasnya.

Perubahan suhu
Dalam laporan ilmiah yang ditulis lima peneliti dari Inggris berjudul “Predicting the Effects of Climate Change on the Fertility of Aquatic Animals Using a Meta-Analytic Approach” disebutkan organisme akuatik paling rentan terdampak krisis iklim. Ini disebabkan, laju aklimatisasi terhadap suhu lambat dibandingkan organisme darat. Tingkat plastisitas fenotipik organisme akuatik juga lebih rendah dari organisme darat. Sehingga, kemampuan mereka untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah sangat rendah.
Para peneliti menyimpulkan, kemampuan rendah bisa terjadi karena hasil evolusi dari suhu lebih stabil yang dialami organisme akuatik. Hal itu terjadi, karena kapasitas panas air yang tinggi, dan stratifikasi suhu alami habitat akuatik menyediakan tempat berlindung termal.
Pada laporan ilmiah lain berjudul “Fish reproduction in a warming world: vulnerable points in hormone regulation from sex determination to spawning” dijelaskan bila reproduksi ikan sangat sensitif terhadap suhu. Jika laut mengalami peningkatan suhu dan gelombang panas yang tidak biasa disebabkan krisis iklim, maka reproduksi ikan akan terpengaruh.
Bahkan, dalam beberapa kasus, perubahan tersebut memicu terjadinya perubahan jenis kelamin. Untuk itu, penggunaan hormon untuk mengatur reproduksi ikan perlu dilakukan, walau efeknya bervariasi, bergantung pada masing-masing kondisi.
Populasi ikan yang tidak mampu mengubah jangkauan geografisnya, maka mereka memerlukan perubahan dalam responsibilitas suhu jalur hormon yang mengatur proses reproduksi. Cara itu, bisa menjamin kelangsungan hidup mereka di masa depan.
Referensi:
Lema, S. C., Luckenbach, J. A., Yamamoto, Y., & Housh, M. J. (2024). Fish reproduction in a warming world: vulnerable points in hormone regulation from sex determination to spawning. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 379(1898), 20220516. https://royalsocietypublishing.org/rstb/article/379/1898/20220516/109450/Fish-reproduction-in-a-warming-world-vulnerable
Chatten, A., Grieve, I., Meligoniti, E., Hayward, C., & Pilakouta, N. (2025). Predicting the effects of climate change on the fertility of aquatic animals using a meta‐analytic approach. Ecology Letters, 28(1), e70054. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/ele.70054
*****
Ikan Badut: Lahir Sebagai Jantan, Bagaimana Berkembang Biak?