Perluasan permukiman, kawasan kampus, dan lahan pertanian telah mengubah banyak lanskap di Asia Tenggara. Sebagian satwa liar terdesak keluar, sementara sebagian lain mampu bertahan dan memanfaatkan ruang yang dibangun manusia. Ular termasuk satwa yang kerap bersinggungan dengan manusia di ruang semacam ini, dan pertemuan itu kadang berujung gigitan. Secara global, gigitan ular menimpa lebih dari 2,5 juta orang setiap tahun dan menyebabkan sekitar 81.000 hingga 138.000 kematian. Pada 2017, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan keracunan akibat gigitan ular ke dalam daftar penyakit tropis terabaikan dengan prioritas tinggi.
Salah satu ular yang hidup berdampingan dengan manusia adalah ular weling (Bungarus candidus), anggota famili Elapidae yang berbisa tinggi. Di Indonesia, ular ini tersebar di Sumatra, Jawa, dan Bali, sementara di luar Indonesia ia ditemukan di Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Thailand, weling tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi akibat gigitan ular, dan dalam satu studi jumlah korbannya setara dengan ular tanah (Calloselasma rhodostoma). Meski berbahaya, informasi tentang pergerakan ular ini masih terbatas, karena sebelumnya hanya ada empat studi yang masing-masing melacak satu individu. Untuk mengisi kekosongan itu, tim peneliti melacak 14 ekor ular weling di kampus Suranaree University of Technology di Provinsi Nakhon Ratchasima, timur laut Thailand, dan menerbitkan hasilnya di jurnal Scientific Reports.
Berlindung di Bawah Gedung dan Saluran Beton
Kampus seluas sekitar 11 kilometer persegi itu dihuni lebih dari 15.000 mahasiswa, dengan ribuan di antaranya tinggal di asrama. Di sela gedung kuliah, laboratorium, rumah sakit, dan sekolah dasar, masih tersisa 37 petak hutan gugur campuran, sementara di luar kampus terbentang kebun singkong, jagung, dan eukaliptus. Sebagian besar ular yang dilacak ditemukan berkat laporan warga, lalu ditanami pemancar radio oleh dokter hewan dari Kebun Binatang Nakhon Ratchasima. Posisi tiap ular kemudian dicari hampir setiap hari antara Juni 2018 dan Maret 2020.
Peneliti semula menduga ular-ular ini akan lebih banyak berada di petak hutan dan area bervegetasi lebat. Data pelacakan menunjukkan pola yang berbeda, karena lebih dari separuh titik lokasi ular berada di kawasan permukiman, dan hampir tiga perempatnya berkaitan dengan bangunan. Lahan pertanian justru hampir tidak pernah dipakai. Penelitian sebelumnya mengaitkan hal ini dengan tanah kebun yang terus diolah, sehingga hampir tidak ada tempat berlindung yang cocok.

Untuk berlindung, ular paling sering memakai liang yang digali hewan lain seperti tikus, dengan frekuensi hampir sama dengan celah di bawah bangunan, saluran drainase beton, dan trotoar. Satu-satunya betina yang dilacak bertahan 85 hari berturut-turut di bawah fondasi sebuah gedung, dan peneliti menduga ia bersarang di sana meski hal itu belum terkonfirmasi. Jika dugaan itu benar, menurut peneliti, anak-anak ular yang menetas berpotensi masuk ke rumah.
Hampir semua ular berulang kali kembali ke tempat persembunyian yang sama, rata-rata sekitar dua minggu sekali. Enam ular jantan bahkan berdiam di satu tempat selama 20 hari atau lebih, dan salah satunya bertahan 94 hari. Luas area yang dijelajahi ular jantan di kampus juga tidak jauh berbeda dengan weling yang pernah dilacak di hutan Cagar Biosfer Sakaerat, sekitar 40 kilometer di selatan kampus. Menurut peneliti, cara weling bergerak mungkin tidak banyak terpengaruh kehadiran manusia, walaupun jumlah ular pembanding dari hutan masih sedikit.
Para peneliti menduga struktur beton membantu ular mengatur suhu tubuh dan menghindari panas. Bangunan dan saluran beton juga kerap dihuni hewan mangsa seperti ular lain, katak, kadal, dan tikus. Dari 37 kali ular teramati aktif bergerak atau mencari makan, 22 di antaranya terjadi dalam jarak kurang dari satu meter dari struktur beton. Dua kali ular yang dilacak tertangkap sedang memangsa ular lain, satu di selokan beton dekat asrama mahasiswa dan satu lagi di atrium gedung kantor fakultas.
Aktif Selepas Senja dan Lebih Sering Bergerak saat Musim Hujan
Untuk mengetahui kapan ular keluar dari persembunyian, peneliti memasang kamera jebak di dekat sejumlah tempat persembunyian. Dari lebih dari satu juta foto yang terkumpul, ular yang dilacak hanya tertangkap kamera pada 75 foto. Foto-foto itu menunjukkan ular keluar setelah matahari terbenam, antara pukul tujuh dan setengah sebelas malam, dengan puncak aktivitas sekitar pukul 19.30. Sebagian ular menjulurkan kepala lebih dulu sebelum perlahan keluar, sebagian langsung bergerak pergi, dan ada pula yang mencari makan di sekitar persembunyian lalu kembali ke tempat yang sama. Jam-jam itu kemungkinan bertepatan dengan waktu manusia masih ramai beraktivitas di kampus.
Aktivitas weling juga mengikuti musim. Timur laut Thailand mengenal tiga musim, yaitu musim dingin, musim panas, dan musim hujan, dan ular jantan paling sering berpindah tempat pada musim hujan serta paling sedikit bergerak pada musim panas. Perpindahan jarak jauh, ada yang lebih dari satu kilometer, kebanyakan terjadi pada akhir musim hujan dan awal musim dingin. Peneliti menduga perpindahan ini berkaitan dengan pejantan yang mencari pasangan. Pola musiman ini sejalan dengan catatan rumah sakit di Thailand, yang menunjukkan hampir separuh gigitan ular genus Bungarus terjadi pada musim hujan, sementara pada musim panas hanya sekitar seperlima.

Pertemuan semacam ini berisiko karena gigitan ular Bungarus bisa tidak terasa sakit dan kerap terjadi pada malam hari, sebagian bahkan saat korban sedang tidur. Bisa ular weling menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan otot yang terus memburuk hingga gagal napas. Penelitian terhadap bisa weling dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand menemukan bahwa komposisinya berbeda antarwilayah. Dalam uji laboratorium pada jaringan otot ayam, bisa weling asal Indonesia menunjukkan efek racun saraf paling cepat dibanding sampel dari dua negara lainnya. Menurut para penelitinya, pemahaman tentang perbedaan ini dapat membantu memperbaiki penanganan korban gigitan weling di Asia Tenggara.
Meski ular dan manusia terus berbagi ruang, tidak ada kasus gigitan ular weling di kampus selama penelitian berlangsung. Di sisi lain, ular juga menghadapi risiko dari aktivitas manusia. Satu ular yang dilacak mati tertabrak kendaraan saat menyeberang jalan, dan data pelacakan tidak menunjukkan bahwa weling menghindari jalan. Peneliti juga mencatat banyak weling mati di jalan di sekitar lokasi studi. Studi pendamping dari tim yang sama, yang mengamati seekor weling di sekitar asrama mahasiswa, menunjukkan bahwa memindahkan ular dalam jarak dekat tidak efektif mencegah konflik jangka panjang.
Para peneliti menilai edukasi dan peningkatan kesadaran warga tentang kebiasaan serta lokasi persembunyian ular ini perlu diperkuat. Mereka merujuk pada program edukasi di Tamil Nadu, India, yang mengajak warga memakai senter, mengenakan sepatu bot saat bekerja di ladang, dan menutup celah di rumah, dan program itu dilaporkan berhasil mengurangi kasus gigitan. Studi lain di Nepal bagian tenggara menemukan bahwa tidur di dalam kelambu memberi perlindungan kuat dari gigitan ular. Mengurangi tutupan vegetasi di dekat bangunan juga bisa menekan konflik, tetapi langkah ini belum diuji dan, menurut peneliti, tidak boleh mengorbankan manfaat kampus bagi keanekaragaman hayati. Penelitian lanjutan tentang jalur ular masuk ke bangunan diharapkan memberi gambaran yang lebih rinci.
Referensi
Hodges, C. W., Marshall, B. M., Hill, J. G., III, & Strine, C. T. (2022). Malayan kraits (Bungarus candidus) show affinity to anthropogenic structures in a human dominated landscape. Scientific Reports, 12, 7139. https://doi.org/10.1038/s41598-022-11255-z