Dalam skala waktu geologi, jalur sungai jarang bertahan lama. Jalurnya dapat berubah ketika lempeng tektonik bergerak, pegunungan terangkat, atau iklim bergeser dari basah ke kering. Di wilayah gurun, perubahan itu juga menentukan nasib makhluk yang hidup di dalamnya, karena air hanya tersisa di kolam-kolam yang terpisah ketika sungai berhenti mengalir. Ikan yang bertahan di sana bergantung pada kolam yang tidak pernah benar-benar kering dan pada kemampuan menoleransi kondisi air yang ekstrem.
Sungai Finke di Australia Tengah, yang oleh masyarakat Arrernte Barat disebut Larapinta, kerap dijuluki sungai tertua di dunia dengan perkiraan usia 300 hingga 400 juta tahun. Sungai ini berhulu di Pegunungan MacDonnell, Northern Territory, dan membentang sekitar 600 kilometer hingga tepi barat Gurun Simpson. Kini alirannya hanya muncul beberapa hari dalam setahun, dan airnya hampir selalu menghilang ke pasir sebelum mencapai Danau Eyre. Meski begitu, survei sistematis sejak 2011 mencatat sembilan spesies ikan di daerah aliran sungai ini. Tiga di antaranya endemik, yaitu Finke goby, Finke hardyhead, dan desert mogurnda, dan keberadaan mereka berkaitan erat dengan sejarah panjang lembah sungai itu sendiri.
Ngarai Purba yang Menjadi Tempat Berlindung
Julukan sungai tertua berangkat dari cara Finke memotong tegak lurus punggungan kuarsit Pegunungan MacDonnell dan Krichauff, yang terangkat dalam Orogeni Alice Springs sekitar 400 hingga 300 juta tahun lalu. Jalur yang menembus batuan keras itu ditafsirkan sebagai tanda bahwa sungai ini sudah mengalir sebelum atau bersamaan dengan pengangkatan tersebut. Dalam geologi, sungai seperti ini disebut antecedent. Angka ratusan juta tahun itu merupakan tafsiran, bukan hasil penanggalan langsung. Penanggalan kosmogenik dengan berilium-10 dan aluminium-26 memang dilakukan di kawasan ini, tetapi untuk mengukur laju erosi, karena waktu paruh kedua isotop kurang dari 1,5 juta tahun.

Ahli geomorfologi Victor R. Baker meninjau ulang persoalan ini pada 2021 dan menyatakan tidak ada bukti geologis mengenai jalur Finke sebelum Orogeni Alice Springs. Menurutnya, lembah Finke terbentuk melalui beberapa tahap erosi dan pelapukan, termasuk saat iklim hangat dan lembap di awal era Kenozoikum. Sejak akhir Pliosen, Australia Tengah berangsur mengering, dan sungai yang dulu mengalir di iklim lebih basah berubah menjadi rangkaian kolam. Usia pasti Sungai Finke masih diperdebatkan, sementara ngarai yang dipahatnya kini menjadi habitat penting bagi ikan-ikan yang tersisa.
Sebagian lubang air permanen berada di ngarai-ngarai berbatu itu, seperti Ormiston Gorge, Glen Helen Gorge, dan Redbank Gorge di Pegunungan MacDonnell. Di bagian tengah sungai, survei udara menemukan 274 kolam, padahal sebelumnya hanya 20 yang tercatat di peta. Sebagian kolam sedalam hingga sembilan meter dan tetap berisi air lebih dari dua tahun tanpa aliran, antara lain berkat pasokan air tanah. Pemantauan pada 2024 menangkap 10.555 ekor ikan, dan lokasi bernama Big Salty mencatat keragaman tertinggi dengan sembilan spesies.
Tiga Ikan dan Ancaman di Kolam Terakhir
Ketiga ikan endemik itu memanfaatkan kolam dengan cara yang berbeda. Finke goby (Chlamydogobius japalpa), ikan dasar berukuran sekitar 5,5 sentimeter, hidup di bagian hulu dan tengah sungai, dari Ormiston Gorge hingga sekitar 300 kilometer ke arah hilir. Pada November hingga Maret, betina menempelkan telurnya di celah batu, lalu jantan menjaga dan mengipasinya hampir tanpa henti sampai menetas.
Desert mogurnda (Mogurnda larapintae), yang nama ilmiahnya merujuk pada Larapinta, berukuran lebih besar dengan panjang hingga sekitar 13 sentimeter. Ikan ini adalah predator penyergap yang memangsa invertebrata dan ikan lain di kolam berbatu. Betinanya dapat bertelur 200 hingga 800 butir pada permukaan keras, dan jantan menjaga telur itu selama sekitar satu minggu.

Finke hardyhead (Craterocephalus centralis), dengan panjang hingga 7,5 sentimeter, berenang berkelompok di perairan terbuka atau di antara tumbuhan air. Telurnya yang lengket diletakkan di antara vegetasi dan menetas dalam lima sampai tujuh hari. Status spesies ini masih dibahas, karena studi genetik pada 2011 tidak menemukan perbedaan antara hardyhead Finke dan kerabatnya, Craterocephalus eyresii. Kadar garam ikut menentukan kolam mana yang dihuni tiap spesies, sebab sebagian kolam cepat menjadi asin setelah hujan, sementara yang lain tetap relatif tawar meski terus menguap.
Kolam-kolam itu kini menghadapi tekanan dari aktivitas manusia. Ternak serta hewan liar seperti kuda dan unta merusak tepian dan menimbun kolam dengan sedimen. Ikan invasif Gambusia holbrooki terus menyebar di Australia Tengah, sementara rumput invasif dan perubahan iklim mengurangi jumlah kolam yang bertahan saat kemarau.
Finke goby menjadi spesies yang paling rentan. Ikan ini berstatus rentan dalam Daftar Merah IUCN dan menurut peraturan Northern Territory, dan populasinya di anak Sungai Palmer kemungkinan sudah hilang. Hardyhead Finke tercatat hampir terancam dalam Daftar Merah IUCN, sedangkan desert mogurnda belum memiliki status perlindungan. Karena tidak dapat berpindah ke sungai lain, hilangnya satu kolam berarti hilangnya satu populasi.
Referensi:
Baker, V. R. (2021). Landscape evolution in the Finke (Larapinta) River transverse drainage, Central Mountain Ranges, Australia. Studia Geomorphologica Carpatho-Balcanica, 55, 9–44. https://www.igipz.pan.pl/tl_files/igipz/ZGiHGiW/sgcb/sgbc_55/02_Baker-min.pdf
Burcher, J. (2024). Lake Eyre Basin Rivers Assessment (LEBRA) Program: Annual monitoring 2024 (J. Huxley, Ed.; Water Resources Division Technical Report 34/2024). Northern Territory Government. https://territorystories.nt.gov.au/10070/979422