- Komunitas Adat Kulawi di Sulawesi Tengah, punya baju khas kulit kayu yang terbuat dari kulit pohon beringin. Sayangnya, baju ini sudah langka. Tak banyak yang bisa membuatnya. Di Kulawi, tinggal satu-satunya, Tobani Tiku, perempuan 86 tahun, yang mewarisi tradisi.
- Tobani Tiku sangat terbuka bagi siapapun yang ingin belajar membuat kain kulit kayu. Setidaknya, sudah ada dua kelompok yang belajar membuat kumu nunu kepadanya, setiap kelompok terdiri 10 orang. Saat mengajarkan para perempuan lain, Tobani biasa membagi mereka menjadi tiga kelompok kecil dengan tugas masing-masing.
- Untuk bikin kain kulit ini, waktu pengambil dan posisi kayu pun tak sembarangan. Ketika pengambilan ranting beringin harus saat bulan purnama dan ranting harus yang menghadap langit atau tumbuh mendatar. Tak boleh ranting yang menghadap ke bawah.
- Berkat kekonsistenan Tobani Tiku, membawanya menerima penghargaan sebagai maestro kain kayu dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025. Dia juga mendapatkan penghargaan Ratna Award tahun 2022. Untuk bikin kain kulit ini, waktu pengambil dan posisi kayu pun tak sembarangan. Ketika pengambilan ranting beringin harus saat bulan purnama dan ranting harus yang menghadap langit atau tumbuh mendatar. Tak boleh ranting yang menghadap ke bawah.
Pagi itu, Tobani Tiku sibuk memukul-mukul kulit kayu beringin untuk jadi kumu nunu (kain) di belakang rumahnya. Membuat kain kulit kayu, bagi perempuan 86 tahun ini menjadi kecintaan, sudah mendarah daging.
Kumu nunu adalah kain terbuat dari kulit kayu pohon beringin. Ia merupakan pakaian adat masyarakat Kulawi, Sulawesi Tengah.
Sehari-hari, Tobani dari pagi sampai sore dia habiskan membuat kain kayu. Dia hanya istirahat saat makan dan shalat. Tobani merasa lelah dan pinggang terasa sakit kalau hanya saja seharian tanpa beraktivitas.
Tobani adalah perempuan satu-satunya yang masih membuat kain kayu ini. Dia tinggal bersama tiga anaknya di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Sigi, Sulawesi Tengah.
Anak laki-lakinya, Syafrudin, yang selalu mengambil ranting-ranting pohon beringin setiap bulan purnama.
Tobani cerita, mulai membuat kumu nunu sejak remaja, belajar turun temurun dari ibu dan neneknya. Secara tradisi, pembuat kumu nunu harus perempuan, kalau laki-laki yang buat kumu nunu, dipercaya ususnya akan turun.
“Kalau orang tua bilang (laki-laki) tidak boleh, usus turun,” kata Tobani sembari tertawa, beberapa waktu lalu.
Ada banyak pohon beringin di sekitar rumah Tobani. Dua jenis beringin yang biasa dia buat kain yaitu beringin merah (nunu lero) dan beringin putih (nunu bula). Namun, Tobani lebih banyak pakai nunu lero.

Ambil ranting kayu di waktu dan posisi tertentu
Ketika pengambilan ranting beringin pun tak boleh sembarangan, harus saat bulan purnama dan ranting harus yang menghadap langit atau tumbuh mendatar. Tak boleh ranting yang menghadap ke bawah.
“Itu kan tidak boleh yang cabangnya arah ke bawah, harus merata begini, dengan ke atas,” kata Syafruddin, yang duduk di samping ibunya.
Ranting yang tumbuh mengarah ke bawah, katanya, kulit tipis dan serat tidak bagus hingga mempersulit pembuatan kain.
“Kalau di bulan-bulan lain itu, tidak bulan purnama, tidak berisi,” katanya.
Ranting dia potong-potong sesuai kebutuhan panjang kain, biasa 1– 1,5 meter, lebar kain bisa sesuai proses pembuatan. Pemipihan dengan cara memukul pelan-pelan.
Potongan ranting, dia kuliti, bersihkan, dan rendam selama tiga hari, baru disatukan jadi kain.
Supaya kain lebih awet, Tobani menggunakan bahan pengawet sekaligus pewarna alami dari alam. Dia meracik sendiri dari buah-buah tertentu, juga pewarnaan, antara lain, adalah tumbuhan yang dia sebut linuro dan ulakau.
Dulu, katanya, kain kayu lumrah masyarakat Kulawi gunakan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari baju kerja ke sawah sampai buat selimut tidur. Lumrahnya, baju pakai satu kain utuh, sedangkan rok jahit tiga susun.
Saat ini, kumu nunu sudah langka. Dia hanya gunakan dalam acara-acara tertentu sebagai baju adat.
Tobani masih ingat jelas pesan orangtuanya untuk terus membuat kumu nunu.
Dia biasa mendapat pesanan membuat kumu nunu, satu set: atasan dan bawahan. Satu set dia hargai Rp1,5 juta, kalau kain saja Rp200.000-Rp300.000 per meter.
Satu set pakaian, dia perlu waktu minimal satu minggu. Kendati pembuatan baju selesai dalam satu minggu, Tobani tidak serta merta bisa membuat baju lagi di minggu berikutnya. Dia bilang, harus menunggu bulan berikutnya, saat purnama tiba.
Syafrudin biasa hanya ambil sekitar 30 potong ranting saja setiap purnama.
Selain karena sudah jadi kepercayaan, kulit kayu juga tidak bisa dia rendam lebih dari tiga hari karena akan membusuk dan tak bagus jadi kain.
Dia bilang, tak ada pantangan lain untuk bikin kain kecuali ketika ada meninggal dunia tidak boleh ada aktivitas sampai tujuh hari.

Mencari generasi
Tobani sangat terbuka bagi siapapun yang ingin belajar membuat kain kulit kayu. Setidaknya, sudah ada dua kelompok yang belajar membuat kumu nunu kepadanya, setiap kelompok terdiri 10 orang.
Saat mengajarkan para perempuan lain, Tobani biasa membagi mereka menjadi tiga kelompok kecil dengan tugas masing-masing.
“Ada yang berpotong, ada yang berkupas, ada yang kasih keluar kulitnya,” kata Tobani.
Kalau belajar dengan tekun, satu hari cukup untuk pembuatan kumu nunu dari awal sampai akhir.
Harapannya, yang dia lakukan ini menjadi salah satu usaha melestarikan kain kulit kayu sebagai identitas budaya dan nilai-nilai di dalamnya.
Dia akan terus membuat kumu nunu selama masih sehat dan mampu.
Berkat kekonsistenan perempuan kelahiran tahun 1941 ini pun membawanya menerima penghargaan sebagai maestro kain kayu dalam Anugerah Kebudayaan Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan pada 2025. Dia juga mendapatkan penghargaan Ratna Award tahun 2022.
Bagi Tobani, membuat kumu nunu begitu mudah, hanya memukul-mukul (dibalowo) secara bolak balik kulit kayu beringin yang sudah peram tiga hari sampai setipis mungkin dengan alat khusus.
Alat-alat itu meliputi balok kayu sebagai alas (tatua, biasa pakai kayu pohon pawa), panjang sekitar 200 cm, lebar 20 cm, dan tebal 10 cm.

Alat pemukul ada empat macam, yaitu pola, Ike tinahi, Ike tiva, Ike pogea. Pola adalah kayu dengan bentuk seperti pentungan pendek (biasa terbuat dari pohon enau/aren). Ike tinahi, tiva, dan pogea adalah batu persegi empat dengan pola dan ada gagang.
Alat-alat pukul itu dia gunakan secara berurutan. Di kedua sisi setiap batu itu ada bentuk arsiran. Arsiran Ike tinahi renggang, tiva lebih rapat, dan pogea paling rapat.
Meski ike terbuat dari batu, tidak sembarang batu. Ia batu khusus yang hanya ada dari Desa Towulu, Kecamatan Kulawi, Sigi.
Batu jenis lain cepat pecah, tak mampu bertahan lama seperti batu di Towulu itu.
Sejauh yang dia tahu, kata Tobani, batu itu hanya ada di desa itu. Alat-alat yang ada saat ini adalah warisan neneknya. Batu-batunya masih kuat dan kokoh sampai saat ini, hanya pernah beberapa kali ganti gagang kayu.
Bahan baku sampai alat-alat pembuatan kumu nunu dari alam. Untuk melestarikan tradisi ini, katanya, perlu melestarikan alam, keduanya saling berhubungan erat.
Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah pernah menjalin kerja sama dengan Tobani. Mereka punya program pendampingan untuk para perempuan Mataue dalam pembuatan sampai pemasaran kain kulit kayu, dengan Tobani sebagai pengajar tunggal pembuatan kumu nunu. Programnya pada 2022 selama empat bulan (September-Desember).
Anwar, stafdari Perkumpulan Imunitas, bilang, ada banyak potensi bahan baku di sana, pohon beringin banyak, tetapi sudah tidak ada yang membuat kumu nunu kecuali Ina (nenek) Tobani.
“Ina yang mentransfer pengetahuan itu dalam hal melatih terkait dengan tata cara pembuatan … kain kuit kayu terhadap perempuan-perempuan yang ada di Desa Mataue,” katanya.

*****
Perempuan Hebat Batin Sembilan, Kelola 399 Hektar Hutan Komunal dan Ahlinya Obat Tradisional