- Sepasang macan tutul jawa (Panthera pardus melas) terekam di hutan Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
- Sebelumnya, petani hanya menemukan cakaran dan kotoran satwa endemik Jawa itu.
- Kehadiran macan tutul jawa tak lantas membuat petani Mendolo merasa terancam, justru sebaliknya, sebagai bagian penjaga keseimbangan ekosistem hutan. Hingga kini, di Mendolo belum ada kejadian macan tutul memangsa ternak atau datang ke permukiman.
- Ancaman yang lebih besar datang dari manusia, terutama perburuan malam hari yang menyasar satwa tertentu. Saat pemburu tak mendapat target, satwa lain yang jadi sasaran.
Apa sebenarnya yang ingin ditemukan ketika seorang petani memasang kamera jebak di tengah hutan? Pemburu? Pembalakan liar? Atau jejak satwa yang selama ini hanya diketahui dari cerita?
Bagi Rohim (40), petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Muda Mendolo, jawabannya datang setelah kamera jebak yang dipasang sekitar sebulan merekam sosok yang selama ini didengarnya dari cerita orang tua. Macan tutul jawa, jawabannya.
Temuan tersebut sekaligus menjawab penasaran warga terhadap keberadaan Panthera pardus melas di hutan Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Sebelumnya, petani hanya menemukan cakaran dan kotoran satwa endemik Jawa itu. Namun, dugaan tetaplah dugaan tanpa bukti visual.
“Banyak laporan petani terkait cakaran macan tutul,” terangnya, Kamis (10/9/26).
Bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan, tanda-tanda seperti cakaran bukan sekadar jejak. Melainkan, petunjuk sang penghuni hutan.
Rohim mengaku belum pernah melihat langsung macan tutul. Orang tuanya, pada masa lalu masih melihat macan tutul saat masuk hutan. Kini, tidak ada lagi pengalaman serupa. Macan tutul kerap hadir melalui cerita, jejak, dan kamera jebak.

Pasang kamera jebak
Rohim memasang sendiri satu kamera jebak di titik yang dianggap bakal didatangi kucing besar dilindungi itu.
Selama menunggu, tidak ada kepastian apa yang akan ditemukan. Bisa saja kamera hanya merekam satwa lain, manusia yang melintas, atau bahkan tidak mendapatkan gambar apa pun.
Namun, saat kamera diambil dan hasil rekamannya diperiksa, jawaban itu muncul. Sepasang macan tutul terekam di hutan Mendolo.
“Begitu kamera saya periksa, ada gambar macan.”
Bagi Rohim, rekaman tersebut menegaskan bahwa ada macan tutul di kawasan itu. Kehadirannya tak lantas membuat petani Mendolo merasa terancam, justru sebaliknya, sebagai bagian penjaga keseimbangan ekosistem hutan. Hingga kini, di Mendolo belum ada kejadian macan tutul memangsa ternak atau datang ke permukiman.
Satu alasan kuat, ketersediaan satwa mangsa masih cukup.
“Bagi masyarakat Mendolo, selama hutan masih menyediakan makanan dan ruang hidup, macan tutul akan baik-baik saja.”
Rohim justru melihat, ancaman yang lebih besar datang dari manusia, terutama perburuan malam hari yang menyasar satwa tertentu. Saat pemburu tak mendapat target, satwa lain yang jadi sasaran.
“Menjaga macan tutul tidak cukup hanya melindungi satu jenis satwa,” ujarnya.

Ekosistem utuh habitat macan tutul
Predator puncak butuh ekosistem yang utuh. Hutan tersambung, mangsa yang cukup, serta ruang aman dari perburuan dan gangguan manusia.
Kurnia Ahmadin, peneliti biodiversitas SwaraOwa, mengatakan kemunculan macan tutul dalam kamera jebak menjadi tanda bahwa ekosistem Mendolo masih mampu menyediakan habitat bagi satwa tersebut.
Kawasan itu masih terhubung dengan bentang alam di sekitarnya, termasuk Gunung Lumping.
“Masih ada macannya, terus masih ada (satwa lainya),” kata Ahmadin, Sabtu (12/9/26).
Namun, keberadaan macan tutul tidak berarti ekosistem tanpa ancaman. Persoalan yang perlu diperhatikan adalah perburuan satwa yang menjadi bagian rantai makanan kucing dengan populasi terbatas itu.
Burung-burung seperti punai penganten dan punai gading juga dilaporkan masih jadi sasaran. Berkurangnya satwa mangsa pada akhirnya bisa memengaruhi keberlangsungan predator yang berada di tingkat rantai makanan.
Ancaman lain datang dari perubahan bentang alam.
Fragmentasi hutan berpotensi memutus ruang jelajah macan. Jalan yang melebar, aktivitas manusia, hingga perubahan tutupan hutan bisa membuat habitat yang sebelumnya tersambung jadi terpisah.
“Di Mendolo, persoalan itu penting karena kawasan hutan masih dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan.”
Diantaranya, memanen kopi, rotan dan madu. Aktivitas ini membuat hubungan manusia dengan hutan berlangsung hampir setiap hari.
Pelebaran jalan di kawasan hutan, sebaiknya perlu dipertimbangkan karena bisa memperbesar fragmentasi. Bukan hanya macan tutul yang terdampak, satwa arboreal seperti owa juga menderita saat kanopi hutan yang jadi jalur pergerakannya terputus.
Konservasi Mendolo tidak cukup hanya bicara bagaimana menyelamatkan macan tutul.
“Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, justru harus jadi bagian penting dalam menjaga keseluruhan ekosistem.”
Pendekatan itu mulai tumbuh. SwaraOwa mendampingi masyarakat Mendolo sejak akhir 2022. Sebagian anak muda yang kini terlibat dalam konservasi, sebelumnya pernah jadi pemburu atau pengepul burung.
Kesadaran mereka berubah setelah melihat berkurangnya burung dan satwa liar lain di hutan yang mereka kenal sejak kecil.
*****