- Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan sengsarakan anak-anak dan perempuan. kabit asap pekat sudah level berbahaya.
- Karhutla terus merambah sejumlah wilayah di Kalsel seiring musim kemarau yang memasuki puncaknya. Data BPBD Kalsel, 2.175 kejadian karhutla dengan luas area terbakar mencapai 10.635,26 hektar—sepanjang periode Januari hingga 29 Agustus. Kualitas udara pun memburuk dan menjadi berbahaya.
- Memburuknya kualitas udara terjadi bersamaan dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel menghimpun 36.196 kasus baru ISPA pada Minggu Epidemiologi ke-28 hingga ke-32, dalam rentang 12 Juli–15 Agustus 2026.
- Syamsul Arifin, pakar kesehatan masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan, asap karhutla mengandung berbagai gas beracun, sekitar 90% dari total massanya terdiri dari PM2.5.
Siti Sarah sulit tidur sebulan terakhir. Perasaannya selalu gelisah karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian sering, serta lahan gambut yang mengering dan rawan kebakaran mendominasi sekitar rumahnya di Kampung Pengayuan, Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Apalagi, Data BPBD Kalsel, terjadi 436 peristiwa karhutla di Banjarbaru sejak Januari hingga 29 Agustus. Sebanyak 71 di antaranya menerpa wilayah Landasan Ulin Selatan.
Rabu (19/8/26) sore, api tiba-tiba berkobar di area yang posisinya hanya sekitar 100 meter dari rumah perempuan 33 tahun itu.
“Siang harinya, api jauh. Tapi karena angin kencang, mungkin jelaganya terbawa terbang. Kebakarannya seolah melompat, tiba-tiba dekat, dan cepat membesar,” ceritanya, (23/8/26).
Raungan meminta tolong menggema di penjuru kampung. “Saya juga ikut memadamkan api dengan memukul-mukulnya pakai kayu,” katanya.
Petugas pemadam kebakaran datang, berjibaku mengendalikan api, hingga akhirnya kobaran berhasil mereda sebelum menjalar ke rumah warga.
Dua hari berselang, Jumat (21/8/26), kebakaran besar yang membuatnya gentar kembali muncul di Pengayuan. Namun, kali ini api berkobar di lokasi yang lebih jauh dari rumah Sarah dan tak sampai melumat permukiman.
“Syukurnya petugas pemadam kebakaran sigap untuk memadamkan.”
Namun, rentetan insiden itulah yang meninggalkan trauma dan kekhawatiran terhadapnya. Dia jadi takut jika meninggalkan rumah, dan susah tidur saat malam.
“Cemas api tetiba menyala.”
Peristiwa kebakaran itu membuatnya jadi korban pertama yang menanggung derita kabut asap. Jerubu masuk rumah hingga membuatnya susah melihat. Baunya tercium hingga kamar.
Dia mengalami gangguan kesehatan, mulai batuk, pilek, radang tenggorokan hingga pusing. Kian berat karena sejak kecil mengidap asma.
“Ini juga membuat saya susah tidur karena sesak nafas kalau asap sedang tebal. Berbaring saja sering tak bisa. Hanya bisa duduk karena tersengal. Terlebih kalau malam dingin sekali.”
Beban pikirannya berlapis karena suami, tiga anak, dan bapaknya juga mulai sakit, khususnya batuk dan berdahak. Mereka sudah mendapat obat dan menjalani pemeriksaan oleh tenaga kesehatan yang pemerintah kirim.
“Ada 10 petugas yang datang untuk memeriksa kesehatan, dan memberi obat-obatan.”
Dia juga gusar karena kebakaran berulang setiap tahun dan selalu nyaris menjilat pemukiman. Kondisi ini dia alami sejak remaja.
“Bagaimana ya caranya supaya ini tidak terjadi lagi? Pemerintah harusnya lebih serius menangani ini.”

Vonis pneumonia
Raina, warga Pemurus Dalam, Kecamatan Banjarmasin Selatan, tengah gusar karena putra semata wayangnya, Muhammad Raihan, mengalami batuk, pilek, hingga sesak napas sejak awal Juli lalu.
“Awalnya tertular dari temannya. Tapi karena cuaca sangat panas, ditambah dia baru pertama sekolah, mungkin kecapekan, sakitnya kian parah. Selama tiga pekan tidak sembuh-sembuh, bahkan berlanjut disertai demam,” ujarnya, Kamis (3/9/26).
Perempuan 29 tahun ini kemudian membawa si kecil ke puskesmas. Bocah lima tahun itu mendapat obat untuk meredakan demam dan flu, serta vitamin penguat tubuh. Namun, obat itu menurut si ibu tidak mempan karena kondisi tak kunjung membaik.
Dia pun membawa si kecil ke dokter lain. Di sana, Raihan mendapat resep obat untuk mengatasi radang, batuk, pilek, alergi, hingga gangguan pernapasan.
Setelah menjalani pengobatan, kondisinya membaik tetapi keluhan kembali muncul setelah sepekan.
“Mungkin karena kembali tertular dari teman-temannya di sekolah—sebab banyak yang pilek karena berbarengan dengan kabut asap yang mulai semakin parah.”
Setelah itu, Raina kembali membelikan antibiotik sesuai anjuran dokter, karena beberapa obat yang sebelumnya sudah habis.
Selanjutnya, kondisi kesehatan anaknya perlahan pulih, meski lamban, tetapi kembali memburuk hanya dalam beberapa hari saja.
Enggan terlalu sering tercekoki obat kimia, Raina berikan madu dan nanas, juga mengusapkan bawang bercampur minyak telon ketika anaknya mulai demam. Namun upaya itu tak benar-benar memulihkan si kecil.
Saat bersamaan, kabut asap semakin pekat, dengan bau asap menyengat masuk ke rumah.
“Saya saja juga sampai mengalami batuk, pilek hingga susah bernapas,” katanya.
Kondisi Raihan kemudian memburuk, Minggu (30/8/26) malam—batuk anaknya tambah keras, tubuh panas disertai menggigil, hingga muntah sepanjang malam.
“Meski muntahnya berhenti keesokan hari, namun batuk, pilek, dan demam masih berlanjut.”
Raina kembali merawatnya di rumah selama tiga hari, termasuk dengan pengobatan herbal. Karena kondisinya tak kunjung membaik, si Kecil kemudian dia larikan ke RS Islam Banjarmasin, Rabu (2/9/26).
Di sana, Raihan rawat inap dan dokter mendiagnosisnya mengalami pneumonia. Dugannya, karena berulang kali mengalami keluhan pernapasan di tengah paparan kabut asap yang semakin buruk di sekitar rumah.
“Meskipun dokter mengatakan kondisi anak saya masih aman-aman saja, saya tetap cemas dan stres.”
Dia pun sudah merogoh kocek jutaan karena bolak-balik mencari kesehatan buat si Kecil. Karena itu, dia menuntut pemerintah serius menangani karhutla agar kejadian serupa tidak berulang. Sebab dampaknya sangat besar terutama membebani kesehatan dan kondisi ekonomi keluarga.
“Saya sudah trauma dengan kabut asap. Pemerintah harus mencari cara supaya kebakaran seperti ini tidak terus berulang setiap tahun.”

Kualitas udara berbahaya
Karhutla terus merambah sejumlah wilayah di Kalsel seiring musim kemarau yang memasuki puncaknya. Data BPBD Kalsel, 2.175 kejadian karhutla dengan luas area terbakar mencapai 10.635,26 hektar—sepanjang periode Januari hingga 29 Agustus. Kualitas udara pun memburuk dan menjadi berbahaya.
Tiga wilayah yang terbakarnya paling luas meliputi Banjar 2.354,52 hektar, Tanah Laut 1.826,85 hektar, dan Banjarbaru 1.614,47 hektar. Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Kalsel pun mencatat, sepanjang 1-25 Agustus, konsentrasi partikulat PM2.5 harian melonjak tajam.
Pada 5 Agustus, konsentrasi mencapai sekitar 205 µg/m³, dan pada 17 Agustus sekitar 235 µg/m³. “Kategorinya sangat tidak sehat,” kata Vera Yulianti, Forecaster Iklim di Staklim Kalsel, 26 Agustus.
Kondisi ekstrem kemudian tercatat pada 19 Agustus, saat konsentrasi maksimum PM2.5 melonjak hingga sekitar 415 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
“Masuk kategori berbahaya bagi kesehatan.”
Meski demikian, lonjakan tersebut hanya berlangsung selama beberapa jam sehingga rata-rata kualitas udara harian pada sebagian besar hari masih relatif terkendali, berada pada kategori sedang. Khusus 19 Agustus, durasi dan tingginya konsentrasi partikulat membuat rata-rata harian ikut meningkat hingga sekitar 107 µg/m³—masuk kategori tidak sehat.
Kualitas udara kembali memburuk 26 Agustus. Pukul 09.00 WITA, konsentrasi PM2.5 mencapai 480,1 µg/m³—menjadi angka tertinggi yang tercatat dan kembali masuk kategori berbahaya bagi kesehatan.
“Ini menunjukkan, meski rata-rata kualitas udara di Kalsel berada dalam batas yang dapat ditoleransi, namun periode-periode singkat dengan konsentrasi partikulat ekstrem tetap berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.”
Memburuknya kualitas udara terjadi bersamaan dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel menghimpun 36.196 kasus baru ISPA rentang 12 Juli–15 Agustus 2026.
Diauddin, Kepala Dinkes Kalsel, mengatakan, Banjarmasin, Banjarbaru, dan Banjar penyumbang tertinggi dengan persentase 45,9%.
“Meski terjadi saat karhutla meningkat, data tersebut belum pasti berhubungan,” katanya.
Masyarakat, katanya, harus meningkatkan kewaspadaan, terlebih ketika kualitas udara menurun akibat pekatnya asap. Untuk itu, aktivitas di luar ruangan harus berkurang.
“Khusus kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit paru dan jantung, diminta mendapat perhatian lebih.”
Jika terpaksa beraktivitas, maka harus kenakan masker yang terpasang rapat, seperti N95 atau KN95.

Racun mematikan
Syamsul Arifin, pakar kesehatan masyarakat Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menjelaskan, asap karhutla mengandung berbagai gas beracun, sekitar 90% dari total massanya terdiri dari PM2.5.
PM2.5 dari karhutla bahkan memiliki toksisitas yang lebih kuat ketimbang dari sumber perkotaan (dosis yang setara)—karena kandungan partikel submikronik yang tinggi dan komposisi kimia yang berbeda.
“Partikel ini sangat halus. Ia tak tertahan rambut hidung, dan dapat terhirup hingga ke alveolus, dan masuk ke aliran darah. Menyebabkan inflamasi sistemik, juga gangguan berbagai organ. ISPA merupakan morbiditas yang paling sering dilaporkan selama karhutla,” kata Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ULM itu, 27 Agustus.
Dia pun merujuk penelitian Yiwen Zhang yang terbit di Nature Sustainability yang menyebut setiap kenaikan 1 µg/m³ PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap akibat sejumlah penyakit pernapasan.
“Potensi rawat inap meningkat 0,79% untuk influenza, 0,48% untuk asma, 0,42% untuk ISPA, 0,38% untuk PPOK (penyakit paru obstruktif kronis), dan 0,36% untuk pneumonia.”
Penelitian itu juga menemukan paparan PM2.5 berkontribusi terhadap 42,4% rawat inap penyakit pernapasan. Risiko tinggi pada kelompok usia ≤19 tahun dan ≥ 60 tahun, serta masyarakat berpenghasilan rendah.
Selain itu, dia juga merujuk penelitian yang terbit di Nature Communications yang mengkaji risiko rawat inap anak dan remaja akibat paparan jangka pendek PM2.5. Penelitian tahun 2025 itu menyebut setiap kenaikan 10 µg/m³ PM2.5 meningkatkan risiko rawat inap harian. Rinciannya, 1,9% untuk penyakit pernapasan, 1,5% infeksi, 2,9% kardiovaskular, 2,8% neurologis, dan 3,7% diabetes.
“Dari studi tersebut, anak usia 5–9 tahun dan kelompok sosial ekonomi rendah merupakan yang paling terdampak.”
Syamsul juga melansir meta-analisis Mahendran yang mengkaji hubungan polusi udara akibat karhutla dan penyakit menular. Setiap kenaikan 10 µg/m³ PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko COVID-19 sebesar 15%, penyakit pernapasan 3%, serta ISPA dan bronkitis akut 3%.
“Paparan PM 2.5 dalam jangka menengah juga meningkatkan risiko infeksi jamur sistemik hingga 20 persen. Ia juga memicu peradangan dan melemahkan pertahanan saluran pernapasan sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi,” rincinya.
Selain itu, dia juga kutip studi Respiratory Research yang meneliti dampak jangka menengah paparan asap terhadap kesehatan pernapasan.
Temuannya, setiap peningkatan paparan PM2.5 berkaitan dengan kenaikan risiko penyakit pernapasan yang membutuhkan perawatan medis sebesar 18% dan serangan asma persisten sebesar 28%.
Bahkan, setiap tambahan satu hari terpapar PM2.5 di atas 125 µg/m³ meningkatkan risiko penyakit pernapasan berat di kemudian hari sebesar 11%.
“Artinya, dampak asap karhutla tidak hanya akut, tetapi dapat bertahan hingga berbulan-bulan.”
Dia dorong pemerintah melakukan sejumlah langkah, seperti mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker, memperkuat surveilans, menyiapkan fasilitas kesehatan, dan menyalurkan logistik kesehatan, masih belum cukup.
Samsul juga sarankan, pemerintah memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat di tengah karhutla, meliputi, pertama, perlindungan khusus bagi kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Kedua, memperkuat koordinasi lintas provinsi karena asap karhutla tidak mengenal batas administratif.
Ketiga, memperluas edukasi tentang bahaya PM2.5 dan penggunaan masker yang efektif.
Keempat, membangun sistem peringatan dini yang mengintegrasikan data kualitas udara dan kesehatan.
Kelima, pemerintah perlu memperkuat penelitian epidemiologi serta menyiapkan sistem perlindungan kesehatan jangka panjang, mengingat karhutla merupakan ancaman rutin setiap tahun.

Tantangan penanganan
Ronny Saputra, Kepala BPBD Kalsel, mengakui, penanganan karhutla menghadapi tantangan yang kompleks. Dari keterbatasan anggaran, minimnya sumber air, hingga sebaran titik api yang sulit.
Namun, katanya, ada sejumlah langkah yang berpotensi efektif mengurangi dampaknya. Salah satunya dengan meningkatkan penugasan tim pembasahan lahan, khususnya di wilayah ring 1 Bandara Syamsudin Noor.
“Penugasan tim pembasahan lahan, terutama di wilayah ring 1 bandara, terus ditingkatkan, baik dari jumlah personel yang terlibat maupun mesin pompa dan sarana prasarana pendukung,” ujarnya, 31 Agustus.
BPBD Kalsel telah memetakan wilayah rawan dan membaginya jadi tiga zona prioritas penanganan. Zona I mencakup ring 1 bandara atau kawasan Banjarbakula, zona II wilayah Banua Anam, dan zona III kawasan timur Meratus.
Mereka pun telah menyiapkan pola pencegahan lahan kembali kering di kawasan yang berulang kebakaran. Meliputi pembasahan kanal, serta penyediaan sumur bor dan kolam penampung air.
BPBD, katanya, juga menyiapkan langkah perlindungan pada kelompok rentan. Imbauan mengurangi aktivitas di luar rumah, penggunaan masker, hingga penyediaan sarana, prasarana, dan logistik pendukung layanan kesehatan melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan serta pemangku otoritas lainnya.
BPBD juga menyiapkan jalur bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan evakuasi, termasuk melalui kerja sama dengan tim SAR gabungan.
Untuk permukiman yang terancam kebakaran, dia bilang telah memperkuat koordinasi dengan organisasi pemadam kebakaran swadaya.
“Tim SAR gabungan juga disiapkan apabila warga membutuhkan bantuan evakuasi.”

Janji Jumhur
Saat meninjau penanganan karhutla di Banjarbaru, 24 Agustus, Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup (LH) mengatakan, pemerintah tengah upaya penegakan hukum terhadap pihak yang berkontribusi terhadap karhutla.
Sampai saat ini, ada 42 perusahaan di Kalimantan yang menjadi target penindakan berkontrubusi menyebabkan kebakaran.
“Dari jumlah tersebut, 11 perusahaan terindikasi kuat,” katanya.
Selain perusahaan, katanya, penegakan hukum juga menyasar individu—sebanyak 72 orang telah ditetapkan tersangka di sembilan Polda.
“Untuk urusan pidana perorangan, kita kolaborasi dengan kepolisian. Sementara untuk denda dan sanksi kepada perusahaan kewenangankementerian. Khusus perusahaan, nanti akan ada denda untuk biaya pemulihan lingkungan. Nilainya besar. Semoga bisa dimanfaatkan supaya karhutla tidak terulang.”

*****
Karhutla Kalsel, Menyoal Penegakan Hukum, Dorong Peradilan Lingkungan