- Pepohonan cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbuh di pesisir Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, membuat wilayah ini terasa sejuk.
- Vegetasi tersebut menjadi benteng alami yang melindungi kawasan pantai dan wilayah di belakangnya. Ada tiga manfaat utama cemara laut bagi kawasan pesisir, yakni mengurangi abrasi, menahan angin yang membawa kadar garam, serta membantu meredam dampak angin kencang.
- Manfaat tersebut paling berdampak pada petani. Sebelum pesisir dihijaukan, angin laut yang langsung menerpa lahan pertanian membuat daun tanaman mudah kering. Terutama, ketika memasuki musim kemarau. Setelah lingkungan terlindungi, petani mulai menanam cabai, terong, semangka, dan melon.
- Tegakan cemara laut berfungsi sebagai tanggul angin alami. Angin yang bergerak bebas membawa pasir dan uap garam tertahan pohon. Butiran pasir kemudian mengendap dan membentuk akumulasi di sekitar tegakan.
Pepohonan cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang tumbuh di pesisir Desa Lembupurwo, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, membuat wilayah ini terasa sejuk.
Munadi, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Cemara Lembupurwo yang memiliki 15 anggota, mengatakan penghijauan itu dimulai sejak 2008. Sekarang, luasnya mencapai 70 hektar, yang 50 hektar berupa area cemara laut dan 20 hektar wilayah mangrove.
“Dulu, pantai ini panas sekali. Sebelumnya, kawasan ini bekas muara Sungai Wawar yang menjadi daratan setelah terjadi kemarau panjang sekitar 1992,” jelasnya, Sabtu (29/8/26).

Vegetasi tersebut menjadi benteng alami yang melindungi kawasan pantai dan wilayah di belakangnya. Ada tiga manfaat utama cemara laut bagi kawasan pesisir, yakni mengurangi abrasi, menahan angin yang membawa kadar garam, serta membantu meredam dampak angin kencang.
Manfaat tersebut paling berdampak pada petani. Sebelum pesisir dihijaukan, angin laut yang langsung menerpa lahan pertanian membuat daun tanaman mudah kering. Terutama, ketika memasuki musim kemarau.
“Palawija dan hortikultura yang umumnya gagal panen.”
Setelah lingkungan terlindungi, petani mulai menanam cabai, terong, semangka, dan melon.
“Bahkan, kelapa juga sebelumnya mengalami gangguan akibat tingginya paparan kadar garam.”

Pertanian di pinggir pantai
Marsono Utomo, petani di Lembupurwo, menanam melon di lahan satu hektar. Dalam kondisi cuaca dan tanaman yang baik, produksinya mencapai 10 ton sekali panen.
Melon butuh waktu sekitar 80 hari hingga panen. Saat kemarau, penyiraman harus dilakukan intensif agar pertumbuhannya maksimal.
“Dulu kami tidak berani menanam melon, karena air laut dan uapnya merusak daun,” ujarnya, Sabtu (29/8/26).
Tumijo, petani setempat mengatakan, kini dia menanam pepaya di lahan 5.000 meter persegi. Pepaya mulai dapat dipanen sekitar tujuh bulan setelah ditanam. Ketika produksi tinggi, hasilnya mencapai dua ton.
“Harga jualnya mengikuti kondisi pasar. Di tingkat petani sekitar Rp5.000 per kg,” jelasnya.
Petani lainnya, Liwon, mengatakan kawasan tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk kegiatan produktif. Terdapat 15 kelompok beraktivitas di sini.
“Dalam satu musim tanam, hasil penjualan melon dapat mencapai Rp50 juta, bergantung pada produksi dan harga jual,” ujarnya.

Benteng pesisir
Beny Harjadi dalam penelitian berjudul “Peran Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) dalam Perbaikan Iklim Mikro Lahan Pantai Berpasir di Kebumen” (2017) menunjukkan peran cemara laut mengubah kondisi lingkungan yang semula keras menjadi lebih ramah.
“Cemara laut mampu menurunkan pencahayaan matahari hingga 88 persen, sehingga suasana di bawah pohon menjadi lebih teduh.”
Karakter pantai berpasir memiliki kerentanan tersendiri. Tanah kasar dan mudah lepas sangat sensitif terhadap erosi angin. Pasir yang terbawa angin dapat menutupi tanaman dan kawasan permukiman di belakang pantai. Butiran pasir yang mengandung garam juga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Tegakan cemara laut berfungsi sebagai tanggul angin alami. Angin yang bergerak bebas membawa pasir dan uap garam tertahan pohon. Butiran pasir kemudian mengendap dan membentuk akumulasi di sekitar tegakan. Pohon tidak hanya menjadi peneduh, tetapi juga pagar hijau yang menjaga kawasan pesisir.
“Terhalangnya uap garam-garaman memberikan ruang tumbuh tanaman budidaya di sekitarnya.”

Dari sisi lingkungan, perubahan yang dihasilkan cemara laut memberikan gambaran bahwa upaya penghijauan pesisir tidak semata berkaitan menanam pohon. Vegetasi menjadi bagian penting sistem perlindungan alami pantai. Pohon mengatur cahaya, menciptakan keteduhan, membantu menjaga suhu, menahan laju angin, serta menangkap pasir yang terus bergerak.
“Penghijauan cemara laut memberikan dampak positif terhadap perbaikan iklim mikro di pantai berpasir. Cemara laut mampu menghalangi angin, menahan pasir, menciptakan ruang lebih teduh dan perlahan memperbaiki lingkungan sekitarnya,” jelas penelitian tersebut.
Referensi:
Harjadi, B. (2017). Peran Cemara Laut (Casuarina equisetifolia) dalam Perbaikan Iklim Mikro Lahan Pantai Berpasir di Kebumen. Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, 1(2), 73–81. https://garuda.kemdiktisaintek.go.id/documents/detail/787226
*****