Di antara burung-burung besar Afrika, sebagian besar dikenal lewat kemampuan terbangnya. Namun sabana yang luas juga menyediakan ruang bagi jenis yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di tanah. Mereka menyusuri padang rumput dan semak dengan berjalan kaki, mengais, dan menggali untuk mencari makan tanpa perlu mengepakkan sayap. Pola hidup seperti ini membuat mereka sangat bergantung pada kondisi lanskap, mulai dari ketersediaan mangsa sampai lokasi untuk bersarang. Kekeringan, penggembalaan berlebih, atau hilangnya pohon besar dapat langsung memengaruhi kelompok burung yang menggantungkan hidup pada lanskap tersebut.
Salah satunya adalah rangkong tanah selatan (Bucorvus leadbeateri), rangkong terbesar di dunia yang tersebar di sabana dan semak Afrika bagian selatan. Burung setinggi sekitar 90 sentimeter ini memangsa serangga, katak, mamalia kecil, dan reptil, termasuk ular berbisa. Bentang sayapnya mencapai sekitar 1,2 sampai 1,8 meter, tetapi ia lebih sering berjalan daripada terbang. Kebiasaan itu membawanya menjelajah wilayah yang sangat luas, dan sejumlah penelitian di Afrika Selatan telah mengukur seberapa besar ruang yang ia perlukan serta mengapa jumlahnya menyusut.
Pemburu darat yang hidup berkelompok
Rangkong tanah selatan menghuni sabana dan semak di Afrika bagian selatan. Burung ini bersifat karnivora dan berburu sambil berjalan, biasanya bersama anggota kelompoknya. Meski tampak garang, ia cenderung menjauhi manusia dan hanya menyerang bila merasa terancam atau perlu membela diri.
Jantan dan betina dapat dibedakan dari kantong kulit di tenggorokan yang disebut pial (wattle). Pial jantan sepenuhnya berwarna merah, sedangkan betina memiliki bercak kulit berwarna ungu kebiruan. Pada musim kawin, jantan menggembungkan pialnya untuk menarik betina. Pial itu juga dipakai untuk mengeluarkan suara menggelegar yang begitu keras sehingga kerap disangka auman singa.

Burung ini hidup dalam kelompok beranggotakan dua sampai sembilan individu dan tercatat sebagai burung terbesar di dunia yang berbiak secara kooperatif. Anggota kelompok di luar pasangan utama membantu menjaga sarang, mempertahankan wilayah, dan memberi makan betina serta anakan. Sebuah penelitian genetik di Provinsi Limpopo, Afrika Selatan, bahkan mencatat dua kasus kawin di luar pasangan di antara empat kelompok, sehingga burung ini tidak sesetia yang diperkirakan sebelumnya. Di sejumlah budaya setempat, rangkong tanah dipandang sebagai pertanda kematian, anggapan yang ikut memengaruhi cara manusia memperlakukannya.
Wilayah luas, sarang terbatas, dan tekanan manusia
Kebutuhan ruang rangkong tanah selatan sangat besar. Penelitian pelacakan GPS terhadap enam kelompok di Taman Nasional Kruger mengumpulkan 37.060 titik lokasi dan menemukan bahwa semua kelompok mempersempit wilayah jelajahnya selama musim berbiak. Wilayah setiap kelompok hanya mencakup delapan dari 72 tipe tutupan lahan yang ada, dan sebagian besar kelompok tidak memiliki akses yang sama ke semua tipe tersebut.
Di luar kawasan lindung, wilayahnya bisa lebih luas lagi. Studi di Lembah Limpopo mencatat wilayah jelajah satu kelompok seluas sekitar 19.372 hektare, atau sekitar 194 kilometer persegi, kira-kira dua kali lipat dibandingkan kelompok di cagar alam. Luasnya berubah menurut musim, yakni sekitar 13.409 hektare pada musim panas dan 5.280 hektare pada musim dingin. Para peneliti juga mencatat bahwa burung ini sempat menghilang dari lembah tersebut pada kurun 1950-an sampai 1970-an.
Pergerakan kelompok di Limpopo mengikuti ketersediaan makanan. Pada musim dingin, ketika jumlah serangga paling sedikit, kelompok itu mencari makan di satu lokasi selama beberapa hari. Setelah itu mereka berpindah ke bagian lain wilayahnya dengan jarak hingga sekitar 20 kilometer. Para peneliti menilai perpindahan tersebut terarah, kemungkinan untuk menguji area makan lain sebelum kembali ke area yang lebih produktif.
Menjelang akhir musim dingin, gerak harian kelompok sempat dibatasi kurang dari 500 meter di satu lahan dengan kepadatan satwa berkuku yang tinggi. Pada musim hujan, ketersediaan makanan meningkat sehingga kelompok dapat mencari makan di area yang lebih luas. Berdasarkan temuan itu, para peneliti menduga ketersediaan makanan menjadi faktor utama yang menentukan luas wilayah jelajah di lanskap semiarid tersebut.
Keterbatasan sarang menjadi hambatan lain bagi pertumbuhan populasi. Rangkong tanah memerlukan rongga pohon alami untuk bersarang, dan jumlahnya terbatas. Studi di wilayah dengan kotak sarang tambahan di timur laut Afrika Selatan menemukan bahwa peluang kelompok untuk berbiak berkaitan dengan luas wilayah jelajah dan curah hujan tahun sebelumnya. Keberhasilan anakan hingga bisa terbang berkaitan dengan waktu bertelur yang lebih awal, ketinggian sarang, serta ketebalan dinding rongga.
Ancaman terhadap burung ini datang dari berbagai arah, antara lain pencemaran, penebangan hutan, pestisida, dan perluasan lahan pertanian. Banyak individu sengaja diracun karena dianggap merusak jendela ketika menyerang bayangannya sendiri. Burung ini juga diburu untuk ritual dan pengobatan tradisional. Selama abad ke-20, sebaran dan jumlahnya di Afrika Selatan menyusut sekitar dua pertiga.
Karena berumur panjang dan berkembang biak lambat, populasi rangkong tanah selatan sulit pulih setelah mengalami tekanan. Secara global spesies ini berstatus Rentan (Vulnerable), sementara di Afrika Selatan statusnya Terancam Punah (Endangered). Penelitian tentang ruang jelajah dan kebutuhan sarang menunjukkan bahwa upaya pelestarian perlu mencakup lahan yang luas dan ketersediaan rongga pohon, selain mengurangi perburuan dan peracunan.
Referensi:
Theron, N., Jansen, R., Grobler, P., & Kotze, A. (2013). The home range of a recently established group of Southern ground-hornbill (Bucorvus leadbeateri) in the Limpopo Valley, South Africa. Koedoe, 55(1), Article 1135. https://doi.org/10.4102/koedoe.v55i1.1135