- Asal usul kelelawar selama ini diduga berasal dari Afrika atau Amerika Utara. Namun, penelitian genomic skala besar yang digagas konsorsium internasional Bat1K berhasil merombak peta evolusi kelelawar secara komprehensif.
- Hasil analisis para ilmuwan menunjukkan nenek moyang kelelawar modern berasal dari Eropa dengan tingkat dukungan statistik 99,2%. Keturunannya kemudian menyebar ke Afrika, lalu ke Amerika, Asia, dan Australia pada awal kala Eosen.
- Dari Asia daratan, gelombang kolonisasi kelompok kelelawar ini terus berlanjut menyeberangi jembatan darat dan gugusan kepulauan Asia Tenggara, hingga akhirnya mencapai kawasan Oseania dan Australia.
- Indonesia sendiri memiliki keanekaragaman kelelawar tertinggi di Asia Tenggara dan menjadikan Sulawesi sebagai pusat endemisme global (global endemicity hotspot). Tercatat 239 spesies kelelawar di Indonesia, terdiri atas 158 pemakan serangga dan 81 pemakan tumbuhan.
Sejak lama, asal-usul geografis kelelawar menjadi perdebatan hangat di kalangan ilmuwan akibat keterbatasan fosil dan sinyal molekuler yang saling bertentangan. Jika sebelumnya, kelelawar diduga berasal dari Afrika atau Amerika Utara, maka penelitian genomik skala besar yang digagas konsorsium internasional Bat1K, berhasil merombak peta evolusi kelelawar secara komprehensif.
Alhasil, kesimpulan para peneliti menyebut nenek moyang kelelawar kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir periode Paleosen. Penelitian yang dilakukan Ariadna E. Morales dan tim dalam studi berjudul “Reference genomes and fossils revise bat family phylogeny and biogeography” di Nature (2026), menganalisis rakitan genom tingkat kromosom dari 103 spesies yang mewakili seluruh 21 famili kelelawar hidup, serta mengintegrasikan data dari 44 fosil prasejarah.
Para peneliti berhasil menyusun pohon filogeni dan garis waktu biogeografi yang akurat hingga saat ini. Hasil analisis menunjukkan, nenek moyang kelelawar modern berasal dari Eropa dengan tingkat dukungan statistik 99,2%. Keturunannya kemudian menyebar ke Afrika, lalu ke Amerika, Asia, dan Australia pada awal era Eosen.
“Kelelawar, dan dengan demikian terbang bertenaga (powered flight), kemungkinan besar berasal dari Eropa pada akhir Paleosen,” tulis Morales dan tim dalam publikasinya.
Setelah muncul di Eropa, garis keturunan kelelawar purba ini menyebar ke Afrika dan menjadikan kawasan Eropa–Afrika sebagai pusat migrasi utama. Dari sana, mereka melakukan radiasi adaptif dan ekspansi wilayah secara pesat ke Benua Amerika, Asia, hingga Australia, yang terdorong kondisi iklim hangat selama periode Paleocene Eocene Thermal Maximum (PETM) atau sekitar 56 juta tahun lalu.

Selain itu, penempatan fosil purba yang disebut Vielasia dalam kelompok kelelawar paling tua (Eochiroptera) membuktikan bahwa sistem navigasi ekolokasi laring telah berevolusi sebelum kelompok kelelawar modern berdiversifikasi. Ini mengindikasikan bahwa kemampuan terbang dan ekolokasi berkembang saling terikat sejak tahap awal sejarah evolusi kelelawar.
Data genomik tingkat kromosom berhasil memecahkan ketidakpastian taksonomi dengan menempatkan famili kelelawar kaki-perekat asal Madagaskar (Myzopodidae) sebagai cabang paling awal di dalam superfamili Vespertilionoidea. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa kerumitan silsilah terdahulu pada subordo Yangochiroptera disebabkan tingginya peristiwa perkawinan silang kuno (introgression) antargaris keturunan.
“Kelelawar leluhur terbukti memiliki 26 kromosom. Berbeda dengan kebanyakan mamalia lainnya, evolusi struktur genom kelelawar modern didominasi oleh peristiwa fusi (penggabungan) kromosom, ketimbang pemisahan (fisi) atau translokasi,” tulis para peneliti.
Studi ini memetakan dinamika migrasi global kelelawar melalui pemodelan biogeografi berbasis benua dan kawasan makro. Berawal dari Afrika sekitar 57,1 juta tahun lalu, kelompok Yinpterochiroptera mengalami radiasi adaptif dan penyebaran ke arah timur menuju benua Asia pada pertengahan Eosen. Dari Asia daratan, gelombang kolonisasi kelompok kelelawar ini terus berlanjut menyeberangi jembatan darat dan gugusan kepulauan Asia Tenggara hingga akhirnya mencapai kawasan Oseania dan Australia.
Sementara, kelelawar pemakan buah (Pteropodidae) dan kelelawar tapal kuda (Rhinolophidae) yang saat ini hidup melimpah di Sulawesi dan seluruh wilayah Indonesia merupakan keturunan langsung dari jalur ekspansi kuno Yinpterochiroptera yang berhasil melintasi garis biogeografi Asia Tenggara hingga wilayah Wallacea.

Sulawesi pusat endemisitas kelelawar
Indonesia memiliki keanekaragaman kelelawar tertinggi di Asia Tenggara dan menjadikan Sulawesi sebagai pusat endemisme global (global endemicity hotspot). Tercatat, 239 spesies kelelawar di Indonesia, terdiri atas 158 pemakan serangga dan 81 pemakan tumbuhan. Angka-angka tersebut terungkap dalam studi yang dilakukan oleh Ramadhana dan tim (2026) dalam penelitian berjudul “Diversity of Bats (Chiroptera) in Various Habitats in Bualemo Sub-district, Central Sulawesi, Indonesia.”
Penelitian tersebut mengidentifikasi ratusan individu dari berbagai spesies sub-ordo Yangochiroptera dan Yinpterochiroptera menggunakan metode penangkapan jaring kabut serta perangkap harpa di beberapa lokasi seperti hutan sekunder, perkebunan, dan sungai. Studi tersebut mengutip catatan bahwa sekitar 72 spesies kelelawar tercatat di Sulawesi, 18 di antaranya endemik.
Tim yang melakukan penelitian di Kecamatan Bualemo, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, ini berhasil menjaring 474 individu dari 23 spesies selama 31 malam survei pada Juni dan Juli 2024.

Kelelawar memainkan tiga peran ekologis utama dalam ekosistem, yaitu, pertama, sebagai penyerbuk tanaman (pollinators) yang membantu proses penyerbukan berbagai jenis tumbuhan. Kelelawar membantu penyerbukan tanaman dengan bertindak sebagai penyerbuk yang memindahkan serbuk sari saat mengunjungi bunga. Peran kelelawar dalam penyerbukan tanaman bernilai ekonomi dan ekologi di Sulawesi, yakni seperti pohon durian serta pohon dari famili Bombacaceae.
Kedua, sebagai pemencar atau penebar biji (seed dispersers), yang membantu menebar biji-bijian seperti Ficus), yang penting bagi regenerasi dan vegetasi hutan. Ketiga, sebagai pengontrol hama serangga, dengan cara memangsa populasi serangga sehingga membantu mengendalikan keberadaan hama di ekosistem.
“Namun kerusakan atau hilangnya tutupan hutan sekunder menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup kelelawar serta perburuan menjadi ancaman utama kelelawar di Sulawesi,” tulis peneliti.
Para peneliti menekankan pentingnya menjaga dan mengonservasi berbagai tipe habitat seperti hutan sekunder dan kawasan bervegetasi guna mempertahankan keanekaragaman serta kestabilan populasi kelelawar dari ancaman-ancaman tersebut.
Referensi:
Morales, A.E., Liang, Y., Thomas, W.R. et al. Reference genomes and fossils revise bat family phylogeny and biogeography. Nature 658, 141–152 (2026). https://doi.org/10.1038/s41586-026-11007-3
Ramadhana, U. M., Khairiah, R., Masrianih, Windarsih, Y., Aprianto, R., Katili, A., Sayende, A., Nursin, L. S., & Yusti, E. (2026). Diversity of bats (Chiroptera) in various habitats in Bualemo sub-district, Central Sulawesi, Indonesia. Treubia, 52(2), 107–130. https://doi.org/10.55981/treubia.2025.13420
*****
Nasib Kelelawar: Mampu Bertahan dari berbagai Virus, tetapi Tidak dari Manusia