- Langit Kalimantan Tengah menguning dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) yang terus meluas. Hidup masyarakat pun jadi makin susah, hingga ganggu ekonomi sampai kesehatan masyarakat.
- Data Dasbor Informasi Penanganan Karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 Oktober 2026 menunjukkan, luas lahan terbakar indikatif mencapai 22.790,83 hektar dengan titik panas 3.835.
- Temuan Pantau Gambut, kanal membelah ekosistem gambut sepanjang 281.253 kilometer. Masing-masing berada di Sumatera, 174.208,71 kilometer, Kalimantan 105.878 kilometer dan Papua 1166,80 kilometer. Pengeringan melalui kanalisasi ini membuat kemampuan gambut mempertahankan kelembapannya menurun drastis. Kondisi ini membuat gambut menjadi sangat mudah terbakar dan merambat ke lapisan organik di bawah permukaan.
- Khawatir dengan karhutla yang makin membara dan makin berisiko, warga di Kalteng berunjuk rasa, 15 Oktober 2026. Yang menginisasi aksi ini Kongres Rakyat Kalimantan Tengah (KRKT), melibatkan sekitar 14 organisasi kemasyarakatan (ormas).
Langit Kalimantan Tengah menguning dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) yang terus meluas. Kualitas udara kategori berbahaya dan jarak pandang hanya sejauh dua meter. Hidup masyarakat pun jadi makin susah, hingga ganggu ekonomi sampai kesehatan masyarakat.
Data Pemerintah Kalimantan Tengah mencatat, hingga 8 Oktober 2026, karhutla mencapai 5.937 kejadian seluas 17.530,18 hektar. Angka itu berdasarkan laporan Pos Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Kalteng.
Luasan kebakaran terus bertambah. Data Dasbor Informasi Penanganan Karhutla Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 15 Oktober 2026 menunjukkan, luas lahan terbakar indikatif mencapai 22.790,83 hektar dengan titik panas 3.835.
Dalam rentang 8–15 Oktober, luas lahan terbakar bertambah 5.260,65 hektar. Area itu setara 79 kali luas Jakarta International Stadium (JIS), jika menggunakan luas kawasan sekitar 66 hektar sebagai pembanding.
Charles, pengemudi ojek daring tengah terbatuk-batuk ketia Mongabay temui 15 Oktober 2026 di tempat berkumpulnya pengemudi Gojek di Kalteng.
Sekitar setahun terakhir, Charles menggantungkan pekerjaan sebagai pengemudi ojek daring. Ketika kabut asap karhutla makin pekat dan langit tampak menguning dalam sepekan terakhir, dia tetap harus turun ke jalan.

Baginya, berhenti bekerja berarti kehilangan pemasukan harian keluarganya perlukan untuk menyambung hidup.
“Sebenarnya sih, ada asap maupun enggak ada asap, tetap harus kerja kan ya. Bedanya saat ini orangnya lebih sepi karena asap. Jadi orang jarang ada yang keluar,” kata Charles.
Sebagai pekerja yang menghabiskan sebagian besar di jalanan, Charles berhadapan langsung dengan paparan asap. Selama sekitar sepekan, dia batuk, sakit tenggorokan, dan mata perih. Keluhan itu muncul ketika kualitas udara di sekitarnya memburuk.
“Kita juga di lapangan otomatis dampaknya lebih kena kita gitu. Makanya mata makin perih, tenggorokan juga sudah terasa sakit. Bahkan sudah semingguan saya batuk-batuk,” kata pria 29 tahun ini.
Charles mengatakan, keluhan serupa juga menimpa sejumlah ojek daring lain. Beberapa pengemudi memilih beristirahat selama beberapa hari karena kondisi tubuh menurun setelah terpapar asap dan kelelahan bekerja di jalanan.
Namun, bagi pekerja yang mengandalkan pendapatan harian, beristirahat terlalu lama bukan pilihan mudah. Ketika tubuh perlu pemulihan, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi.
“Kalau teman-teman ada sih yang rehat beberapa hari, memang akibat asap dan capek juga. Tapi enggak bisa rehat seterusnya karena harus dapat pendapatan juga,” katanya.

Pendapatan warga menurun
Di tengah meluasnya kebakaran, dampak asap tidak hanya penurunan kualitas udara dan gangguan kesehatan. Aktivitas ekonomi warga pun ikut tertekan, terutama mereka yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan di luar ruangan.
Berkat, pedagang di Kalteng merasakan langsung dampak itu. Asap pekat membuat pembeli menurun drastis. Penghasilan, semula bisa Rp400.000 sehari, kini merosot sekitar Rp50.000.
“Biasanya, Rp400.000, itu jadinya bisa Rp50.000 saja. Sangat berdampak sekali untuk perdagangan kita seperti kita ini,” katanya, 11 Oktober 2026.

Menurut dia, pembeli sepi seiring berkurangnya aktivitas warga di luar rumah. Kawasan tempat dia berjualan biasa ramai pada sore hari, terutama anak-anak yang datang untuk bersantai.
Ketika asap makin pekat, keramaian itu menghilang.
“Yang singgah biasanya sore ramai anak-anak di sini untuk santai-santai. Sekarang sudah enggak ada lagi, sepi. Jadi ya sangat terganggu,” katanya.
Penurunan pendapatan itu bukan satu-satunya persoalan yang Berkat hadapi. Dia juga sesekali pusing dan sesak napas di tengah kondisi udara yang memburuk.
Meski begitu, dia tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau untuk kesehatan, kalau sakit sedikit-sedikit, kita alhamdulillah masih bisa mengatasi.”

Membara di lahan gambut
Analisis Pantau Gambut, dalam periode Januari-Agustus 2026 lahan gambut yang terbakar sekitar 243.241 hektar. Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi provinsi dengan kebakaran gambut paling luas, 73,207 hektar. Disusul Kalimantan Tengah (61,101 hektar) dan Papua Selatan (48.060 hektar).
Saat ini, petugas dan relawan di lapangan masih mengandalkan metode water bombing, nozzle tanam dan pemanfaatan kanal sebagai sumber air.
Meski terbukti memiliki fungsi dan batasan spesifik yang saling melengkapi, metode itu dia nilai belum menyentuh akar permasalahan ekologis.
Putra Septian, Senior Campaigner Pantau Gambut mengatakan, water bombing memang membantu menyiram api di permukaan serta menjangkau wilayah yang sulit terakses, tetapi tidak menjamin api di bawah permukaan gambut ikut padam.
Sebaliknya, injeksi air atau nozzle tanam yang mengalirkan air langsung ke lapisan gambut berpotensi lebih efektif memadamkan api bawah permukaan. Terutama dengan dukungan, pompa, selang, dan pasokan air memadai, meskipun metode ini perlu sumber daya sangat besar.

Putra bilang, peristiwa ini merupakan konsekuensi dari kerusakan ekosistem dan tata kelola yang gagal mencegah kebakaran sejak awal.
Salah satu faktor lahan gambut mudah terbakar karena proses pengeringan melalui kanalisasi untuk perkebunan.
Temuan Pantau Gambut, kanal membelah ekosistem gambut sepanjang 281.253 kilometer. Masing-masing berada di Sumatera, 174.208,71 kilometer, Kalimantan 105.878 kilometer dan Papua 1166,80 kilometer.
Pengeringan melalui kanalisasi ini membuat kemampuan gambut mempertahankan kelembapannya menurun drastis. Kondisi ini membuat gambut menjadi sangat mudah terbakar dan merambat ke lapisan organik di bawah permukaan.
“Risiko kebakaran juga berkaitan dengan keputusan politik terkait tata ruang, pemberian dan pengawasan izin, pengelolaan hidrologi, serta pertanggungjawaban pihak-pihak yang aktivitasnya meningkatkan kerentanan ekosistem.”
Dia mendesak pemerintah untuk mengevaluasi pendekatan penanganan yang selama ini terlalu berorientasi pada respons darurat saat api sudah meluas.
Pengadaan helikopter, penambahan pompa, pembangunan sumur bor, dan pengerahan personel dia nilai tak akan menyelesaikan persoalan secara struktural apabila penyebab kerentanan gambut terus lanjut.

Protes warga
Khawatir dengan karhutla yang makin membara dan makin berisiko, warga di Kalteng berunjuk rasa, 15 Oktober 2026. Yang menginisasi aksi ini Kongres Rakyat Kalimantan Tengah (KRKT), melibatkan sekitar 14 organisasi kemasyarakatan (ormas).
Mereka aksi damai ke depan Gedung DPRD dan Kantor Gubernur Kalteng menyoroti penanganan karhutla dan dampak kabut asap yang hingga kini menjadi persoalan serius.
Dalam aksi itu, massa menyampaikan empat tuntutan utama, yakni, pertama, transparansi anggaran penanganan karhutla dari pemerintah pusat ke daerah. Kedua, pertanggungjawaban pemerintah pusat dan daerah dalam menyelesaikan persoalan karhutla dan kabut asap.

Ketiga, kejelasan penegakan hukum terhadap korporasi dengan izin dicabut Kementerian Kehutanan. Keempat, penetapan status bencana nasional.
“Kabut asap segera ditetapkan sebagai bencana nasional, agar pemerintah pusat lebih memprioritaskan penanganannya,” kata Damai Alam Usop saat aksi.
Pada 12 Oktober lalu, Presiden Prabowo Subianto adakan pertemuan daring dengan kepala daerah untuk membahas perkembangan karhutla. Agustiar Sabran, Gubernur Kalteng juga hadir bersama Edy Pratowo, Wakil Gubernur dan Linae Victoria Aden, Sekda Kalteng.
Dalam kesempatan itu, Prabowo mengatakan, akan mengirimkan 200 pompa air untuk memperkuat upaya pemadaman karhutla di Kalteng. Pemerintah pusat, juga berjanji bikin 200 sumur bor.
Harapannya, bantuan pusat itu bisa mempercepat penyediaan sumber air di dekat lokasi karhutla.


*****