- Novita, orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) betina usia sekitar 5 tahun, ditemukan bertahan di atas pohon sengon di kawasan Katune, Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 25 September 2026. Kawasan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar hebat.
- Novita berhasil diselamatkan, namun penderitaannya belum berakhir. jaringan di beberapa bagian tubuhnya rusak. Dokter hewan BOSF akhirnya memutuskan untuk mengamputasi empat ruas jari kaki Novita. Proses pemulihannya butuh perhatian berkelanjutan.
- Sementara itu, BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sejauh ini telah menyelamatkan 46 individu orangutan yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan.
- Temuan Geopix menyebutkan sepanjang 1 Juni hingga 12 Oktober 2026, tercatat 572.261 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan, dengan puncak peningkatan pada September 2026.
Novita adalah nama yang disematkan untuk orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) betina usia sekitar 5 tahun. Dia ditemukan bertahan di atas pohon sengon di kawasan Katune, Banturung, Kecamatan Bukit Batu, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 25 September 2026. Kawasan tempatnya mencari makan dan berlindung telah terbakar hebat.
Selama dua hari, tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, dan TNI berupaya mengevakuasinya dari lokasi tersebut. Novita berhasil diselamatkan, namun penderitaannya belum berakhir.
“Kami menyelamatkannya dari area yang terbakar. Sebelum kami mencapainya, ia harus berjalan melewati api untuk mencapai pohon dan memanjatnya, sehingga telapak kaki dan jari-jarinya terbakar,” kata Jamartin Sihite, Ketua Yayasan BOS, seperti dikutip Phys.org, Jumat (9/10/26).
Hal itu membuat jaringan di beberapa bagian tubuhnya rusak. Dokter hewan akhirnya memutuskan untuk mengamputasi empat ruas jari kaki Novita.
Luka bakar itu bukan sekadar meninggalkan bekas pada tubuhnya. Cedera pada tangan dan kaki berpotensi memengaruhi kemampuan Novita untuk bergerak, memanjat, mencari makanan, dan bertahan hidup di hutan. Proses pemulihannya butuh perhatian berkelanjutan.
Yayasan BOS lalu meluncurkan kampanye penggalangan dana bertajuk “Beri Novita Kesempatan Kedua”. Kampanye diumumkan pada 10 Oktober 2026 lalu, dengan menargetkan penggalangan dana hingga US$20.000. Pada Sabtu malam (17/10/26), dana yang terkumpul telah mencapai US$3.427. Dana tersebut ditujukan untuk mendukung pemulihan Novita setelah berhasil diselamatkan dari kebakaran.
Novita bukan satu-satunya orangutan korban kebakaran hutan yang berhasil diselamatkan. Pada 14 Oktober, seekor orangutan betina berumur sekitar 20 tahun yang kemungkinan kelaparan, dievakuasi oleh BKSDA Kalimantan Tengah dan Orangutan Foundation International (OFI), di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Orangutan yang belum diberi nama itu terlihat warga yang lalu melaporkan kepada petugas.
“Orangutan saat terdesak kebakaran akan berpindah ke tempat lebih baik. Kami menduga kuat orangutan tadi mencari makan dan terlihat warga, kemudian dilaporkan kepada petugas BKSDA,” ujar Muriansyah, Komandan BKSDA Pos Sampit, dikutip dari Antara.

Sementara itu, BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) sejauh ini telah menyelamatkan 46 individu orangutan yang menjadi korban kebakaran hutan dan lahan.
Dari jumlah tersebut, delapan individu yang telah dinyatakan sehat mulai ditranslokasikan pada 9 Oktober ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang. Pemindahan itu menjadi tahap lanjutan setelah satwa dievakuasi dari habitat yang terbakar dan menjalani pemeriksaan kesehatan serta observasi.
“Upaya penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penyelamatan dan translokasi. Keduanya merupakan bagian dari strategi konservasi yang lebih luas,” kata Murlan Dameria Pane, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, dikutip dari Antara.
Argitoeranting, Direktur Operasional YIARI, mengatakan pemilihan lokasi pelepasliaran harus mempertimbangkan ketersediaan pakan, sumber air, ruang jelajah, dan keterhubungan dengan kawasan hutan lainnya. Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis.
Kawasan seluas sekitar 23 ribu hektar ini memiliki tutupan hutan primer dan sekunder serta terhubung dengan sejumlah kawasan hutan lindung dalam lanskap Arabella–Schwaner. Berdasarkan survei pada 2023, kawasan itu merupakan habitat alami orangutan dengan daya dukung ekologis yang dinilai memadai.
IUCN telah memperingatkan bahwa kebakaran hutan terjadi di habitat yang menampung 52 persen populasi orangutan kalimantan. Selama musim kemarau, Indonesia selalu menghadapi bencana kebakaran hutan. Tahun ini kondisi tersebut diperparah fenomena cuaca El Niño.

Hotspot meningkat
Temuan Geopix menyebutkan sepanjang 1 Juni hingga 12 Oktober 2026, tercatat 572.261 titik panas (hotspot) di seluruh Kalimantan, dengan puncak peningkatan pada September 2026. Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah tertinggi, mencapai 289.785 hotspot (50,6 persen), disusul Kalimantan Barat sebanyak 165.527 hotspot (28,9 persen), dan Kalimantan Timur dengan 58.220 hotspot (10,2 persen).
Di tingkat kabupaten/kota, Ketapang menduduki peringkat tertinggi sebanyak 89.086 hotspot. Berikutnya, Pulang Pisau (54.836 hotspot), Kotawaringin Timur (45.533 hotspot), Kapuas (41.065 hotspot), dan Seruyan (31.639 hotspot).
Sebanyak 440.010 hotspot (76,89 persen) terdeteksi di habitat orangutan. Lanskap Sebangau, Seruyan-Sampit, dan Kahayan-Kapuas menjadi wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Disusul Gunung Palung-Sungai Putri, dan Muller-Schwaner (Western).
Mengutip laporan organisasi kampanye yang bekerja pada isu lingkungan dan satwa liar ini, ada peningkatan dampak kebakaran hutan terhadap habitat orangutan kalimantan. Berdasarkan data pemantauan, sebelumnya seluas 25,8 juta hektar menjadi 28,9 juta hektar, atau naik 7,4 persen.
“Situasinya semakin parah, ketika kebakaran mengancam habitat orangutan dalam skala sebesar. Kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan populasi orangutan dan masa depan ekologis Kalimantan, khususnya kesehatan dan harapan hidup masyarakat Kalimantan,” kata Annisa Rahmawati, senior wildlife campaigner Geopix, dalam rilis yang diterima Mongabay Indonesia, Jumat (16/10/26).

Ancaman kebakaran juga meluas ke kawasan konservasi, seperti Taman Nasional Tanjung Puting dan Taman Nasional Sebangau. Di Taman Nasional Tanjung Puting total area terdampak mencapai 136.969,4 hektar atau 33,20 persen dari luas kawasan. Sementara di Taman Nasional Sebangau total area terdampak mencapai 37.685,9 hektar atau 7,01 persen dari luas kawasan.
Di sekitar dua taman nasional ini, terdapat wilayah konsesi perkebunan sawit, pertambangan, dan perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Kebakaran yang terjadi di wilayah usaha ini turut meningkatkan risiko kerusakan habitat dan penjalaran api ke kawasan konservasi.
Laporan juga menggarisbawahi kebakaran yang menembus hingga ke kawasan gambut di kedua taman nasional. Akibatnya, potensi terjadinya kerusakan kanopi hutan primer dan sekunder semakin besar. Selain itu, pohon pakan alami orangutan menjadi musnah, koridor jelajah terputus (habitat fragmentation), serta potensi konflik dengan manusia meningkat akibat orangutan keluar kawasan untuk mencari perlindungan.
Temuan tersebut dihasilkan lewat analisis spasial dan overlay peta. Juga, analisis kesehatan tumbuhan yang diperoleh dari citra satelit sebelum dan sesudah kebakaran. Data hotspot bersumber dari Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Kehutanan (SiPongi), sementara kondisi tutupan lahan menggunakan citra satelit Sentinel-2A. Peta wilayah dan data kualitas udara juga digunakan dalam laporan.
Geopix mendesak pemerintah untuk menetapkan status darurat konservasi orangutan kalimantan dan menyusun rencana aksi penyelamatan yang dilengkapi target, anggaran, pembagian tanggung jawab, dan mekanisme evaluasi.
*****
Akibat Karhutla, 7 Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang