- Jelajah Meratus episode terakhir bercerita tentang bagaimana energi terbarukan terangi Desa Juhu yang tertinggi di Kalimantan Selatan.
- Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA) menginisiasi pemasangan PLTS di sana. Dan berpotensi mengawinkannya dengan PLTMH yang pernah beroperasi di Juhu. Jika terealisasi, jadi hybrid pertama di Kalsel.
- Sistem seperti ini bukan konsep baru di Indonesia. Kementerian ESDM, katanya, pernah mengembangkan sistem hibrida PLTS–PLTMH untuk mengombinasikan karakter dua sumber energi tersebut. etika debit air menurun pada musim kemarau, energi surya dapat membantu menopang pasokan listrik. Begitu sebaliknya. Bagi Desa Juhu, konsep ini penting untuk menjawab kebutuhan listrik masyarakat yang tinggal jauh dari jaringan listrik.
- GAWIREA sebelumnya memperkirakan PLTMH Juhu dapat menghasilkan sekitar 16 kilowatt. Dalam simulasi, penambahan PLTS mereka perkirakan mampu menghasilkan sekitar 21,4 kilowatt. Penggabungan keduanya menghasilkan potensi daya sekitar 38 kilowatt.
Desa Juhu, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), riuh dan warga bertepuk tangan seiring listrik menyala kembali di desanya. Akhir Juli, Andi Rosita Dewi, Founder & CEO Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA), menyalakan power station berkapasitas 500 watt di RT1 dan RT2 desa tertinggi di Kalsel itu.
Namun, listrik itu kembali mati 5 menit kemudian. Ita, panggilan akrabnya, sengaja melakukan itu karena khawatir masih ada warga yang menggunakan genset. Kalau kedua menyuplai listrik bertemu pada waktu yang sama, tegangan yang masuk berpotensi tabrakan, mengganggu sistem kelistrikan di semua rumah, dan berisiko kebakaran.
Dia hanya menyalakan listrik di Rumah Pinan, warga Desa Juhu, tempat kami menginap. Dalam semenit, colokan di terminal listrik jadi incaran. Kabel pengisi daya, sebagian besar untuk telepon seluler dan powerbank, memenuhi alat itu.
Malam itu, warga datang menyambut kami yang tiba dari luar daerah. Mereka penasaran apa yang akan tim lakukan.
Rupanya, warga di desa yang berdiri pada 520 mdpl itu akrab dengan berbagai perangkat elektronik yang membutuhkan listrik, sementara pasokan daya yang tersedia masih sangat terbatas.
Ketika mereka butuh listrik, genset jadi andalan. Harga bakar di Juhu jauh lebih mahal. Alliyudin, warga desa, mengatakan, harga bensin bisa mencapai Rp35.000 per liter, termasuk campuran oli samping.
Fenomena itu sama seperti bahan pokok. Warga datangkan semua barang iu dari Hinas Kiri, titik terakhir yang terjangkau kendaraan bermotor. Dari sana, barang mereka bawa berjalan kaki dua hari. Porter biasa mematok ongkos Rp25.000 per kilogram sekali angkut.
Mahalnya biaya mendatangkan listrik membuat beberapa warga yang kurang mampu terpaksa andalkan getah pohon damar sebagai penerangan. Namun, nyalanya terbatas, baik dari jangkauan cahaya maupun lamanya waktu terbakar.

Pendidikan energi bersih
Meski belum sepenuhnya pulih setelah stamina terkuras dalam perjalanan, Yuansen Tio, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, bersama dosennya, Ayyub Muhajid, serta Ita, bergegas menuju Sekolah Dasar Negeri Juhu, esok paginya. Di sana, mereka memberikan edukasi kepada anak-anak sejak dini tentang pentingnya energi bersih dan menjaga alam agar tetap lestari.
Ayyub menjelaskan pentingnya energi bersih yang dapat memberikan harapan hidup berkepanjangan bagi anak-anak. Dia bilang, energi bersih memberikan dampak pembangunan yang memaksimalkan efisiensi sumber daya dan meminimalisir limbah.
“Ini disebut ekonomi sirkular yang menjaga pelestarian alam.”
Ekonomi sirkular itu, katanya, untuk memelihara dan memulihkan sistem alam yang terus tergerus. Konsep ini menghilangkan dan meminimalisasi produksi limbah hingga harapannya, mampu mendaur ulang produk dan sistem sejak awal agar tidak menghasilkan limbah.
“Hal ini akan berdampak besar kepada anak-anak yang memegang tongkat estafet pembangunan.”

Ketika acara di sekolah selesai, siangnya, tim mengundang warga Desa Juhu bersama-sama merumuskan kebutuhan dan harapan mereka jika listrik benar-benar tersedia di kampung. Pertemuan itu sekaligus jadi ruang bagi warga untuk membicarakan pengelolaan dan pemanfaatan energi bersih sesuai kebutuhan masyarakat.
Menariknya, peserta yang hadir dominan perempuan, dari yang muda hingga lanjut usia. Mereka berkumpul di sekolah adat untuk menyampaikan pendapat dan menentukan kebutuhan energi bagi kehidupan sehari-hari.
Ita bilang, keterlibatan perempuan bukan sekadar sebagai peserta. Dalam pengelolaan energi bersih di Desa Juhu, seperti program-program GAWIREA lainnya di beberapa daerah, mereka dorong perempuan berperan dalam menentukan kebutuhan, penggunaan, hingga pengambilan keputusan terkait energi. Sementara laki-laki, berdasarkan kesepakatan bersama, hanya boleh berperan jika ada sebagian pekerjaan yang tidak dapat perempuan lakukan.
Awalnya, rencana kegiatan itu dalam dua musyawarah, yakni musyawarah bersama seluruh warga dan pembentukan kelompok perempuan. Namun, keterbatasan waktu dan pemberitahuan yang mendadak membuat seluruh warga tidak dapat berkumpul, yang akhirnya, pertemuan lebih banyak perempuan.
Menurut dia, perempuan menjadi kelompok penting karena merekalah yang paling merasakan beban ketiadaan listrik dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menyiapkan api untuk memasak, mengumpulkan kayu bakar, hingga mengurus kebutuhan keluarga dalam kondisi gelap.
“Perempuan ini yang paling dirugikan dengan tidak adanya listrik dan paling terdampak pekerjaannya. Misalkan mereka harus memasak, menyalakan api, mengumpulkan kayu bakar dan segala macamnya.”
Dalam pertemuan, tim tidak sekadar menanyakan kebutuhan listrik, juga menggali pengalaman dan keresahan perempuan selama hidup tanpa akses energi yang memadai. Warga menyusun “pohon harapan” untuk menggambarkan apa yang ingin mereka lakukan jika energi terbarukan tersedia di Juhu.
Ada pula “pohon keresahan” yang menjadi ruang bagi mereka untuk menyampaikan hal-hal yang selama ini membuat tidak nyaman atau khawatir. Misal, rasa takut ketika harus keluar rumah dalam kondisi gelap, kesulitan menyiapkan makanan pada dini hari, hingga kerepotan ketika harus merawat anak yang sakit pada malam hari.
Setelah itu, mereka menyusun “pohon prioritas”. Dari sini, perempuan Juhu menentukan kebutuhan apa saja yang jadi prioritas jika listrik tersedia.
“Harapannya, energi bersih tidak sekadar membuat rumah terang, tetapi benar-benar mengurangi beban pekerjaan domestik yang selama ini mereka tanggung.”
Tim juga memetakan “jam kehidupan” perempuan Juhu. Hasilnya menunjukkan panjangnya waktu yang mereka habiskan untuk pekerjaan rumah tangga setiap hari.
Mereka jadi tahu perempuan Juhu bangun pukul 03.00 atau 04.00. Mereka bangun untuk menyiapkan api, sarapan, makan dan segala macam urusan domestik.
“Mereka juga tidur paling akhir, sekitar jam 9 atau 11 malam, setelah anak dan keluarga tidur. Mereka masih harus beres-beres setelah memasak atau makan malam.”

Pernah ada energi komunitas
Desa Juhu sempat memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Jina, salah satu pengelola, bilang, masyarakat sebelumnya andalkan energi listrik yang bersumber dari aliran air itu untuk penerangan. Namun, kini tidak lagi berfungsi setelah beberapa kali rusak karena banjir.
Pembangunan PLTMH, swadaya dengan melibatkan gotong royong para pemuda komunitas adat. Energi komunitas ini selesai tahun 2022-2023 dan menghasilkan listrik sekitar 4.000 watt. Meski berkapasitas kecil, listrik PLTMH sempat membantu memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga warga di sejumlah RT.
Namun, aliran air yang deras saat banjir berulang kali, merusak bangunan dan fasilitas PLTMH.
“Memang kesadaran masyarakat juga kurang, untuk membayar iuran pemeliharaan, ada yang bayar ada yang tidak. Tetapi semua warga tetap dialiri listrik,” kata Jina.
Kondisi itu membuat terbatas biaya perbaikan, masyarakat juga membutuhkan kemampuan teknis untuk menangani kerusakan peralatan secara mandiri. Persoalan ini, katanya, menunjukkan pembangunan energi di wilayah adat tidak cukup hanya dengan memasang pembangkit.
Sistemnya juga perlu sesuai dengan kondisi alam setempat, juga kemampuan masyarakat untuk mengoperasikan, merawat, dan memperbaikinya.
Dia berharap pengembangan energi di Juhu ke depan tidak hanya berorientasi pembangunan infrastruktur, tetapi memperkuat kapasitas warga sebagai pengelola.
“Kalau ada yang rusak, masyarakat di sini harus bisa memperbaiki sendiri. Jadi bukan hanya dibangun, tetapi juga ada orang yang bisa mengelolanya.”

Hybrid pertama di Kalsel?
Melihat potensi PLTMH yang pernah terbangun di Juhu, Ita berencana mendesain ulang sistem teknis pembangkit tersebut agar dapat gabung dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Konsep itu, katanya, akan menggabungkan dua sumber energi terbarukan—air dan matahari—dalam satu sistem pembangkit listrik hibrida (hybrid).
Sistem seperti ini bukan konsep baru di Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), katanya, pernah mengembangkan sistem hibrida PLTS–PLTMH untuk mengombinasikan karakter dua sumber energi itu.
Ketika debit air menurun pada musim kemarau, energi surya dapat membantu menopang pasokan listrik juga sebaliknya. Bagi Desa Juhu, konsep ini penting untuk menjawab kebutuhan listrik masyarakat yang tinggal jauh dari jaringan listrik.
GAWIREA sebelumnya memperkirakan PLTMH Juhu dapat menghasilkan sekitar 16 kilowatt. Dalam simulasi, penambahan PLTS mereka perkirakan mampu menghasilkan sekitar 21,4 kilowatt. Penggabungan keduanya menghasilkan potensi daya sekitar 38 kilowatt.
Jika tercapai, Ita bilang Jugu berpeluang menjadi salah satu contoh pengembangan pembangkit listrik tenaga hibrida pertama PLTMH–PLTS off-grid di Kalsel.
Baginya, persoalan listrik di Juhu bukan semata membangun pembangkit. Ia menyangkut hak dasar masyarakat memperoleh akses energi.
“Harapannya Desa Juhu benar-benar mendapatkan hak dasarnya sebagai manusia dan warga negara terhadap akses energi, karena energi adalah hak dasar.”
Keberadaan masyarakat yang hingga kini masih sulit mendapatkan akses listrik menunjukkan pembangunan energi belum sepenuhnya menjangkau wilayah terpencil.
“Di sini ada masyarakat di Meratus yang masih belum tersentuh listrik. Seharusnya negara hadir. Sebab, setahu aku, Juhu di bawah Gunung Meratus ini masih bagian dari Indonesia, masih ada di peta.” (Selesai)

*****
Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]