Perubahan iklim menekan sistem pangan dunia dari banyak arah. Gelombang panas, kemarau panjang, dan pola hujan yang sulit ditebak mengganggu produksi tanaman pokok seperti padi, gandum, dan jagung, yang sebagian besar ditanam dalam skala luas dan bergantung pada pasokan air yang stabil. Karena itu, sejumlah peneliti mulai menengok tanaman yang selama ini kurang diperhatikan, terutama jenis yang bisa tumbuh dengan perawatan minim dan relatif mampu bertahan di bawah tekanan lingkungan.
Salah satu yang kini banyak diteliti adalah nangka (Artocarpus heterophyllus), buah terbesar yang tumbuh di pohon. Rekor buah terberat secara keseluruhan memang dipegang labu raksasa, tetapi labu tumbuh merambat di tanah, sedangkan nangka bergantung pada batang pohon untuk menopang buahnya yang bisa mencapai puluhan kilogram. Tanaman yang berasal dari hutan hujan Ghats Barat di India ini sudah lama menyebar ke Asia Tenggara, Afrika tropis, dan Amerika, dan di Indonesia dikenal akrab sebagai bahan gudeg, sayur lodeh, hingga buah meja. Sebuah studi dari India kini menyoroti keragaman nangka sebagai modal untuk mengembangkan tanaman ini di tengah iklim yang berubah.
Keragaman Nangka di Wilayah Kering
Studi yang terbit di jurnal Scientific Reports itu meneliti 94 pohon nangka di wilayah kering Karnataka, India selatan. Tim dari ICAR-Indian Institute of Horticultural Research mensurvei pohon-pohon tersebut di distrik Tumkur dan Bengaluru Rural antara 2020 dan 2023. Tumkur dipilih karena memiliki zona iklim yang beragam dan kondisi ekologis yang luas, sementara pohon-pohon yang diteliti tumbuh dari biji di pekarangan rumah dan hutan sekunder dengan perawatan yang sangat minim.
Para peneliti mencatat bahwa hampir seluruh bagian pohon nangka dapat dimanfaatkan. Buah mudanya dimasak sebagai sayur atau pengganti daging, buah matangnya dimakan segar, dan bijinya yang mengandung vitamin B1 dan B2 biasa direbus atau dibakar. Buah dan bijinya juga diolah menjadi keripik, tepung, acar, hingga es krim, dan di wilayah rawan pangan, kandungan karbohidratnya yang tinggi membuat nangka berfungsi sebagai pelengkap makanan pokok.

Hasil pengukuran menunjukkan perbedaan yang besar antarpohon. Buah terkecil yang dicatat beratnya sekitar 1 kg, sedangkan yang terbesar mencapai lebih dari 13 kg, dengan rata-rata hampir 6 kg. Warna daging buahnya juga bervariasi dari kuning hingga merah jingga, dan jenis merah jingga banyak ditemukan di wilayah Gubbi, Tumkur, meski menurut peneliti jarang dijumpai di wilayah lain di India.
Keragaman tersebut berkaitan dengan cara nangka berkembang biak. Nangka umumnya diserbuki silang dan diperbanyak dengan biji, sehingga pohon yang tumbuh tidak pernah benar-benar sama dengan induknya. Dalam analisis peneliti, pohon-pohon dari lokasi yang sama bahkan tidak selalu memiliki sifat yang mirip, yang menunjukkan bahwa faktor genetik lebih berperan daripada kedekatan geografis.
Keragaman sebagai Bekal Menghadapi Iklim
Keragaman inilah yang membuat nangka dinilai menjanjikan dari sisi pemuliaan tanaman. Semakin beragam sifat pohon dalam suatu populasi, semakin banyak pilihan yang tersedia bagi pemulia untuk mencari pohon yang cocok dengan kondisi tertentu. Menurut peneliti, basis genetik yang kaya penting bagi program pemuliaan yang bertujuan meningkatkan hasil panen, mutu buah, dan toleransi terhadap cekaman lingkungan.
Dari 94 pohon, peneliti memilih 11 pohon unggul berdasarkan ukuran buah, ketebalan daging buah, dan porsi bagian yang dapat dimakan. Pohon-pohon ini kemudian diuji rasa dan kandungan gizinya, dan hasilnya menunjukkan tingkat kemanisan yang bervariasi, dengan beberapa di antaranya sangat manis. Nangka berdaging jingga juga tercatat memiliki kandungan karotenoid, likopen, dan antioksidan yang lebih tinggi dibanding yang berdaging kuning.

Analisis DNA memperlihatkan keragaman genetik yang tinggi di antara pohon-pohon terpilih. Kesebelas pohon tersebut kini dilestarikan di lahan petani, di Biro Nasional Sumber Daya Genetik Tanaman di New Delhi, dan di repositori plasma nutfah ICAR-IIHR di Bengaluru. Pendekatan yang dipakai disebut participatory breeding, yaitu pemuliaan yang melibatkan petani dan masyarakat setempat sejak tahap pemilihan pohon, sehingga petani pemilik pohon unggul juga bisa memperoleh penghasilan dari penjualan buah dan bibit.
Para penulis menyebut pohon-pohon unggul ini berpotensi memperluas budi daya nangka mengingat sifatnya yang tahan iklim, dan menekankan perlunya memprioritaskan kemampuan adaptasi terhadap iklim dalam pemuliaan. Namun, studi ini tidak mengukur secara langsung respons nangka terhadap kekeringan atau suhu tinggi. Peneliti juga mengakui bahwa kondisi lingkungan bisa memengaruhi sifat yang diamati dan cakupan wilayah studinya terbatas, sehingga mereka menyarankan pengambilan sampel yang lebih luas di masa depan.
Kendala lain juga masih ada. Nangka masih sering digolongkan sebagai buah minor karena varietas unggulnya belum banyak, mutu buahnya beragam, pohonnya rentan terhadap hama penggerek, dan pohon yang tumbuh dari biji umumnya baru berbuah setelah 8 hingga 10 tahun. Studi ini mencatat bahwa upaya serupa untuk menilai keragaman nangka juga telah dilakukan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
**
Referensi:
Karunakaran, G., Dinesh, M. R., Ravishankar, K. V., Prakash, K., Kanupriya, C., Singh, P., Arivalagan, M., & Ruchitha, T. (2025). Characterization of jackfruit Artocarpus heterophyllus Lam. for economic traits in dry zones of Karnataka, India. Scientific Reports, 15, 6830. https://doi.org/10.1038/s41598-025-91810-6