- Pada peringatan Hari Tani Nasional, 24 September 2026, ada deklarasi dua gerakan baru: Gerakan Muda Pejuang Reforma Agraria (Gemara) dan Komite Persiapan Konfederasi Serikat Perempuan Pejuang Reforma Agraria (SPPRA).
- Yani Srimulyani, Koordinator KPA Wilayah Jawa Barat sekaligus Ketua Federasi Perempuan Pejuang Reforma Agraria di sana mengatakan, pembentukan SPPRA awalnya mandat lama, sejak Munas KPA VIII pada 2021. Keterlibatan perempuan dalam serikat tani bukan hal baru. Secara historis, perempuan sudah lama aktif dalam penguasaan lahan hingga penataan produksi. Namun, jarang ada pengakuan setara dalam pengambilan keputusan organisasi.
- Dewa Jagat Satria, Ketua Komite Persiapan Gemara mengatakan, sekitar 80% anggota gerakan ini merupakan pemuda dan pemudi dari tapak, yakni petani, organisasi rakyat, anak-anak pengurus serikat tani hingga anak muda yang memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan konflik agraria. Sekitar 20% berasal dari pengurus KPA di tingkat wilayah dan pemuda yang tinggal di kota.
- Sejauh ini sudah terbentuk tujuh Federasi Perempuan Pejuang Reforma Agraria (PPRA) di tujuh provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Banten, Jambi, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Ia menaungi 34 serikat di tingkat kabupaten.
Pada peringatan Hari Tani Nasional, 24 September 2026 di Jakarta, ada deklarasi dua gerakan baru sayap Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA): Gerakan Muda Pejuang Reforma Agraria (Gemara) dan Komite Persiapan Konfederasi Serikat Perempuan Pejuang Reforma Agraria (SPPRA).
Yani Srimulyani, Koordinator KPA Wilayah Jawa Barat sekaligus Ketua Federasi Perempuan Pejuang Reforma Agraria di sana mengatakan, pembentukan SPPRA awalnya mandat lama, sejak Munas KPA VIII pada 2021.
Sejauh ini sudah terbentuk tujuh Federasi Perempuan Pejuang Reforma Agraria (PPRA) di tujuh provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Banten, Jambi, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Ia menaungi 34 serikat di tingkat kabupaten.
Menurut Yani, keterlibatan perempuan dalam serikat tani bukan hal baru. Secara historis, katanya, perempuan sudah lama aktif dalam penguasaan lahan hingga penataan produksi. Namun, jarang ada pengakuan setara dalam pengambilan keputusan organisasi.
“Seringkali perempuan ini dianggap sebagai pelengkap, perempuan identik dengan pekerjaan urusan sumur, kasur, dan dapur. Padahal, tidak begitu,” katanya.
Perempuan, katanya, garda terdepan dalam perjuangan hak atas tanah dan reforma agraria sejati. Mereka menjadi yang paling terdampak dan sering berada dalam garis terdepan dalam melawan.
Para perempuan yang gabung di KPA dan serikat tani, sudah banyak yang membangun Akademi Reforma Agraria Sejati (ARAS).
Di wilayahnya, Yani menyebut, Serikat Petani Pasundan sudah membangun Gedung ARAS Siti Halimah sebagai tempat konsolidasi, pelatihan, dan pertukaran pengalaman antarperempuan pejuang agraria.
Yani contohkan capaian konkret dari kerja panjang di Serikat Petani Pasundan, kepemilikan lahan hasil reforma agraria kini hampir 59% tercatat atas nama perempuan.
Dia juga menyinggung capaian sosial yang lebih luas dari gerakan serikat tani, yaitu, Serikat Petani Pasundan. Ia membangun 13 sekolah secara swadaya dan gotong royong, dari jenjang PAUD hingga SMK, di desa-desa basis konfliknya.
“Karena kami memandang bahwa tidak akan ada kesejahteraan rakyat tanpa melalui reforma agraria. Karena hanya melalui reforma agrarialah, itu jembatan emas dalam mewujudkan kesejahteraan buat petani.”
Yani dan jaringan perempuan pejuang reforma agraria terlibat aktif dalam mendorong dan mengawal RUU Reforma Agraria (PRA) hingga akhirnya berhasil menjadi Undang-undang.
Namun, baginya ini bukan titik akhir perjuangan. Mereka akan terus mengawal serta mengingatkan pemerintah dalam pelaksanaan reforma agraria sejati.
“Kami tidak akan berhenti.”

Rosina, perempuan asal Kecamatan Banda Alam, Aceh Timur menjadi salah satu dari 63 anak muda yang mendeklarasikan Gemara.
Dia bergabung dengan gerakan ini bukan karena ikut-ikutan. Perempuan 26 tahun itu mengalami langsung dampak dari konflik agraria hingga baginya perjuangan reforma agraria itu mutlak.
Dia bercerita, ketika usia 18 hari, ayahnya kena hajar orang tak dikenal. Peristiwa itu terjadi saat penyerobotan lahan oleh perusahaan karet sedang memanas di desanya.
Saat itu, katanya, sudah banyak lahan-lahan warga beralih ke tangan perusahaan dengan ganti rugi yang tidak setimpal. Warga sudah kehilangan lahan dan kebun, sedang uang yang masuk saku tak seberapa.
Sebagian warga terpaksa bekerja di perusahaan demi menghidupi keluarga, termasuk ayahnya. Pilihan itu pun tidak menyelamatkan keluarganya. Justru, nyawa sang ayah hilang.
Demi keselamatan, ibu Rosina membakar semua foto keluarga, terutama yang terpampang muka sang ayah. Hingga kini, Rosina belum pernah melihat muka ayahnya.
Warga takut dengan perusahaan. Setiap ada yang memberontak, kena intimidasi pasukan berseragam hijau. Ibunya bahkan pernah luka-luka kena pukuli.
Dia menyebut perampasan lahan di kampungnya sudah berlangsung sejak lama. Tahun 1990-an, perusahaan masuk menggarap tanah yang sebelumnya mereka tanami palawija, coklat, dan kelapa.
Lebih 20 tahun setelah peristiwa-peristiwa itu terjadi, penyelesaian konflik agraria tak pernah hadir di kampungnya. Dengan bergerak bersama para pemuda dan pemudi, Rosina berharap keadilan bisa terwujudkan.
Data Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) menunjukkan, 5.071 orang jadi korban konflik agraria sepanjang 2004-2025, sebanyak 165 orang tewas, 2.053 teraniaya, 219 tertembak dan 4.832 orang kena kriminalisasi.

Gemara dan agraria perkotaan
Dewa Jagat Satria, Ketua Komite Persiapan Gemara mengatakan, sekitar 80% anggota gerakan ini merupakan pemuda dan pemudi dari tapak, yakni petani, organisasi rakyat, anak-anak pengurus serikat tani hingga anak muda yang memiliki pengalaman langsung berhadapan dengan konflik agraria.
Sekitar 20% berasal dari pengurus KPA di tingkat wilayah dan pemuda yang tinggal di kota.
Dia menilai, setiap individu pada akhirnya mempunyai cara beragam untuk memperjuangkan reforma agraria.
Dalam misi penyadaran agraria, misal, anak-anak muda di kota banyak berdiskusi dengan berbagai elemen seperti mahasiswa/BEM, aktivis bantuan hukum/ LBH, jurnalis muda, serta komunitas literasi.
Menurut dia, kesadaran reforma agraria di kalangan muda di perkotaan lebih minim dari yang tinggal di tapak. Ini menjadi tantangan bagi Gemara.
Padahal, masalah agraria juga banyak di perkotaan, misal, penyerobotan ruang hidup untuk pembangunan mall atau bangunan-bangunan megah/perkantoran.
Hal ini, katanya, bisa terjadi karena terdapat mispersepsi terhadap definisi agraria. Masalah agraria selalu dianggap terjadi di desa dan menimpa pada petani. Padahal, setiap penggusuran atau penyerobotan lahan, di mana pun berada, juga merupakan konflik agraria.
Pardes, pemuda Palembang yang tergabung dalam Gemara juga menyoroti tantangan serupa. Menurut dia, penyempitan definisi agraria ini tak lepas dari narasi buatan rezim orde baru.
Di bawah kekuasaan Soeharto, pejuang reforma agraria kerap dicap sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).
Saat rezim itu, Soeharto juga menebarkan narasi buruk soal PKI dan melarang partai itu di Indonesia.
Narasi-narasi itu, katanya, berkembang selama puluhan tahun Soeharto berkuasa. Walhasil, tidak heran jika kata agraria asing bagi sebagian orang, terutama anak muda.
Meski begitu, Pardes dan Dewa sangat optimis banyak anak muda yang mulai mencari tahu apa soal reforma agraria.
Di era internet dan mudah peroleh informasi, kata Dewa, anak muda mempunyai referensi bacaan melimpah, tidak merujuk pada satu sumber, apalagi, sumber produksi orba.
Peran anak muda sangat penting dalam perjuangan reforma agraria. Terlebih, anak muda adalah penyimpan dan pengelola data yang baik.
Anak muda, katanya, akrab dengan teknologi dan bisa memanfaatkannya untuk reforma agraria.
Misal, anak-anak muda menggunakan teknologi untuk mengetahui, mengukur, mencatat dan mendokumentasikan wilayah adat mereka dan tanah mereka.
Database spasial yang lengkap dan akurat adalah syarat utama reforma agraria. Ia akan memudahkan mereka melindungi wilayahnya.
“Setiap di daerah itu anak muda yang paling interest dengan bagaimana cara bisa pakai handphone, bisa pakai ini itu, titik aja koordinat. Sebenarnya yang penting itu kan itu wilayah mengamankan dulu wilayah,” ucapnya.
Dewa juga mengatakan Gemara akan mendobrak gaya-gaya lama dalam gerakan perjuangan reforma agraria. Gerakan ini, katanya, akan pegang prinsip egaliter. Keanggotaan atas nama individu bukan kelompok hingga aspirasi bisa langsung dari individu tanpa tahapan rumit.
Dia berharap, makin banyak anak muda berjuang bersama Gemara untuk reforma agraria.

*****