Di antara mamalia besar yang hidup saat ini, paus paruh termasuk kelompok yang paling sedikit dipahami ilmuwan. Famili Ziphiidae ini mencakup sekitar 24 spesies yang umumnya hidup di laut lepas yang dalam, jauh dari garis pantai. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah permukaan dan hanya muncul sebentar untuk bernapas, sehingga jarang teramati. Akibatnya, banyak spesies lebih dikenal dari bangkai yang terdampar dan tengkorak di koleksi museum daripada dari pengamatan langsung di alam.
Karena itu, temuan di Zona Fraktur Diamantina, barat daya Australia, penting bagi penelitian kelompok paus ini. Di dasar laut kawasan tersebut, pada kedalaman 4.616 hingga 7.001 meter, tim peneliti menemukan tulang paus paruh yang sudah punah jutaan tahun lalu tergeletak di area yang sama dengan sisa spesies yang masih hidup hingga kini. Tim dari Institute of Deep-sea Science and Engineering, Chinese Academy of Sciences, itu melakukan 32 penyelaman dengan kapal selam berawak Fendouzhe pada 8 Februari hingga 17 Maret 2023 dan mencatat 485 titik berisi fosil maupun bangkai paus. Hasil penelitian ini terbit di jurnal Nature pada Juni 2026.
Arsip Tulang dari Lima Juta Tahun
Dua spesies paus paruh yang masih hidup teridentifikasi di situs ini, yaitu paus paruh Andrews (Mesoplodon bowdoini) dan paus paruh bergigi tali (Mesoplodon layardii). Di sekitarnya terdapat fosil dua spesies punah, Pterocetus benguelae dan Izikoziphius rossi. Tim juga mendeskripsikan satu spesies punah yang sebelumnya tidak dikenal, dan menamainya Pterocetus diamantinae.
Analisis isotop strontium menunjukkan umur fosil berkisar antara 120.000 hingga 5,26 juta tahun. Artinya, bangkai paus telah mengendap di kawasan ini setidaknya sejak awal zaman Pliosen dan terus berlanjut hingga sekarang. Di satu kawasan, peneliti dapat melihat genus yang sudah punah berdampingan dengan kerabatnya yang masih berenang di perairan yang sama, sesuatu yang sulit diperoleh dari catatan terdampar.

Kepadatan sisa paus di situs ini juga tinggi. Pada area seluas 0,64 kilometer persegi yang berhasil disurvei, kepadatannya mencapai sekitar 759 individu per kilometer persegi. Peng Zhou, salah satu penulis studi, memperkirakan jumlah sisa paus di seluruh zona tersebut bisa lebih dari 10 juta, walaupun angka itu masih berupa perkiraan kasar.
Dominasi paus paruh sebagian dijelaskan oleh struktur tubuhnya. Tulang moncong atau rostrum mereka sangat padat sehingga lebih tahan terhadap penguraian. Laju sedimentasi di kawasan ini juga sangat rendah, dan lapisan oksida besi-mangan yang terbentuk di permukaan tulang ikut membantu proses fosilisasi.

Selain fosil, tim menemukan lima bangkai yang masih aktif diurai oleh organisme laut dalam. Salah satunya adalah kerangka paus minke Antartika (Balaenoptera bonaerensis) sepanjang sekitar 5 meter, sementara bangkai paus paruh terdalam berada pada kedalaman 6.788,7 meter. Tim juga mencatat sisa paus sei (Balaenoptera borealis), spesies paus balin yang berukuran jauh lebih besar.
Menyelam Lebih Dalam dari Mamalia Lain
Paus paruh dikenal sebagai penyelam terdalam di antara mamalia. Pada 2014, seekor paus paruh Cuvier (Ziphius cavirostris) yang dipasangi alat pelacak tercatat menyelam hingga sekitar 2.992 meter dan bertahan di bawah air selama 137,5 menit. Penelitian lanjutan yang terbit pada 2020 mencatat penyelaman paus paruh Cuvier yang berlangsung hingga 222 menit.
Kemampuan ini berkaitan dengan cara mereka mencari makan. Paus paruh berburu cumi-cumi dan ikan di perairan dalam, jauh di bawah jangkauan sebagian besar mamalia laut lain. Dalam makalahnya, tim peneliti menduga kawasan Diamantina merupakan habitat berburu yang baik bagi paus paruh, dan risiko dari penyelaman ekstrem mungkin ikut menjelaskan banyaknya bangkai di sana.

Minimnya pengetahuan tentang kelompok ini terlihat dari sejumlah kasus. Paus paruh bergigi sekop (Mesoplodon traversii), misalnya, selama puluhan tahun hanya diketahui dari beberapa potong tulang, sampai dua individu terdampar di Selandia Baru pada 2010. Paus paruh Andrews yang ditemukan di Diamantina pun sebagian besar dikenal dari individu yang terdampar di pesisir Australia dan Selandia Baru, dan sangat jarang teramati hidup di laut.
Paus paruh juga tercatat rentan terhadap gangguan suara bawah air. Sejumlah peristiwa terdampar massal, termasuk di Bahama pada 2000 dan Kepulauan Canaria pada 2002, dikaitkan dengan penggunaan sonar militer di sekitar lokasi. Penelitian menunjukkan paus paruh mengubah pola menyelam saat terpapar suara tersebut, yang dapat memicu cedera.
Dengan informasi yang terbatas tentang populasi dan sebaran paus paruh, catatan dari dasar laut Diamantina memberi data pembanding tentang spesies yang pernah dan masih menghuni kawasan itu. Tim peneliti menyatakan baru sebagian kecil dari zona tersebut yang berhasil dieksplorasi. Survei lanjutan diperlukan untuk memastikan seberapa luas sebaran tulang paus di sana dan spesies apa lagi yang tersimpan di dalamnya.
**
Referensi:
Peng, X., Zhou, P., Song, X., Bianucci, G., Du, M., Collareta, A., Gao, Z., Xie, T., Teng, M., Leduc, D., Mills, S., Ta, K., Li, J., Wei, T., Dasgupta, S., Liu, H., He, Y., Xu, W., Liu, S., & Zhang, H. (2026). A 5.3-million-year-old deep-sea whale necropolis in the Diamantina Zone. Nature, 654(8120), 978–983. https://doi.org/10.1038/s41586-026-10546-z