- Habitat baru orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) ditemukan di hutan gambut di Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.
- Beberapa individu kera besar tersebut ditemukan tim survei Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Center (YOSL–OIC) pada 2024 lalu, yang terpisah sekitar 32 kilometer dari hutan Batang Toru.
- Namun, keberadaan orangutan tapanuli di hutan Lumut menghadapi ancaman. Selain jumlah populasi sedikit, luas habitatnya yang 1.200 hektar berstatus areal penggunaan lain (APL).
- Tanpa perlindungan segera, habitat baru orangutan tapanuli di hutan Lumut yang sempat membawa harapan, justru bisa menjadi saksi kepunahan yang lebih cepat.
Habitat baru orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) ditemukan di hutan gambut di Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.
Beberapa individu kera besar tersebut ditemukan tim survei Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Center (YOSL–OIC) pada 2024 lalu, yang terpisah sekitar 32 kilometer dari hutan Batang Toru. Akhir Oktober 2025, jurnalis Mongabay Indonesia melihat langsung induk dan anak orangutan terancam pubah ini.
Sebelumnya, berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016, populasi orangutan tapanuli tersebar di dua metapopulasi besar di bentang hutan Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Timur, Sumatera Utara.
Namun, keberadaan orangutan tapanuli di hutan Lumut menghadapi ancaman. Selain jumlah populasi sedikit, luas habitatnya yang 1.200 hektar berstatus areal penggunaan lain (APL).
“Ada pembukaan kebun baru di hutan yang membatasi laut dengan kampung kami. Sebelumnya, ada perusahaan yang ingin menanam sawit,” kata Aman Rida, warga Desa Lumut Maju, (Jumat, 26/9/2025).
Terkait orangutan tapanuli, warga telah lama mengetahuinya.
“Kami biarkan saja karena tidak mengganggu tanaman warga warga.”
Data OIC 2025 menunjukkan, hutan tersisa di Lumut kurang 1.000 hektar. Pembukaannya sangat cepat, banyak pohon besar ditumbangkan dan pembersihan lahan menggunakan alat berat.
“Ada sejumlah pihak memperebutkan hutan tersebut untuk dijadikan kebun sawit. Ini sangat berdampak pada orangutan dan kemi telah melaporkan ke pihak terkait, termasuk ke Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah,” terang Syafrizal Jpang, Direktur OIC, Minggu (22/12/2025).
Meskipun sejumlah daerah di Tapanuli Tengah wilayah lain di Provinsi Sumatera Utara baru saja dihantam banjir dan longsor, namun pembukaan lahan di Lumut tidak berhenti.
“Hasil pantauan tim kami menunjukkan, banyak pihak mulai mengklaim memiliki hutan itu. Kami khawatir, orangutan tidak bisa lagi beradaptasi dan mereka juga tidak terhubung dengan habitat lain.”
Padahal, lanjut Syafrizal, temuan habitat baru orangutan tapanuli di Lumut membuka potensi baru keberlangsungan spesies ini. Apalagi jika membawa sifat genetik unik.
“Kelompok orang utan ini bisa berperan sebagai cadangan genetik kritis untuk kelangsungan jangka panjang orangutan tapanuli.”

Bencana banjir
Banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam tiga provinsi di Pulau Sumatera akhir November 2025, menyebabkan seekor orangutan tapanuli betina menjadi korban. Ia ditemukan tim relawan di aliran Sungai Garoga, Desa Pulo Pakkat, Kabupaten Tapanuli Tengah, tersangkut di tumpukan kayu dan lumpur.
“Saat ditemukan yang terlihat hanya bagian kaki dan tangan,” sebut Decky Chandrawan, relawan Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Tapanuli Selatan, Jumat (12/12/2025).
Sejumlah ahli orangutan dalam Jurnal Preprints, mengungkapkan hujan ekstrem mengguyur Sumatera pada penghujung November 2025 dengan intensitas tinggi. Sekitar lima hari, curah hujan di beberapa wilayah mencapai lebih dari 1.000 milimeter. Banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan bentang alam Batang Toru, yang merupakan rumah orangutan tapanuli.
Laporan ilmiah tersebut ditulis Erik Meijaard dan kolega berjudul “Extreme Rainfall Event in Sumatra Caused Critical Habitat Loss and Lethal Impacts to the Critically Endangered Tapanuli Orangutan.:
“Cuaca ekstrem berpotensi membunuh atau melumpuhkan hingga 10% populasi orangutan tapanuli. Angka ini melampaui ambang batas kematian tahunan yang dapat ditoleransi. Studi sebelumnya menunjukkan, kehilangan lebih dari 1% populasi per tahun sudah cukup untuk mendorong spesies ini menuju kepunahan,” tulis laporan 15 Desember 2025 tersebut.
Menggunakan citra satelit Sentinel-2 dan Planet Scope sebelum dan sesudah bencana, para peneliti memetakan kerusakan hutan di Blok Barat Batang Toru, rumah inti orangutan Tapanuli. Hasilnya mencengangkan, 3.964 hektar hutan terkonfirmasi hilang akibat longsor dan sapuan banjir.
“Seluas 36% wilayah citra satelit tertutup awan, namun, kemungkinan besar hutan itu musnah diterpa bencana. Jika digabung, total kerusakan diperkirakan mencapai 6.451 hektar, setara 6-9% seluruh habitat di Blok Barat.”
Hutan yang menjadi tanah terbuka ini tidak akan menyediakan sumber pakan orangutan selama lima tahun ke depan. Dengan kerusakan yang terjadi, diperkirakan 33-54 individu orangutan terdampak. Artinya, 6,2-10,5% populasi orangutan tapanuli di Blok Barat kemungkinan mati atau cedera fatal.
“Masalah lain, banjir dan longsor menghancurkan kanopi hutan, memaksa orangutan turun ke tanah. Kondisi ini juga memaksa mereka ke habitat dataran tinggi yang kualitasnya lebih rendah, serta mendorong sebagian individu masuk ke permukiman manusia,” ungkap peneliti.

Habitat orangutan tapanuli rusak
Rianda Purba, Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara, menyatakan ekosistem Batang Toru dalam kondisi darurat ekologis yang mengarah ekosida. Ada alih fungsi hutan seluas 10.795 hektar di Batang Toru.
“Walhi memakai asumsi dalam tiap hektar ada 500 batang pohon. Dengan luas hutan yang dibuka tujuh perusahaan, diperkirakan 5,4 juta pohon hilang ditebang dalam sepuluh tahun terakhir,” ujarnya, Jumat (5/12/2025).
Deforestasi mencerminkan perubahan ruang yang tidak bisa lagi diperlakukan sebagai hal wajar untuk pembangunan.
“Kejahatan lingkungan yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis, menyebabkan kerusakan lingkungan sulit dipulihkan.”
Padahal, ekosistem Batang Toru penting penyangga tata air, pengendali erosi, sekaligus rumah bagi berbagai spesies endemik dan terancam punah, terutama orangutan tapanuli.
“Pembukaan hutan berarti memecah habitat, memutus koridor jelajah satwa, meningkatkan konflik satwa dengan manusia, dan mendorong kerusakan ekologis yang dampaknya melampaui batas konsesi,” tuturnya.

Panut Hadisiswoyo, peneliti orangutan yang juga Ketua YOSL–OIC, menegaskan bahwa banjir bandang dan longsor harus jadi peringatan serius pemerintah, termasuk Kementerian Kehutanan, untuk segera memperkuat langkah mitigasi. Penanganan bencana tidak hanya fokus pada keselamatan manusia, tetapi juga perlindungan satwa liar di habitat terdampak.
Temuan bangkai orangutan tapanuli jadi indikator kuat rusaknya ekosistem Batang Toru, khususnya di Blok Barat yang merupakan kantong populasi utama spesies ini.
“Potensi korban satwa lain juga sangat tinggi. Di Blok Barat Batang Toru hidup siamang, tapir, beruang madu, hingga harimau sumatera yang seluruhnya berstatus terancam punah,” ujarnya, Kamis (25/12/2025).
Bencana ini tidak bisa dipandang akibat hujan ekstrem. Kerusakan kawasan hulu dan masifnya alih fungsi lahan telah menggerus daya dukung hutan, sehingga memperbesar dampak bencana.
Data curah hujan di Tapanuli Tengah periode 23–28 November 2025 yang tinggi, dalam kondisi tutupan hutan yang utuh, seharusnya dapat diredam. Namun, daya dukung yang lemah membuat air hujan langsung melimpah dan memicu banjir bandang disertai longsor.
“Di banyak daerah aliran sungai, terutama bagian tengah, hutan sudah dibuka untuk perkebunan sawit, pertambangan emas, dan pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Tutupan hutan hilang, air hujan tidak lagi tertahan,” jelasnya.

Menurut Panut, kombinasi anomali cuaca akibat perubahan iklim dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali menjadi pemicu utama bencana ekologis di Batang Toru. Pengelolaan Batang Toru harus terintegrasi dan dalam kerangka tata ruang nasional. Pendekatan parsial dan sektoral tidak lagi memadai untuk menghadapi kompleksitas ancaman ekologis di kawasan tersebut.
“Intervensi pemerintah pusat sangat penting untuk menjaga lanskap Batang Toru. Dengan perlindungan kuat, ekosistem dapat dipertahankan dan risiko bencana diminimalkan. Manfaatnya bisa dirasakan langsung masyarakat, sekaligus menjamin kelangsungan hidup satwa liar.”
Kelompok masyarakat sipil juga menyerukan penetapan ekosistem Batang Toru sebagai KSN (Kawasan Strategis Nasional). Status ini dinilai penting untuk memperkuat perlindungan hukum, mengendalikan tata ruang lintas kabupaten, dan mengintegrasikan kebijakan konservasi lintas sektor.
“Apalagi, terdapat usulan pengurangan delineasi ekosistem Batang Toru dalam Rancangan Perda Tata Ruang Sumatera Utara, dari 240.000 hektar menjadi 160.000 hektar, yang berpotensi melemahkan perlindungan kawasan krusial ini,” ungkap Panut.
Di tengah perubahan iklim yang meningkatkan intensitas hujan ekstrem hingga 9–50% di wilayah Selat Malaka, masa depan orangutan tapanuli kian di ujung tanduk.
“Tanpa perlindungan segera, habitat baru di hutan Lumut yang sempat membawa harapan, justru bisa menjadi saksi kepunahan yang lebih cepat,” tegasnya.
*****