Ukuran ular raksasa selama ini lebih sering dibicarakan lewat cerita warga, foto yang sulit diperiksa, dan angka yang terus membesar dari satu sumber ke sumber lain. Bagi peneliti, angka yang dapat dipakai hanyalah hasil pengukuran langsung yang disertai saksi dan dokumentasi. Dengan syarat itu, daftar ular liar terbesar yang terverifikasi menjadi jauh lebih pendek daripada yang beredar di internet. Dua nama hampir selalu berada di puncaknya, yaitu sanca kembang (Malayopython reticulatus) dari Asia Tenggara sebagai ular terpanjang dan anaconda hijau dari Amerika Selatan sebagai ular terberat.
Pada awal 2026, Guinness World Records mengonfirmasi seekor sanca kembang betina bernama Ibu Baron dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara terverifikasi. Ular yang ditemukan pada akhir 2025 itu diukur pada 18 Januari 2026 dengan hasil 7,22 meter dari kepala hingga ujung ekor dan bobot 96,5 kilogram dalam kondisi perut kosong. Ketika angka itu disandingkan dengan data lapangan anaconda hijau, selisih bobot keduanya ternyata jauh lebih kecil daripada selisih panjangnya. Anaconda terbesar dalam penelitian lapangan di Venezuela tercatat sekitar 2 meter lebih pendek daripada Ibu Baron, tetapi bobotnya hampir sama.
Rekor Ibu Baron dan Catatan Lama dari Kalimantan Timur
Rekor Ibu Baron menggeser catatan lama yang dipublikasikan pada 2005. Catatan itu berasal dari Kalimantan Timur dan dilaporkan oleh peneliti beruang madu Gabriella Fredriksson di jurnal Raffles Bulletin of Zoology, untuk seekor sanca betina sepanjang 6,95 meter dengan bobot 59 kilogram. Ular tersebut tercatat karena menelan seekor beruang madu (Helarctos malayanus) betina dewasa yang sedang dipantau dengan kalung radio, sehingga sinyal kalung itu terlacak dari dalam tubuh ular.
Selisih panjang kedua ular ini kecil, tetapi selisih bobotnya cukup besar. Ibu Baron hanya 27 sentimeter lebih panjang daripada ular dari Kalimantan Timur, sementara bobotnya 37,5 kilogram lebih berat. Kondisi tubuh dan waktu terakhir ular itu makan ikut memengaruhi angka yang muncul saat penimbangan.

Angka panjang pun bergantung pada cara pengukuran. Diaz Nugraha, pawang ular berlisensi, dan fotografer alam Radu Frentiu mengukur Ibu Baron tanpa pembiusan, sehingga otot-ototnya tetap aktif dan tubuhnya tidak sepenuhnya lurus saat pita ukur dibentangkan. Karena itu Guinness memperkirakan panjang aslinya mendekati 7,9 meter, meski angka tersebut tidak diuji karena pembiusan hanya dilakukan untuk alasan keselamatan atau medis.
Baik 7,22 maupun 7,9 meter, ukuran itu jauh di atas sanca kembang dewasa pada umumnya, yang berkisar sekitar 3 hingga 5,8 meter. Menurut Frentiu, ular yang ukurannya jauh melampaui rata-rata cenderung menghilang atau mengalami nasib buruk begitu keberadaannya diketahui warga. Ibu Baron terhindar dari nasib itu karena segera dievakuasi oleh konservasionis lokal Budi Purwanto di Maros. Laporan terakhir yang tersedia, pada Mei 2026, menyebut ia masih dirawat Purwanto, dan sejak itu belum ada kabar terbaru yang dipublikasikan mengenai kondisinya.
Dua Meter Lebih Pendek, Bobotnya Hampir Sama
Membandingkan Ibu Baron dengan anaconda hijau memerlukan data anaconda yang juga diukur secara langsung. Data semacam itu sebagian besar berasal dari penelitian lapangan Jesús A. Rivas di dataran banjir Llanos, Venezuela. Dari ratusan anaconda yang ia tangkap dan ukur, individu terbesar adalah betina sepanjang 5,21 meter dengan bobot 97,5 kilogram, angka yang tidak tercatat sebagai rekor dunia tetapi terdokumentasi dalam penelitian ilmiah.
Angka itu jauh di bawah klaim bobot anaconda di atas 200 kilogram yang sering beredar. Namun, klaim semacam itu umumnya berupa perkiraan atau laporan lama tanpa pengukuran yang dapat diperiksa ulang. Dalam data Rivas, ukuran sebesar 97,5 kilogram juga praktis hanya dicapai betina, karena anaconda jantan jarang melebihi 10 kilogram.
Ketika bobot 97,5 kilogram itu disandingkan dengan Ibu Baron, perbedaan bentuk tubuh kedua ular menjadi jelas. Dihitung per meter, bobot anaconda tersebut sekitar 18,7 kilogram, sedangkan Ibu Baron sekitar 13,4 kilogram. Tubuh anaconda yang lebih tebal berkaitan dengan cara hidupnya yang semi-akuatik, karena air membantu menopang bobot tubuh saat bergerak dan berburu.

Anaconda dari Llanos yang menjadi sumber data Rivas kini juga masuk dalam perdebatan taksonomi. Pada 2024, Rivas bersama Bryan Fry dari University of Queensland menerbitkan studi genetik di jurnal Diversity yang menemukan dua garis keturunan anaconda hijau, dengan perbedaan DNA mitokondria 5,5 persen dan waktu pisah sekitar 10 juta tahun lalu. Mereka mengusulkan populasi utara, termasuk Venezuela, sebagai spesies tersendiri bernama anaconda hijau utara (Eunectes akayima), sementara nama Eunectes murinus tetap dipakai untuk populasi selatan.
Data ukuran untuk populasi utara ini bertambah dari ekspedisi di wilayah masyarakat Waorani di Amazon Ekuador, ketika tim melaporkan bertemu anaconda betina sepanjang 6,3 meter. Ukuran itu lebih panjang daripada anaconda terbesar dalam data Venezuela, tetapi masih hampir satu meter di bawah Ibu Baron. Status spesies baru tersebut belum disepakati, karena dua kelompok peneliti lain mempersoalkan aspek tata nama dalam deskripsinya.
Terlepas dari perdebatan nama tersebut, data ukuran yang tersedia saat ini menunjukkan bahwa sanca kembang memegang rekor panjang yang terverifikasi, sedangkan anaconda hijau bisa mencapai bobot serupa dengan tubuh sekitar 2 meter lebih pendek. Frentiu mengingatkan bahwa Ibu Baron tidak perlu dianggap pemegang rekor untuk selamanya, karena kemungkinan masih ada ular yang lebih besar di alam. Pengukuran baru dengan prosedur yang sama ketatnya akan menentukan apakah angka-angka ini bertahan.
**
Referensi:
Rivas, J. A., De La Quintana, P., Mancuso, M., Pacheco, L. F., Rivas, G. A., Mariotto, S., Salazar-Valenzuela, D., Baihua, M. T., Baihua, P., Burghardt, G. M., Vonk, F. J., Hernandez, E., García-Pérez, J. E., Fry, B. G., & Corey-Rivas, S. (2024). Disentangling the anacondas: Revealing a new green species and rethinking yellows. Diversity, 16(2), 127. https://doi.org/10.3390/d16020127