- Tim survei Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Center (YOSL–OIC) telah mengkonfirmasi keberadaan habitat baru orangutan tapanuli di kawasan hutan rawa gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada akhir 2024.
- Berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016 yang menjadi rujukan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2019–2029, populasi orangutan tapanuli diperkirakan hanya 577–760 individu, di habitat seluas 1.051,32 kilometer persegi
- Indikasi keberadaan orangutan tapanuli di Lumut, awalnya berasal dari laporan warga kepada tim Human–Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) OIC. Pemantauan pertama hanya menemukan beberapa sarang. Keberadaan individu orangutan tapanuli baru terpantau akhir 2024, ketika tim OIC bersama BBKSDA Sumatera Utara melihat langsung mamalia tersebut.
- Pada 2001, Serge A. Wich bersama sejumlah peneliti telah mendatangi Kecamatan Lumut. Dalam artikel ilmiah “The status of the Sumatran orangutan Pongo abelii: an update” yang terbit di jurnal konservasi internasional Oryx 2003, mereka melaporkan temuan sarang serta informasi warga mengenai keberadaan orangutan di sana.
Tim survei Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Center (YOSL–OIC) telah mengkonfirmasi keberadaan habitat baru orangutan tapanuli di kawasan hutan rawa gambut Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, akhir 2024 lalu. Jaraknya, sekitar 32 km arah barat Hutan Batang Toru.
Temuan ini menambah daftar kantong habitat spesies kera besar paling terancam di dunia tersebut.
Berdasarkan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016 yang menjadi rujukan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan 2019–2029, populasi orangutan tapanuli diperkirakan hanya 577–760 individu, di habitat seluas 1.051,32 kilometer persegi. Populasi ini tersebar dalam dua metapopulasi besar di bentang hutan Batang Toru yang berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Timur, Sumatera Utara.
Dua metapopulasi tersebut berada di Blok Batang Toru Barat dan Batang Toru Timur, disertai beberapa populasi kecil di Cagar Alam Sipirok, Lubuk Raya, dan Cagar Alam Sibualbuali. Populasi di Batang Toru Barat diperkirakan 400–600 individu, termasuk yang di dua cagar alam tersebut, yang masing-masing tersisa kurang dari 50 individu. Sementara itu, Batang Toru Timur hanya 150–160 individu.
“Dalam PHVA 2016, keberadaan orangutan tapanuli di hutan rawa gambut Lumut yang sangat mirip Suaka Margasatwa Rawa Singkil, belum terdata sama sekali,” jelas Syafrizal Jpang, Direktur YOSL–OIC, Rabu (19/11/2025).

Indikasi keberadaan orangutan tapanuli di Lumut, awalnya berasal dari laporan warga kepada tim Human–Orangutan Conflict Response Unit (HOCRU) OIC. Pemantauan pertama hanya menemukan beberapa sarang. Keberadaan individu orangutan tapanuli baru terpantau akhir 2024, ketika tim OIC bersama BBKSDA Sumatera Utara melihat langsung mamalia tersebut.
Syafrizal menyampaikan kekhawatirannya. Habitat orangutan di Lumut ini sangat terbatas, hanya sekitar 1.200 hektar dan berstatus areal penggunaan lain (APL). Kini, luasnya kurang 1.000 hektar akibat ekspansi perkebunan sawit yang masif.
“Pembukaan lahannya cepat sekali.”
OIC telah melaporkan temuan ini kepada pemerintah daerah dan pihak terkait lain.
“Harapan kami, pembukaan lahan dihentikan sementara, sampai ada tindak lanjut habitat orangutan ini,” tuturnya.

Penelitian orangutan
Pada 2001, Serge A. Wich bersama sejumlah peneliti telah mendatangi Kecamatan Lumut. Dalam artikel ilmiah “The status of the Sumatran orangutan Pongo abelii: an update” yang terbit di jurnal konservasi internasional Oryx 2003, mereka melaporkan temuan sarang serta informasi warga mengenai keberadaan orangutan di sana.
Citra satelit akhir 1990-an menunjukkan Lumut masih hijau, bentang rawa pantai terlihat utuh. Namun ketika tim tiba di lapangan, banyak area telah ditebang dan sebagian dipersiapkan untuk perkebunan sawit.
Serge A. Wich, profesor biologi dan konservasi di Liverpool John Moores University yang meneliti orangutan sejak 1993, kembali mengingat survei itu.
“Kami pergi ke Lumut karena tahu bahwa orangutan hidup di hutan rawa gambut dan hutan dataran lain. Setelah berbicara dengan masyarakat, kami mendapat indikasi kuat bahwa orangutan mungkin ada di kawasan itu,” jelasnya, melalui email kepada Mongabay Indonesia, Selasa (21/10/2025).

Dalam survei singkat itu, Serge dan tim hanya menemukan dua sarang serta mendengar suara orangutan. Mereka hanya berada di Lumut beberapa hari. Menurutnya, kondisi hutan saat itu sudah terfragmentasi aktivitas pembalakan dan konversi menjadi kebun sawit.
Serge menyebutkan, lokasi sarang yang mereka temukan pada 2001 kini telah berubah total menjadi kebun sawit. Lokasi itu berjarak tujuh kilometer dari titik temuan orangutan tapanuli yang dikonfirmasi OIC pada 2024.
“Sebagian besar area tempat kami menemukan sarang dulu telah menjadi kebun sawit, tetapi masih ada kantong-kantong kecil hutan tersisa. Akan sangat berguna jika kantong-kantong itu disurvei kembali.”

Dalam laporan 2001, Serge dan kolega menuliskan orangutan di habitat terfragmentasi masih dapat bertahan apabila dilakukan restorasi. Jika tidak memungkinkan, translokasi dapat dipertimbangkan sebagai opsi terakhir.
“Sulit menilai tanpa memeriksa citra satelit dan turun ke lapangan. Seribu hektar memang kecil, tetapi jika area itu bisa direstorasi dan dikoneksikan dengan hutan lain, masih ada kemungkinan,” ujarnya.
Terkait langkah penyelamatan orangutan tapanuli di Lumut, Serge menilai perlunya rencana detil berbasis survei lapangan, pemetaan satelit, serta diskusi dengan masyarakat.
“Mungkin ada opsi untuk mempertahankan mereka di sana. Tetapi jika jumlahnya sangat sedikit, tidak layak secara genetis, dan tidak aman, maka translokasi bisa menjadi satu-satunya pilihan, seperti yang diatur dalam pedoman baru IUCN.”
Pertanyaan besar berikutnya adalah ke mana mereka akan dipindahkan?
“Inilah isu rumit penuh risiko dan hanya boleh dilakukan sebagai upaya terakhir,” paparnya.
*****
Ditemukan Habitat Baru Orangutan Tapanuli di Luar Batang Toru