- Sedang ramai isu orang tangkap sapu-sapu di kali-kali di Jakarta karena populasi ikan ini mendominasi. Ikan-ikan lain tak kuat hidup di perairan darat di Jakarta dan sekitar yang tercemar, predator alami sapu-sapu pun tak ada. Tak pelak, sapu-sapu pun sedang jadi buruan karena mendapat label spesies perusak ekosistem di perairan yang memang dalam kondisi buruk.
- Pemusnahan pun dinilai jadi satu-satunya cara paling masuk akal untuk menghentikan populasi sapu-sapu di Indonesia, terutama di Jakarta. Caranya, dengan penangkapan massal dan menguburkan, meski ini hanya bersifat jangka pendek. Dalam jangka panjang, pemerintah perlu memperbaiki kualitas air, restorasi habitat, dan membangun kemitraan multipihak untuk melakukan pemantauan terus menerus. Sebab, ikan ini mampu bertelur hingga tiga kali dalam setahun, dengan minimal 3.000 telur menetas. Selain itu, perlu pemetaan untuk mengendalikan populasi.
- Gema Wahyudewantoro, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang fokus meneliti bersama Kelompok Riset Iktiologi itu, menyatakan, polemik sapu-sapu harus menjadi momen penting untuk menjaga ekosistem perairan darat dari serbuan ikan asing invasif. Perlu pemahaman yang luas dan mendalam tentang ikan asing yang akan dan sudah berada di Indonesia.
- Rahmi Dina, peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya air BRIN, juga mengakui kalau populasi sapu-sapu tinggi karena ada penurunan kualitas air. Kondisi itu memicu terjadinya penurunan biodiversitas. Dari total 50 ikan asing yang masuk Indonesia, terdapat 18 jenis termasuk kategori ikan invasif. Khusus sapu-sapu di Indonesia, itu masuk dalam genus Pterygoplichthys seperti spesies P. Pardalis dan P. Disjunctivus.
Sedang ramai isu orang tangkap sapu-sapu di kali-kali di Jakarta karena populasi ikan ini mendominasi. Ikan-ikan lain tak kuat hidup di perairan darat di Jakarta dan sekitar yang tercemar, predator alami sapu-sapu pun tak ada. Tak pelak, sapu-sapu pun sedang jadi buruan karena mendapat label spesies perusak ekosistem di perairan yang memang dalam kondisi buruk.
Kilas balik ke belakang, periode 1970-an menjadi momen awal masuknya ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys spp.) ke Indonesia. Ikan asli sungai Amazon di Amerika Selatan itu, masuk melalui jalur perdagangan ikan hias untuk kebutuhan akuarium yang saat itu sedang populer.
Di dalam akuarium, sapu-sapu menjadi primadona karena kemampuan yang unik dengan membersihkan kaca. Tak pelak, para pecinta ikan hias langsung memburunya dan menjadikan ikan ini sebagai komoditas ikan hias paling dicari.
Walau belum terungkap di pulau mana sapu-sapu pertama kali masuk, kini Sulawesi tercatat menjadi pemilik populasi terbesar di Indonesia. “Sayangnya, perkembangan yang pesat itu tidak dibarengi dengan edukasi yang baik tentang sapu-sapu,” kata Gema Wahyudewantoro, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), belum lama ini.
Saat ikan itu tumbuh besar dalam bak akuarium, pemiliknya segera mengeluarkan, karena mereka nilai sudah tidak cocok menghiasi bak lagi.
“Mungkin, karena kurangnya pengetahuan, saat itu ikan kemudian dilepaskan di sungai. Padahal, itu ikan asing yang belum tahu seperti apa dampaknya jika ada di perairan kita,” katanya.
Dia menduga, selain perdagangan ikan hias, sapu-sapu masuk ke perairan darat Indonesia karena ada program pengisian kembali (restocking) ikan pada ekosistem sungai atau danau (situ).
Mengingat kemampuan kemampuan adaptasi tinggi, perkembangan populasi ikan ini lebih cepat ketimbang ikan lokal biasa. Bahkan, kemampuan adaptasi itu semakin meningkat di perairan tercemar berat.
Contoh itu merujuk pada ekosistem sungai Ciliwung di bagian hilir yang secara administrasi masuk wilayah Jakarta. Karena pencemaran yang sudah akut, ikan lokal banyak yang tidak bertahan dan memilih mencari ekosistem lebih sehat.
“Kita sudah melakukan penelitian di Situ Cilodong dan Cikaret, keduanya di Depok, hasilnya memang mengejutkan. Insang sapu-sapu normal, walau air tercemar. Sebaliknya, ikan asli tidak,” katanya.
Sapu-sapu punya kebiasaan membuat lubang di pinggiran sungai/danau. Bahkan, hasil riset yang dia lakukan mendapati lubang sapu-sapu itu banyak bertebaran hingga di bawah rumah-rumah penduduk di sepanjang Sungai Ciliwung.
“Jadi, kalau dibiarkan ya bisa membahayakan sekitarnya juga.”
Selain itu, ia juga menjadikan telur ikan lain sebagai mangsa, sebagai karakternya yang predator.

Predator alami hilang, pulihkan ekosistem perairan
Pemusnahan pun dinilai jadi satu-satunya cara paling masuk akal untuk menghentikan populasi sapu-sapu di Indonesia, terutama di Jakarta. Caranya, dengan penangkapan massal dan menguburkan, meski ini hanya bersifat jangka pendek.
Dalam jangka panjang, pemerintah perlu memperbaiki kualitas air, restorasi habitat, dan membangun kemitraan multipihak untuk melakukan pemantauan terus menerus. Sebab, ikan ini mampu bertelur hingga tiga kali dalam setahun, dengan minimal 3.000 telur menetas. Selain itu, perlu pemetaan untuk mengendalikan populasi.
Gema yang fokus meneliti bersama Kelompok Riset Iktiologi itu, menyatakan, polemik sapu-sapu harus menjadi momen penting untuk menjaga ekosistem perairan darat dari serbuan ikan asing invasif. Perlu pemahaman yang luas dan mendalam tentang ikan asing yang akan dan sudah berada di Indonesia.
Dari seluruh pulau besar, sampai sekarang belum ada laporan tentang keberadaan sapu-sapu di kepulauan Maluku dan Papua, meski hal itu tidak menjamin keberadaan sapu-sapu di sana. “Ikan sapu-sapu meledak popularitasnya di Indonesia pada era 2000-an. Semoga saja sudah berkurang.”
Penyebab lain kenapa sapu-sapu bisa meledak populasinya di perairan darat Indonesia, adalah karena ketiadaan predator lain yang bisa memangsanya. Di negara asalnya, populasi sapu-sapu bisa lebih terkendali karena ada kompetitor.
Selain ikan piranha, peacock gass, dan channa, predator alami sapu-sapu adalah reptil seperti biawak dan buaya, musang air, berang-berang, dan burung air.
Sayangnya, perairan darat di Ciliwung tidak memiliki predator-predator itu. “Dulu sempat ada berang-berang, tapi sekarang sudah tidak lagi karena habitatnya rusak.”
Gema katakan, Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung menjadi habitat 32 jenis ikan, 20 diantaranya merupakan ikan lokal dan delapan ikan asing. Selain itu, terdapat empat jenis ikan yang masuk kategori ikan invasif.
Keberadaan ikan asing, katanya, sebenarnya bisa memberi warna untuk biodiversitas perairan, seperti ikan manvis (Pterophyllum scalare), patty (Xiphophorus hellerii), dan mas (Cyprinus carpio). Hanya, perlu pengetahuan untuk mengendalikannya.
Selain sapu-sapu, ada beberapa ikan asing lain yang juga harus diwaspadai. Terutama dari kelompok Famili Arapaimidae, Famili Serrasalmidae, Famili Lepisosteidae, dan Famili Cichlidae.
Menurut Gema, tidak semua spesies asing bersifat berbahaya. Namun tetap memiliki potensi menjadi invasif tergantung pada kondisi lingkungan dan karakter biologisnya. Karena itu, perlu kehati-hatian dalam mengintroduksi spesies.
Beberapa spesies asing seperti ikan mas (Cyprinus carpio), nila (Oreochromis niloticus), dan lele dumbo (Clarias gariepinus) diketahui memiliki nilai ekonomi tinggi. ” Telah dimanfaatkan secara luas di Indonesia, meskipun bukan merupakan spesies asli.”
Selain itu, katanya, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mendeteksi dan mengelola ikan asing. Antara lain karena keterbatasan sistem pengawasan dan deteksi dini di pintu masuk yang belum optimal seperti karantina.
Selain itu, informasi dan data ilmiah spesies introduksi yang masih terbatas, edukasi tentang bahaya spesies introduksi terutama yang bersifat invasif belum maksimal; hingga monitoring jangka pendek dan panjang yang belum optimal.

Rahmi Dina, peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya air BRIN, juga mengakui kalau populasi sapu-sapu tinggi karena ada penurunan kualitas air. Kondisi itu memicu terjadinya penurunan biodiversitas.
Dari total 50 ikan asing yang masuk Indonesia, terdapat 18 jenis termasuk kategori ikan invasif. Khusus sapu-sapu di Indonesia, itu masuk dalam genus Pterygoplichthys seperti spesies P. Pardalis dan P. Disjunctivus.
Sebagai biota invasif, sapu-sapu bisa mencapai umur maksimal 15 tahun, bertelur bisa sampai 5.000 butir, kemampuan menjaga sarang telur di dalam lubang, adaptasi yang tinggi pada lingkungan sekitar, minim predator, dan sumber makanan yang beragam.
Tindakan pengendalian adalah dengan melakukan penangkapan intensif di area pemijahan pada waktu puncak musim pemijahan. Mengingat sapu-sapu adalah ikan yang hidup dan berkembang dari perairan yang sudah tercemar berat, Rahmi meminta masyarakat tak mengkonsumsinya. Termasuk, menjadikannya bahan makanan.
Sapu-sapu dari Ciliwung tak hanya mengandung Salmonella, E coli, dan residu logam berat, namun juga mikroplastik. Semua kandungan itu akan membahayakan kesehatan jika masuk ke dalam tubuh manusia.
Dia berharap polemik sapu-sapu belakangan ini menjadi momen bagi semua orang untuk sama-sama memahami tentang bahaya ikan asing bagi ekosistem perairan darat dalam negeri. “Harus ada pencegahan masuk ikan asing berisiko tinggi,” katanya kepada Mongabay.
Merujuk pada Warta Iktiologi Vol 2, November 2018 yang diterbitkan Masyarakat Iktiologi Indonesia, sapu-sapu di Indonesia terdata ada lima spesies, mencakup Pterygoplichthys anisitsi, Pterygoplichthys disjunctivus, Pterygoplichthys gibbiceps, dan Pterygoplichthys pardalis .
Sejak 2020, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 sudah melarang untuk mendatangkan, budidaya, atau mengedarkan sapu-sapu. Aturan itu diikuti pemberlakuan serupa oleh Kementerian Pertanian.
*****
Opini: Di Balik Penangkapan Ikan Sapu-sapu: Antara Intervensi dan Pemulihan Sungai