- Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan tahun 2025 menunjukkan, populasi bekantan di provinsi ini mencapai 3.757 ekor. Satwa endemik Kalimantan ini tersebar di 11 kabupaten, di dalam maupun di luar kawasan konservasi.
- Dalam lima tahun terakhir populasi bekantan mengalami peningkatan rata-rata 3,15 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Peningkatan populasi paling terlihat di tiga kabupaten, yakni Barito Kuala, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu.
- Sebanyak 1.281 individu bekantan berada di 12 kawasan konservasi dengan tipe ekosistem mangrove dan dataran rendah. Kawasan terdiri atas enam cagar alam, tiga suaka margasatwa, dan tiga taman wisata alam.
- Bekantan merupakan satwa arboreal yang menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di pepohonan. Vegetasi menjadi bagian penting dalam kehidupan satwa ini, baik untuk mencari makanan berupa daun, buah, dan bunga maupun sebagai tempat istirahat.
Tiga kali Rafa’i membawa ketintingnya menuju Pulau Jingah di Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mencari keberadaan bekantan (Nasalis larvatus). Namun, primata berhidung panjang itu tak kunjung terlihat.
Padahal, di hamparan rawa gambut tersebut, sejumlah nelayan mengatakan beberapa kali melihat monyet belanda tersebut.
“Kalau tidak dicari, kadang mereka di sini,” ujar Rafa’I, warga Desa Bararawa.
Amat Kani, warga Desa Bararawa lainnya, memperlihatkan video ketika dia tak sengaja menemukan bekantan di antara pepohonan dan rawa.
“Sewaktu saya mencari ikan,” terangnya, Senin (24/8/26).

Bekantan Terancam Kehilangan Habitat
Penelitian sebaran dan status bekantan di rawa gambut pernah dilakukan akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mochamad Arief Soendjoto, Mila Rabiati, Usman, dan Hafizh Muhardiansyah, pada 2013 lalu, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dari 18 lokasi penelitian, bekantan ditemukan langsung di empat lokasi dengan total 55 individu.
Miftahul Pauji, Ketua Badan Pengurus AP2SI (Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia) Kalimantan Selatan, mengatakan keberadaan bekantan di Kecamatan Paminggir, yang berbartasan dengan Hulu Sungai Tengah, tidak bisa dilepaskan dari rawa yang menjadi ruang hidup masyarakat juga habitat satwa tersebut.
Rawa Paminggir memiliki fungsi ekologis seperti menyimpan air, membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan, menjaga ketersediaan air saat kemarau, sekaligus menyimpan cadangan karbon.
“Bila rawa dan hutannya rusak, bukan hanya masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan, bekantan juga kehilangan habitat,” jelasnya, Senin (25/8/26).

Tata air rawa perlu dipertahankan, alih fungsi kawasan yang dapat merusak habitat harus dicegah, sementara masyarakat perlu diberi ruang untuk mengelola sumber daya secara berkelanjutan.
Upaya tersebut, kata dia, dapat diperkuat melalui perhutanan sosial. Desa Bararawa dan Sapala, misalnya, telah memperoleh akses kelola melalui skema tersebut.
Hutan Desa Bararawa luasnya sekitar 4.872 hektar, sedangkan Hutan Desa Sapala sekitar 3.237 hektar. Keduanya dikelola melalui kelembagaan masyarakat dan mendapat pendampingan untuk memperkuat tata kelola hutan.
“Keberadaan hutan desa dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan habitat bekantan, selama pengelolaannya tetap menjaga fungsi ekologis kawasan.”
Masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi dari rawa tanpa harus menghilangkan vegetasi dan mengubah fungsi habitat yang dibutuhkan satwa.
Pengembangan usaha seperti perikanan berkelanjutan dan wanamina menjadi salah satu pilihan. Dengan begitu, kebutuhan ekonomi masyarakat tidak harus berhadapan dengan kepentingan konservasi bekantan.

Populasi bekantan
Data Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan tahun 2025 menunjukkan, populasi bekantan di provinsi ini mencapai 3.757 ekor. Satwa endemik Kalimantan ini tersebar di 11 kabupaten, di dalam maupun di luar kawasan konservasi.
Agus Ngurah Krisna, Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, mengatakan dalam lima tahun terakhir populasi bekantan mengalami peningkatan rata-rata 3,15 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Peningkatan populasi paling terlihat di tiga kabupaten, yakni Barito Kuala, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu. Kondisi habitat serta ketersediaan pakan, terutama di kawasan konservasi, menjadi faktor pendukung peningkatan itu,” jelasnya, Kamis (27/8/26).
Sebanyak 1.281 individu bekantan berada di 12 kawasan konservasi dengan tipe ekosistem mangrove dan dataran rendah. Kawasan terdiri atas enam cagar alam, tiga suaka margasatwa, dan tiga taman wisata alam.
Namun, keberadaan bekantan masih menghadapi ancaman serius. Sebab, hanya sepertiga populasi berada di kawasan konservasi.
“Sebagian besar hidup di luar kawasan lindung, termasuk kawasan berhutan, pesisir, mangrove, rawa gambut, dan riparian.”

Bekantan merupakan satwa arboreal yang menghabiskan sebagian besar aktivitasnya di pepohonan. Vegetasi menjadi bagian penting dalam kehidupan satwa ini, baik untuk mencari makanan berupa daun, buah, dan bunga maupun sebagai tempat istirahat.
BKSDA Kalsel mendorong pemerintah daerah dan pihak terkait menetapkan areal preservasi sebagai kantong-kantong habitat bekantan, terutama di luar kawasan konservasi. Upaya lain dilakukan melalui pemulihan ekosistem, pembinaan populasi dan habitat, termasuk pengayaan sumber pakan bekantan.
“Upaya konservasi berhasil meningkatkan populasi bekantan secara lokal di kawasan konservasi tertentu. Namun, masih menjadi tantangan untuk menghentikan penurunan populasi akibat fragmentasi habitat di luar kawasan lindung,” katanya.

Pemantauan populasi dilakukan secara berkala di kawasan konservasi yang menjadi habitat bekantan. Idealnya, pendataan dilakukan setiap tahun di seluruh kawasan konservasi.
Tiga hingga lima tahun ke depan, BKSDA Kalsel menargetkan seluruh sebaran dan populasi bekantan di habitatnya terpetakan.
Strateginya mencakup monitoring berkala, penguatan pengelolaan kawasan di tingkat tapak, perlindungan habitat, serta penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal satwa dilindungi.
“Untuk populasi di luar kawasan konservasi, koordinasi akan diperkuat guna terciptanya areal preservasi habitat bekantan,” tegasnya.
*****