- Bekantan, monyet khas Pulau Kalimantan terbukti secara ilmiah melakukan regurgitasi dan pengunyahan ulang atau memamah biak, yang selama ini disebut hanya milik hewan berkaki empat seperti sapi, kambing, atau unta.
- Berdasarkan hasil penelitian, bekantan menghabiskan lebih banyak waktu terjaga sambil beristirahat dibanding benar-benar tidur. Namun, di luar dugaan, mereka ternyata tidak lebih sering memamah biak pada malam hari dibanding siang hari.
- Menu harian bekantan bukan buah manis yang gampang dicerna, melainkan pucuk daun, buah, dan biji-bijian dari hutan mangrove dan rawa yang kaya serat tetapi menghasilkan banyak gas saat dicerna, itulah sebabnya perut bekantan selalu tampak buncit.
- Status konservasi bekantan adalah Genting. Status ini diberikan karena populasinya terus mengalami penurunan drastis, yang diperkirakan menyusut lebih dari 50% hingga 70% dalam tiga generasi terakhir.
Memamah biak selama ini diketahui perilaku yang identik dengan sapi, kambing, atau unta. Namun ternyata, primata berhidung besar khas Kalimantan, yakni bekantan (Nasalis larvatus), terbukti secara ilmiah melakukan regurgitasi dan mengunyah ulang.
Dikutip dari media sains internasional science.org, bekantan menjadi bukti bahwa primata bisa memamah biak. Ini merupakan sebuah strategi pencernaan yang disebut hanya milik hewan berkaki empat, yang memanfaatkan mikroba di perutnya untuk mengurai serat dedaunan.
Penemuan ini diungkap tim peneliti yang dipimpin Ikki Matsuda dari Universitas Kyoto pada 2011 lalu. Mereka menemukan perilaku tersebut dengan melihat video yang dikumpulkan sejak tahun 2000. Berdasarkan data tersebut, sekitar 23 monyet hidung panjang terpantau memiliki perilaku mengeluarkan makanan dari perut dan mengunyah kembali/regurgitasi.
Para peneliti menekankan bahwa fenomena memamah biak pada satwa liar sebenarnya berbeda tingkatannya. Hewan pemamah biak sejati seperti sapi dan unta memiliki mekanisme penyortiran khusus di lambung yang memisahkan partikel makanan besar untuk dikunyah ulang. Dengan begitu, mereka bisa mencerna makanan dalam jumlah besar, sekaligus mengurus ukuran partikelnya dengan sangat efisien.

Tahun 2023, tim peneliti yang dipimpin Jonas Bösch bersama Ikki Matsuda dan kolega menerbitkan studi lanjutan di Journal of Zoology, dengan judul “They chew by night? Night-time behaviour in a ‘ruminating’ primate, the proboscis monkey (Nasalis larvatus)”. Mereka menganalisis rekaman video inframerah perilaku malam hari dari 179 individu bekantan liar selama 35 malam. Total pengamatan diperkirakan lebih dari 251 jam di kawasan hilir Sungai Kinabatangan, Sabah, Malaysia.
Hasilnya, bekantan menghabiskan lebih banyak waktu terjaga sambil beristirahat dibanding benar-benar tidur. Namun, di luar dugaan, mereka ternyata tidak lebih sering memamah biak pada malam hari dibanding siang hari.
Temuan ini mengoreksi anggapan lama bahwa periode malam pada primata diurnal (yang aktif di siang hari) hanyalah waktu tidur pasif yang tidak dimanfaatkan untuk aktivitas mencari makan atau interaksi sosial. Ternyata, malam hari bekantan lebih mirip waktu “jaga-jaga sambil rebahan” daripada waktu tidur lelap sungguhan.
“Bekantan tidak lebih sering memamah biak di malam hari dibanding siang hari,” tulis para peneliti.
Menurut buku Bekantan dan Habitatnya di Sungai Hitam terbitan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA), menyebutkan bahwa bekantan bukan primata sembarangan. Jantan dewasa bisa mencapai panjang 75 cm dengan bobot hingga 24 kg, sementara betina berukuran sekitar 60 cm dengan berat 12 kg.
Menu hariannya bukan buah manis yang gampang dicerna, melainkan pucuk daun, buah, dan biji-bijian dari hutan mangrove dan rawa yang kaya serat, tetapi menghasilkan banyak gas saat dicerna. Itulah sebabnya, perut bekantan selalu tampak buncit. Artinya, dengan mengunyah makanannya dua kali, sekali saat pertama disantap, dan sekali lagi setelah “dipanggil kembali” dari lambung; bekantan bisa mencerna serat kasar itu lebih tuntas tanpa harus menghabiskan waktu berjam mengunyah di awal.

Bekantan sebagai penjaga sungai
Namun, jauh sebelum jurnal ilmiah mencatat perilaku unik ini, masyarakat adat di pesisir dan tepian sungai Kalimantan sudah lama mengenal bekantan sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem hutan riparian dan mangrove. Di Sungai Hitam, Samboja, Kalimantan Timur, misalnya, warga menyebut bekantan sebagai “Monyet Belanda” karena hidung besar dan warna keemasan tubuhnya, mengingatkan pada penjajah Eropa masa lalu.
Buku Bekantan dan Habitatnya di Sungai Hitam itu menjelaskan, ekowisata merupakan alternatif upaya konservasi bekantan dan habitatnya di Sungai Hitam. Kelompok warga bernama Sungai Hitam Lestari, misalnya, secara sukarela mengajak tetangga mereka untuk tidak memanfaatkan lahan selebar 20 meter di pinggir sungai demi menjaga pohon rambai laut (Sonneratia caseolaris), karena merupakan sumber pakan utama bekantan sekaligus pohon tidurnya. Sejak inisiatif itu bergulir tahun 2013, laju alih fungsi lahan di sepanjang sempadan sungai berhasil sedikit tertahan.
Kisah serupa juga terjadi ratusan kilometer ke selatan, di Pulau Curiak, Kalimantan Selatan. Di sana, Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) yang didirikan Amalia Rezeki menjaga hutan mangrove sebagai rumah bekantan sejak pertama kali satwa ini terlihat di pulau tersebut, pada 1994.
Seperti dikutip dari Mongabay, Amel, sapaan akrabnya menjelaskan besarnya ancaman yang dihadapi bekantan di luar kawasan konservasi, diprediksi terjadi penurunan populasi hingga 50% dari setiap jumlah bekantan di luar kawasan konservasi setiap dekade. Amel dan para relawannya, sekitar 80 persen perempuan, rutin menanam kembali pohon rambai yang menjadi pakan utama bekantan sekaligus penahan abrasi pesisir. Ekosistem mangrove juga memberikan manfaat signifikan bagi manusia karena menghasilkan oksigen, menopang perikanan, dan membantu menyerap karbon.
“Berkat upaya penanaman dan pengawasan warga ini, populasi bekantan di Pulau Curiak melonjak dari hanya 14 individu pada 2016 menjadi 52 individu pada 2024,” ungkapnya.

Pengetahuan ekologi tradisional tersebut selaras dengan temuan sains moderen bahwa bekantan sangat terikat pada hutan tepi sungai untuk bertahan hidup, dan gangguan terhadap habitat riparian akan langsung mengancam populasi mereka. Ketika masyarakat menjaga larangan menebang pohon di sepanjang bantaran sungai, secara tidak sadar mereka juga menjaga laboratorium alami tempat bekantan mempraktikkan strategi mengunyah dua kalinya itu.
Berdasarkan IUCN, bekantan Genting (Endangered/EN). Status ini diberikan karena populasi monyet endemik Kalimantan ini mengalami penurunan, diperkirakan menyusut lebih dari 50%-70% dalam tiga generasi terakhir. Penurunan dipicu hilangnya habitat hutan riparian dan mangrove akibat alih fungsi lahan, pembalakan liar, serta aktivitas perburuan.
Referensi:
Bösch, J., McGrosky, A., Tuuga, A., Tangah, J., Clauss, M., & Matsuda, I. (2024). They chew by night? Night-time behaviour in a ‘ruminating’ primate, the proboscis monkey (Nasalis larvatus). Journal of Zoology, 322(2), 179–189. https://doi.org/10.1111/jzo.13128
Massa, Y. N., Arbainsyah, Fadilah, R., Iman, A. N., Adila, L., Regista, Afifudin, S., Nugroho, A. W., Hukom, F. A. A., Arbiani, A., & Kusnadi. (2020). Bekantan dan habitatnya di Sungai Hitam: Kajian ekologi dan sosial untuk merancang peningkatan kapasitas konservasi Bekantan di Kampung Lama, Samboja, Kutai Kartanegara. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam (Balitek KSDA). https://elti.yale.edu/sites/default/files/rsource_files/buku_bekantan_dan_habitatnya_di_sungai_hitam_apr2020_1.pdf
*****