Di antara aneka tanaman yang dimanfaatkan sebagai sumber pangan harian, pare (Momordica charantia) punya posisi yang khas. Tanaman merambat dari suku labu-labuan (Cucurbitaceae) ini tumbuh subur di daerah tropis dan subtropis, dan sudah menjadi bahan pangan sekaligus ramuan herbal di berbagai kawasan selama ratusan tahun, dari Asia Selatan dan Asia Timur, Afrika, hingga Karibia. Ciri paling menonjol dari pare tentu saja rasanya. Sebagai catatan, secara botani pare tergolong buah karena berkembang dari bunga dan mengandung biji di dalamnya, meski dalam praktik kuliner sehari-hari ia diperlakukan sebagai sayur, sama seperti tomat, mentimun, dan terong yang juga secara botani buah namun umum disebut sayur di dapur.
Buah ini kerap disebut sebagai salah satu yang paling pahit di dunia, sebuah predikat yang lebih tepat dipahami sebagai reputasi yang luas beredar di berbagai sumber populer maupun ulasan botani, bukan hasil pengukuran ilmiah yang membandingkan tingkat kepahitan seluruh jenis buah dan sayur secara sistematis. Tidak ada studi yang menyusun peringkat baku semacam itu. Yang bisa dipastikan secara ilmiah adalah bahwa pare mengandung konsentrasi senyawa pahit dalam jumlah yang jauh lebih tinggi dibanding kebanyakan bahan pangan lain, sehingga rasa pahitnya konsisten dianggap sebagai salah satu yang paling ekstrem di antara tumbuhan yang lazim dikonsumsi manusia. Meski rasanya sering dihindari, keberadaan pare tetap bertahan lintas generasi dan lintas budaya, dari dapur rumah tangga hingga ramuan pengobatan tradisional.
Perjalanan Pare, dari India hingga Dapur Nusantara
Asal-usul pare masih menjadi bahan diskusi di kalangan peneliti botani. Sebagian ahli menduga pusat domestikasinya berada di Asia timur, kemungkinan di wilayah timur India atau selatan China, sementara sumber lain menyebut tanaman liar ini pertama kali tumbuh di Afrika sebelum menyebar dan dibudidayakan di Asia sejak masa prasejarah. Terlepas dari perdebatan itu, catatan yang lebih jelas ada pada sejarah pemanfaatannya sebagai obat. Di India, pare telah menjadi bagian dari praktik Ayurveda, sistem pengobatan tradisional yang sudah dipraktikkan lebih dari tiga ribu tahun, dan digunakan untuk membantu menyeimbangkan kadar gula darah, meredakan gangguan pencernaan, hingga mengobati luka pada kulit.

Dari India, pare diperkirakan mulai diperkenalkan ke China sekitar abad ke-14. Masyarakat Tiongkok saat itu mengenalnya sebagai bahan yang dipercaya bersifat mendinginkan tubuh, sehingga sering dikonsumsi pada musim panas dan digunakan dalam pengobatan tradisional China untuk mengatasi gangguan pencernaan, batuk kronis, hingga infeksi saluran pernapasan. Dari China, pare kemudian menyebar ke Jepang dan kawasan Asia Tenggara melalui jalur perdagangan dan migrasi. Di Karibia, pare dibawa oleh para pekerja migran asal India pada masa kolonial dan sejak itu menjadi bagian dari tradisi kuliner di negara-negara seperti Jamaika dan Trinidad.
Di Nusantara, pare menjadi salah satu tanaman yang lama dikenal dalam tradisi jamu, ramuan herbal yang sudah dipraktikkan masyarakat Jawa, Sunda, dan berbagai daerah lain di Indonesia secara turun-temurun selama ratusan tahun. Meski catatan tertulis yang secara spesifik membahas pare dalam manuskrip jamu kuno masih terbatas, tanaman ini tetap dikenal luas sebagai bahan pangan sekaligus ramuan herbal rumahan. Hingga kini, pare masih rutin dimasak menjadi sayur, disantap sebagai lalapan, maupun diolah menjadi jus di banyak rumah tangga Indonesia sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan sehari-hari.
Rahasia di Balik Rasa Pahit Pare
Rasa pahit yang menonjol pada pare berasal dari sekelompok senyawa triterpenoid tipe kukurbitan, terutama momordisin I dan II serta momordikosida K dan L, yang terakumulasi pada daging maupun kulit buah dan berubah konsentrasinya seiring pertumbuhan buah. Tingkat kepahitan pare umumnya berada pada titik tertinggi ketika buah masih muda dan berwarna hijau segar. Begitu buah matang, warna kulitnya berubah menjadi jingga kekuningan, daging buahnya melunak, dan biji di dalamnya terbungkus lapisan aril merah terang yang terasa manis, kontras dengan rasa daging buahnya.

Selain triterpenoid, pare juga mengandung charantin, polipeptida-p, vicine, dan sejumlah senyawa fenolik lain yang selama beberapa dekade diteliti untuk potensi efeknya terhadap kadar gula darah. Perlu dicatat, dugaan bahwa rasa pahit pare berkorelasi langsung dengan efek penurun gula darahnya belum diuji secara ketat dan masih menjadi area penelitian terbuka. Mekanisme yang diajukan dalam berbagai studi pracaklinis meliputi peningkatan penyerapan glukosa oleh sel otot, penghambatan enzim yang terlibat dalam produksi glukosa di hati, serta dukungan terhadap fungsi sel beta pankreas . Meski demikian, tinjauan sistematis terhadap uji klinis pada manusia masih melaporkan hasil yang beragam, dengan tingkat kepastian bukti yang tergolong rendah hingga saat ini. Artinya, potensi pare sebagai pendamping pengelolaan diabetes tipe 2 sudah cukup banyak diteliti, tetapi belum bisa disebut terbukti kuat secara klinis. Di luar isu gula darah, pare juga mengandung vitamin C, vitamin A, serat pangan, dan berbagai antioksidan yang berkontribusi pada nilai gizinya secara umum.
Terlepas dari status penelitiannya yang masih berkembang, pengolahan yang tepat tetap penting agar manfaat gizi tersebut bisa dinikmati tanpa rasa pahit yang berlebihan
Sebelum dimasak, bagian empulur putih dan biji keras di dalam buah pare biasanya dibuang terlebih dahulu untuk mengurangi konsentrasi pahit. Meremas irisan pare dengan garam atau merebusnya sebentar (blanching) dapat membantu meluruhkan sebagian getah pahit tanpa banyak mengurangi nilai gizinya, cara yang umum dipakai dalam berbagai tradisi kuliner di Indonesia, mulai dari tumisan hingga sayur bersantan. Ada beberapa kelompok yang perlu lebih waspada dalam mengonsumsinya. Ibu hamil disarankan menghindari konsumsi pare dalam jumlah berlebihan, terutama dalam bentuk ekstrak pekat, karena sejumlah senyawa di dalamnya diduga dapat merangsang kontraksi rahim. Orang yang mengonsumsi obat penurun gula darah juga perlu berhati-hati, karena kombinasi keduanya berpotensi menyebabkan hipoglikemia atau penurunan gula darah yang terlalu drastis. Bagi masyarakat umum tanpa kondisi khusus tersebut, pare tetap tergolong aman dikonsumsi sebagai bagian dari menu harian dalam jumlah wajar.
—
Referensi:
Liu, L., Lin, Z., Cai, X., Zhang, Y., Yang, Y., & Liang, D. (2025). The bitterness, biosynthesis, chemical transformation, and antidiabetic activity of cucurbitane-type triterpenoids from bitter gourd (Momordica charantia L.). Food Chemistry, 497, 147081. https://doi.org/10.1016/j.foodchem.2025.147081
Oyelere, S. F., Ajayi, O. H., Ayoade, T. E., Santana Pereira, G. B., Owoyemi, B. C. D., Ilesanmi, A. O., & Akinyemi, O. A. (2022). A detailed review on the phytochemical profiles and anti-diabetic mechanisms of Momordica charantia. Heliyon, 8(4), e09253. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2022.e09253