Kulit ular yang terselip di antara ranting dan rerumputan sarang burung sering dianggap kebetulan, sisa material yang tak sengaja terbawa saat burung membangun sarangnya. Kebiasaan ini juga bukan perilaku segelintir spesies saja, sebab puluhan jenis burung di berbagai belahan dunia diketahui melakukan hal serupa, termasuk House Wren (Troglodytes aedon) yang bersarang di rongga pohon dan Blue Grosbeak (Passerina caerulea) yang membangun sarang cangkir terbuka. Namun fenomena ini sebenarnya telah membingungkan peneliti dan naturalis selama lebih dari satu abad, sebab kulit ular yang kering dan kaku itu jelas tidak menawarkan kehangatan atau kenyamanan bagi telur yang akan menetas.
Mengapa burung bersusah payah mencari dan membawa material yang tidak lazim ini ke dalam sarangnya, alih-alih menggunakan bahan yang lebih mudah didapat di sekitarnya? Studi terbaru yang dipimpin Vanya Rohwer, kurator di Cornell University Museum of Vertebrates, akhirnya menjawab teka-teki tersebut. Kulit ular bukan bahan sarang yang tercecer begitu saja, melainkan alat pertahanan yang sengaja dicari burung untuk melindungi telur dan anak-anaknya dari predator. Rohwer mencatat bahwa kulit ular tergolong material yang jarang ditemukan begitu saja di alam bebas, sehingga upaya burung memburunya menunjukkan bahwa benda ini memang sengaja dikejar sebagai aset berharga, bukan sekadar dipungut karena kebetulan tersedia di sekitar sarang.
Jejak dari Kartu Kolektor Telur Kuno
Untuk menguji dugaan ini, Rohwer dan timnya menelusuri data dari 78 spesies burung dari 22 famili berbeda yang tercatat pernah membawa kulit ular ke sarangnya. Mereka memanfaatkan sumber sejarah yang tak biasa, yaitu kartu catatan telur dari koleksi Western Foundation of Vertebrate Zoology yang berasal dari akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, masa ketika mengoleksi telur burung merupakan hobi yang populer. Para kolektor kala itu mencatat detail material sarang dengan sangat teliti pada kartu yang dipajang bersama telur temuan mereka. Praktik mengoleksi telur burung semacam ini kemudian dilarang di banyak negara pada pertengahan abad ke-20 karena alasan konservasi, namun arsip yang mereka tinggalkan kini justru menjadi data berharga bagi penelitian ilmiah seperti ini. Hasil penelusuran arsip ini menunjukkan pola yang konsisten, burung yang bersarang di dalam rongga menggunakan kulit ular 6,5 kali lebih sering dibandingkan burung yang membangun sarang terbuka berbentuk cangkir.

Pola historis ini kemudian diuji lewat eksperimen lapangan di Ithaca, New York. Tim peneliti memasang 147 sarang buatan, sebagian meniru rongga tertutup dan sebagian lagi meniru sarang cangkir terbuka, lalu mengisi separuh dari masing-masing jenis dengan telur puyuh dan potongan kulit ular. Sarang-sarang itu dipantau secara berkala selama dua pekan. Hasilnya kontras tajam. Kulit ular sama sekali tidak memberi perlindungan pada sarang terbuka, tetapi pada sarang berongga, tingkat keberhasilan telur bertahan hidup melonjak dari 38 persen tanpa kulit ular menjadi hampir 75 persen ketika kulit ular dipasang di dalamnya.
Sinyal Bahaya yang Hanya Ditakuti Predator Tertentu
Rekaman kamera jebak yang dipasang di sekitar lokasi eksperimen menjelaskan mengapa efeknya begitu berbeda. Sarang terbuka diserang oleh predator yang lebih beragam, termasuk burung gagak (Corvus brachyrhynchos) dan blue jay (Cyanocitta cristata) yang tidak menganggap kulit ular sebagai ancaman. Sebaliknya, sarang berongga hanya diserang oleh mamalia kecil seperti tupai terbang (Glaucomys spp.) dan tupai merah Amerika (Tamiasciurus hudsonicus), hewan-hewan yang secara alami menjadi mangsa ular di alam liar. Bagi predator seukuran ini, kulit ular berfungsi sebagai sinyal bahaya instan yang memicu insting menghindar, sebab tubuh mereka sudah terprogram secara evolusioner untuk waspada terhadap ular. Rongga sarang yang sempit membuat sinyal ini bekerja maksimal, karena predator besar seperti burung pemangsa lain tidak bisa masuk ke dalamnya, sementara predator kecil yang bisa masuk justru adalah kelompok hewan yang paling takut pada ular.

Temuan ini menutup teka-teki yang sempat membingungkan peneliti selama puluhan tahun, termasuk hasil penelitian tahun 2006 pada Great Crested Flycatcher (Myiarchus crinitus) yang menunjukkan efektivitas kulit ular, dan penelitian tahun 2011 pada Great Reed Warbler (Acrocephalus arundinaceus) yang tidak menemukan efek serupa. Perbedaan hasil itu kini masuk akal, sebab keduanya membangun tipe sarang yang berbeda. Rohwer menyimpulkan bahwa pemilihan material sarang oleh burung bukan tindakan acak, melainkan strategi yang berkembang lewat evolusi untuk meningkatkan peluang hidup anak-anaknya. Kulit ular hanyalah satu dari sekian banyak cara burung memanfaatkan lingkungan sekitar demi bertahan hidup, sejajar dengan perilaku burung lain yang meniru suara desis ular ketika sarangnya diganggu. Bagi program konservasi burung yang mengandalkan kotak sarang buatan, terutama di kawasan yang predator utamanya adalah mamalia kecil, temuan ini membuka peluang sederhana untuk meningkatkan angka keberhasilan penetasan telur, cukup dengan menambahkan kulit ular bekas ke dalam kotak sarang.
**
Referensi
Rohwer, V. G., Houtz, J. L., Vitousek, M. N., Bailey, R. L., & Miller, E. T. (2025). The evolution of using shed snake skin in bird nests. The American Naturalist, 205(2), 170–183. https://doi.org/10.1086/733208
Medlin, E. C., & Risch, T. S. (2006). An experimental test of snake skin use to deter nest predation. The Condor, 108(4), 963–965. https://doi.org/10.1093/condor/108.4.963